Senin, 23 Mei 2022
Jumat, 20 Mei 2022
Al-Baqarah, ayat 7
Al-Baqarah, ayat 7
{ุฎَุชَู َ ุงَُّููู ุนََูู ُُูููุจِِูู ْ َูุนََูู ุณَู ْุนِِูู ْ َูุนََูู ุฃَุจْุตَุงุฑِِูู ْ ุบِุดَุงَูุฉٌ ََُูููู ْ ุนَุฐَุงุจٌ ุนَุธِูู ٌ (7) }
Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
Khatamallahu, menurut As-Saddi maknanya ialah "Allah mengunci mati."
Menurut Qatadah, ayat ini bermakna "setan telah menguasai mereka, mengingat mereka taat kepada keinginan setan, maka Allah mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka terdapat penutup. Mereka tidak dapat melihat jalan hidayah, tidak dapat mendengarnya, tidak dapat memahaminya, dan tidak dapat memikirkannya".
Ibnu Juraij mengatakan bahwa Mujahid pernah mengatakan sehubungan dengan makna khatamallahu 'ala qulubihim, bahwa makna at-tab'u ialah dosa-dosa telah melekat di hati dan meliputinya dari semua sisinya hingga menutupinya dengan rapat. Istilah menutup inilah yang dinamakan, yakni dilak.
Menurut Ibnu Juraij sendiri, yang terkunci mati ialah kalbu dan pendengarannya. Selanjutnya Ibnu Juraij mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Kasir, bahwa ia pernah mendengar Mujahid berkata, "Istilah ar-ran (kotoran) lebih ringan daripada istilah at-tab'u (tertutup rapat), sedangkan at-tab'u lebih ringan daripada al-iqfal (terkunci), dan al-iqfal lebih berat daripada kesemuanya."
Al-A'masy mengatakan bahwa Mujahid pernah berisyarat memperagakan kepadaku dengan tangannya tentang pengertian ini. Dia mengatakan, "Mereka berpendapat bahwa kalbu seseorang itu semisal dengan ini, yakni telapak tangannya. Apabila seseorang hamba melakukan suatu dosa, maka sebagian darinya tergenggam seraya menggenggamkan jari manisnya. Apabila dia berbuat dosa lagi, maka tergenggam pula yang lainnya seraya menggenggamkan jari yang lainnya, hingga semua jari jemari telapak tangannya tergenggam." Kemudian dia mengatakan, "Maka tertutup rapatlah kalbunya oleh dosa-dosa tersebut." Mujahid mengatakan pula, "Mereka memandang bahwa hal tersebutlah yang dinamakan kotoran dosa yang menutupi."
Ibnu Jarir meriwayatkan hal yang sama dari Kuraib, dari Waki', dari Al-A'masy, dari Mujahid.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa sebagian ulama mengatakan bahwa sesungguhnya makna firman-Nya: Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka. (Al-Baqarah: 7) merupakan berita dari Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang sifat takabur orang-orang kafir dan berpalingnya mereka dari perkara hak yang disampaikan kepada mereka, yakni mereka tidak mau mendengarkannya. Perihalnya sama dengan perkataan seseorang, "Sesungguhnya si Fulan tuli, tidak mau mendengar perkataan ini," yakni bila dia tidak mau mendengarkannya dan merasa tinggi diri, tidak mau memahaminya karena takabur.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat ini tidak benar, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberitahukan bahwa Dialah yang mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka.
Az-Zamakhsyari mengulas dengan pembahasan panjang lebar dalam menyanggah apa yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir tadi, dan Az-Zamakhsyari menakwilkan makna ayat dari lima hipotesis, tetapi semuanya itu lemah sekali. Menurut kami, tiada yang mendorongnya berbuat demikian melainkan hanya aliran mu'tazilah yang dianutnya. Alasan yang dikemukakannya ialah bahwa makna "mengunci mati hati mereka dan membuatnya menolak untuk menerima perkara yang disampaikan kepadanya" merupakan suatu hal yang buruk (jahat) menurut Az-Zamakhsyari, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Tinggi dari perbuatan tersebut; demikianlah keyakinannya.
