Tampilkan postingan dengan label Al-Baqarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Baqarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juni 2022

Al-Baqarah, ayat 26-27

Al-Baqarah, ayat 26-27
{ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู„َุง ูŠَุณْุชَุญْูŠِูŠ ุฃَู†ْ ูŠَุถْุฑِุจَ ู…َุซَู„ุง ู…َุง ุจَุนُูˆุถَุฉً ูَู…َุง ูَูˆْู‚َู‡َุง ูَุฃَู…َّุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ูَูŠَุนْู„َู…ُูˆู†َ ุฃَู†َّู‡ُ ุงู„ْุญَู‚ُّ ู…ِู†ْ ุฑَุจِّู‡ِู…ْ ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุง ูَูŠَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ ู…َุงุฐَุง ุฃَุฑَุงุฏَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‡َุฐَุง ู…َุซَู„ุง ูŠُุถِู„ُّ ุจِู‡ِ ูƒَุซِูŠุฑًุง ูˆَูŠَู‡ْุฏِูŠ ุจِู‡ِ ูƒَุซِูŠุฑًุง ูˆَู…َุง ูŠُุถِู„ُّ ุจِู‡ِ ุฅِู„ุง ุงู„ْูَุงุณِู‚ِูŠู†َ (26) ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَู†ْู‚ُุถُูˆู†َ ุนَู‡ْุฏَ ุงู„ู„َّู‡ِ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِ ู…ِูŠุซَุงู‚ِู‡ِ ูˆَูŠَู‚ْุทَุนُูˆู†َ ู…َุง ุฃَู…َุฑَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‡ِ ุฃَู†ْ ูŠُูˆุตَู„َ ูˆَูŠُูْุณِุฏُูˆู†َ ูِูŠ ุงู„ุฃุฑْุถِ ุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ู‡ُู…ُ ุงู„ْุฎَุงุณِุฑُูˆู†َ (27) }

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?'' Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itu-lah orang-orang yang rugi.

As-Saddi di dalam kitab tafsirnya telah meriwayatkan dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud, dari sejumlah sahabat, bahwa ketika Allah membuat kedua perumpamaan ini bagi orang-orang munafik, yakni firman-Nya:

{ู…َุซَู„ُู‡ُู…ْ ูƒَู…َุซَู„ِ ุงู„َّุฐِูŠ ุงุณْุชَูˆْู‚َุฏَ ู†َุงุฑًุง}

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api. (Al-Baqarah: 17)

{ุฃَูˆْ ูƒَุตَูŠِّุจٍ ู…ِู†َ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ}

Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit. (Al-Baqarah: 19)

Yakni semuanya terdiri atas tiga ayat. Maka orang-orang munafik berkata bahwa Allah Maha Tinggi lagi Mahaagung untuk membuat perumpamaan-perumpamaan ini. Maka Allah menurunkan ayat ini (yakni Al-Baqarah ayat 26-27) sampai dengan firman-Nya:

{ู‡ُู…ُ ุงู„ْุฎَุงุณِุฑُูˆู†َ}

Mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah: 27)

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah; ketika Allah menyebutkan laba-laba dan lalat dalam perumpamaan yang dibuat-Nya, maka orang-orang musyrik berkata, "Apa hubungannya laba-laba dan lalat disebutkan?" Lalu Allah menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. (Al-Baqarah: 26)

Sa'id meriwayatkan dari Qatadah, bahwa sesungguhnya Allah tiada segan รฏ¿½demi perkara yang hakรฏ¿½ untuk menyebutkan sesuatu hal, baik yang kecil maupun yang besar. Sesungguhnya ketika Allah menyebutkan di dalam Kitab-Nya mengenai lalat dan laba-laba, lalu orang-orang yang sesat mengatakan, "Apakah yang dimaksud oleh Allah menyebut hal ini?" Maka Allah menurunkan firman-Nya: Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. (Al-Baqarah: 26)

Menurut kami, dalam riwayat pertama รฏ¿½dari Qatadahรฏ¿½ mengandung isyarat bahwa ayat ini termasuk ayat Makkiyyah, tetapi sebenarnya tidaklah demikian (yakni Madaniyyah). Bahkan riwayat Sa'id yang dari Qatadah lebih mendekati kepada kebenaran.

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Mujahid semisal dengan riwayat kedua yang dari Qatadah. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Al-Hasan dan Ismail ibnu Abu Khalid hal yang semisal dengan perkataan As-Saddi dan Qatadah.

Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas sehubungan dengan ayat ini, bahwa hal ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah untuk menggambarkan dunia, yaitu nyamuk tetap hidup selagi dalam keadaan lapar; tetapi bila telah gemuk (kekenyangan), maka ia mati. Demikian pula perumpamaan kaum yang dibuatkan perumpamaannya oleh Allah di dalam Al-Qur'an dengan perumpamaan ini. Dengan kata lain, bila mereka kekenyangan karena berlimpah ruah dengan harta duniawi, maka pada saat itulah Allah mengazab mereka. Kemudian Ar-Rabi' ibnu Anas membacakan firman-Nya:

{ูَู„َู…َّุง ู†َุณُูˆุง ู…َุง ุฐُูƒِّุฑُูˆุง ุจِู‡ِ ูَุชَุญْู†َุง ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ุฃَุจْูˆَุงุจَ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ}

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, hingga akhir ayat. (Al-An'am: 44)

Demikian riwayat Ibnu Jarir. Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim melalui hadis Abu Ja'far, dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah.

Demikian perbedaan pendapat di kalangan mereka mengenai Asbabun Nuzul ayat ini, sedangkan Ibnu Jarir sendiri memilih riwayat yang dikemukakan oleh As-Saddi; mengingat riwayatnya lebih menyentuh surat, maka lebih cocok.

Makna ayat, Allah memberitakan bahwa Dia tidak merasa malu รฏ¿½yakni tidak segan atau tidak takutรฏ¿½ untuk membuat perumpamaan apa pun, baik perumpamaan yang kecil ataupun yang besar.

Huruf ma pada lafaz masalan ma menunjukkan makna taqlil (sedikit atau terkecil), dan lafaz ba'udah di-nasab-kan sebagai badal. Perihal makna ma di sini sama dengan ucapan seseorang la-adriban-na darban ma, artinya aku benar-benar akan memukul dengan suatu pukulan. Pengertiannya dapat diartikan dengan pukulan yang paling ringan. Atau huruf ma di sini dianggap sebagai ma nakirah mausufah, yakni huruf ma diartikan dengan penjelasan lafaz ba'udah (nyamuk).

Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan bahwa huruf ma di sini adalah ma mausulah (kata penghubung), sedangkan lafaz ba'udah di-i'rab-kan sesuai dengan kedudukannya. Selanjutnya Ibnu Jarir mengatakan bahwa hal seperti ini terjadi dalam percakapan orang-orang Arab, yakni mereka biasa meng-i'rab-kan silah dari huruf ma dan man sesuai dengan kedudukan i'rab keduanya. Mengingat keduanya adakalanya berupa ma'rifat, adakalanya pula berupa nakirah. Sebagai contohnya ialah apa yang dikatakan oleh Hasan ibnu Sabit dalam salah satu bait syairnya, yaitu:

ูˆَูƒَูَู‰ ุจِู†َุง ูَุถْู„ุง ุนَู„َู‰ ู…َู†ْ ุบَูŠْุฑِู†َุง ... ุญُุจ รฏ¿½ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุฅูŠَّุงู†َุง

Cukuplah keutamaan bagi kami yang berada di atas selain kami hanya berkat Nabi Muhammad yang keturunannya tergabung kepada kami.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa lafaz ba'udah dapat di-nasab-kan karena membuang harakat jar-nya. Bentuk kalimat secara utuh menjadi seperti berikut: Innallaha laรฏ¿½ yastahyi ay-yadriba masalam ma baina ba'udatin ila mafauqaha, yakni sesungguhnya Allah tiada segan untuk membuat perumpamaan apa pun mulai dari seekor nyamuk hingga yang lebih dari itu kecilnya. Pendapat inilah yang dipilih oleh Al-Kisai dan Al-Farra.

Ad-Dahhak dan Ibrahim ibnu Ablah membaca lafaz ba'udah dengan bacaan rafa' (ba'udatun). Ibnu Jinni memberikan komentarnya bahwa dengan demikian berarti lafaz ba'udatun berkedudukan sebagai silah-nya ma, sedangkan damir yang kembali kepada ma dibuang. Perihalnya sama dengan i'rab yang terdapat di dalam firman-Nya:

{ุชَู…َุงู…ًุง ุนَู„َู‰ ุงู„َّุฐِูŠ ุฃَุญْุณَู†َ}

Untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan. (Al-An'am: 154)

Bentuk Lengkapnya ialah 'alal lazi huwa ahsanu.

Imam Sibawaih telah meriwayatkan kalimat yang mengatakan ma anal lazi qailun laka syai-an (Aku bukanlah orang yang pernah mengatakan sesuatu mengenai dirimu). bentuk Lengkapnya ialah bil lazi huwa qailun laka syaian.

***********

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

{ูَู…َุง ูَูˆْู‚َู‡َุง}

atau yang lebih rendah dari itu. (Al-Baqarah: 26)

Sehubungan dengan makna ayat ini ada dua pendapat. Pendapat pertama mengatakan, yang dimaksud ialah lebih kecil dan lebih rendah darinya. Perihalnya sama dengan seorang lelaki jika disifati dengan karakter yang tercela, yakni kikir. Lalu ada pendengar yang menjawabnya, "Memang benar, dia lebih rendah dari apa yang digambarkannya." Demikian pendapat Al-Kisai dan Abu Ubaid. Ar-Razi dan kebanyakan ulama ahli tahqiq mengatakan bahwa di dalam hadis disebutkan:

"ู„َูˆْ ุฃَู†َّ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ุชَุฒِู†ُ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฌَู†َุงุญَ ุจَุนُูˆุถَุฉٍ ู…َุง ุณَู‚َู‰ ูƒَุงูِุฑًุง ู…ِู†ْู‡َุง ุดَุฑْุจَุฉَ ู…َุงุกٍ"

Seandainya dunia ini berbobot di sisi Allah sama dengan sayap nyamuk, niscaya dia tidak akan memberi minum seteguk air pun darinya kepada orang kafir.

Pendapat yang kedua mengatakan bahwa makna fama fauqaha ialah yang lebih besar dari (nyamuk) itu, atas dasar kriteria bahwa tiada sesuatu pun yang lebih rendah dan lebih kecil daripada nyamuk. Ini adalah pendapat Qatadah ibnu Di'amah dan dipilih oleh Ibnu Jarir.

Pendapat ini diperkuat oleh sebuah hadis riwayat Imam Muslim melalui Siti Aisyah Radhiyallahu Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

"ู…َุง ู…ِู†ْ ู…ُุณْู„ِู…ٍ ูŠُุดَุงูƒُ ุดَูˆْูƒَุฉً ูَู…َุง ูَูˆْู‚َู‡َุง ุฅِู„َّุง ูƒُุชِุจَุชْ ู„َู‡ُ ุจِู‡َุง ุฏَุฑَุฌَุฉٌ ูˆَู…ُุญِูŠَุชْ ุนَู†ْู‡ُ ุจِู‡َุง ุฎَุทِูŠุฆَุฉٌ"

Tiada seorang muslim pun yang tertusuk oleh sebuah duri hingga yang lebih darinya melainkan dicatatkan baginya karena musibah tersebut suatu derajat (pahala), dan dihapuskan darinya karena musibah itu suatu dosa.

Melalui ayat ini Allah memberitakan bahwa Dia tidak pernah menganggap remeh sesuatu pun untuk dijadikan sebagai misal (perumpamaan), sekalipun sesuatu itu hina lagi kecil seperti nyamuk; sebagaimana Dia tidak segan-segan menciptakan makhluk yang kecil itu, Dia tidak segan-segan pula membuat perumpamaan dengan makhluk kecil itu, sebagaimana membuat perumpamaan memakai lalat dan laba-laba, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

{ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุถُุฑِุจَ ู…َุซَู„ٌ ูَุงุณْุชَู…ِุนُูˆุง ู„َู‡ُ ุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุชَุฏْุนُูˆู†َ ู…ِู†ْ ุฏُูˆู†ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ู„َู†ْ ูŠَุฎْู„ُู‚ُูˆุง ุฐُุจَุงุจًุง ูˆَู„َูˆِ ุงุฌْุชَู…َุนُูˆุง ู„َู‡ُ ูˆَุฅِู†ْ ูŠَุณْู„ُุจْู‡ُู…ُ ุงู„ุฐُّุจَุงุจُ ุดَูŠْุฆًุง ู„َุง ูŠَุณْุชَู†ْู‚ِุฐُูˆู‡ُ ู…ِู†ْู‡ُ ุถَุนُูَ ุงู„ุทَّุงู„ِุจُ ูˆَุงู„ْู…َุทْู„ُูˆุจُ}

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah oleh kalian perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amal lemahlah yang menyembah dan amal lemah (pulalah) yang disembah. (Al-Hajj': 73)

{ู…َุซَู„ُ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุงุชَّุฎَุฐُูˆุง ู…ِู†ْ ุฏُูˆู†ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฃَูˆْู„ِูŠَุงุกَ ูƒَู…َุซَู„ِ ุงู„ْุนَู†ْูƒَุจُูˆุชِ ุงุชَّุฎَุฐَุชْ ุจَูŠْุชًุง ูˆَุฅِู†َّ ุฃَูˆْู‡َู†َ ุงู„ْุจُูŠُูˆุชِ ู„َุจَูŠْุชُ ุงู„ْุนَู†ْูƒَุจُูˆุชِ ู„َูˆْ ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَุนْู„َู…ُูˆู†َ}

Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (Al-Ankabut: 41)

