Sabtu, 03 Desember 2022

10 Hikmah di Balik Musibah.

pesawat Sriwijaya Airlines di laut Kepulauan Seribu, wafatnya Syekh Ali Jaber, tanah longsor di Cianjur, gempa bumi di Garut

Sementara itu, wabah Covid-19 belum menunjukkan tanda segera sirna.

Di balik musibah dan bencana alam yang menimpa warga bangsa ini pasti banyak hikmah yang dapat dipetik. 

Hikmah di balik musibah bagi mukmin hendaknya menjadi proses penyadaran, pembelajaran, dan pendewasaan mental spiritual, sekaligus sebagai bahan muhasabah, tadabur, dzikrullah, dan taqarrub ila Allah (pendekatan diri kepada Allah).

Setidaknya ada sepuluh hikmah di balik musibah. 

Pertama. musibah itu merupakan salah satu cara Allah untuk mengingatkan hamba-Nya agar tidak melampaui batas, tidak melakukan kemaksiatan dan kerusakan di muka bumi. Musibah menyadarkan hamba agar bertobat dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Kedua, musibah mengajarkan pentingnya integrasi ibadah dan isti’anah, memohon pertolongan kepada Allah (QS al-Fatihah [1]: 5). Integrasi ini harus dibuktikan dengan kesalehan autentik dengan peneguhan iman, ilmu, dan amal saleh dengan tidak banyak mengeluh dan menyalahkan pihak lain.

Ketiga, musibah itu ibarat laboratorium keimanan dan kesabaran untuk penyadaran bahwa manusia itu milik Allah dan pasti kembali kepada-Nya (QS al-Baqarah [2]: 155-156).

Keempat, musibah merupakan manifestasi kasih sayang Allah kepada hamba-Nya untuk membuktikan ridha tidaknya. “Sesungguhnya pahala besar itu sebanding dengan ujian yang berat. Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian kepada mereka. Siapa yang ridha, maka ia akan meraih ridha Allah. Sebaliknya, siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR Ibn Majah).

Kelima, musibah dan bencana alam merupakan tanda kekuasaan-Nya. Semua fenomena alam didesain agar manusia terus belajar, membaca, dan memaknai ayat-ayat Allah di alam raya maupun di dalam Alquran. Dengan pembacaan integratif ayat-ayat kauniyyah dan ayat-ayat Quraniyyah, manusia dapat mengembangkan sains dan teknologi.

Keeman, musibah itu awalnya penuh duka, namun perlahan tetapi pasti akan berganti menjadi sukacita dan bahagia. Musibah mengajarkan pentingnya bersikap optimistis karena kehidupan itu tidak selamanya dalam kesulitan dan kedukaan. Badai pasti berlalu karena, “Sesungguhnya kesulitan selalu dibarengi kemudahan.” (QS ash-Sharh [94]: 6).

Ketujuh, musibah itu menginsafkan bahwa manusia itu lemah, tidak bisa melawan “kekuatan alam”. Hanya Allah yang Mahakuat, Mahabesar, dan Mahakuasa. 

Kedelapan, musibah menumbuhkan rasa kemanusiaan universal untuk berempati dan berbagi. 

Kesembilan, musibah itu meneguhkan persaudaraan dan solidaritas sosial.

Kesepuluh, musibah itu menjadi penggugur dosa. “Tiada sebuah musibah pun yang menimpa Muslim melainkan dengannya Allah menghapuskan kesalahan-kesalahannya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, banyaknya musibah harus menjadi momentum untuk memperbanyak istighfar dan tobat kepada Allah Yang Maha Pengampun. Semoga musibah yang menimpa warga bangsa ini dapat merekatkan persaudaraan, solidaritas sosial, dan persatuan bangsa.


Ustadz Yachya Yusliha

Jumat, 02 Desember 2022

Menumbuhkan Rasa Sabar saat Ditimpa Musibah


Khutbah Jumat: Menumbuhkan Rasa Sabar saat Ditimpa Musibah

Naskah Kultum kali ini menjelaskan tentang kesabaran ketika musibah datang mendera. Dengan kesabaran, seorang muslim bisa menggunakan akal dan hatinya di tengah kesulitan. Dengan sabar, seseorang dapat bersikap secara wajar, bukan kalap dan gelap mata ketika kondisinya tidak baik-baik saja.