Akan tetapi, seandainya dia memahami firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengatakan:
ََููู َّุง ุฒุงุบُูุง ุฃَุฒุงุบَ ุงَُّููู ُُูููุจَُูู ْ
Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. (Ash-Shaff: 5)
ََُِّููููุจُ ุฃَْูุฆِุฏَุชَُูู ْ َูุฃَุจْุตุงุฑَُูู ْ َูู ุง َูู ْ ُูุคْู ُِููุง ุจِِู ุฃَََّูู ู َุฑَّุฉٍ ََููุฐَุฑُُูู ْ ِูู ุทُุบْูุงِِููู ْ َูุนْู ََُููู
Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (Al-An'am: 110)
Masih banyak ayat serupa lainnya yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Allah Swt. mengunci mati kalbu orang-orang kafir dan menghalang-halangi antara mereka dan hidayah, hanyalah sebagai balasan yang setimpal atas perbuatan mereka yang terus-menerus tenggelam di dalam kebatilan dan mereka tidak mau mengikuti perkara yang hak. Hal ini merupakan keadilan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai sikap yang baik, bukan yang buruk. Seandainya Az-Zamakhsyari menyadari hal ini, niscaya dia tidak akan mengeluarkan pendapatnya itu.
Al-Qurtubi mengatakan, para ulama sepakat bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menyifati diri-Nya berlaku mengunci mati dan mengelak kalbu orang-orang kafir sebagai balasan yang setimpal atas kekufuran mereka, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:
ุจَْู ุทَุจَุนَ ุงَُّููู ุนََْูููุง ุจُِْููุฑِِูู ْ
Sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya. (An-Nisa: 155)
Selanjutnya Al-Qurtubi menyebutkan hadis yang menceritakan tentang berbolak-baliknya hati, yaitu:
"ََููุง ู َُِّููุจَ ุงُُْููููุจِ ุซَุจِّุชْ ُُูููุจََูุง ุนََูู ุฏَِِููู"
Wahai Tuhan yang membolak-balikkan kalbu, tetapkanlah kalbu kami dalam agama-Mu.
Ia mengetengahkan hadis Huzaifah yang terdapat di dalam kitab Sahih, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:
"ุชُุนْุฑَุถُ ุงِْููุชَُู ุนََูู ุงُُْููููุจِ َูุงْูุญَุตِูุฑِ ุนُูุฏًุง ุนُูุฏًุง َูุฃَُّู َْููุจٍ ุฃُุดْุฑِุจََูุง ُِููุชَ ِِููู ُْููุชَุฉٌ ุณَْูุฏَุงุกُ َูุฃَُّู َْููุจٍ ุฃََْููุฑََูุง ُِููุชَ ِِููู ُْููุชَุฉٌ ุจَْูุถَุงุกُ، ุญَุชَّู ุชَุตِูุฑَ ุนََูู َْููุจَِْูู: ุนََูู ุฃَุจَْูุถَ ู ِุซِْู ุงูุตََّูุงุกِ ََููุง ุชَุถُุฑُُّู ِูุชَْูุฉٌ ู َุง ุฏَุงู َุชِ ุงูุณَّู ََูุงุชُ َูุงْูุฃَุฑْุถُ، َูุงْูุขุฎَุฑُ ุฃَุณَْูุฏُ ู ُุฑْุจَุงุฏٌّ َูุงُْูููุฒِ ู ُุฌَุฎًِّูุง َูุง َูุนْุฑُِู ู َุนْุฑًُููุง ََููุง ُِْูููุฑُ ู َُْููุฑًุง"
Berbagai macam fitnah (dosa) ditampilkan pada kalbu bagaikan tikar yang dianyam sehelai demi sehelai. Hati siapa yang melakukannya, maka dosa itu membuat suatu noktah hitam padanya; dan hati siapa yang mengingkarinya, maka terukirlah padanya suatu sepuhan yang putih. Hingga hati manusia itu ada dua macam, yaitu ada yang putih semisal warna yang jernih; hati yang ini tidak akan tertimpa bahaya oleh suatu dosa pun selagi masih ada langit dan bumi. Sedangkan hati yang lainnya tampak hitam kelam seperti tembikar yang hangus terbakar, ia tidak mengenal perkara yang makruf dan tidak ingkar terhadap perkara yang mungkar... hingga akhir hadis.