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

{ุฃَู„َู…ْ ุชَุฑَ ูƒَูŠْูَ ุถَุฑَุจَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…َุซَู„ุง ูƒَู„ِู…َุฉً ุทَูŠِّุจَุฉً ูƒَุดَุฌَุฑَุฉٍ ุทَูŠِّุจَุฉٍ ุฃَุตْู„ُู‡َุง ุซَุงุจِุชٌ ูˆَูَุฑْุนُู‡َุง ูِูŠ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ * ุชُุคْุชِูŠ ุฃُูƒُู„َู‡َุง ูƒُู„َّ ุญِูŠู†ٍ ุจِุฅِุฐْู†ِ ุฑَุจِّู‡َุง ูˆَูŠَุถْุฑِุจُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„ุฃู…ْุซَุงู„َ ู„ِู„ู†َّุงุณِ ู„َุนَู„َّู‡ُู…ْ ูŠَุชَุฐَูƒَّุฑُูˆู†َ * ูˆَู…َุซَู„ُ ูƒَู„ِู…َุฉٍ ุฎَุจِูŠุซَุฉٍ ูƒَุดَุฌَุฑَุฉٍ ุฎَุจِูŠุซَุฉٍ ุงุฌْุชُุซَّุชْ ู…ِู†ْ ูَูˆْู‚ِ ุงู„ุฃุฑْุถِ ู…َุง ู„َู‡َุง ู…ِู†ْ ู‚َุฑَุงุฑٍ * ูŠُุซَุจِّุชُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุจِุงู„ْู‚َูˆْู„ِ ุงู„ุซَّุงุจِุชِ ูِูŠ ุงู„ْุญَูŠَุงุฉِ ุงู„ุฏُّู†ْูŠَุง ูˆَูِูŠ ุงู„ุขุฎِุฑَุฉِ ูˆَูŠُุถِู„ُّ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„ุธَّุงู„ِู…ِูŠู†َ ูˆَูŠَูْุนَู„ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…َุง ูŠَุดَุงุกُ}

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh, dan cabangnya (menjulang) ke langit; pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (Ibrahim: 24-27)

{ุถَุฑَุจَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…َุซَู„ุง ุนَุจْุฏًุง ู…َู…ْู„ُูˆูƒًุง ู„َุง ูŠَู‚ْุฏِุฑُ ุนَู„َู‰ ุดَูŠْุกٍ

Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun. (An-Nahl: 75)

Kemudian dalam ayat selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

ูˆَุถَุฑَุจَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…َุซَู„ุง ุฑَุฌُู„َูŠْู†ِ ุฃَุญَุฏُู‡ُู…َุง ุฃَุจْูƒَู…ُ ู„َุง ูŠَู‚ْุฏِุฑُ ุนَู„َู‰ ุดَูŠْุกٍ ูˆَู‡ُูˆَ ูƒَู„ٌّ ุนَู„َู‰ ู…َูˆْู„ุงู‡ُ ุฃَูŠْู†َู…َุง ูŠُูˆَุฌِّู‡ْู‡ُ ู„َุง ูŠَุฃْุชِ ุจِุฎَูŠْุฑٍ [ู‡َู„ْ ูŠَุณْุชَูˆِูŠ ู‡ُูˆَ ูˆَู…َู†ْ ูŠَุฃْู…ُุฑُ ุจِุงู„ْุนَุฏْู„ِ] }

Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: Dua orang lelaki, yang seorang bisu tidak dapat berbuat sesuatu pun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan? (An-Nahl: 76)

Sama halnya dengan firman-Nya:

{ุถَุฑَุจَ ู„َูƒُู…ْ ู…َุซَู„ุง ู…ِู†ْ ุฃَู†ْูُุณِูƒُู…ْ ู‡َู„ْ ู„َูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ู…َุง ู…َู„َูƒَุชْ ุฃَูŠْู…َุงู†ُูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ุดُุฑَูƒَุงุกَ ูِูŠ ู…َุง ุฑَุฒَู‚ْู†َุงูƒُู…ْ}

Dia membuat perumpamaan untuk kalian dari diri kalian sendiri. Apakah ada di antara hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kanan kalian, sekutu bagi kalian dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepada kalian. (Ar-Rum: 28)

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

{ุถَุฑَุจَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…َุซَู„ุง ุฑَุฌُู„ุง ูِูŠู‡ِ ุดُุฑَูƒَุงุกُ ู…ُุชَุดَุงูƒِุณُูˆู†َ [ูˆَุฑَุฌُู„ุง ุณَู„َู…ًุง ู„ِุฑَุฌُู„ٍ] }

Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan. (Az-Zumar: 29)

{ูˆَุชِู„ْูƒَ ุงู„ุฃู…ْุซَุงู„ُ ู†َุถْุฑِุจُู‡َุง ู„ِู„ู†َّุงุณِ ูˆَู…َุง ูŠَุนْู‚ِู„ُู‡َุง ุฅِู„ุง ุงู„ْุนَุงู„ِู…ُูˆู†َ}

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (Al-Ankabut 43)

Di dalam Al-Qurรฏ¿½an terdapat banyak perumpamaan. Sebagian ulama Salaf mengatakan, "Apabila aku mendengar perumpamaan di dalam Al-Qur'an, lalu aku tidak memahaminya, maka aku menangisi diriku sendiri, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman: 'Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu (Al-Ankabut: 43)

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. (Al-Baqarah: 26) Maksudnya, semua perumpamaan รฏ¿½baik yang kecil maupun yang besarรฏ¿½ orang-orang mukmin beriman kepadanya dan mereka mengetahui bahwa hal itu merupakan perkara hak dari Tuhan mereka, dan melaluinya Allah memberi petunjuk kepada mereka.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka. (Al-Baqarah: 26) Menurutnya, mereka mengetahui dengan yakin bahwa perumpamaan tersebut adalah Kalamullah Yang Maha Pemurah dan datang dari sisi-Nya. Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Mujahid, Al-Hasan serta Ar-Rabi' ibnu Anas.

Abul Aliyah mengatakan, makna firman-Nya, "Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka." Yang dimaksud ialah perumpamaan ini. Tetapi mereka yang kafir mengatakan, "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan? (Al-Baqarah: 26) Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman lainnya, yaitu:

{ูˆَู…َุง ุฌَุนَู„ْู†َุง ุฃَุตْุญَุงุจَ ุงู„ู†َّุงุฑِ ุฅِู„ุง ู…َู„ุงุฆِูƒَุฉً ูˆَู…َุง ุฌَุนَู„ْู†َุง ุนِุฏَّุชَู‡ُู…ْ ุฅِู„ุง ูِุชْู†َุฉً ู„ِู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุง ู„ِูŠَุณْุชَูŠْู‚ِู†َ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุฃُูˆุชُูˆุง ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ ูˆَูŠَุฒْุฏَุงุฏَ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุฅِูŠู…َุงู†ًุง ูˆَู„ุง ูŠَุฑْุชَุงุจَ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุฃُูˆุชُูˆุง ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ُูˆู†َ ูˆَู„ِูŠَู‚ُูˆู„َ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูِูŠ ู‚ُู„ُูˆุจِู‡ِู…ْ ู…َุฑَุถٌ ูˆَุงู„ْูƒَุงูِุฑُูˆู†َ ู…َุงุฐَุง ุฃَุฑَุงุฏَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‡َุฐَุง ู…َุซَู„ุง ูƒَุฐَู„ِูƒَ ูŠُุถِู„ُّ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…َู†ْ ูŠَุดَุงุกُ ูˆَูŠَู‡ْุฏِูŠ ู…َู†ْ ูŠَุดَุงุกُ ูˆَู…َุง ูŠَุนْู„َู…ُ ุฌُู†ُูˆุฏَ ุฑَุจِّูƒَ ุฅِู„ุง ู‡ُูˆَ}

Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan), "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. (Al-Muddatstsir: 31)

Demikian pula dalam ayat ini (yakni Al-Baqarah: 26):

{ูŠُุถِู„ُّ ุจِู‡ِ ูƒَุซِูŠุฑًุง ูˆَูŠَู‡ْุฏِูŠ ุจِู‡ِ ูƒَุซِูŠุฑًุง ูˆَู…َุง ูŠُุถِู„ُّ ุจِู‡ِ ุฅِู„ุง ุงู„ْูَุงุณِู‚ِูŠู†َ}

Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik. (Al-Baqarah: 26)

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, dari Abu Malik dan dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud dan dari sejumlah sahabat, yang dimaksud dengan pe-gertian yudillu bihi kasiran adalah orang-orang munafik, sedangkan pengertian yahdi bihi kasiran adalah orang-orang mukmin. Dengan demikian, berarti makin bertambahlah kesesatan orang-orang munafik tersebut di samping kesesatan mereka yang telah ada; karena mereka mendustakan apa yang mereka ketahui sebagai perkara yang hak dan yakin, yaitu mendustakan perumpamaan yang telah dibuat oleh Allah untuk menggambarkan keadaan mereka sendiri. Ketika perumpamaan itu ternyata sesuai dengan keadaan mereka, sedangkan mereka tidak mau percaya, maka hal itulah yang dimaksud dengan penyesatan Allah terhadap mereka melalui perumpamaan ini. Melalui perumpamaan ini Allah memberi petunjuk kepada banyak orang dari kalangan ahli iman dan mereka yang mempercayainya. Maka Allah menambahkan petunjuk kepada mereka di samping petunjuk yang telah ada pada diri mereka, dan bertambah pula iman mereka karena mereka percaya kepada apa yang mereka ketahui sebagai perkara yang hak dan yakin. Mengingat apa yang dibuat oleh Allah sebagai perumpamaan ternyata sesuai dengan kenyataan dan mereka mengakui kebenarannya, maka hal inilah yang dimaksud sebagai hidayah dari Allah buat mereka melalui perumpamaan tersebut.

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik" (Al-Baqarah: 26). Menurut As-Saddi, mereka adalah orang-orang munafik.

Abul Aliyah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Wama yudillu bihi illal fasiqin" bahwa mereka adalah ahli kemunafikan. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi' ibnu Anas.

Ibnu Juraij mengatakan dari Mujahid, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya, "Wama yudillu bihi illal fasiqin.'"' Ibnu Abbas mengatakan, "Orang-orang kafir mengetahui adanya Allah, tetapi mereka mengingkari-Nya." Qatadah mengatakan sehubungan makna firman-Nya, "Wama yudillu bihi illal fasiqin," bahwa mereka pada mulanya fasik, kemudian Allah menyesatkan mereka di samping kefasikannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Ishaq ibnu Sulaiman, dari Abu Sinan, dari Amr ibnu Murrah, dari Mus'ab ibnu Sa'd, dari Sa'd, yang dimaksud dengan kebanyakan orang dalam firman-Nya, "Yudillu bihi kasiran," adalah orang-orang Khawarij.

Syu'bah meriwayatkan dari Amr ibnu Murrah, dari Mus'ab ibnu Sa'd yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada ayahnya tentang makna firman-Nya: (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh. (Al-Baqarah: 27), sampai akhir ayat. Ayahnya menjawab bahwa mereka adalah golongan Haruriyyah (Khawarij).

Sanad riwayat ini sekalipun sahih dari Sa'd ibnu Abu Waqqas Radhiyallahu Anhu, tetapi merupakan tafsir dari makna, bukan berarti makna yang dimaksud oleh ayat me-nas-kan orang-orang Khawarij yang memberontak terhadap Khalifah Ali di Nahrawan; karena sesungguhnya mereka masih belum ada pada saat ayat diturunkan, melainkan mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sifat-sifatnya digambarkan oleh Al-Qur'an.

Mereka dinamakan Khawarij karena membangkang, tidak mau taat kepada imam dan tidak mau menegakkan syariat Islam. Sedangkan pengertian fasik menurut istilah bahasa ialah sama dengannya, yaitu membangkang dan tidak mau taat. Orang-orang Arab mengatakan, "Fasaqatir ratbah" bila buah kurma terkelupas dari kulitnya. Karena itu, tikus dinamakan fuwaisiqah karena ia keluar dari liangnya untuk mengadakan pengrusakan. Di dalam hadis Sahihain dari Siti Aisyah Radhiyallahu Anhu dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

"ุฎَู…ْุณُ ูَูˆَุงุณَู‚َ ูŠُู‚ุชู„ู† ูِูŠ ุงู„ْุญِู„ِّ ูˆَุงู„ْุญَุฑَู…ِ: ุงู„ْุบُุฑَุงุจُ، ูˆَุงู„ْุญِุฏَุฃَุฉُ، ูˆَุงู„ْุนَู‚ْุฑَุจُ، ูˆَุงู„ْูَุฃْุฑَุฉُ، ูˆَุงู„ْูƒَู„ْุจُ ุงู„ุนู‚ูˆุฑ"

Lima jenis binatang perusak yang boleh dibunuh รฏ¿½baik di tanah halal maupun di tanah haramรฏ¿½ yaitu burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus, dan anjing gila.

Makna fasik mencakup orang kafir dan orang durhaka, tetapi kefasikan orang kafir lebih kuat dan lebih parah. Makna yang dimaksud dengan istilah 'fasik' dalam ayat ini ialah orang kafir. Sebagai dalilnya ialah karena mereka disifati dalam ayat berikutnya dengan sifat berikut, yaitu:

{ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَู†ْู‚ُุถُูˆู†َ ุนَู‡ْุฏَ ุงู„ู„َّู‡ِ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِ ู…ِูŠุซَุงู‚ِู‡ِ ูˆَูŠَู‚ْุทَุนُูˆู†َ ู…َุง ุฃَู…َุฑَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‡ِ ุฃَู†ْ ูŠُูˆุตَู„َ ูˆَูŠُูْุณِุฏُูˆู†َ ูِูŠ ุงู„ุฃุฑْุถِ ุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ู‡ُู…ُ ุงู„ْุฎَุงุณِุฑُูˆู†َ}

Orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi. (Al-Baqarah: 27)

Sifat-sifat tersebut merupakan ciri khas orang-orang kafir yang berbeda dengan sifat-sifat orang mukmin, sebagaimana dijelaskan di dalam ayat lainnya:

{ุฃَูَู…َู†ْ ูŠَุนْู„َู…ُ ุฃَู†َّู…َุง ุฃُู†ุฒู„َ ุฅِู„َูŠْูƒَ ู…ِู†ْ ุฑَุจِّูƒَ ุงู„ْุญَู‚ُّ ูƒَู…َู†ْ ู‡ُูˆَ ุฃَุนْู…َู‰ ุฅِู†َّู…َุง ูŠَุชَุฐَูƒَّุฑُ ุฃُูˆู„ُูˆ ุงู„ุฃู„ْุจَุงุจِ * ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠُูˆูُูˆู†َ ุจِุนَู‡ْุฏِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَู„ุง ูŠَู†ْู‚ُุถُูˆู†َ ุงู„ْู…ِูŠุซَุงู‚َ * ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَุตِู„ُูˆู†َ ู…َุง ุฃَู…َุฑَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‡ِ ุฃَู†ْ ูŠُูˆุตَู„َ ูˆَูŠَุฎْุดَูˆْู†َ ุฑَุจَّู‡ُู…ْ ูˆَูŠَุฎَุงูُูˆู†َ ุณُูˆุกَ ุงู„ْุญِุณَุงุจِ}

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. (Ar-Ra'd: 19-21)

Seterusnya hingga sampai pada firman-Nya:

{ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ูŠَู†ْู‚ُุถُูˆู†َ ุนَู‡ْุฏَ ุงู„ู„َّู‡ِ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِ ู…ِูŠุซَุงู‚ِู‡ِ ูˆَูŠَู‚ْุทَุนُูˆู†َ ู…َุง ุฃَู…َุฑَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‡ِ ุฃَู†ْ ูŠُูˆุตَู„َ ูˆَูŠُูْุณِุฏُูˆู†َ ูِูŠ ุงู„ุฃุฑْุถِ ุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ู„َู‡ُู…ُ ุงู„ู„َّุนْู†َุฉُ ูˆَู„َู‡ُู…ْ ุณُูˆุกُ ุงู„ุฏَّุงุฑِ}

Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam). (Ar-Ra'd: 25)

Ahli tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan makna perjanjian yang digambarkan, bahwa orang-orang fasik tersebut telah merusaknya. Sebagian dari kalangan ahli tafsir mengatakan, perjanjian tersebut adalah wasiat Allah kepada makhluk-Nya, perintah-Nya kepada mereka agar taat kepada apa-apa yang diperintahkan-Nya, dan larangan-Nya kepada mereka agar jangan berbuat durhaka dengan mengerjakan hal-hal yang telah dilarang-Nya. Semua itu disebutkan di dalam kitab-kitab-Nya, juga disampaikan kepada mereka melalui lisan Rasul-rasul-Nya. Pelanggaran yang mereka lakukan ialah karena tidak mengamalkan hal tersebut.