 I

ุงَู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ู„ู‡ِ ุญَู…ْุฏุงً ูŠُูˆَุงูِูŠ ู†ِุนَู…َู‡ُ ูˆَูŠُูƒَุงูِุฆُ ู…َุฒِูŠْุฏَู‡، ูŠَุง ุฑَุจَّู†َุง ู„َูƒَ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ูƒَู…َุง ูŠَู†ْุจَุบِูŠ ู„ِุฌَู„َุงู„ِ ูˆَุฌْู‡ِูƒَ ุงู„ْูƒَุฑِูŠْู…ِ ูˆَู„ِุนَุธِูŠْู…ِ ุณُู„ْุทَุงู†ِูƒ. ุณُุจْุญَุงู†َูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ู„َุง ุฃُุญْุตِูŠ ุซَู†َุงุกً ุนَู„َูŠْูƒَ ุฃَู†ْุชَ ูƒَู…َุง ุฃَุซْู†َูŠْุชَ ุนَู„َู‰ ู†َูْุณِูƒ. ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†ْ ู„َุง ุฅِู„ู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„َุง ุดَุฑِูŠْูƒَ ู„َู‡، ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃَู†َّ ู…ُุญَู…َّุฏุงً ุนَุจْุฏُู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ُู‡ُ ูˆَุตَูِูŠُّู‡ُ ูˆَุฎَู„ِูŠْู„ُู‡. ุฎَูŠْุฑَ ู†َุจِูŠٍّ ุฃَุฑْุณَู„َู‡. ุฃَุฑْุณَู„َู‡ُ ุงู„ู„ู‡ُ ุฅِู„َู‰ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِ ูƒُู„ِّู‡ِ ุจَุดِูŠุฑْุงً ูˆَู†َุฐِูŠْุฑุงً. ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ูˆَุณَู„ِّู…ْ ูˆَุจَุงุฑِูƒْ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِ ุณَูŠِّุฏِู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุตَู„َุงุฉً ูˆَุณَู„َุงู…ุงً ุฏَุงุฆِู…َูŠْู†ِ ู…ُุชَู„َุงุฒِู…َูŠْู†ِ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุฏِّูŠْู†. ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ ูَุฅู†ِّูŠ ุฃُูˆْุตِูŠْูƒُู…ْ ูˆَู†َูْุณِูŠ ุจِุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ุงู„ْู‚َุงุฆِู„ِ ูِูŠ ูƒِุชَุงุจِู‡ِ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ: ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุตْุจِุฑُูˆุง ูˆَุตَุงุจِุฑُูˆุง ูˆَุฑَุงุจِุทُูˆุง ูˆَุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชُูْู„ِุญُูˆู†َ


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.


Mengawali di pagi hari yang penuh berkah ini, saya mengajak jamaah sekalian, serta diri saya pribadi, untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah, takwa dalam arti melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan rasa takwa yang kita pelihara wujudnya dalam diri dan perilaku kita, niscaya Allah berikan kita kemudahan dan jalan keluar di setiap permasalahan hidup yang menimpa, dan Allah datangkan rezeki yang tidak pernah kita sangka-sangka.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Akhir-akhir ini kita banyak mendengar, bahkan mengalami langsung bencana dan fenomena alam. Gempa bumi yang terjadi beberapa waktu lalu cukup menimbulkan kekhawatiran dalam diri kita.


Korban-korban akibat gempa bumi insya Allah wafat husnul khatimah dan Allah tempatkan di tempat yang tertinggi di sisi-Nya. Sudah sepatutnya kita mengulurkan bantuan kepada saudara-saudara kita, baik berupa tenaga maupun harta benda.


Kendati sejatinya kita tidak saling mengenal, namun pada hakikatnya kita semua adalah saudara, saudara dalam agama, saudara dalam bernegara, juga saudara dalam kemanusiaan.

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Orang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, satu sama lainnya saling kuat-menguatkan.”


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.