Ibnu Jarir mengatakan, "Menurut kami, yang benar sehubungan dengan masalah ini adalah sebuah hadis sahih yang bermakna semisal dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam, yaitu sebuah hadis yang diceritakan kepada kami oleh Muhammad ibnu Basysyar; dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ajlan, dari Al-Qa'qa', dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:
ุฅَِّู ุงْูู ُุคْู َِู ุฅِุฐَุง ุฃَุฐَْูุจَ ุฐَْูุจًุง َูุงَูุชْ ُْููุชุฉ ุณَْูุฏَุงุกُ ِูู َْููุจِِู َูุฅِْู ุชَุงุจَ ููุฒุนَ َูุงุณْุชَุนْุชَุจَ ุตَُِูู َْููุจُُู، َูุฅِْู ุฒَุงุฏَ ุฒَุงุฏَุชْ ุญَุชَّู ุชَุนَُْูู َْููุจَُู، َูุฐََِูู ุงูุฑَّุงُู ุงَّูุฐِู َูุงَู ุงَُّููู ุชَุนَุงَูู: {َููุง ุจَْู ุฑَุงَู ุนََูู ُُูููุจِِูู ْ ู َุง َูุงُููุง َْููุณِุจَُูู}
Sesungguhnya orang mukmin itu apabila berbuat suatu dosa, maka hal itu merupakan noktah hitam pada hatinya. Tetapi jika dia bertobat dan kapok serta menyesali, maka tersepuhlah hatinya (menjadi bersih kembali). Tetapi apabila dosanya bertambah, maka bertambah pulalah noktah hitam itu hingga (lama-kelamaan) menutupi hatinya, yang demikian itulah yang dimaksudkan dengan istilah ar-ran di dalam firman-Nya, "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi mereka." (Al-Muthaffifin: 14)
Hadis ini dari segi yang sama diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi dan Imam Nasai, dari Qutaibah, Lais ibnu Sa'd dan Ibnu Majah, dari Hisyam ibnu Ammar, dari Hatim ibnu Ismail dan Al-Walid ibnu Muslim, semuanya berasal dari Muhammad ibnu Ajlan dengan lafaz yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan sahih.
Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, "Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam telah memberitakan bahwa dosa-dosa itu apabila berturut-turut membuat noktah hitam pada hati maka ia akan menutup hati. Apabila telah tertutup, maka saat itulah dilakukan penguncian oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dilak. Setelah itu tiada jalan bagi iman untuk menembusnya dan tiada jalan keluar bagi kekufuran untuk meninggalkannya."
Pengertian inilah yang dimaksud oleh istilah penguncian dan pengelakan yang dinyatakan di dalam firman-Nya: Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka. (Al-Baqarah: 7)
Pengertian ini diserupakan dengan penguncian dan pengelakan hal yang dapat diinderawi dengan mata, yakni diserupakan dengan wadah dan botol yang tidak dapat diambil isinya kecuali dengan membuka dan memutar tutupnya. Dengan kata lain, demikian pula iman; tidak dapat sampai ke dalam kalbu orang-orang yang disifati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala hati dan pendengaran mereka telah dikunci mati, kecuali setelah membuka dan melepaskan penutup yang menguncinya.
Perlu diketahui bahwa waqaf yang sempurna (menghentikan bacaan secara total) pada firman-Nya:
ุฎَุชَู َ ุงَُّููู ุนَูู ُُูููุจِِูู ْ َูุนَูู ุณَู ْุนِِูู ْ
Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka. (Al-Baqarah: 7)
َูุนَูู ุฃَุจْุตุงุฑِِูู ْ ุบِุดุงَูุฉٌ
dan penglihatan mereka ditutup. (Al-Baqarah: 7)
Menandakan masing-masing sebagai jumlah yang sempurna. Dengan kata lain, penguncian dilakukan terhadap hati dan pendengaran, sedangkan penutupan terjadi pada penglihatan. Sebagaimana yang dikatakan As-Saddi di dalam kitab Tafsir-nya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu dan dari sejumlah sahabat Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam sehubungan dengan firman-Nya: Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka. (Al-Baqarah: 7)