Ahli tafsir lain mengatakan bahkan ayat ini berkenaan dengan orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang munafik. Sedangkan yang dimaksud dengan perjanjian Allah yang dirusak oleh mereka ialah perjanjian yang diambil oleh Allah atas diri mereka di dalam kitab Taurat, yaitu harus mengamalkan kandungan Taurat dan mengikuti Nabi Muhammad bila telah diutus dan percaya kepada kitab yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya. Mereka merusak hal tersebut dengan menentangnya sesudah mereka mengetahui hakikatnya, mengingkari serta menyembunyikan pengetahuan mengenai hal tersebut dari orang-orang, padahal Allah telah memberikan janji kepada mereka bahwa mereka harus menjelaskan kepada orang-orang dan tidak boleh menyembunyikannya. Selanjutnya Allah memberitakan bahwa ternyata mereka menyembunyikan hal tersebut di belakang punggungnya dan menukarnya dengan harga yang sedikit. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir, hal ini merupakan pendapat Muqatil ibnu Hayyan.

Ahli tafsir lainnya mengatakan, yang dimaksud oleh ayat ini ialah semua orang kafir, orang musyrik, dan orang munafik. Sedangkan janji Allah kepada mereka yang berkaitan dengan masalah menauhidkan (mengesakan)-Nya ialah segala sesuatu yang telah diciptakan bagi mereka berupa dalil-dalil (tanda-tanda) yang semuanya menunjukkan kepada sifat Rububiyyah Allah Subhanahu wa Ta'ala Janji Allah kepada mereka yang menyangkut masalah perintah dan larangan-Nya ialah semua hal yang dijadikan hujah oleh para rasul, yaitu berupa mukjizat-mukjizat yang tiada seorang manusia pun selain mereka dapat membuat hal yang semisal dengannya. Mukjizat-mukjizat tersebut menyaksikan akan kebenaran kerasulan mereka.

Mereka mengatakan bahwa pengrusakan janji yang dilakukan oleh mereka ialah karena mereka tidak mau mengakui hal-hal yang telah jelas kebenarannya di mata mereka melalui dalil-dalilnya, dan mereka mendustakan para rasul serta kitab-kitab, padahal mereka mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepada para rasul itu adalah perkara yang hak.

Hal yang semisal diriwayatkan pula dari Muqatil ibnu Hayyan, pendapat ini cukup baik; dan Az-Zamakhsyari memihak kepada pendapat tersebut.

Az-Zamakhsyari mengatakan bahwa jika ada yang mengatakan, "Apakah yang dimaksud dengan janji Allah?" Jawabannya, "Hal itu merupakan sesuatu yang telah dipancangkan di dalam akal mereka berupa hujah yang menunjukkan ajaran tauhid. Jadi, seakan-akan Allah telah memerintahkan dan mewasiatkan kepada mereka dan mengikatkan hal itu kepada mereka sebagai janji." Pengertian inilah yang terkandung di dalam firman-Nya:

{ูˆَุฃَุดْู‡َุฏَู‡ُู…ْ ุนَู„َู‰ ุฃَู†ْูُุณِู‡ِู…ْ ุฃَู„َุณْุชُ ุจِุฑَุจِّูƒُู…ْ ู‚َุงู„ُูˆุง ุจَู„َู‰}

Dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhan kalian!" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami)." (Al-A'raf: 172)

Yaitu ketika Allah mengambil janji terhadap diri mereka dari kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka. Perihalnya sama dengan makna yang ada di dalam firman-Nya:

{ูˆَุฃَูˆْูُูˆุง ุจِุนَู‡ْุฏِูŠ ุฃُูˆูِ ุจِุนَู‡ْุฏِูƒُู…ْ}

Dan penuhilah janji kalian kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepada kalian. (Al-Baqarah: 40)

Ahli tafsir lainnya mengatakan bahwa janji yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ialah janji yang diambil oleh Allah terhadap mereka di saat Allah mengeluarkan mereka dari sulbi Adam. Hal ini digambarkan melalui firman-Nya:

{ูˆَุฅِุฐْ ุฃَุฎَุฐَ ุฑَุจُّูƒَ ู…ِู†ْ ุจَู†ِูŠ ุขุฏَู…َ ู…ِู†ْ ุธُู‡ُูˆุฑِู‡ِู…ْ ุฐُุฑِّูŠَّุชَู‡ُู…ْ ูˆَุฃَุดْู‡َุฏَู‡ُู…ْ ุนَู„َู‰ ุฃَู†ْูُุณِู‡ِู…ْ ุฃَู„َุณْุชُ ุจِุฑَุจِّูƒُู…ْ ู‚َุงู„ُูˆุง ุจَู„َู‰ [ุดَู‡ِุฏْู†َุง] }

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhan kalian?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Al-A'raf: 172)

Sedangkan yang dimaksud dengan pengrusakan mereka terhadap janji tersebut ialah karena mereka tidak memenuhinya. Demikian pula menurut riwayat dari Muqatil ibnu Hayyan; semua pendapat di atas diketengahkan oleh Ibnu Jarir di dalam kitab tafsirnya.

Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah sehubungan dengan makna firman-Nya: (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah: 27) Menurutnya ada enam pekerti orang-orang munafik. Apabila mereka mengalami kemenangan atas semua orang, maka mereka menampakkan keenam pekerti tersebut, yaitu: Apabila bicara, berdusta; apabila berjanji, ingkar akan janjinya; apabila dipercaya, khianat; mereka melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, memutuskan apa yang diperintahkan oleh Allah agar dihubungkan, dan suka menimbulkan kerusakan di muka bumi.

Tetapi jika mereka dalam keadaan kalah, mereka hanya menampakkan ketiga pekerti saja, yaitu: Apabila bicara, berdusta; apabila berjanji, ingkar; dan apabila dipercaya, khianat.

Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi' ibnu Anas. As-Saddi di dalam kitab tafsirnya mengatakan berikut sanadnya sehubungan dengan makna firman-Nya: (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh. (Al-Baqarah: 27) Disebutkan bahwa hal yang dimaksud ialah perjanjian yang diberikan kepada mereka di dalam Al-Qur'an, lalu mereka mengakuinya, kemudian kafir dan merusaknya.

***************

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

{ูˆَูŠَู‚ْุทَุนُูˆู†َ ู…َุง ุฃَู…َุฑَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู‡ِ ุฃَู†ْ ูŠُูˆุตَู„َ}

dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya. (Al-Baqarah: 27)

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah silaturahmi dan hubungan kekerabatan, seperti yang ditafsirkan oleh Qatadah dalam firman-Nya:

{ูَู‡َู„ْ ุนَุณَูŠْุชُู…ْ ุฅِู†ْ ุชَูˆَู„َّูŠْุชُู…ْ ุฃَู†ْ ุชُูْุณِุฏُูˆุง ูِูŠ ุงู„ุฃุฑْุถِ ูˆَุชُู‚َุทِّุนُูˆุง ุฃَุฑْุญَุงู…َูƒُู…ْ}

Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan (Muhammad: 22)

Pendapatnya itu didukung oleh Ibnu Jarir dan dinilainya kuat.

Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud lebih umum dari itu, yakni mencakup semua hal yang diperintahkan oleh Allah menghubungkan dan mengerjakannya, kemudian mereka memutuskan dan meninggalkannya.

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Baqarah: 27) bahwa hal itu terjadi di akhirat. Pengertiannya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman Allah Swt:

{ุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ู„َู‡ُู…ُ ุงู„ู„َّุนْู†َุฉُ ูˆَู„َู‡ُู…ْ ุณُูˆุกُ ุงู„ุฏَّุงุฑِ}

Orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam). (Ar-Ra'd: 25)

Menurut Dahhak, dari Ibnu Abbas, segala sesuatu yang dinisbatkan oleh Allah kepada selain pemeluk Islam berupa suatu sebutan, misalnya merugi; maka sesungguhnya yang dimaksud hanyalah kekufuran. Sedangkan hal serupa yang dinisbatkan kepada pemeluk Islam, makna yang dimaksud hanyalah dosa.

Ibnu Jarir mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Ulaika humul khasirun" bahwa lafaz al-khasirun adalah bentuk jamak dari lafaz khasirun; mereka adalah orang-orang yang mengurangi bagian keberuntungan mereka dari rahmat Allah karena perbuatan maksiat mereka. Perihalnya sama dengan seorang lelaki yang mengalami kerugian dalam perniagaan, misalnya sebagian modalnya amblas karena rugi dalam jual beli. Demikian pula halnya orang munafik dan orang kafir, keduanya beroleh kerugian karena terhalang tidak mendapat rahmat Allah yang diciptakan-Nya buat hamba-hamba-Nya di hari kiamat, padahal saat itu yang paling mereka perlukan adalah rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala Termasuk ke dalam pengertian lafaz ini bila dikatakan khasirar rajulu (lelaki itu mengalami kerugian), bentuk masdar-nya adalah khusran, khusranan, dan khisaran, sebagaimana dikatakan Jarir ibnu Atiyyah:

ุฅِู†َّ ุณَู„ِูŠุทًุง ูِูŠ ุงู„ุฎَุณَุงุฑِ ุฅู†َّู‡ ... ุฃูˆู„ุงุฏُ ู‚َูˆู…ٍ ุฎُู„ู‚ُูˆุง ุฃู‚ِู†َّู‡

Sesungguhnya si Sulait, kerugian yang dialaminya ialah karena ia dari anak-anak suatu kaum yang sejak lahir ditakdirkan menjadi hamba sahaya.

Sabtu, 28 Mei 2022

Al-Baqarah, ayat 23-24

Al-Baqarah, ayat 23-24

{ูˆَุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ูِูŠ ุฑَูŠْุจٍ ู…ِู…َّุง ู†ุฒู„ْู†َุง ุนَู„َู‰ ุนَุจْุฏِู†َุง ูَุฃْุชُูˆุง ุจِุณُูˆุฑَุฉٍ ู…ِู†ْ ู…ِุซْู„ِู‡ِ ูˆَุงุฏْุนُูˆุง ุดُู‡َุฏَุงุกَูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ุฏُูˆู†ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ุตَุงุฏِู‚ِูŠู†َ (23) ูَุฅِู†ْ ู„َู…ْ ุชَูْุนَู„ُูˆุง ูˆَู„َู†ْ ุชَูْุนَู„ُูˆุง ูَุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู†َّุงุฑَ ุงู„َّุชِูŠ ูˆَู‚ُูˆุฏُู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ูˆَุงู„ْุญِุฌَุงุฑَุฉُ ุฃُุนِุฏَّุชْ ู„ِู„ْูƒَุงูِุฑِูŠู†َ (24) }

Dan jika kalian (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah, jika kalian orang-orang yang memang benar. Maka jika kalian tidak dapat membuat(nya) dan pasti kalian tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah diri kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menetapkan masalah kenabian sesudah menetapkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Untuk itu, Allah mengarahkan khitab-Nya kepada orang-orang kafir melalui firman-Nya:

{ูˆَุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ูِูŠ ุฑَูŠْุจٍ ู…ِู…َّุง ู†ุฒู„ْู†َุง ุนَู„َู‰ ุนَุจْุฏِู†َุง}

Dan jika kalian (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami. (Al-Baqarah: 23)

Yang dimaksud dengan hamba ialah Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam Maka datangkanlah sebuah surat yang semisal dengan apa yang didatangkan olehnya. Apabila kalian menduga bahwa Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, maka tantanglah Al-Qur'an dengan hal yang semisal dengan apa yang didatangkan olehnya. Mintalah pertolongan kepada orang-orang yang kalian kehendaki selain Allah, karena sesungguhnya kalian pasti tidak akan mampu melakukan hal tersebut. Menurut Ibnu Abbas, syuhada-ukum artinya penolong-penolong kalian.

Menurut As-Saddi, dari Abu Malik, syuhada-ukum artinya sekutu-sekutu kalian. Dengan kata lain ialah kaum selain kalian yangmembantu kalian untuk melakukan hal tersebut. Mintalah pertolongankepada tuhan-tuhan kalian agar mereka membantu dan menolong kalian.