Selain memberikan bantuan berupa tenaga dan harta, kita juga perlu berdoa untuk saudara-saudara kita agar diberikan kekuatan dan kesabaran terhadap musibah yang menimpa mereka. Sifat sabar sangat penting eksistensinya dalam diri seorang mukmin.


Tanpa rasa sabar, seseorang yang tertimpa musibah tidak akan segan-segan mengutuk atau menyalahkan takdir Allah yang telah ditetapkan, kendati rasa kehilangan yang menusuk dalam hati hingga menimbulkan kesedihan yang mendalam adalah manusiawi.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.


Sifat sabar dalam menghadapi musibah merupakan cerminan dari ketulusan hati seorang mukmin dalam menghamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala.


Pasalnya apabila seorang hamba sudah benar-benar ikhlas dan rida terhadap segala ketentuan yang telah ditakdirkan oleh Allah, maka baik dan buruknya akan diterima dengan kesabaran dan kesadaran bahwa semua yang menimpanya merupakan suratan takdir.


Hal ini pernah disampaikan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: 


ุนู† ุฃุจูŠ ุณุนูŠุฏ ุงู„ุฎุฏุฑูŠ -ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡-، ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ -ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…- ุฃู†ّู‡ ู‚ุงู„: (ู…ุง ูŠُุตِูŠุจُ ุงู„ู…ُุคْู…ِู†َ ู…ِู† ูˆุตَุจٍ، ูˆู„ุง ู†َุตَุจٍ، ูˆู„ุง ุณَู‚َู…ٍ، ูˆู„ุง ุญَุฒَู†ٍ ุญุชَّู‰ ุงู„ู‡َู…ِّ ูŠُู‡َู…ُّู‡ُ، ุฅู„َّุง ูƒُูِّุฑَ ุจู‡ ู…ِู† ุณَูŠِّุฆุงุชِู‡ِ). ุฑูˆุงู‡ ู…ุณู„ู…


“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kekhawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya” (Hadits riwayat Imam Muslim)


Jamaah yang dirahmati Allah, dari hadits yang dibacakan tadi, kita dapat mengambil faedah bahwa kesabaran seorang mukmin terhadap setiap sesuatu yang tidak menyenangkan yang menimpanya akan diberikan ganjaran oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dengan ganjaran berupa dihapusnya dosa-dosa kita. 


Dengan adanya jaminan tersebut, perlu kita sadari bahwa setiap hal yang buruk dalam kacamata manusia, belum tentu buruk di sisi Allah. 


Akan ada konsekuensi dan balasan terhadap musibah yang kita alami, maka perlu sekali kita berlatih untuk meringankan risau kita akan nasib yang menimpa. 


Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


ุนَู†ْ ุฃَู†َุณِ ุจْู†ِ ู…َุงู„ِูƒٍ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُ ุนَู†ْ ุฑَุณُูˆู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚َุงู„َ: (ุฅِู†َّ ุนِุธَู…َ ุงู„ْุฌَุฒَุงุกِ ู…َุนَ ุนِุธَู…ِ ุงู„ْุจَู„َุงุกِ ูˆَุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุฅِุฐَุง ุฃَุญَุจَّ ู‚َูˆْู…ًุง ุงุจْุชَู„َุงู‡ُู…ْ ูَู…َู†ْ ุฑَุถِูŠَ ูَู„َู‡ُ ุงู„ุฑِّุถَุง ูˆَู…َู†ْ ุณَุฎِุทَ ูَู„َู‡ُ ุงู„ุณُّุฎْุทُ


Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


 “Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. 


Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai sebuah kaum niscaya Allah akan memberikan cobaan kepada mereka. 


Maka siapa pun yang rida, maka Allah akan rida kepadanya. 


Dan siapa pun yang tidak rida, maka Allah pun tidak akan rida kepadanya.” (Hadits riwayat Imam al-Tirmidzi)


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.


Meskipun Allah subhanahu wa ta’ala memberikan cobaan kepada kita, Allah tidak akan memberatkan kita dengan ujian yang melampaui batas kemampuan kita. 