As-Saddi mengatakan, "Karena itu, mereka (orang-orang kafir) tidak dapat berpikir dan tidak dapat pula mendengarnya." Disebutkan pula, "Dan penglihatan mereka ditutup," makna yang dimaksud ialah pada penglihatan mereka ada penutupnya hingga mereka tidak dapat melihat perkara yang hak.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sa'd, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepadaku pamanku (Al-Husain ibnul Hasan), dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ibnu Abbas, bahwa Allah telah mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka, sedangkan penutup terdapat pada penglihatan mereka. Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain (yakni Abu Daud), telah menceritakan kepadaku Hajjaj (yakni Ibnu Muhammad Al-A'war), telah menceritakan kepadaku Ibnu Juraij yang pernah mengatakan bahwa penguncian terjadi pada hati dan penglihatan, sedangkan penutupan terjadi pada penglihatan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
َูุฅِْู َูุดَุฅِ ุงَُّููู َูุฎْุชِู ْ ุนَูู َْููุจَِู
Maka jika Allahรฏ¿½ menghendaki,รฏ¿½ niscaya Diaรฏ¿½ mengunci mati hatimu. (Asy-Syura: 24)
َูุฎَุชَู َ ุนَูู ุณَู ْุนِِู ََْูููุจِِู َูุฌَุนََู ุนَูู ุจَุตَุฑِِู ุบِุดุงَูุฉً
Dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. (Al-Jatsiyah: 23)
Ibnu Jarir mengatakan lafaz gisyawah pada firman-Nya, "Wa'ala absarihim gisyawatan" (Al-Baqarah: 7), barangkali yang me-nasab-kannya adalah fi'il yang tidak disebutkan. Bentuk lengkapnya ialah wa-ja'ala 'ala absarihim gisyawatan (Dan Dia menjadikan pada penglihatan mereka penutup). Barangkali nasab-nya itu karena mengikut kepada mahall i'rab dari lafaz wa 'ala sam'ihim, sebagaimana i'rab ittiba' pada firman-Nya:
َูุญُูุฑٌ ุนٌِูู
Dan (mereka dikelilingi oleh) bidadari-bidadari yang bermata jeli. (Al-Waqi'ah: 22)
Demikian pula pada perkataan seorang penyair, yaitu:
ุนََْููุชَُูุง ุชِุจًْูุง َูู َุงุกً ุจَุงุฑِุฏًุง ... ุญَุชَّู ุดَุชَุชْ َูู َّุงَูุฉً ุนููุงูุง
َูุฑَุฃَْูุชُ ุฒَْูุฌَِู ِูู ุงَْููุบَู ... ู ُุชََِّููุฏًุง ุณًَْููุง َูุฑُู ْุญًุง
Aku beri dia makan makanan ternak dan kuberi dia minum air yang sejuk, hingga terhapuslah belek pada kedua matanya, dan aku lihat suamimu berada dalam pertempuran menyandang pedang dan memanggul tombak.
Bentuk lengkapnya ialah wasaqaituha ma-an baridan dan mu'taqilan bumhan.
Setelah disebutkan sifat orang-orang mukmin dalam permulaan surat melalui empat ayat yang mengawalinya, kemudian diperkenalkan pula keadaan orang-orang kafir melalui dua ayat berikutnya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala mulai menjelaskan keadaan orang-orang munafik. Orang-orang munafik adalah mereka yang menampakkan lahiriahnya seakan-akan beriman, sedangkan di dalam batin mereka memendam kekufuran. Mengingat perkara mereka membingungkan kebanyakan orang, maka Allah Swt. mengetengahkan perihal mereka dalam pembahasan yang cukup panjang dengan menyebutkan sifat dan ciri khas yang beraneka ragam, tetapi masing-masing ragam dan bentuk tersebut merupakan ciri khas kemunafikan tersendiri. Sebagaimana Allah pun menyebutkan perihal mereka dalam surat Baraah (surat At-Taubah), surat Munafiqun, dan surat An-Nur serta surat-surat lainnya, untuk memperkenalkan keadaan dan sepak terjang mereka agar dihindari dan jangan sampai orang yang belum mengetahuinya terjerumus ke dalamnya.
Kamis, 19 Mei 2022
Al-Baqarah, ayat 16
Rabu, 18 Mei 2022
Al-Baqarah Ayat 14-15
Al-Baqarah, ayat 14-15
{َูุฅِุฐَุง َُูููุง ุงَّูุฐَِูู ุขู َُููุง َูุงُููุง ุขู ََّูุง َูุฅِุฐَุง ุฎََْููุง ุฅَِูู ุดََูุงุทِِِูููู ْ َูุงُููุง ุฅَِّูุง ู َุนَُูู ْ ุฅَِّูู َุง َูุญُْู ู ُุณْุชَْูุฒِุฆَُูู (14) ุงَُّููู َูุณْุชَْูุฒِุฆُ ุจِِูู ْ ََููู ُุฏُُّูู ْ ِูู ุทُุบَْูุงِِููู ْ َูุนْู ََُููู (15) }
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, "Kami telah beriman." Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, "Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian, kami hanyalah ber-olok-olok." Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Apabila orang-orang munafik bersua dengan orang-orang mukmin, mereka berkata, 'Kami beriman'." Mereka menampakkan kepada kaum mukmin seakan-akan diri mereka beriman dan berpihak atau bersahabat dengan kaum mukmin. Akan tetapi, sikap ini mereka maksudkan untuk mengelabui kaum mukmin dan diplomasi mereka untuk melindungi diri agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang mukmin dan mendapat bagian ganimah dan kebaikan yang diperoleh kaum mukmin.