Mujahid mengatakan bahwa makna wad'u syuhada-akum artinya orang-orang yang akan menyaksikannya, mereka adalah juri-juri dari kalangan orang-orang yang fasih dalam berbahasa.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menantang mereka untuk melakukan hal tersebut di lain ayat dari Al-Qur'an, yaitu dalam surat Al-Qashash:

{ู‚ُู„ْ ูَุฃْุชُูˆุง ุจِูƒِุชَุงุจٍ ู…ِู†ْ ุนِู†ْุฏِ ุงู„ู„َّู‡ِ ู‡ُูˆَ ุฃَู‡ْุฏَู‰ ู…ِู†ْู‡ُู…َุง ุฃَุชَّุจِุนْู‡ُ ุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ุตَุงุฏِู‚ِูŠู†َ}

Katakanlah, "Datangkanlah oleh kalian sebuah kitab dari sisi Allah yang kitab itu lebih (dapat) memberi petunjuk daripada keduanya (Taurat dan Al-Qur'an) niscaya aku mengikutinya, jika kalian sungguh orang-orang yang benar." (Al-Qashash: 49)

Di dalam surat Al-Isra disebutkan melalui firman-Nya:

{ู‚ُู„ْ ู„َุฆِู†ِ ุงุฌْุชَู…َุนَุชِ ุงู„ุฅู†ْุณُ ูˆَุงู„ْุฌِู†ُّ ุนَู„َู‰ ุฃَู†ْ ูŠَุฃْุชُูˆุง ุจِู…ِุซْู„ِ ู‡َุฐَุง ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ ู„َุง ูŠَุฃْุชُูˆู†َ ุจِู…ِุซْู„ِู‡ِ ูˆَู„َูˆْ ูƒَุงู†َ ุจَุนْุถُู‡ُู…ْ ู„ِุจَุนْุถٍ ุธَู‡ِูŠุฑًุง}

Katakanlah.�Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (Al-Isra: 88)

Di dalam surat Hud Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

{ุฃَู…ْ ูŠَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ ุงูْุชَุฑَุงู‡ُ ู‚ُู„ْ ูَุฃْุชُูˆุง ุจِุนَุดْุฑِ ุณُูˆَุฑٍ ู…ِุซْู„ِู‡ِ ู…ُูْุชَุฑَูŠَุงุชٍ ูˆَุงุฏْุนُูˆุง ู…َู†ِ ุงุณْุชَุทَุนْุชُู…ْ ู…ِู†ْ ุฏُูˆู†ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ุตَุงุฏِู‚ِูŠู†َ}

Bahkan mereka mengatakan, "Muhammad telah membuat-buat Al-Qur'an itu." Katakanlah, "(Jikalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kalian sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kalian memang orang-orang yang benar." (Hud: 13)

Di dalam surat Yunus Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

{ูˆَู…َุง ูƒَุงู†َ ู‡َุฐَุง ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ُ ุฃَู†ْ ูŠُูْุชَุฑَู‰ ู…ِู†ْ ุฏُูˆู†ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَู„َูƒِู†ْ ุชَุตْุฏِูŠู‚َ ุงู„َّุฐِูŠ ุจَูŠْู†َ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ูˆَุชَูْุตِูŠู„َ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ ู„َุง ุฑَูŠْุจَ ูِูŠู‡ِ ู…ِู†ْ ุฑَุจِّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ * ุฃَู…ْ ูŠَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ ุงูْุชَุฑَุงู‡ُ ู‚ُู„ْ ูَุฃْุชُูˆุง ุจِุณُูˆุฑَุฉٍ ู…ِุซْู„ِู‡ِ ูˆَุงุฏْุนُูˆุง ู…َู†ِ ุงุณْุชَุทَุนْุชُู…ْ ู…ِู†ْ ุฏُูˆู†ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชُู…ْ ุตَุงุฏِู‚ِูŠู†َ}

Tidaklah mungkin Al-Qur'an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al-Qur'an itu) membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah duetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, "Muhammad membuat-buatnya." Katakanlah, "(Kalau benar yang kalian katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kalian panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar" (Yunus: 37-38)

Semua ayat ini Makkiyyah, kemudian Allah menantang mereka dengan tantangan yang sama dalam surat-surat Madaniyyah. Untuk itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam ayat berikut: Dan jika kalian (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buailah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur'an itu. (Al-Baqarah: 23) Demikian pendapat Mujahid dan Qatadah, dipilih oleh Ibnu Jarir At-Tabari, Az-Zamakhsyari dan Ar-Razi, dinukil dari Umar, Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Al-Hasan Al-Basri, dan kebanyakan ulama ahli Tahqiq.

Pendapat ini dinilai kuat berdasarkan peninjauan dari berbagai segi yang antara lain ialah Allah Subhanahu wa Ta'ala menantang mereka secara keseluruhan, baik secara terpisah maupun secara gabungan; yang dalam hal ini tidak ada bedanya antara orang-orang ummi dari kalangan mereka dan orang-orang yang pandai baca tulis dari mereka. Yang demikian itu lebih sempurna dalam tantangannya dan lebih mencakup keseluruhannya daripada tantangan yang hanya ditujukan-kepada individu dari kalangan mereka yang ummi, yaitu orang-orang yang tidak dapat baca tulis dan tidak memperhatikan suatu ilmu pun. Sebagai buktinya ialah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengatakan:

{ูَุฃْุชُูˆุง ุจِุนَุดْุฑِ ุณُูˆَุฑٍ ู…ِุซْู„ِู‡ِ}

maka datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat menyamainya. (Hud: 13)

{ู„َุง ูŠَุฃْุชُูˆู†َ ุจِู…ِุซْู„ِู‡ِ}

niscaya meraka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia. (Al-Isra : 88)

Sebagian ulama mangatakan bahwa bimislihi artinya dari orang yang semisal dengan Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam yakni dari seorang lelaki yang ummi seperti dia. Tetapi pendapat yang sahih adalah yang pertama, karena tantangan ini bersifat umum bagi mereka semua. Padahal mereka adalah orang-orang yang paling fasih, dan Allah menantang mereka dengan tantangan ini di Mekah dan di Madinah beberapa kali karena mereka sangat memusuhi Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam dan sangat membenci agamanya. Akan tetapi, sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih, ternyata mereka tidak mampu membuatnya. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

{ูَุฅِู†ْ ู„َู…ْ ุชَูْุนَู„ُูˆุง ูˆَู„َู†ْ ุชَูْุนَู„ُูˆุง}

Maka jika kalian tidak dapat (membuatnya), dan pasti kalian tidak akan dapat membuat(nya). (Al-Baqarah: 24)

Huruf lan bermakna menafikan untuk selamanya di masa mendatang, yakni kalian tidak akan mampu melakukannya untuk selama-lamanya. Hal ini merupakan suatu mukjizat tersendiri bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala mengemukakan suatu berita yang pasti mendahului segalanya tanpa rasa khawatir dan takut bahwa Al-Qur'an ini tiada yang dapat membuat hal yang semisal dengannya untuk selama - lamanya. Memang kenyataannya demikian, sejak diturunkan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala sampai sekarang tiada yang dapat membuat hal yang semisal dengannya. Tidak mungkin dan mustahil ada manusia yang dapat melakukannya. Al-Qur'an merupakan Kalamullah Tuhan Yang Menciptakan segala sesuatu, mana mungkin kalam Yang Maha Pencipta dapat diserupakan dengan kalam makhluk-Nya.

Bagi orang yang memikirkan Al-Qur'an, niscaya dia akan menjumpai di dalamnya berbagai mukjizat keindahan-keindahan yang Lahir dan yang tersembunyi yang berkaitan dengan segi lafaz dan segi maknanya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

{ุงู„ุฑ ูƒِุชَุงุจٌ ุฃُุญْูƒِู…َุชْ ุขูŠَุงุชُู‡ُ ุซُู…َّ ูُุตِّู„َุชْ ู…ِู†ْ ู„َุฏُู†ْ ุญَูƒِูŠู…ٍ ุฎَุจِูŠุฑٍ}

Alif lam ra, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana lagi Mahawaspada. (Hud: 1)

Lafaz-lafaz disusun dengan rapi dan kokoh, makna-maknanya dijelaskan secara rinci, atau sebaliknya menurut pendapat yang berbeda-beda. Setiap lafaz dan makna Al-Qur'an adalah fasih belaka, tiada yang dapat menandinginya, tiada pula yang dapat sejajar dengannya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan banyak hal yang terjadi di masa silam yang kisah-kisahnya terpendam, lalu kisahnya diangkat kembali sesuai dengan kejadiannya tanpa ada kekurangan sama sekali. Allah memerintahkan kepada semua perkara yang baik dan melarang setiap perbuatan yang buruk.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

{ูˆَุชَู…َّุชْ ูƒَู„ِู…َุฉُ ุฑَุจِّูƒَ ุตِุฏْู‚ًุง ูˆَุนَุฏْู„ุง}

Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Qur'an) sebagai kalimat yang benar dan adil. (Al-An'am: 115)

Dengan kata lain, benar dalam pemberitaan dan adil dalam hukum; semuanya adalah hak, benar, adil, dan petunjuk. Di dalam Al-Qur'an tidak terdapat spekulasi, tiada dusta, dan tiada buat-buatan, sebagaimana yang dijumpai dalam banyak syair Arab dan lain-lainnya yang dipenuhi dengan kedustaan dan spekulasi yang tidak akan indah syair-syair mereka bila tidak disertai dengan kedustaan dan spekulasi. Sebagaimana yang dikatakan bahwa syair yang paling indah ialah yang paling dusta.

Dijumpai dalam kasidah-kasidah yang panjang lagi bertele-tele, kebanyakan isinya hanya menceritakan wanita, kuda, khamr; atau memuji orang tertentu, unta, peperangan, kejadian, hal yang menakutkan atau sesuatu pemandangan yang tiada mengandung suatu faedah selain hanya menunjukkan kemampuan si penyair yang bersangkutan dalam menggambarkan sesuatu yang samar lagi lembut (jelimet), atau menampilkannya ke dalam gambaran yang jelas. Kemudian dijumpai satu bait, dua bait, atau lebih mencakup isi seluruh kasidah, sedangkan yang lainnya tidak ada gunanya dan tidak ada faedahnya selain hanya bertele-tele.

Adapun Al-Qur'an. seluruhnya fasih lagi berparamasastra sangat tinggi bagi orang yang mengetahui hal tersebut secara rinci dan secara global dari kalangan orang-orang yang mengerti bahasa Arab dan seni ungkapan mereka. Karena sesungguhnya jika kamu renungkan berita-beritanya, niscaya kamu menjumpainya sangat indah, baik yang diungkapkan dalam bentuk panjang ataupun ringkas. Sama saja apakah ungkapannya berulang atau tidak, sebab setiap kali berulang dirasakan bertambah indah dan anggun, tidak bosan membacanya, dan para ulama tidak pernah merasa jenuh.

Apabila Al-Qur'an mengungkapkan suatu ancaman atau peringatan, hal ini diungkapkannya dalam bahasa yang membuat gunung yang bisu lagi kokoh itu akan bergetar, terlebih lagi kalbu manusia yang memahaminya. Apabila mengemukakan suatu janji, diungkapkan dalam gaya bahasa yang membuat hati dan pendengaran manusia terbuka, merasa rindu kepada surga yang berada di sisi 'Arasy Tuhan Yang Maha Pemurah, sebagaimana yang dijelaskan dalam targib melalui firman-Nya:

{ูَู„ุง ุชَุนْู„َู…ُ ู†َูْุณٌ ู…َุง ุฃُุฎْูِูŠَ ู„َู‡ُู…ْ ู…ِู†ْ ู‚ُุฑَّุฉِ ุฃَุนْูŠُู†ٍ ุฌَุฒَุงุกً ุจِู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَุนْู…َู„ُูˆู†َ}

Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (As-Sajdah: 17)

{ูˆَูِูŠู‡َุง ู…َุง ุชَุดْุชَู‡ِูŠู‡ِ ุงู„ุฃู†ْูُุณُ ูˆَุชَู„َุฐُّ ุงู„ุฃุนْูŠُู†ُ ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ูِูŠู‡َุง ุฎَุงู„ِุฏُูˆู†َ}

Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya. (Az-Zukhruf: 71)

Di dalam Bab "Tarhib" Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

{ุฃَูَุฃَู…ِู†ْุชُู…ْ ุฃَู†ْ ูŠَุฎْุณِูَ ุจِูƒُู…ْ ุฌَุงู†ِุจَ ุงู„ْุจَุฑِّ}

Maka apakah kalian merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkirbalikkan sebagian daratan bersama kalian. (Al-Isra: 68)

{ุฃَุฃَู…ِู†ْุชُู…ْ ู…َู†ْ ูِูŠ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ุฃَู†ْ ูŠَุฎْุณِูَ ุจِูƒُู…ُ ุงู„ุฃุฑْุถَ ูَุฅِุฐَุง ู‡ِูŠَ ุชَู…ُูˆุฑُ * ุฃَู…ْ ุฃَู…ِู†ْุชُู…ْ ู…َู†ْ ูِูŠ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ุฃَู†ْ ูŠُุฑْุณِู„َ ุนَู„َูŠْูƒُู…ْ ุญَุงุตِุจًุง ูَุณَุชَุนْู„َู…ُูˆู†َ ูƒَูŠْูَ ู†َุฐِูŠุฑِ}

Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kalian, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncangl Atau apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku? (Al-Mulk: 16-17)

Dalam Bab "Peringatan" Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

{ูَูƒُู„ุง ุฃَุฎَุฐْู†َุง ุจِุฐَู†ْุจِู‡ِ}

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosa-nya. (Al-Ankabut 40)

Dalam Bab "Nasihat (Pelajaran)" Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

{ุฃَูَุฑَุฃَูŠْุชَ ุฅِู†ْ ู…َุชَّุนْู†َุงู‡ُู…ْ ุณِู†ِูŠู†َ * ุซُู…َّ ุฌَุงุกَู‡ُู…ْ ู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠُูˆุนَุฏُูˆู†َ * ู…َุง ุฃَุบْู†َู‰ ุนَู†ْู‡ُู…ْ ู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠُู…َุชَّุนُูˆู†َ}

Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya. (Asy-Syu'ara: 205-207)

Masih banyak ayat lainnya yang mengandung berbagai macam fasahah. paramasastra. dan keindahan. Apabila ayat-ayat Al-Qur'an menerangkan perihal hukum-hukum, perintah-perintah, dan larangan-larangan. maka setiap perintah selalu mengandung semua perkara makruf, baik, bermanfaat, dan larangan terhadap setiap perbuatan yang buruk, hina, dan rendah.

Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf mengatakan, "Apabila kamu mendengar Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman di dalam Al-Qur'an, 'Hai orang-orang yang beriman,' maka pasanglah pendengaranmu baik-baik, karena sesungguhnya hal tersebut mengandung kebaikan yang akan diperintahkan oleh-Nya atau keburukan yang dilarang oleh-Nya." Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

{ูŠَุฃْู…ُุฑُู‡ُู…ْ ุจِุงู„ْู…َุนْุฑُูˆูِ ูˆَูŠَู†ْู‡َุงู‡ُู…ْ ุนَู†ِ ุงู„ْู…ُู†ْูƒَุฑِ ูˆَูŠُุญِู„ُّ ู„َู‡ُู…ُ ุงู„ุทَّูŠِّุจَุงุชِ ูˆَูŠُุญَุฑِّู…ُ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ُ ุงู„ْุฎَุจَุงุฆِุซَ ูˆَูŠَุถَุนُ ุนَู†ْู‡ُู…ْ ุฅِุตْุฑَู‡ُู…ْ ูˆَุงู„ุฃุบْู„ุงู„َ ุงู„َّุชِูŠ ูƒَุงู†َุชْ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ}

Yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. (Al-A'raf: 157)

Apabila ayat-ayat menerangkan gambaran tentang hari kiamat berikut semua kesusahan dan kengerian yang terdapat di dalamnya, gambaran tentang surga, neraka, dan semua yang disediakan oleh Allah buat kekasih-kekasih-Nya serta musuh-musuhnya, yaitu kenikmatan dan neraka, serta perlindungan dan siksa yang pedih, maka diungkapkannya dalam bentuk berita gembira, larangan, serta peringatan. Yaitu ungkapan yang mendorong untuk mengerjakan semua kebaikan dan menjauhi semua kemungkaran, mendorong untuk berzuhud terhadap duniawi serta lebih suka kepada pahala di akhirat, dan memperteguh jalan yang penuh dengan keteladanan, memberikan petunjuk ke jalan Allah yang lurus dan syariatnya yang tegak, serta membersihkan hati dari kotoran setan yang terkutuk.

Karena itu, telah ditetapkan di dalam kitab Sahihain dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu,bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam telah bersabda:

"ู…َุง ู…ِู†ْ ู†َุจِูŠٍّ ู…ِู†َ ุงู„ْุฃَู†ْุจِูŠَุงุกِ ุฅِู„َّุง ู‚َุฏْ ุฃุนْุทِูŠَ ู…ِู†َ ุงู„ْุขูŠَุงุชِ ู…َุง ู…ِุซْู„ُู‡ُ ุขู…َู†َ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุงู„ْุจَุดَุฑُ، ูˆَุฅِู†َّู…َุง ูƒَุงู†َ ุงู„َّุฐِูŠ ุฃُูˆุชِูŠุชُู‡ُ ูˆَุญْูŠًุง ุฃَูˆْุญَุงู‡ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุฅู„ูŠَّ، ูَุฃَุฑْุฌُูˆ ุฃَู†ْ ุฃَูƒُูˆู†َ ุฃَูƒْุซَุฑَู‡ُู…ْ ุชَุงุจِุนًุง ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ

Tiada seorang nabi pun melainkan telah dianugerahi suatu mukjizat yang disesuaikan dengan apa yang diimani oleh manusia di masanya. Dan sesungguhnya apa yang telah diberikan kepadaku hanyalah wahyu yang diturunkan oleh Allah kepadaku, maka aku berharap semoga aku adalah nabi yang paling banyak pengikutnya di antara semua nabi-nabi kelak di hari kiamat.

Lafaz hadis ini berasal dari Imam Muslim.

Dengan kata lain, sesungguhnya apa yang diberikan kepadaku hanyalah berupa wahyu; aku mempunyai kekhususan tersendiri di antara mereka (para nabi), yaitu diberi wahyu Al-Qur'an ini yang melemahkan seluruh umat manusia untuk membuat hal yang semisal dengannya, lain halnya dengan kitab-kitab samawi lainnya. Karena sesungguhnya kitab-kitab samawi selain Al-Qur'an menurut kebanyakan ulama bukan merupakan mukjizat. Tetapi Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam selain memiliki mukjizat Al-Qur'an, memiliki pula mukjizat-mukjizat lainnya yang menunjukkan kenabian dan kebenaran apa yang didatangkan olehnya, dan hal ini jumlahnya cukup banyak hingga tak terhitung; segala puji dan anugerah hanyalah milik Allah.

Sebagian ulama ahli Kalam ada yang menetapkan unsur i'jaz di dalam Al-Qur'an dengan suatu metode yang mencakup antara pendapat ahli sunnah dan golongan mu'tazilah yang menyatakan sirfah. Dia mengatakan, jika Al-Qur'an ini mengandung i'jaz dengan sendirinya �yakni manusia tidak akan mampu mendatangkan yang semisal dengannya dan di luar kemampuan mereka pula untuk menentangnya� berarti apa yang diakui benar-benar telah terjadi. Jika mereka mempunyai kemampuan untuk menentang Al-Qur'an dengan hal yang semisal dengannya, sedangkan mereka tidak mampu melakukannya, padahal mereka sangat memusuhinya. maka hal ini merupakan bukti yang menunjukkan bahwa Al-Qur'an benar-benar dari sisi Allah; karena Allah men-sirfah (memalingkan) mereka untuk dapat menentangnya (Al-Qur'an), padahal mereka mempunyai kemampuan untuk menentangnya dengan hal yang semisal. Analisis seperti ini �sekalipun kurang dapat diterima� mengingat Al-Qur'an itu sendiri mengandung mukjizat yang membuat manusia tidak mampu menentangnya dengan hal yang semisal, seperti yang telah kami sebutkan di atas. Hanya saja analisis ini dapat diterima dengan pengertian sebagai perumpamaan dan tantangan terhadap perkara yang hak. Metode inilah yang dipakai oleh Ar-Razi dalam menjawab hipotesisnya di dalam kitab tafsirnya menyangkut surat yang pendek-pendek, seperti surat Al-'Asr dan Al-Kausar.

***********

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

{ูَุงุชَّู‚ُูˆุง ุงู„ู†َّุงุฑَ ุงู„َّุชِูŠ ูˆَู‚ُูˆุฏُู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ูˆَุงู„ْุญِุฌَุงุฑَุฉُ ุฃُุนِุฏَّุชْ ู„ِู„ْูƒَุงูِุฑِูŠู†َ}

Peliharalah diri kalian dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah: 24)

Yang dimaksud dengan al-waqud ialah sesuatu yang dicampakkan ke dalam api untuk membesarkannya, seperti kayu bakar dan lain-lain-nya; sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman lainnya, yaitu:

{ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„ْู‚َุงุณِุทُูˆู†َ ูَูƒَุงู†ُูˆุง ู„ِุฌَู‡َู†َّู…َ ุญَุทَุจًุง}

Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam. (Al-Jin: 15)

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman pula:

{ุฅِู†َّูƒُู…ْ ูˆَู…َุง ุชَุนْุจُุฏُูˆู†َ ู…ِู†ْ ุฏُูˆู†ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุญَุตَุจُ ุฌَู‡َู†َّู…َ ุฃَู†ْุชُู…ْ ู„َู‡َุง ูˆَุงุฑِุฏُูˆู†َ}

Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah adalah makanan Jahannam, kalian pasti masuk ke dalamnya. (Al-Anbiya: 98)

Yang dimaksud al-hijarah dalam surat Al-Baqarah ini ialah batu pemantik api yang sangat besar, hitam, keras, dan berbau busuk. Batu jenis ini paling panas jika dipanaskan, semoga Allah melindungi kita darinya.

Abdul Malik ibnu Maisarah Az-Zarrad meriwayatkan dari Abdur Rahman ibnu Sabit, dari Amr ibnu Maimun, dari Abdullah ibnu Mas'ud sehubungan dengan firman-Nya: bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (Al-Baqarah: 24) Bahwa batu yang dimaksudkan adalah batu kibrit (pemantik api), Allah telah menciptakannya di saat Allah menciptakan langit dan bumi, yaitu di langit yang paling rendah, sengaja disediakan buat orang-orang kafir.

Riwayat ini diketengahkan oleh Ibnu Jarir dengan lafaz seperti ini, diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim dan Imam Hakim di dalam kitab Mustadraknya; ia mengatakan bahwa dengan syarat Syaikhain.

As-Saddi di dalam kitab tafsirnya mengatakan dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud dan dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna ayat ini. Adapun yang dimaksud dengan al-hijarah ialah batu yang ada di dalam neraka, yaitu batu kibrit berwarna hitam; mereka (orang-orang kafir) diazab di dalam neraka dengan batu itu dan api neraka.

Mujahid mengatakan bahwa hijarah ini berasal dari batu kibrit yang baunya lebih busuk daripada bangkai.

Abu Ja'far Muhammad ibnu Ali mengatakan bahwa batu tersebut adalah batu kibrit.

Ibnu Juraij mengatakan, batu tersebut adalah batu kibrit hitam yang berada di dalam neraka. Menurut Amr ibnu Dinar, batu tersebut jauh lebih keras dan lebih besar daripada yang ada di dunia.

Menurut pendapat yang lain, batu tersebut dimaksudkan batu berhala dan tandingan-tandingan yang disembah selain Allah, sebagaimana dijelaskan dalam firman lainnya, yaitu: Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah adalah makanan Jahannam. (Al-Anbiya: 98)

Pendapat ini diriwayatkan oleh Al-Qurtubi dan Ar-Razi yang menilainya lebih kuat daripada pendapat di atas. Ar-Razi mengatakan, dikatakan demikian karena bukan merupakan hal yang diingkari bila api mengejar batu kibrit, untuk itu lebih utama bila bahan bakar tersebut diartikan sebagai batu-batuan jenis kibrit. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Ar-Razi masih kurang kuat, mengingat api itu apabila dibesarkan nyalanya dengan batu kibrit, maka panasnya lebih kuat dan nyalanya lebih besar. Terlebih lagi diartikan seperti yang telah dikatakan oleh ulama Salaf, bahwa batu-batuan tersebut adalah batu kibrit yang disediakan untuk tujuan tersebut. Selanjutnya merupakan suatu hal yang nyata pula bila api dapat membakar jenis batu-batuan lainnya, misalnya batu jas (kapur), jika dibakar dengan api, ia menyala, kemudian menjadi kapur. Demikian pula halnya semua batuan lainnya, bila dibakar oleh api pasti terbakar dan menjadi hancur.

Sesungguhnya hal ini dikaitkan dengan panasnya api neraka yang diancamkan kepada mereka. Juga dikaitkan dengan kebesaran nyalanya, sebagaimana yang terdapat di dalam firman-Nya berikut ini:

{ูƒُู„َّู…َุง ุฎَุจَุชْ ุฒِุฏْู†َุงู‡ُู…ْ ุณَุนِูŠุฑًุง}

Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah bagi mereka nyalanya. (Al-Isra: 97)

Demikian pendapat yang dinilai kuat oleh Al-Qurtubi. Disebutkan bahwa makna yang dimaksud ialah batu-batuan yang dapat menambah nyala api dan menambah derajat kepanasannya, dimaksudkan agar hal ini menambah keras siksaannya terhadap para penghuninya.

Al-Qurtubi mengatakan pula, telah disebut sebuah hadis dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, bahwa beliau Shalallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

"ูƒُู„ُّ ู…ُุคْุฐٍ ูِูŠ ุงู„ู†َّุงุฑِ"

Setiap yang menyakitkan pasti ada dalam neraka.

Hadis ini kurang dihafal dan kurang dikenal di kalangan ulama ahli hadis. Kemudian Al-Qurtubi mengatakan bahwa hadis ini diinterpretasikan dengan dua makna. Makna pertama menyatakan bahwa setiap orang yang mengganggu orang lain dimasukkan ke dalam neraka. Makna yang kedua mengartikan bahwa setiap yang menyakitkan para penghuninya �seperti binatang buas, serangga beracun, dan lain-lain-nya� terdapat pula di dalam neraka.

Firman Allah, "U'iddat lil kafirin" menurut pendapat yang paling kuat damir yang terdapat di dalam lafaz u'iddat kembali kepada neraka yang bahan bakarnya terdiri atas manusia dan batu-batuan. Tetapi dapat pula diinterpretasikan bahwa damir tersebut kembali kepa-da al-hijarah, sebagaimana tafsir yang dikemukakan oleh Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu Kedua pendapat tersebut tidak bertentangan dalam hal makna, karena keduanya saling mengait dengan yang lainnya.

U'iddat, disediakan buat orang-orang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq, dari Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas. Disebutkan bahwa makna firman-Nya, "Disediakan bagi orang-orang kafir" (Al-Baqarah: 24) ialah 'buat orang yang kafir di antara kalian'.

Banyak orang dari kalangan para imam sunnah yang menyimpulkan dalil dari ayat ini, bahwa neraka itu sekarang telah ada, yakni telah diciptakan Allah Subhanahu wa Ta'ala atas dasar firman-Nya: yang disediakan bagi orang-orang kafir. (Al-Baqarah: 24) Dengan kata lain, neraka itu telah dipersiapkan dan disediakan buat mereka yang kafir.

Banyak hadis yang menunjukkan pengertian ini (bahwa neraka telah ada), antara lain ialah hadis yang menceritakan bahwa surga dan neraka saling membantah.

Hadis lainnya menyebutkan:

"ุงุณْุชَุฃْุฐَู†َุชِ ุงู„ู†َّุงุฑُ ุฑَุจَّู‡َุง ูَู‚َุงู„َุชْ: ุฑَุจِّ ุฃَูƒَู„َ ุจَุนْุถِูŠ ุจَุนْุถًุง ูَุฃَุฐِู†َ ู„َู‡َุง ุจِู†َูَุณَูŠْู†ِ ู†َูَุณٌ ูِูŠ ุงู„ุดِّุชَุงุกِ ูˆَู†َูَุณٌ ูِูŠ ุงู„ุตَّูŠْูِ"

Neraka meminta izin kepada Tuhannya. Untuk itu ia berkata, "Wahai Tuhanku, sebagian dariku memakan sebagian yang lainnya." Akhirnya ia diizinkan untuk mengeluarkan dua embusan, yaitu embusan di waktu musim dingin dan embusan lainnya di waktu musim panas.

Demikian pula dalam hadis yang diceritakan oleh Abdullah ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu:

ุณَู…ِุนْู†َุง ูˆَุฌْุจَุฉً ูَู‚ُู„ْู†َุง ู…َุง ู‡َุฐِู‡ِ؟ ูَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ: "ู‡َุฐَุง ุญَุฌَุฑٌ ุฃُู„ْู‚ِูŠَ ุจِู‡ِ ู…ِู†ْ ุดَูِูŠุฑِ ุฌَู‡َู†َّู…َ ู…ُู†ْุฐُ ุณَุจْุนِูŠู†َ ุณَู†َุฉً ุงู„ْุขู†َ ูˆَุตَู„َ ุฅِู„َู‰ ู‚َุนْุฑِู‡َุง"

Kami pernah mendengar suatu suara gemuruh, lalu kami bertanya, "Suara apakah itu?" Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam menjawab, "Itu adalah suara batu yang dilemparkan dari pinggir neraka Jahannam sejak tujuh puluh tahun yang silam, dan sekarang baru sampai ke dasarnya."