Hal tersebut Allah sebut dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 286:


ู„َุง ูŠُูƒَู„ِّูُ ุงู„ู„َّู‡ُ ู†َูْุณًุง ุฅِู„َّุง ูˆُุณْุนَู‡َุง ۚ


“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al-Baqarah : 286)


Dari ayat tersebut, yakinlah bahwa ujian berupa musibah yang menimpa seorang mukmin tidak akan melewati kesanggupannya. 


Oleh sebab itu, tetaplah optimis bahwa pertolongan akan datang kepada kita di kala kesulitan dan musibah menghampiri kita.


Tetaplah menjadi pribadi yang bijaksana meski ujian terasa berat, ingat selalu bahwa Allah bersama kita dalam keadaan apa pun.


Rahmat Allah subhanahu wa ta’ala akan selalu tercurah kepada kita, sebab sungguh Dia Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


ุจَุงุฑَูƒَ ุงู„ู„ู‡ ู„ِูŠ ูˆَู„َูƒُู…ْ ูِูŠ ุงْู„ู‚ُุฑْุขู†ِ ุงْู„ุนَุธِูŠْู…ِ ูˆَู†َูَุนَู†ِูŠ ูˆَุฅِูŠَّุงูƒُู…ْ ุจِู…َุง ูِูŠْู‡ِ ู…ِู†ْ ุขูŠَุฉِ ูˆَุฐِูƒْุฑِ ุงู„ْุญَูƒِูŠْู…ِ. ุฃَู‚ُูˆْู„ُ ู‚َูˆْู„ِูŠ ู‡َุฐَุง ูَุฃุณْุชَุบْูِุฑُ ุงู„ู„ู‡َ ุงู„ุนَุธِูŠْู…َ ุฅِู†َّู‡ُ ู‡ُูˆَ ุงู„ุบَูُูˆْุฑُ ุงู„ุฑَّุญِูŠْู… 


 II

ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ ูˆَ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ  ุซُู…َّ ุงู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ. ุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃู†ْ ู„ุข ุฅู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ ู„َุง ุดَุฑِูŠูƒَ ู„َู‡ُ، ูˆَุฃَุดْู‡َุฏُ ุฃู†َّ ุณَูŠِّุฏَู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏًุง ุนَุจْุฏُู‡ُ ูˆَุฑَุณُูˆْู„ُู‡ُ ุงู„َّุฐِูŠْ ู„َุง ู†َุจِูŠّ ุจุนุฏَู‡ُ. ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ูˆَุณَู„ِّู…ْ ุนَู„َู‰ ู†َุจِูŠِّู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุฃَู„ِู‡ِ ูˆَุฃَุตْุญَุงุจِู‡ِ ูˆَู…َู†ْ ุชَุจِุนَู‡ُู…ْ ุจِุฅِุญْุณَุงู†ٍ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ู‚ِูŠَุงู…َุฉِ


ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ، ูَูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุฃُูˆْุตِูŠْูƒُู…ْ ูˆَู†َูْุณِูŠْ ุจِุชَู‚ْูˆَู‰ ุงู„ู„ู‡ِ ูَู‚َุฏْ ูَุงุฒَ ุงู„ْู…ُุชَّู‚ُูˆْู†َ. ูَู‚َุงู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰: ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ูˆَู…َู„َุงุฆِูƒَุชَู‡ُ ูŠُุตَู„ُّูˆْู†َ ุนَู„َู‰ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ، ูŠٰุฃَ ูŠُّู‡ุง ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ุขู…َู†ُูˆْุง ุตَู„ُّูˆْุง ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„ِّู…ُูˆْุง ุชَุณْู„ِูŠْู…ًุง. ุงَู„ู„َّู‡ُู…َّ ุตَู„ِّ ุนَู„َู‰ ุณَูŠِّุฏَู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ ูˆَุนَู„َู‰ ุฃَู„ِ ุณَูŠِّุฏَู†َุง ู…ُุญَู…َّุฏٍ. ุงู„ู„ู‡ُู…َّ ุงุบْูِุฑْ ู„ِู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠْู†َ ูˆَุงْู„ู…ُุคْู…ِู†َุงุชِ ูˆَุงْู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ูˆَุงْู„ู…ُุณْู„ِู…َุงุชِ، ุงَู„ْุฃَุญْูŠุงุกِ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ูˆَุงْู„ุงَู…ْูˆَุงุชِ. ุงู„ู„ู‡ُู…َّ ุงุฏْูَุนْ ุนَู†َّุง ุงْู„ุจَู„ุงَุกَ ูˆَุงْู„ูˆَุจَุงุกَ ูˆุงู„ู‚ُุฑُูˆْู†َ ูˆَุงู„ุฒَّู„ุงَุฒِู„َ ูˆَุงْู„ู…ِุญَู†َ ูˆَุณُูˆْุกَ ุงْู„ูِุชَู†ِ ูˆَุงْู„ู…ِุญَู†َ ู…َุง ุธَู‡َุฑَ ู…ِู†ْู‡َุง ูˆَู…َุง ุจَุทَู†َ ุนَู†ْ ุจَู„َุฏِู†َุง ุฅِู†ْุฏُูˆู†ِูŠْุณِูŠَّุง ุฎุขุตَّุฉً ูˆَุณَุงุฆِุฑِ ุงْู„ุจُู„ْุฏَุงู†ِ ุงْู„ู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ุนุงู…َّุฉً ูŠَุง ุฑَุจَّ ุงْู„ุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ


ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَุฑِู†َุง ุงู„ْุญَู‚َّ ุญَู‚ًّุง ูˆَุงุฑْุฒُู‚ْู†َุง ุงุชِّุจَุงุนَู‡ُ ูˆَุฃَุฑِู†َุง ุงู„ْุจَุงุทِู„َ ุจَุงุทِู„ًุง ูˆَุงุฑْุฒُู‚ْู†َุง ุงุฌْุชِู†َุงุจَู‡ُ. ุฑَุจَّู†َุง ุขุชِู†ุงَ ูِู‰ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุญَุณَู†َุฉً ูˆَูِู‰ ุงْู„ุขุฎِุฑَุฉِ ุญَุณَู†َุฉً ูˆَู‚ِู†َุง ุนَุฐَุงุจَ ุงู„ู†َّุงุฑِ. ูˆَุงَู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„ّٰู‡ِ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนٰู„َู…ِูŠْู†َ

 
ุนٍุจَุงุฏَ ุงู„ู„ู‡ِ، ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ูŠَุฃْู…ُุฑُ ุจِุงْู„ุนَุฏْู„ِ ูˆَุงْู„ุฅِุญْุณَุงู†ِ ูˆَุฅِูŠْุชุงุกِ ุฐِูŠ ุงْู„ู‚ُุฑْุจู‰َ ูˆَูŠَู†ْู‡َู‰ ุนَู†ِ ุงْู„ูَุญْุดุงุกِ ูˆَุงْู„ู…ُู†ْูƒَุฑِ ูˆَุงْู„ุจَุบْูŠِ ูŠَุนِุธُูƒُู…ْ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَุฐَูƒَّุฑُูˆْู†َ، ูˆَุงุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงู„ู„ู‡َ ุงْู„ุนَุธِูŠْู…َ ูŠَุฐْูƒُุฑْูƒُู…ْ، ูˆَุงุดْูƒُุฑُูˆْู‡ُ ุนَู„ู‰َ ู†ِุนَู…ِู‡ِ ูŠَุฒِุฏْูƒُู…ْ، ูˆَู„َุฐِูƒْุฑُ ุงู„ู„ู‡ِ ุฃَูƒْุจَุฑْ