Bilamana mereka kembali bersama setan-setannya. Makna yang dimaksud ialah bilamana mereka kembali dan pergi dengan setan-setan mereka tanpa ada orang lain. Lafaz khalau mengandung makna insarafu, yakni kembali, karena ia muta'addi dengan huruf ila untuk menunjukkan fi'il yang tidak disebutkan dan yang disebutkan. Di antara ulama ada yang mengatakan bahwa ila di sini bermakna ma'a, yakni "apabila mereka berkumpul bersama setan mereka tanpa ada orang lain". Akan tetapi, makna yang pertama lebih baik, yaitu yang dijadikan pegangan oleh Ibnu Jarir.
As-Saddi mengatakan dari Abu Malik, khalau artinya pergi menuju setan-setan mereka. Syayatin artinya pemimpin dan pembesar atau kepala mereka yang terdiri atas kalangan pendeta Yahudi, pemimpin-pemimpin kaum musyrik dan kaum munafik. As-Saddi di dalam kitab Tafsir-nya mengatakan dari Abu Malik dan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas'ud serta dari sejumlah sahabat Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam, bahwa yang dimaksud dengan setan-setan mereka dalam firman-Nya, "Wa iza khalau ila syayatinihim," ialah para pemimpin kekufuran mereka.
Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas, bahwa makna ayat ialah apabila mereka kembali kepada teman-temannya. Teman-teman mereka disebut setan-setan mereka.
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya, "Dan apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka," yakni yang terdiri atas kalangan orang-orang Yahudi, yaitu mereka yang menganjurkannya untuk berdusta dan menentang apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam
Mujahid mengatakan bahwa makna syayatinihim ialah teman-teman mereka dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang musyrik.
Qatadah mengatakan, yang dimaksud dengan syayatinihim ialah para pemimpin dan para panglima mereka dalam kemusyrikan dan kejahatan. Hal yang semisal dikatakan pula oleh Abu Malik, Abul Aliyah, As-Saddi, dan Ar-Rabi' ibnu Anas.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa syayatin artinya segala sesuatu yang membangkang. Adakalanya setan itu terdiri atas kalangan manusia dan jin, sebagaimana dinyatakan di dalam firman-Nya:
ََููุฐَِูู ุฌَุนَْููุง ُِِّููู َูุจٍِّู ุนَุฏًُّูุง ุดَูุงุทَِูู ุงْูุฅِْูุณِ َูุงْูุฌِِّู ُููุญِู ุจَุนْุถُُูู ْ ุฅِูู ุจَุนْุถٍ ุฒُุฎْุฑَُู ุงَِْْูููู ุบُุฑُูุฑุงً
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). (Al-An'am: 112)
Di dalam kitab Musnad disebutkan sebuah hadis dari Abu Zar, bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:
"َูุนُูุฐُ ุจِุงَِّููู ู ِْู ุดََูุงุทِِูู ุงْูุฅِْูุณِ َูุงْูุฌِِّู". َُْูููุชُ: َูุง ุฑَุณَُูู ุงَِّููู، َِْูููุฅِْูุณِ ุดََูุงุทٌِูู؟ َูุงَู: "َูุนَู ْ"
"Kami berlindung kepada Allah dari setan-setan manusia dan setan-setan jin." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah manusia itu ada yang menjadi setan?" Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam menjawab, 'Ya."
Qalu inna ma'akum, mereka mengatakan, "Sesungguhnya kami bersama kalian." Menurut Muhammad ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa maknanya ialah "sesungguhnya kami sependirian dengan kalian". Innama nahnu mustahziun, sesungguhnya kami hanya mengajak mereka dan mempermainkan mereka.
Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas. Mereka mengatakan, "Sesungguhnya kami hanya mengolok-olok dan mengejek teman-teman Muhammad." Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi' ibnu Anas dan Qatadah.