Hadis ini menurut lafaz Imam Muslim.

Juga hadis yang menceritakan salat gerhana Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, hadis mengenai malam isra, dan hadis-hadis lain yang menunjukkan makna yang sama dengan pengertian yang sedang dalam bahasan kita ini. Akan tetapi, golongan Mu'tazilah menentang pendapat ini karena kebodohan mereka sendiri, tetapi pendapat mereka didukung oleh Kadi Munzir ibnu Sa'id Al-Balluti, kadi di Andalusia.

*************

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengatakan:

{ูَุฃْุชُูˆุง ุจِุณُูˆุฑَุฉٍ ู…ِู†ْ ู…ِุซْู„ِู‡ِ}

maka buatlah satu surat saja yang semisal dengan Al-Qur'an. (Al-Baqarah: 23)

dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam surat Yunus, yaitu:

{ุจِุณُูˆุฑَุฉٍ ู…ِุซْู„ِู‡ِ}

sebuah surat semisal dengannya. (Yunus: 38)

makna yang dimaksud mencakup semua surat Al-Qur'an �baik surat yang panjang maupun yang pendek� mengingat lafaz surat diungkapkan dalam bentuk nakirah dalam konteks syarat. Lafaz seperti itu bermakna umum, sama halnya dengan nakirah yang diungkapkan dalam konteks nafi menurut ahli tahqiq dari kalangan ulama Usul; hal ini akan diterangkan nanti dalam pembahasannya sendiri.

Unsur i'jaz memang terkandung di dalam surat-surat yang panjang, juga surat-surat yang pendek. Sepengetahuan kami tidak ada ulama yang memperselisihkan pendapat ini, baik yang Salaf maupun yang Khalaf.

Tetapi Ar-Razi di dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengatakan: Buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur'an itu. (Al-Baqarah: 23) diartikan mencakup surat Al-Kausar, Al-'Asr, dan Al-Kafirun. Kita mengetahui bahwa membuat sesuatu yang semisal dengannya atau yang mendekatinya merupakan suatu hal yang mungkin dapat dilakukan dengan pasti. Karena itu, merupakan suatu hal yang bertentangan dengan kenyataan jika dikatakan bahwa membuat hal yang semisal dengan surat-surat tersebut merupakan suatu hal yang di luar kemampuan manusia. Apabila kita berpendapat seperti pendapat yang berlebihan ini, justru akibatnya akan mengurangi keagungan agama (Al-Qur'an) itu sendiri.

Berdasarkan pengertian inilah kami memilih cara lain dalam menginterpretasikannya; dan kami katakan jika surat-surat tersebut tingkatan kefasihannya mencapai tingkatan i'jaz, berarti bukan menjadi masalah lagi. Tetapi jika tidak demikian keadaannya, berarti ketidakmampuan orang-orang kafir untuk menyainginya merupakan suatu mukjizat tersendiri, mengingat dorongan yang ada pada diri mereka untuk melecehkan Al-Qur'an benar-benar kuat. Atas dasar kedua hipotesis ini unsur i'jaz tetap ada. Demikian nukilan secara harfiah dari Ar-Razi.

Menurut pendapat yang benar, setiap surat dari Al-Qur'an merupakan mukjizat, manusia tidak akan mampu menandinginya, baik surat yang panjang maupun yang pendek.

Imam Syafii rahimahullah mengatakan, "Jikalau manusia memikirkan makna yang terkandung di dalam surat berikut, niscaya sudah menjadi kecukupan bagi mereka," yaitu firman-Nya:

{ูˆَุงู„ْุนَุตْุฑِ * ุฅِู†َّ ุงู„ุฅู†ْุณَุงู†َ ู„َูِูŠ ุฎُุณْุฑٍ * ุฅِู„ุง ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ูˆَุนَู…ِู„ُูˆุง ุงู„ุตَّุงู„ِุญَุงุชِ ูˆَุชَูˆَุงุตَูˆْุง ุจِุงู„ْุญَู‚ِّ ูˆَุชَูˆَุงุตَูˆْุง ุจِุงู„ุตَّุจْุฑِ}

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al-'Asr: 1-3)

Kami meriwayatkan dari Amr ibnul As, bahwa sebelum masuk Islam dia pernah bertamu kepada Musailamah Al-Kazzab. Lalu Musailamah bertanya kepadanya, "Apakah yang telah diturunkan kepada teman kalian (Nabi Muhammad) di Mekah di masa sekarang?" Maka Amr menjawabnya, "Sesungguhnya telah diturunkan kepadanya suatu surat yang ringkas lagi balig." Musailamah bertanya, "Surat apakah?" Amr menjawab: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. (Al-'Asr: 1-2) Maka Musailamah berpikir sejenak, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata, "Sesungguhnya telah diturunkan pula kepadaku hal yang semisal dengannya." Amr bertanya, "Apakah itu?" Musailamah berkata, "Hai kelinci, hai kelinci, sesungguhnya kamu hanya terdiri atas dua telinga dan dada, sedangkan selain itu pendek dan kurus." Kemudian Musailamah bertanya, "Bagaimanakah menurut pendapatmu, hai Amr." Amr menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya kamu mengetahui bahwa diriku mengetahui kamu berdusta."

Rabu, 25 Mei 2022

Al-Baqarah, ayat 21-22

Al-Baqarah, ayat 21-22
{ูŠَุง ุฃَูŠُّู‡َุง ุงู„ู†َّุงุณُ ุงุนْุจُุฏُูˆุง ุฑَุจَّูƒُู…ُ ุงู„َّุฐِูŠ ุฎَู„َู‚َูƒُู…ْ ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِูƒُู…ْ ู„َุนَู„َّูƒُู…ْ ุชَุชَّู‚ُูˆู†َ (21) ุงู„َّุฐِูŠ ุฌَุนَู„َ ู„َูƒُู…ُ ุงู„ุฃุฑْุถَ ูِุฑَุงุดًุง ูˆَุงู„ุณَّู…َุงุกَ ุจِู†َุงุกً ูˆَุฃَู†ุฒู„َ ู…ِู†َ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ู…َุงุกً ูَุฃَุฎْุฑَุฌَ ุจِู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ุซَّู…َุฑَุงุชِ ุฑِุฒْู‚ًุง ู„َูƒُู…ْ ูَู„ุง ุชَุฌْุนَู„ُูˆุง ู„ِู„َّู‡ِ ุฃَู†ْุฏَุงุฏًุง ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ุชَุนْู„َู…ُูˆู†َ (22) }

Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui.


Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan tentang sifat uluhiyyah-Nya Yang Maha Esa, bahwa Dialah yang memberi nikmat kepada hamba-hamba-Nya dengan menciptakan mereka dari tiada ke alam wujud, lalu melimpahkan kepada mereka segala macam nikmat lahir dan batin. Allah menjadikan bagi mereka bumi sebagai hamparan buat tempat mereka tinggal, diperkokoh kestabilannya dengan gunung-gunung yang tinggi lagi besar; dan Dia menjadikan langit sebagai atap, sebagaimana disebutkan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

{ูˆَุฌَุนَู„ْู†َุง ุงู„ุณَّู…َุงุกَ ุณَู‚ْูًุง ู…َุญْูُูˆุธًุง ูˆَู‡ُู…ْ ุนَู†ْ ุขูŠَุงุชِู‡َุง ู…ُุนْุฑِุถُูˆู†َ}

Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedangkan mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. (Al-Anbiya: 32)

Allah menurunkan air hujan dari langit bagi mereka. Yang dimaksud dengan lafaz as-sama dalam ayat ini ialah awan yang datang pada waktunya di saat mereka memerlukannya. Melalui hujan, Allah menumbuhkan buat mereka berbagai macam tumbuhan yang menghasilkan banyak jenis buah, sebagaimana yang telah disaksikan. Hal tersebut sebagai rezeki buat mereka, juga buat ternak mereka, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ayat lainnya. Di antara ayat-ayat tersebut yang paling dekat pengertiannya dengan maksud ini ialah firman-Nya:

{ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„َّุฐِูŠ ุฌَุนَู„َ ู„َูƒُู…ُ ุงู„ุฃุฑْุถَ ู‚َุฑَุงุฑًุงรฏ¿½ ูˆَุงู„ุณَّู…َุงุกَ ุจِู†َุงุกً ูˆَุตَูˆَّุฑَูƒُู…ْ ูَุฃَุญْุณَู†َ ุตُูˆَุฑَูƒُู…ْ ูˆَุฑَุฒَู‚َูƒُู…ْ ู…ِู†َ ุงู„ุทَّูŠِّุจَุงุชِ ุฐَู„ِูƒُู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุฑَุจُّูƒُู…ْ ูَุชَุจَุงุฑَูƒَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุฑَุจُّ ุงู„ْุนَุงู„َู…ِูŠู†َ}

Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kalian, lalu membaguskan rupa kalian serta memberi kalian rezeki dengan sebagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhan kalian, Maha-agung Allah, Tuhan semesta alam. (Al-Muรฏ¿½min: 64)

Kesimpulan makna yang dikandung ayat ini ialah bahwa Allah adalah Yang Menciptakan, Yang memberi rezeki, Yang memiliki rumah ini serta para penghuninya, dan Yang memberi mereka rezeki. Karena itu, Dia sematalah Yang harus disembah dan tidak boleh mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya, sebagaimana yang dinyatakan di dalam ayat lain:

{ูَู„ุง ุชَุฌْุนَู„ُูˆุง ู„ِู„َّู‡ِ ุฃَู†ْุฏَุงุฏًุง ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ุชَุนْู„َู…ُูˆู†َ}

Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui. (Al-Baqarah: 22)

Di dalam hadis Sahihain disebutkan dari Ibnu Mas'ud yang menceritakan:

ู‚ُู„ْุชُ: ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ، ุฃَูŠُّ ุงู„ุฐَّู†ْุจِ ุฃَุนْุธَู…ُ؟ ู‚َุงู„َ: "ุฃَู†ْ ุชَุฌْุนَู„َ ู„ِู„َّู‡ِ ู†ِุฏًّุง، ูˆู‡ูˆ ุฎู„ู‚ูƒ" ุงู„ุญุฏูŠุซ

Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar di sisi Allah? Beliau menjawab, "Bila kamu mengadakan sekutu bagi Allah, padahal Dialah Yang menciptakanmu,'" hingga akhir hadis.

Demikian pula yang disebutkan di dalam hadis Mu'az yang menyebutkan.

"ุฃَุชَุฏْุฑِูŠ ู…َุง ุญَู‚ُّ ุงู„ู„َّู‡ِ ุนَู„َู‰ ุนِุจَุงุฏِู‡ِ؟ ุฃَู†ْ ูŠَุนْุจُุฏُูˆู‡ُ ู„َุง ูŠُุดْุฑِูƒُูˆุง ุจِู‡ِ ุดَูŠْุฆًุง" ุงู„ْุญَุฏِูŠุซَ

Tahukah kamu apa hak Allah yang dibebankan pada hamba-hamba-Nya?" lalu disebutkan, "Hendaklah mereka menyembah-Nya dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun," hingga akhir hadis.

Di dalam hadis lain disebutkan seperti berikut:

"ู„َุง ูŠَู‚ُูˆู„َู†َّ ุฃَุญَุฏُูƒُู…ْ: ู…َุง ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَุดَุงุกَ ูُู„َุงู†ٌ، ูˆَู„َูƒِู†ْ ู„ِูŠَู‚ُู„ْรฏ¿½ ู…َุง ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ، ุซُู…َّ ุดَุงุกَ ูُู„َุงู†ٌ"

Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian mengatakan, "Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah, dan yang dikehendaki oleh si Fulan," tetapi hendaklah ia mengatakan, "Ini yang dikehendaki oleh Allah" kemudian, "Ini yang dikehendaki oleh si Fulan.