Ustadz Yachya Yusliha 

Kamis, 01 Desember 2022

Empat Pilar Agama dan Dunia



 ุนَู†ْ ุนَู„ِู‰ّ ูƒَุฑَّู…َ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَุฌْู‡َู‡ُ ุฃَู†َّู‡ُ ู‚َุงู„َ ู„ุงَ ูŠَุฒَุงู„ُ ุงู„ุฏِّูŠْู†ُ ูˆَ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ู‚َุงุฆِู…َูŠْู†ِ ู…َุงุฏَุงู…َุชْ ุฃَุฑْุจَุนَุฉُ ุฃَุดْูŠَุงุกَ: ู…َุงุฏَุงู…َ ุงْู„ุฃَุบْู†ِูŠَุงุกُ ู„ุงَ ูŠَุจْุฎَู„ُูˆْู†َ ุจِู…َุง ุฎُูˆِّู„ُูˆْุง ูˆَ ู…َุงุฏَุงู…َ ุงู„ْุนُู„َู…َุงุกُ ูŠَุนْู…َู„ُูˆْู†َ ุจِู…َุง ุนَู„ِู…ُูˆْุง ูˆَ ู…َุงุฏَุงู…َ ุงู„ْุฌُู‡َู„ุงَุกُ ู„ุงَ ูŠَุณْุชَูƒْุจِุฑُูˆْู†َ ุนَู…َّุง ู„َู…ْ ูŠَุนْู„َู…ُูˆْุง ูˆَ ู…َุงุฏَุงู…َ ุงู„ْูُู‚َุฑَุงุกُ ู„ุงَ ูŠَุจِูŠْุนُูˆْู†َ ุขุฎِุฑَุชَู‡ُู…ْ ุจِุฏٌู†ْูŠَุงู‡ُู…ْ

 Diriwayatkan dari Sayyidina 

Ali karomallohu wajhah bahwa agama dan dunia senantiasa akan tetap berdiri tegak selama ada empat perkara. Yaitu selama orang-orang kaya tidak kikir dengan apa-apa yang telah diberikan kepadanya, selama para ulama masih mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, selama orang-orang bodoh tidak sombong dari perkara yang tidak diketahuinya dan selama orang-orang fakir tidak menjual akhiratnya dengan dunia.

Saat ini, kita dihantui oleh bayangan keruntuhan agama dan dunia. 


Bayangan itu bukan lahir dari khayalan, melainkan dari deretan fakta hidup dan kehidupan yang kini banyak menyimpang dari prinsip-prinsip syariat Allah. 


Fakta-fakta penyimpangan itu secara benderang bisa kita saksikan di mana-mana.


Bahkan di dalam diri kita sendiri. 


Contoh kecil adalah betapa kita seringkali senang menimbun harta, padahal di dalam harta itu terdapat hak-hak orang miskin dan fakir yang wajib dipenuhi.


Menurut Sayyidina Ali k.w., agama dan dunia tidak akan runtuh selama orang-orang kaya tidak kikir dengan apa-apa yang telah diberikan kepadanya, selama para ulama masih mengamalkan apa-apa yang diketahuinya, selama orang-orang bodoh tidak sombong dari perkara yang tidak diketahuinya dan selama orang-orang fakir tidak menjual akhiratnya dengan dunia. 


Sebaliknya, keempat perkara itu menjadi indikator runtuhnya fondasi agama dan dunia, apabila tidak berjalan secara fungsional.


1. Tidak Kikir

Orang-orang kaya sejatinya menjadi pilar penyangga tegaknya agama dan dunia.


Yaitu orang-orang kaya yang memiliki jiwa kedermawanan dan solidaritas sosial yang tinggi. 


Jiwa kedermawanan itu di buktikan dengan sikap lapang dada untuk mau membantu meringankan beban ekonomi orang-orang fakir dan miskin.


Sedangkan solidaritas sosial ditunjukkan dengan sikap simpati dan empati manakala menyaksikan orang yang sengaja “dianiaya” atau “terpinggirkan” dalam struktur sosial.


Realitas saat ini menunjukkan fakta berbeda. 


Banyak orang kaya yang bersikap egois dan sombong. Egoisme dan kesombongan itu bisa kita lihat dari keengganan mereka untuk mau membantu orang-orang tidak mampu dan berada di garis kemiskinan.


Justru sebaliknya, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menambah volume kekayaan yang mereka miliki.


Dalam pikiran mereka, semakin kaya secara harta semakin tinggi pula derajatnya di mata masyarakat. 


Bangunan logika mereka berdiri kokoh di atas pondasi materialisme yang hanya “menuhankan” harta dan kekayaan.


Orang kaya yang kikir senantiasa berpikir bagaimana mengekploitasi semaksimal mungkin kekayaan yang terpendam di bumi dan di langit untuk kepentingan dirinya sendiri.