Sebagai bantahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap perbuatan orang-orang munafik itu, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (Al-Baqarah: 15)
Ibnu Jarir mengatakan, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberhahukan bahwa Dialah yang akan melakukan pembalasan terhadap orang-orang munafik itu kelak di hari kiamat, seperti yang dinyatakan di dalam firman-Nya:
َْููู َ َُُูููู ุงْูู ُูุงَُِูููู َูุงْูู ُูุงِููุงุชُ َِّููุฐَِูู ุขู َُููุง ุงْูุธُุฑُููุง َْููุชَุจِุณْ ู ِْู ُููุฑُِูู ْ َِููู ุงุฑْุฌِุนُูุง َูุฑุงุกَُูู ْ َูุงْูุชَู ِุณُูุง ُููุฑุงً َูุถُุฑِุจَ ุจََُْูููู ْ ุจِุณُูุฑٍ َُูู ุจุงุจٌ ุจุงุทُُِูู ِِููู ุงูุฑَّุญْู َุฉُ َูุธุงِูุฑُُู ู ِْู ِูุจَِِูู ุงْูุนَุฐุงุจُ
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kalian." Dikatakan (kepada mereka), "Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untuk kalian)." Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. (Al-Hadid: 13)
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
َููุง َูุญْุณَุจََّู ุงَّูุฐَِูู ََููุฑُูุง ุฃََّูู ุง ُูู ِْูู َُููู ْ ุฎَْูุฑٌ ِูุฃَُْููุณِِูู ْ ุฅَِّูู ุง ُูู ِْูู َُููู ْ َِููุฒْุฏุงุฏُูุง ุฅِุซْู ุงً
Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka. (Ali Imran: 178)
Ibnu Jarir mengatakan bahwa hal ini dan yang serupa dengannya merupakan ejekan, penghinaan, makar, dan tipu muslihat Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap orang-orang munafik dan orang-orang musyrik, menurut orang yang menakwilkan ayat ini dengan pengertian tersebut.
Ibnu Jarir mengatakan pula, bahwa ulama lainnya mengatakan bahwa ejekan Allah terhadap mereka berupa celaan dan penghinaan Allah terhadap mereka karena mereka telah berbuat durhaka dan kafir kepada-Nya.
Ibnu Jarir mengatakan pula, "Ulama lainnya lagi mengatakan bahwa ungkapan seperti ini dan yang semisal merupakan ungkapan pembalikan." Perihalnya sama dengan ucapan seseorang terhadap orang yang menipunya bila ternyata ia dapat membalikkan tipuan lawannya, "Justru akulah yang telah menipumu (bukan kamu yang menipuku)." Akan tetapi, dalam hakikatnya Allah tidak melakukan tipuan; melainkan Dia mengatakan hal tersebut hanya semata-mata menggambarkan tentang akibat dari apa yang diperbuat mereka. Para ulama yang berpendapat seperti ini mengatakan bahwa hal yang sama terdapat pula di dalam firman-Nya:
َูู ََูุฑُูุง َูู ََูุฑَ ุงَُّููู َูุงَُّููู ุฎَْูุฑُ ุงْูู ุงِูุฑَِูู
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ali Imran: 54)
{ุงَُّููู َูุณْุชَْูุฒِุฆُ ุจِِูู ْ}
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka. (Al-Baqarah: 15)
Hal tersebut merupakan jawaban semata, karena sesungguhnya Allah tidak melakukan makar dan tidak pula ejekan. Dengan kata lain, makna yang dimaksud ialah bahwa makar dan tipu daya mereka itu justru menimpa diri mereka sendiri (barang siapa menggali lubang, dia sendiri yang akan terjerumus ke dalamnya).