ู‚َุงู„َ ุญَู…َّุงุฏُ ุจْู†ُ ุณَู„َู…َุฉَ: ุญَุฏَّุซَู†َุง ุนَุจْุฏُ ุงู„ْู…َู„ِูƒِ ุจْู†ُ ุนُู…َูŠْุฑٍ، ุนَู†ْ ุฑِุจْุนูŠِّ ุจْู†ِ ุญِุฑَุงุด، ุนَู†ِ ุงู„ุทُّูَูŠْู„ِ ุจْู†ِ ุณَุฎْุจَุฑَุฉ، ุฃَุฎِูŠ ุนَุงุฆِุดَุฉَ ุฃُู…ِّ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ู„ِุฃُู…ِّู‡َุง، ู‚َุงู„َ: ุฑَุฃَูŠْุชُ ูِูŠู…َุง ูŠَุฑَู‰ ุงู„ู†َّุงุฆِู…ُ، ูƒَุฃَู†ِّูŠ ุฃَุชَูŠْุชُ ุนَู„َู‰ ู†َูَุฑٍ ู…ِู†َ ุงู„ْูŠَู‡ُูˆุฏِ، ูَู‚ُู„ْุชُ: ู…َู†ْ ุฃَู†ْุชُู…ْ؟ ูَู‚َุงู„ُูˆุง: ู†َุญْู†ُ ุงู„ْูŠَู‡ُูˆุฏُ، ู‚ُู„ْุชُ: ุฅِู†َّูƒُู…ْ ู„َุฃَู†ْุชُู…ُ ุงู„ْู‚َูˆْู…ُ ู„َูˆْู„َุง ุฃَู†َّูƒُู…ْ ุชَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ: ุนُุฒَูŠุฑ ุงุจْู†ُ ุงู„ู„َّู‡ِ. ู‚َุงู„ُูˆุง: ูˆَุฅِู†َّูƒُู…ْ ู„َุฃَู†ْุชُู…ُ ุงู„ْู‚َูˆْู…ُ ู„َูˆْู„َุง ุฃَู†َّูƒُู…ْ ุชَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ: ู…َุง ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَุดَุงุกَ ู…ُุญَู…َّุฏٌ. ู‚َุงู„َ: ุซُู…َّ ู…َุฑَุฑْุชُ ุจِู†َูَุฑٍ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุตَุงุฑَู‰، ูَู‚ُู„ْุชُ: ู…َู†ْ ุฃَู†ْุชُู…ْ؟ ู‚َุงู„ُูˆุง: ู†َุญْู†ُ ุงู„ู†َّุตَุงุฑَู‰. ู‚ُู„ْุชُ: ุฅِู†َّูƒُู…ْ ู„َุฃَู†ْุชُู…ُ ุงู„ْู‚َูˆْู…ُ ู„َูˆْู„َุง ุฃَู†َّูƒُู…ْ ุชَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ: ุงู„ْู…َุณِูŠุญُ ุงุจْู†ُ ุงู„ู„َّู‡ِ. ู‚َุงู„ُูˆุง: ูˆَุฅِู†َّูƒُู…ْ ู„َุฃَู†ْุชُู…ُ ุงู„ْู‚َูˆْู…ُ ู„َูˆْู„َุง ุฃَู†َّูƒُู…ْ ุชَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ: ู…َุง ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَุดَุงุกَ ู…ُุญَู…َّุฏٌ. ูَู„َู…َّุง ุฃَุตْุจَุญْุชُ ุฃَุฎْุจَุฑْุชُ ุจِู‡َุง ู…َู†ْ ุฃَุฎْุจَุฑْุชُ، ุซُู…َّ ุฃَุชَูŠْุชُ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَุฃَุฎْุจَุฑْุชُู‡ُ، ูَู‚َุงู„َ: "ู‡َู„ْ ุฃَุฎْุจَุฑْุชَ ุจِู‡َุง ุฃَุญَุฏًุง؟ " ูَู‚ُู„ْุชُ: ู†َุนَู…ْ. ูَู‚َุงู…َ، ูَุญَู…ِุฏَ ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَุฃَุซْู†َู‰ ุนَู„َูŠْู‡ِ ุซُู…َّ ู‚َุงู„َ: "ุฃَู…َّุง ุจَุนْุฏُ، ูَุฅِู†َّ ุทُููŠู„ุง ุฑَุฃَู‰ ุฑُุคْูŠَุง ุฃَุฎْุจَุฑَ ุจِู‡َุง ู…َู†ْ ุฃَุฎْุจَุฑَ ู…ِู†ْูƒُู…ْ، ูˆَุฅِู†َّูƒُู…ْ ู‚ُู„ْุชُู…ْ ูƒَู„ِู…َุฉً ูƒَุงู†َ ูŠَู…ْู†َุนُู†ِูŠ ูƒَุฐَุง ูˆَูƒَุฐَุง ุฃَู†ْ ุฃَู†ْู‡َุงูƒُู…ْ ุนَู†ْู‡َุง، ูَู„َุง ุชَู‚ُูˆู„ُูˆุง: ู…َุง ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَุดَุงุกَ ู…ُุญَู…َّุฏٌ، ูˆَู„َูƒِู†ْ ู‚ُูˆู„ُูˆุง: ู…َุง ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ".

Hammad ibnu Salimah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu Umair, dari Rab'i ibnu Hirasy, dari Tufail ibnu Sakhbirah (saudara lelaki ibu Siti Aisyah Radhiyallahu Anhu) yang menceritakan bahwa ia melihat dalam mimpinya seakan-akan berada di tengah-tengah orang-orang Yahudi, lalu ia bertanya (kepada mereka), "Siapakah kalian?" Mereka menjawab, "Kami adalah orang-orang Yahudi." Ia berkata, "Sesungguhnya kalian benar-benar merupakan suatu kaum jikalau kalian tidak mengatakan bahwa Uzair anak laki-laki Allah." Mereka mengatakan, "Sesungguhnya kalian pun merupakan suatu kaum jikalau kalian tidak mengatakan bahwa ini apa yang dikehendaki oleh Allah dan yang dikehendaki oleh Muhammad." Kemudian Tufail bersua dengan segolongan orang-orang Nasrani, lalu ia bertanya, "Siapakah kalian?" Mereka menjawab, "Kami orang-orang Nasrani." Ia berkata, "Sesungguhnya kalian benar-benar merupakan suatu kaum jikalau kalian tidak mengatakan bahwa Al-Masih anak laki-laki Allah." Mereka berkata, "Dan sesungguhnya kamu pun benar-benar merupakan suatu kaum jikalau kamu tidak mengatakan bahwa ini adalah apa yang dikehendaki oleh Allah dan yang dikehendaki oleh Muhammad." Pada pagi harinya Tufail menceritakan mimpi itu kepada sebagian orang yang biasa mengobrol dengannya, kemudian ia datang kepada Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bertanya, "Apakah engkau telah menceritakannya kepada seseorang?" Ia menjawab, "Ya." Maka Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam berdiri, lalu memuji kepada Allah dan menyanjung-Nya. Setelah itu beliau Shalallahu'alaihi Wasallam bersabda: Amma ba'du, sesungguhnya Tufail telah melihat sesuatu dalam mimpinya yang telah ia ceritakan kepada sebagian orang di antara kalian yang menerima berita darinya. Sesungguhnya kalian telah mengatakan suatu kalimat yang pada mulanya aku terhalang oleh anu dan anu untuk melarang kalian mengatakannya. Maka sekarang janganlah kalian mengatakan, "Ini adalah apa yang dikehendaki oleh Allah dan yang dikehendaki oleh Muhammad" melainkan katakanlah, "Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah semata."

Demikian riwayat Ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsirnya mengenai ayat ini melalui hadis Hammad ibnu Salimah dengan lafaz yang sama. Hadis ini diketengahkan pula oleh Ibnu Majah dari jalur lain melalui Abdul Malik ibnu Umair dengan lafaz yang sama atau semisal.

ู‚َุงู„َ ุณُูْูŠَุงู†ُ ุจْู†ُ ุณَุนِูŠุฏٍ ุงู„ุซَّูˆْุฑِูŠُّ، ุนَู†ِ ุงู„ْุฃَุฌْู„َุญِ ุจْู†ِ ุนَุจْุฏِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู„ْูƒِู†ْุฏِูŠِّ، ุนَู†ْ ูŠَุฒِูŠุฏَ ุจْู†ِ ุงู„ْุฃَุตَู…ِّ، ุนَู†ِ ุงุจْู†ِ ุนَุจَّุงุณٍ، ู‚َุงู„َ: ู‚َุงู„َ ุฑَุฌُู„ٌ ู„ِู„ู†َّุจِูŠِّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ: ู…َุง ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَุดِุฆْุชَ. ูَู‚َุงู„َ: "ุฃَุฌَุนَู„ْุชَู†ِูŠ ู„ِู„َّู‡ِ ู†ِุฏًّุง؟ ู‚ُู„ْ: ู…َุง ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ูˆَุญْุฏَู‡ُ".

Sufyan ibnu Sa'id As-Sauri mengatakan dari Al-Ajlah ibnu Abdullah Al-Kindi, dari Yazid ibnul Asam, dari Ibnu Abbas yang menceritakan: Seorang lelaki berkata kepada Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, "Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah dan olehmu." Maka Nabi Shalallahu'alaihi Wasallam bersabda, "Apakah engkau menjadikan diriku sebagai tandingan Allah! Katakanlah, 'Inilah yang dikehendaki oleh Allah semata'"

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Murdawaih. Imam Nasai serta Imam Ibnu Majah telah mengetengahkannya dari hadis Isa ibnu Yunus. dari Al-Ajlah dengan lafaz yang sama.

Semua itu ditandaskan demi memelihara dan melindungi ketauhidan.

Muhammad ibnu Ishak mengatakan, telah menceritakan kepada-nya Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Hai manusia, sembahlah Tuhan kalian. (Al-Baqarah: 21) Ayat ini ditujukan kepada kedua golongan secara keseluruhan, yaitu orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Dengan kata lain, esakanlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian.

Hal yang sama dikatakan pula dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Karena itu, janganlah kalian mengadakan sekulu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui. (Al-Baqarah: 22) Maksudnya, janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan selain-Nya, yaitu dengan tandingan-tandingan yang tidak dapat menimpakan mudarat dan tidak dapat memberi manfaat, padahal kalian mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang memberi rezeki kepada kalian selain Allah. Kalian telah mengetahui apa yang diserukan oleh Muhammad kepada kalian รฏ¿½yaitu ajaran tauhidรฏ¿½ adalah perkara yang hak yang tiada keraguan di dalamnya. Demikian pula menurut Qatadah.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Amr ibnu Abu Asim, telah menceritakan kepada kami Amr, telah menceritakan kepada kami Abu Dahhak ibnu Mukhallad alias Abu Asim, telah menceritakan kepada kami Syabib ibnu Bisyr, telah menceritakan kepada kami Ikrimah, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan firman-Nya, "Fala taj'alu lillahi andadan." Istilah andad yaitu sama dengan mempersekutukan Allah, syirik itu lebih samar daripada rangkakan semut di atas batu hitam yang licin di dalam kegelapan malam.

Contoh perbuatan syirik (atau mempersekutukan Allah) ialah ucapan seseorang, "Demi Allah dan demi hidupmu, hai Fulan, dan demi hidupku." Juga ucapan, "Seandainya tidak ada anjing, niscaya maling akan datang ke rumah kami tadi malam," atau "Seandainya tidak ada angsa, niscaya maling memasuki rumah kami." Demikian pula ucapan seseorang kepada temannya, "Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah dan yang dikehendaki olehmu." Juga ucapan, "Seandainya tidak ada Allah dan si Fulan," semuanya itu merupakan perkataan yang menyebabkan kemusyrikan.

Di dalam hadis disebutkan bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam, "Ini adalah yang dikehendaki Allah dan yang dikehendaki olehmu." Maka beliau Shalallahu'alaihi Wasallam bersabda:

"ุฃَุฌَุนَู„ْุชَู†ِูŠ ู„ِู„َّู‡ِ ู†ِุฏًّุง"

Apakah kamu menjadikan diriku sebagai tandingan Allah?

Di dalam hadis lain disebutkan:

"ู†ِุนْู…َ ุงู„ْู‚َูˆْู…ُ ุฃَู†ْุชُู…ْ، ู„َูˆْู„َุง ุฃَู†َّูƒُู…ْ ุชُู†َุฏِّุฏُูˆู†َ، ุชَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ: ู…َุง ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ، ูˆَุดَุงุกَ ูُู„َุงู†ٌ".

Sebaik-baik kaum adalah kalian jikalau kalian tidak melakukan tandingan (terhadap Allah), (karena) kalian mengatakan, "Ini adalah yang dikehendaki oleh Allah dan yang dikehendaki oleh si Fulan."

Abul Aliyah mengatakan, makna andadan dalam firman-Nya, "Fala taj'alu lillahi andadan," ialah tandingan dan sekutu. Demikian dikatakan oleh Ar-Rabi' ibnu Anas, Qatadah, As-Saddi, Abu Malik, dan Ismail ibnu Abu Khalid.

Mujahid mengatakan bahwa makna firman-Nya, "Wa-antum ta'-lamuna," ialah sedangkan kalian mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa di dalam kitab Taurat dan kitab Injil.