 

Ironisnya lagi, mereka lupa bahwa harta kekayaan itu sebenarnya juga milik anak cucu mereka mendatang.


Kalau setiap orang kaya bersikap seperti ini, jangan pernah berharap orang-orang miskin bisa terangkat kesejahteraan hidupnya. 


Dan jangan pernah berharap pula anak cucu mereka di masa mendatang bisa hidup sejahtera.


Sikap kikir orang-orang kaya inilah sesungguhnya biang keruntuhan agama dan dunia.


Bagaimana mungkin para penganut agama bisa beribadah dengan baik dan khusyu’ sementara perut mereka lapar. 


Bagaimana dunia bisa dinikmati oleh banyak orang kalau masih ada segelintir orang yang mengekploitasi kekayaan yang terpendam di dalamnya untuk kepentingan dirinya sendiri. 


Memelihara sikap kikir sama halnya membiarkan ulat memakan batang kayu dari dalam. 


Kayu itu akan rapuh dan hancur, cepat ataupun lambat. 


Begitu juga agama dan dunia. Keduanya akan tinggal nama dan kenangan.


Sungguh, Allah tidak senang terhadap orang kaya yang kikir (bakhil). 


Sebagai balasannya, Allah akan menyiksa orang-orang kikir (bakhil) itu di hari kiamat kelak. Firman Allah SWT,


“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. 


Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka.


Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. 


Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. 


Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS ร‚li ’Imrรดn: 180)


2. Konsisten dengan Ilmu

Ulama yang konsisten mengamalkan ilmunya termasuk salah satu faktor tegaknya agama dan dunia.


Ulama yang konsisten senantiasa meniatkan seluruh amaliahnya, baik ritual keagamaan maupun aktivitas sosialnya, kepada tujuan primer “semata-mata ibadah kepada Allah.” 


Tidak ada tujuan lain.

Para ulama mengabdikan hidupnya untuk Allah semata. 


Sementara ilmu yang dimiliki, mereka manfaatkan untuk kesejahteraan umat manusia.


Bukan untuk mencelakakan manusia. 


Mereka berkeyakinan, semakin banyak ilmu yang di berikan kepada orang lain, semakin tajam ilmu yang di miliki dan semakin besar pahala yang akan diraihnya.


Para ulama meyakini bahwa ilmu akan senantiasa mengalir menjadi hikmah manakala ilmu itu secara istiqamah diamalkan.


Ulama sejati tidak akan pernah menyembunyikan apa-apa yang diketahuinya.


Menyembunyikan ilmu sama halnya dengan menghalangi seseorang untuk mengetahui Tuhannya dan dirinya. 


Sikap seperti ini tidak bisa di benarkan bagi seorang ulama pewaris Nabi. 


Apalagi mereka termasuk hamba Allah yang paling takut kepada-Nya. Firman Allah SWT,


“…Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.


Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS Fรขtir: 28).


Kalau kita cermati kondisi ulama saat ini, sungguh cukup memperihatinkan.


Godaan harta, jabatan, dan wanita menjadi faktor dominan bagaimana ulama sekarang tidak lagi mampu memainkan perannya sebagai pewaris para Nabi.


Jangankan konsisten mengamalkan ilmu, sebagian ulama kini hidupnya “tersandera” dengan jabatan-jabatan politik yang sangat kotor. 


Mereka seringkali lupa pulang ke “kampung halaman” untuk sekadar berdakwah menyeru umatnya kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. 


Kalau ulamanya seperti ini, kehancuran agama dan dunia tinggal menunggu hitungan waktu. Naรปdzubillรขh.


3. Tidak Sombong

Agama dan dunia senantiasa akan tegak mana kala orang-orang bodoh tidak sombong terhadap hal-hal yang tidak diketahuinya.

 

Kesombongan inilah sumber utama yang menyebabkan orang-orang bodoh mudah terjerumus ke lubang nestapa. 


Orang bodoh yang sombong senantiasa akan bersikap “sok pintar” dan “sok menguasai masalah”. Kesombongan telah membawa orang-orang bodoh ke jurang egoisme yang tak berkesudahan.