Ulama lainnya mengatakan bahwa firman-Nya: Sesungguhnya kami hanyalah berolok-olok. Allah akan (membalas) olok-olokan mereka. (Al-Baqarah: 14-15)
ُูุฎุงุฏِุนَُูู ุงََّููู ََُููู ุฎุงุฏِุนُُูู ْ
Mereka (orang-orang munafik) menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. (An-Nisa: 142)
ََููุณْุฎَุฑَُูู ู ُِْููู ْ ุณَุฎِุฑَ ุงَُّููู ู ُِْููู ْ
Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka. (At-Taubah: 79)
َููุณُูุง ุงََّููู ََููุณَُِููู ْ
Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. (At-Taubah: 67)
Demikian pula ayat-ayat lainnya yang semakna, semuanya merupakan berita dari Allah Subhanahu wa Ta'ala bahwa Dia pasti akan memberikan balasan terhadap mereka dengan balas memperolok-olokkan dan menyiksa mereka dengan siksaan tipuan, sebagaimana tipuan yang telah mereka lakukan. Kemudian berita mengenai balasan Allah dan siksaan-Nya kepada mereka diungkapkan dengan gaya bahasa yang sama dengan perbuatan mereka yang menyebabkan mereka berhak mendapat siksaan-Nya, hanya dari segi lafaznya saja, tetapi maknanya berbeda. Perihalnya sama dengan makna yang terdapat di dalam firman-Nya:
َูุฌَุฒุงุกُ ุณَِّูุฆَุฉٍ ุณَِّูุฆَุฉٌ ู ِุซُْููุง َูู َْู ุนَูุง َูุฃَุตَْูุญَ َูุฃَุฌْุฑُُู ุนََูู ุงَِّููู
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. (Asy-Syura: 40)
{َูู َِู ุงุนْุชَุฏَู ุนََُْูููู ْ َูุงุนْุชَุฏُูุง ุนََِْููู}
Oleh sebab itu, barang siapa yang menyerang kalian, maka seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadap kalian. (Al-Baqarah: 194)
Makna pertama mengandung pengertian perbuatan aniaya, sedangkan makna yang kedua mengandung pengertian keadilan. Lafaz yang dipakai pada keduanya sama, tetapi makna yang dimaksud berbeda; berdasarkan pengertian inilah semua makna yang sejenis di dalam Al-Qur'an diartikan dengan pengertian seperti ini.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa ulama lainnya mengatakan, sesungguhnya makna yang dimaksud ialah bahwa Allah memberitakan perihal orang-orang munafik; apabila mereka berkumpul dengan pemimpin-pemimpinnya, mereka mengatakan, "Sesungguhnya kami sependirian dengan kalian dalam mendustakan Muhammad dan apa yang didatangkannya. Sesungguhnya kata-kata yang kami ucapkan dan sikap yang kami perlihatkan kepada mereka hanyalah mengolok-olokkan mereka." Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala memberitahukan bahwa Dia membalas mengolok-olok mereka. Untuk itu, Allah menampakkan kepada mereka sebagian dari hukum-hukum-Nya di dunia, yaitu darah mereka terpelihara, begitu pula harta benda mereka, padahal hal itu kebalikan dari apa yang akan terjadi pada diri mereka kelak di hari kemudian di sisi-Nya, yaitu azab dan siksaan.
Kemudian Ibnu Jarir mengemukakan alasan dukungannya terhadap pendapat ini, mengingat tipu daya, makar, dan olok-olokan secara main-main dan tidak ada gunanya merupakan hal yang mustahil akan dilakukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala menurut kesepakatan semua. Bila hal tersebut diartikan sebagai pembalasan dan ganjaran-ganjaran yang setimpal secara adil, dapatlah dimengerti.
Ibnu Jarir mengatakan, ada sebuah riwayat yang sependapat dengan apa yang telah kami katakan, diketengahkan dari sahabat Ibnu Abbas. Di dalam riwayat ini disebutkan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Abu Usman, telah menceritakan kepada kami Bisyr, dari Abu Rauq, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya, "Allahu yastahzi-u bihim," artinya Allah memperolok-olok mereka sebagai pembalasan-Nya terhadap tindakan mereka.
***********
Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
{ََููู ُุฏُُّูู ْ ِูู ุทُุบَْูุงِِููู ْ َูุนْู ََُููู}
dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (Al-Baqarah: 15)
Menurut As-Saddi, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas'ud serta dari sejumlah sahabat Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, yamudduhum artinya Allah membiarkan mereka.