Orang bodoh yang sombong tidak lagi mengenal etika sosial, apalagi kerendahan hati. 


Yang penting baginya adalah bagaimana bisa tampil gagah dan mengesankan. 


Sikap seperti ini sangat berbahaya, terutama apabila orang-orang bodoh yang sombong itu menyampaikan jawaban terkait masalah-masalah agama padahal dia tidak menguasai subtansi masalah itu. 


Jawaban yang diberikan pasti menyesatkan. 


Jawaban seperti sedikit banyak akan berakibat pada proses pendangkalan sikap keberagamaan kita.

 

Orang-orang bodoh yang sombong itu seperti tong kosong nyaring bunyinya.


Hanya penampilan fisiknya yang prima padahal hatinya hampa.


Bagaimana jadinya dunia ini kalau di penuhi dengan orang bodoh yang sombong. 


Sudah dipastikan wajah dunia akan semrawut.

 

Dunia akan menjadi sesak. Ibarat sampah, orang-orang bodoh yang sombong hanya akan menjadi beban bagi dunia. 


Walaupun memang sulit untuk melenyapkannya.


Padahal sikap sombong termasuk sikap paling dibenci oleh Allah. Firman Allah SWT,

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, Karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS Al-Isrรข: 37).


Alangkah bijak kiranya, apabila orang-orang bodoh itu mengakui kebodohannya dan tidak sombong.


Mengakui kekurangan dan ketidak tahuan terhadap satu persoalan adalah salah satu modal utama terciptanya suasana hidup beragama yang harmonis.


4. Tidak Menjual Akhirat dengan Dunia

Seringkali kita mendengar cerita orang miskin berpindah agama, hanya gara-gara uang. 


Cerita itu adalah sebuah ironi bagi penganut agama.


Kenyataan ini menandakan betapa harta mampu menjadi panglima. 


Sangat disayangkan seorang beragama mengorbankan keyakinan dan akhiratnya dengan urusan dunia yang tidak kekal itu. 


Kalau begitu, betapa tidak berartinya akhirat, dan betapa bernilainya dunia. 


Satu logika terbalik, yang kini banyak merasuki pikiran orang-orang saat ini.


Memang, kefakiran menjadi salah sebab seseorang menjadi kafir. 


Tetapi, hal itu tidak berlaku bagi orang-orang fakir yang fondasi imannya kuat dan keyakinan agamanya kokoh.


Biar pun langit bergoncang, orang fakir itu akan tetap kokoh dan taat kepada agamanya, serta tidak akan pernah berpindah ke agama lain. 


Bagi mereka, akhirat lebih abadi dan penuh kedamaian.


 Firman Allah SWT,

“Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupn dunia. 


Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS Al-A’lรข: 16-17)


Lalu, buat apa menukar akhirat dengan dunia yang penuh kepalsuan itu? 


Bisa jadi, motivasinya adalah untuk mengurangi beban hidup yang kian hari bertambah berat atau sebagai bentuk dari sikap tidak percaya dan penentangan terhadap nilai-nilai agama, seperti tidak mempercayai masalah-masalah ghoib, terutama yang berkaitan dengan akhirat.


Di sinilah pentingnya melakukan proses edukasi bagi orang-orang fakir tentang hakikat agama dan dunia. 


Agar mereka tidak tergiur dengan rayuan material dan hal-hal yang bersifat duniawi lainnya. 


Apalagi sampai menjual keyakinannya dengan cara pindah agama. 


Proses edukasi itu diarahkan juga pada pemahaman yang benar bahwa kehidupan akhirat lebih subtansial dan penting tinimbang kehidupan dunia yang fana ini


Demikianlah, empat pilar tegaknya agama dan dunia.


Sekarang tinggal bagaimana kita memberi penyadaran.


Bagaimana orang kaya tidak kikir, ulama bisa konsisten dengan ilmunya, orang bodoh tidak sombong, dan bagaimana orang fakir tidak mudah tergoda dengan urusan dunia. 


Kalau ke empatnya mampu bersikap seperti itu, insya-Allah, tiang agama dan dunia akan terus tegak sampai hari kiamat nanti. 


Wallรขhu a’lam bish-shawรขb.