Mujahid mengatakan bahwa makna yamudduhum ialah menambahkan kepada mereka, sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
ุฃََูุญْุณَุจَُูู ุฃََّูู ุง ُูู ِุฏُُّูู ْ ุจِِู ู ِْู ู ุงٍู َูุจََِููู ُูุณุงุฑِุนُ َُููู ْ ِูู ุงْูุฎَْูุฑุงุชِ ุจَْู َูุง َูุดْุนُุฑَُูู
Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa) Kami bersegera memberikan kebaikan kepada mereka! Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar. (Al-Muรฏ¿½minun: 55-56)
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
ุณََูุณْุชَุฏْุฑِุฌُُูู ْ ู ِْู ุญَْูุซُ ูุง َูุนَْูู َُูู
Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dengan cara yang tidak mereka ketahui. (Al-A'raf: 182)
Sebagian ulama mengatakan bahwa setiap kali mereka melakukan dosa yang baru, maka Allah memberikan kepada mereka nikmat yang baru. Tetapi pada hakikatnya hal itu merupakan azab, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam ayat lain:
ََููู َّุง َูุณُูุง ู َุง ุฐُِّูุฑُูุง ุจِِู َูุชَุญْูุง ุนََِْูููู ْ ุฃَุจْูุงุจَ ُِّูู ุดَْูุกٍ ุญَุชَّู ุฅِุฐุง َูุฑِุญُูุง ุจِู ุง ุฃُูุชُูุง ุฃَุฎَุฐْูุงُูู ْ ุจَุบْุชَุฉً َูุฅِุฐุง ُูู ْ ู ُุจِْูุณَُูู. َُููุทِุนَ ุฏุงุจِุฑُ ุงَْْูููู ِ ุงَّูุฐَِูู ุธََูู ُูุง َูุงْูุญَู ْุฏُ َِِّููู ุฑَุจِّ ุงْูุนุงَูู َِูู
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (Al-An'am: 44-45)
Ibnu Jarir mengatakan bahwa makna yang benar ialah Kami menambahkan kepada mereka, dengan pengertian membiarkan dan memperturutkan mereka di dalam kesombongan dan pembangkangannya, sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:
ََُِّููููุจُ ุฃَْูุฆِุฏَุชَُูู ْ َูุฃَุจْุตุงุฑَُูู ْ َูู ุง َูู ْ ُูุคْู ُِููุง ุจِِู ุฃَََّูู ู َุฑَّุฉٍ ََููุฐَุฑُُูู ْ ِูู ุทُุบْูุงِِููู ْ َูุนْู ََُููู
Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (Al-An'am: 110)
At-tugyan artinya melampaui batas dalam suatu hal, sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:
ุฅَِّูุง َูู َّุง ุทَุบَู ุงْูู ุงุกُ ุญَู َْููุงُูู ْ ِูู ุงْูุฌุงุฑَِูุฉِ
Sesungguhnya Kami tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kalian ke dalam bahtera. (Al-Haqqah: 11)
Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas bahwa fi tugyanihim ya'mahun artinya di dalam kekufurannya mereka terombang-ambing. Hal yang sama ditafsirkan pula oleh As-Saddi berikut sanadnya dari para sahabat. Hal yang sama dikatakan oleh Abul Aliyah, Qatadah, Ar-Rabi' ibnu Anas, Mujahid, Abu Malik, dan Abdur Rahman ibnu Zaid, bahwa mereka terombang-ambing di dalam kekufuran dan kesesatan.
Ibnu Jarir mengatakan lafaz al-'amah artinya sesat, dikatakan 'cmiha fulanun, ya'mahu, 'amahan, dan 'amuhan artinya si Fulan telah tersesat. Ibnu Jarir mengatakan, makna fi tugyanihim ya'mahun artinya ialah di dalam kekufuran dan kesesatan yang menggelimangi dan menutupi diri mereka karena perbuatan kotor dan najis, mereka terombang-ambing dalam kebingungan dan kesesatan; mereka tidak akan dapat menemukan jalan keluar, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengun-ci mati hati mereka dan mengelaknya serta membutakan pandangan hati mereka dari jalan hidayah, hingga tertutup pandangan mereka, ti-dak dapat melihat petunjuk, tidak dapat pula mengetahui jalannya.
Sebagian ulama mengatakan bahwa al-'ama (buta) khusus bagi buta mata, sedangkan al-'amah khusus bagi buta hati; tetapi adakalanya lafaz al-'ama dipakai untuk pengertian buta hati, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:
َูุฅَِّููุง َูุง ุชَุนْู َู ุงْูุฃَุจْุตุงุฑُ َِْูููู ุชَุนْู َู ุงُُْููููุจُ ุงَّูุชِู ِูู ุงูุตُّุฏُูุฑِ
Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (Al-Hajj: 46)
Dikatakan 'amihar rajulu (ุนَู َِู ุงูุฑَّุฌُُู) artinya lelaki itu pergi tanpa mengetahui tujuan. Bentuk mudari'-nya ya'mahu (َูุนْู َُู) , bentuk isim fa'il-nya 'amihun (ุนَู ٌِู) dan 'amihun (ุนَุงู ٌِู); bentuk jamaknya 'amahun (ุนُู ٌَّู), sedangkan bentuk masdarnya ialah 'amuhan (ุนُู ًُููุง) . Dikatakan zahabat ibiluhul 'amha-u (ุฐََูุจَุชْ ุฅِุจُُِูู ุงْูุนَู َْูุงุกُ) jika untanya tidak diketahui ke mana perginya.