ู‚َุงู„َ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ُ ุฃَุญْู…َุฏُ: ุญَุฏَّุซَู†َุง ุนَูَّุงู†ُ، ุญَุฏَّุซَู†َุง ุฃَุจُูˆ ุฎَู„َูٍ ู…ُูˆุณَู‰ ุจْู†ُ ุฎَู„َูٍ، ูˆَูƒَุงู†َ ูŠُุนَุฏ ู…ِู†َ ุงู„ุจُุฏَู„ุงุก، ุญَุฏَّุซَู†َุง ูŠَุญْูŠَู‰ ุจْู†ُ ุฃَุจِูŠ ูƒَุซِูŠุฑٍ، ุนَู†ْ ุฒَูŠْุฏِ ุจْู†ِ ุณَู„َّุงู…ٍ، ุนَู†ْ ุฌَุฏِّู‡ِ ู…َู…ْุทُูˆุฑٍ، ุนَู†ِ ุงู„ْุญَุงุฑِุซِ ุงู„ْุฃَุดْุนَุฑِูŠِّ، ุฃَู†َّ ู†َุจِูŠَّ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู‚َุงู„َ: "ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ، ุฃَู…َุฑَ ูŠَุญْูŠَู‰ ุจْู†َ ุฒَูƒَุฑِูŠَّุง، ุนَู„َูŠْู‡ِ ุงู„ุณَّู„َุงู…ُ، ุจِุฎَู…ْุณِ ูƒَู„ِู…َุงุชٍ ุฃَู†ْ ูŠَุนْู…َู„َ ุจِู‡ِู†َّ، ูˆَุฃَู†ْ ูŠَุฃْู…ُุฑَ ุจَู†ِูŠ ุฅِุณْุฑَุงุฆِูŠู„َ ุฃَู†ْ ูŠَุนْู…َู„ُูˆุง ุจِู‡ِู†َّ، ูˆَูƒَุงู†َ ูŠُุจْุทِุฆُ ุจِู‡َุง، ูَู‚َุงู„َ ู„َู‡ُ ุนِูŠุณَู‰، ุนَู„َูŠْู‡ِ ุงู„ุณَّู„َุงู…ُ: ุฅِู†َّูƒَ ู‚َุฏْ ุฃُู…ِุฑْุชَ ุจِุฎَู…ْุณِ ูƒَู„ِู…َุงุชٍ ุฃَู†ْ ุชَุนْู…َู„َ ุจِู‡ِู†َّ ูˆَุชَุฃْู…ُุฑَ ุจَู†ِูŠ ุฅِุณْุฑَุงุฆِูŠู„َ ุฃَู†ْ ูŠَุนْู…َู„ُูˆุง ุจِู‡ِู†َّ، ูَุฅِู…َّุง ุฃَู†ْ ุชُุจْู„ِุบَู‡ُู†َّ، ูˆَุฅِู…َّุง ุฃَู†ْ ุฃُุจْู„ِุบَู‡ُู†َّ. ูَู‚َุงู„َ: ูŠَุง ุฃَุฎِูŠ، ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุฎْุดَู‰ ุฅِู†ْ ุณَุจَู‚ْุชَู†ِูŠ ุฃَู†ْ ุฃُุนَุฐَّุจَ ุฃَูˆْ ูŠُุฎْุณَูَ ุจِูŠ". ู‚َุงู„َ: "ูَุฌَู…َุนَ ูŠَุญْูŠَู‰ ุจْู†ُ ุฒَูƒَุฑِูŠَّุง ุจَู†ِูŠ ุฅِุณْุฑَุงุฆِูŠู„َ ูِูŠ ุจَูŠْุชِ ุงู„ْู…َู‚ْุฏِุณِ، ุญَุชَّู‰ ุงู…ْุชَู„َุฃَ ุงู„ْู…َุณْุฌِุฏُ، ูَู‚َุนَุฏَ ุนَู„َู‰ ุงู„ุดَّุฑَูِ، ูَุญَู…ِุฏَ ุงู„ู„َّู‡َ ูˆَุฃَุซْู†َู‰ ุนَู„َูŠْู‡ِ، ุซُู…َّ ู‚َุงู„َ: ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุฃَู…َุฑَู†ِูŠ ุจِุฎَู…ْุณِ ูƒَู„ِู…َุงุชٍ ุฃَู†ْ ุฃَุนْู…َู„َ ุจِู‡ِู†َّ، ูˆَุขู…ُุฑَูƒُู…ْ ุฃَู†ْ ุชَุนْู…َู„ُูˆุง ุจِู‡ِู†َّ، ูˆَุฃَูˆَّู„ُู‡ُู†َّ: ุฃَู†ْ ุชَุนْุจُุฏُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ู„َุง ุชُุดْุฑِูƒُูˆุง ุจِู‡ِ ุดَูŠْุฆًุง، ูَุฅِู†َّ ู…َุซَู„َ ุฐَู„ِูƒَ ู…َุซَู„ ุฑَุฌُู„ٍ ุงุดْุชَุฑَู‰ ุนَุจْุฏًุง ู…ِู†ْ ุฎَุงู„ِุตِ ู…َุงู„ِู‡ِ ุจูˆَุฑِู‚ ุฃَูˆْ ุฐَู‡َุจٍ، ูَุฌَุนَู„َ ูŠَุนْู…َู„ُ ูˆَูŠُุคَุฏِّูŠ ุบَู„َّุชَู‡ُ ุฅِู„َู‰ ุบَูŠْุฑِ ุณَูŠِّุฏِู‡ِ ูَุฃَูŠُّูƒُู…ْ ูŠَุณُุฑُّู‡ُ ุฃَู†ْ ูŠَูƒُูˆู†َ ุนَุจْุฏُู‡ُ ูƒَุฐَู„ِูƒَ؟ ูˆَุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุฎَู„َู‚َูƒُู…ْ ูˆَุฑَุฒَู‚َูƒُู…ْ ูَุงุนْุจُุฏُูˆู‡ُ ูˆَู„َุง ุชُุดْุฑِูƒُูˆุง ุจِู‡ِ ุดَูŠْุฆًุง ูˆَุฃَู…َุฑَูƒُู…ْ ุจِุงู„ุตَّู„َุงุฉِ؛ ูَุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ูŠَู†ْุตِุจُ ูˆَุฌْู‡َู‡ُ ู„ِูˆَุฌْู‡ِ ุนَุจْุฏِู‡ِ ู…َุง ู„َู…ْ ูŠَู„ْุชَูِุชْ، ูَุฅِุฐَุง ุตَู„َّูŠْุชُู…ْ ูَู„َุง ุชَู„ْุชَูِุชُูˆุง. ูˆَุฃَู…َุฑَูƒُู…ْ ุจِุงู„ุตِّูŠَุงู…ِ، ูَุฅِู†َّ ู…َุซَู„َ ุฐَู„ِูƒَ ูƒَู…َุซَู„ِ ุฑَุฌُู„ٍ ู…َุนَู‡ُ ุตُุฑَّุฉً ู…ِู†ْ ู…ِุณْูƒٍ ูِูŠ ุนِุตَุงุจَุฉٍ، ูƒُู„ُّู‡ُู…ْ ูŠَุฌِุฏُ ุฑِูŠุญَ ุงู„ْู…ِุณْูƒِ. ูˆَุฅِู†َّ ุฎُู„ُูˆูَ ูَู…ِ ุงู„ุตَّุงุฆِู…ِ ุนِู†ْุฏَ ุงู„ู„َّู‡ِ ุฃَุทْูŠَุจُ ู…ِู†ْ ุฑِูŠุญِ ุงู„ْู…ِุณْูƒِ. ูˆَุฃَู…َุฑَูƒُู…ْ ุจِุงู„ุตَّุฏَู‚َุฉِ؛ ูَุฅِู†َّ ู…َุซَู„َ ุฐَู„ِูƒَ ูƒَู…َุซَู„ِ ุฑَุฌُู„ٍ ุฃَุณَุฑَู‡ُ ุงู„ْุนَุฏُูˆُّ، ูَุดَุฏُّูˆุง ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ุฅِู„َู‰ ุนُู†ُู‚ِู‡ِ، ูˆَู‚َุฏَّู…ُูˆู‡ُ ู„ِูŠَุถْุฑِุจُูˆุง ุนُู†ُู‚َู‡ُ، ูَู‚َุงู„َ ู„ู‡ู…: ู‡ู„ ู„ูƒู… ุฃู† ุฃูุชุฏูŠ

ู†َูْุณِูŠ ؟ ูَุฌَุนَู„َ ูŠَูْุชَุฏِูŠ ู†َูْุณَู‡ُ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ุจِุงู„ْู‚َู„ِูŠู„ِ ูˆَุงู„ْูƒَุซِูŠุฑِ ุญَุชَّู‰ ูَูƒَّ ู†َูْุณَู‡ُ. ูˆَุฃَู…َุฑَูƒُู…ْ ุจِุฐِูƒْุฑِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูƒَุซِูŠุฑًุง؛ ูˆَุฅِู†َّ ู…َุซَู„َ ุฐَู„ِูƒَ ูƒَู…َุซَู„ِ ุฑَุฌُู„ٍ ุทَู„َุจَู‡ُ ุงู„ْุนَุฏُูˆُّ ุณِุฑุงุนุง ูِูŠ ุฃَุซَุฑِู‡ِ، ูَุฃَุชَู‰ ุญِุตْู†ًุง ุญَุตِูŠู†ًุง ูَุชَุญَุตَّู†َ ูِูŠู‡ِ، ูˆَุฅِู†َّ ุงู„ْุนَุจْุฏَ ุฃَุญْุตَู†ُ ู…َุง ูŠَูƒُูˆู†ُ ู…ِู†َ ุงู„ุดَّูŠْุทَุงู†ِ ุฅِุฐَุง ูƒَุงู†َ ูِูŠ ุฐِูƒْุฑِ ุงู„ู„َّู‡ِ".

ู‚َุงู„َ: ูˆَู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ: "ูˆَุฃَู†َุง ุขู…ُุฑُูƒُู…ْ ุจِุฎَู…ْุณٍ ุงู„ู„َّู‡ُ ุฃَู…َุฑَู†ِูŠ ุจِู‡ِู†َّ: ุงู„ْุฌَู…َุงุนَุฉُ، ูˆَุงู„ุณَّู…ْุนُ، ูˆَุงู„ุทَّุงุนَุฉُ، ูˆَุงู„ْู‡ِุฌْุฑَุฉُ، ูˆَุงู„ْุฌِู‡َุงุฏُ ูِูŠ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ؛ ูَุฅِู†َّู‡ُ ู…َู†ْ ุฎَุฑَุฌَ ู…ِู†َ ุงู„ْุฌَู…َุงุนَุฉِ ู‚ูŠุฏَ ุดِุจْุฑ ูَู‚َุฏْ ุฎَู„َุนَ ุฑِุจْู‚ุฉ ุงู„ْุฅِุณْู„َุงู…ِ ู…ِู†ْ ุนُู†ُู‚ِู‡ِ، ุฅِู„َّุง ุฃَู†ْ ูŠُุฑَุงุฌِุนَ ูˆَู…َู†ْ ุฏَุนَุง ุจِุฏَุนْูˆَู‰ ุฌَุงู‡ِู„ِูŠَّุฉٍ ูَู‡ُูˆَ ู…ِู†ْ ุฌِุซِูŠِّ ุฌَู‡َู†َّู…َ". ู‚َุงู„ُูˆุง: ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„َّู‡ِ، ูˆَุฅِู†ْ ุตَุงู…َ ูˆَุตَู„َّู‰ ؟ ูَู‚َุงู„َ: "ูˆَุฅِู†ْ ุตَู„َّู‰ ูˆَุตَุงู…َรฏ¿½ ูˆَุฒَุนَู…َ ุฃَู†َّู‡ُ ู…ُุณْู„ِู…ٌ؛ ูَุงุฏْุนُูˆุง ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠู†َ ุจِุฃَุณْู…َุงุฆِู‡ِู…ْ ุนَู„َู‰ ู…َุง ุณَู…َّุงู‡ُู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ: ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠู†َ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ุนِุจَุงุฏَ ุงู„ู„َّู‡ِ"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abu Khalaf (yaitu Musa ibnu Khalaf, beliau termasuk wali abdal), telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Kasir, dari Zaid ibnu Salam, dari kakeknya (Mamtur), dari Al-Haris Al-Asy'ari, bahwa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda, "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kepada Yahya ibnu Zakaria 'alaihissalam untuk mengamalkan lima kalimat dan memerintahkan kepada Bani Israil untuk mengamalkannya. Akan tetapi, hampir saja Yahya 'alaihissalam terlambat mengamalkannya, lalu Isa 'alaihissalam berkata kepadanya, 'Sesungguhnya kamu telah diperintahkan untuk mengamalkan lima kalimat. Kamu pun memerintahkan kepada Bani Israil agar mereka mengamalkannya. Apakah kamu yang menyampaikan, atau diriku yang menyampaikannya?' Yahya menjawab, 'Hai Saudaraku, sesungguhnya aku merasa takut jika kamu yang menyampaikannya, nanti aku akan diazab atau dikutuk.' Kemudian Yahya ibnu Zakaria mengumpulkan kaum Bani Israil di Baitul Muqaddas hingga masjid menjadi penuh oleh mereka. Yahya duduk di atas tempat yang tinggi, lalu memuji dan menyanjung Allah Subhanahu wa Ta'ala Kemudian ia mengatakan, 'Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku untuk mengamalkan lima kalimat. Dia memerintahkan pula kepada kalian agar mengamalkannya. Pertama, hendaklah kalian menyembah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Karena sesungguhnya perumpamaan orang yang mempersekutukan Allah itu seperti keadaan seorang lelaki yang membeli seorang budak dengan uangnya sendiri secara murni, baik uang perak ataupun uang emas. Lalu si budak bekerja dan memberikan hasil penjualan jasanya itu kepada selain tuannya. Maka siapakah di antara kalian yang suka diperlakukan seperti demikian? Sesungguhnya Allah-lah yang menciptakan kalian dan yang memberi rezeki kalian. Maka sembahlah Dia oleh kalian dan jangan kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Allah memerintahkan kalian untuk mengerjakan salat, karena sesungguhnya Zat Allah berada di hadapan hamba-Nya selagi si hamba (yang sedang salat itu) tidak menoleh. Karena itu, apabila kalian sedang salat, janganlah kalian menoleh. Allah telah memerintahkan kalian puasa, karena sesungguhnya perumpamaan puasa itu seperti keadaan seorang lelaki yang membawa sebotol minyak kesturi berada di tengah-tengah segolongan kaum, lalu mereka dapat mencium bau wangi minyak kesturinya. Sesungguhnya bau mulut orang yang sedang puasa lebih wangi di sisi Allah daripada minyak kesturi. Allah memerintahkan kalian untuk bersedekah, karena sesungguhnya perurnpamaan sedekah itu seperti seorang laki-laki yang ditawan musuh, dan mengikat kedua tangannya ke lehernya, lalu mengajukannya untuk menjalani hukuman pancung. Kemudian lelaki itu berkata, 'Bolehkah aku menebus diriku dari kalian?' Lalu lelaki itu menebus dirinya dengan semua miliknya, baik yang bernilai murah maupun yang bernilai mahal, hingga dirinya terbebas. Allah memerintahkan kalian untuk berzikir dengan banyak mengingat Allah, karena sesungguhnya perurnpamaan hal ini seperti keadaan seorang lelaki yang dikejar-kejar musuh yang memburunya dengan cepat dari belakang. Kemudian lelaki itu sampai ke suatu benteng, lalu ia berlindung di dalam benteng itu (dari kejaran musuhnya). Sesungguhnya tempat yang paling kuat bagi seorang hamba untuk melindungi dirinya dari setan ialah bila ia selalu dalam keadaan berzikir mengingat Allah'."

Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: Dan aku perintahkan kalian untuk mengerjakan lima perkara yang telah diperintahkan oleh Allah kepadaku, yaitu (menetapi) jamaah (persatuan), tunduk dan taat (kepada ulil amri), dan hijrah serta jihad di jalan Allah. Karena sesungguhnya barang siapa yang keluar dari jamaah dalam jarak satu jengkal, berarti dia telah rnenanggalkan ikalan Islam dari lehernya, kecuali jika ia bertobat. Barang siapa yang memanggil dengan memakai seruan Jahiliyah. maka ia dimasukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan berlutut. Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, sekalipun dia puasa dan salat?" Beliau Shalallahu'alaihi Wasallam menjawab, "Sekalipun dia salat dan puasa, serta mengaku dirinya muslim. Maka panggillah orang-orang muslim dengan nama-namanya sesuai dengan nama yang telah diberikan oleh Allah buat mereka; orang-orang muslim dan orang-orang mukmin adalah hamba-hamba Allah.

Hadis ini berpredikat hasan, sedangkan syahid (bukti) dari hadis ini yang berkaitan dengan makna ayat yang sedang kita bahas ini ialah kalimat yang mengatakan, "Dan sesungguhnya Allah telah menciptakan kalian dan memberi kalian rezeki. Maka sembahlah Dia oleh kalian, dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun."

Ayat yang sedang kita bahas menunjukkan bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah, tiada sekutu bagi-Nya. Kebanyakan ulama tafsir รฏ¿½seperti Ar-Razi dan lain-lainnyaรฏ¿½ menyimpulkan dalil dari hadis ini adanya Tuhan Yang Maha Pencipta, sama halnya dengan ayat yang sedang kita bahas secara lebih prioritas. Karena sesungguhnya orang yang merenungkan semua keberadaan alam bagian bawah dan bagian atas berikut berbagai ragam bentuk, warna, watak, manfaat (kegunaan), dan peletakannya dalam posisi yang tepat, semua itu menunjukkan kekuasaan Penciptanya, kebijaksanaan-Nya, pengetahuan-Nya serta keahlian-Nya, dan kebesaran kekuasaan-Nya. Perihalnya sama dengan apa yang dikatakan oleh sebagian orang Arab ketika ditanya, "Manakah bukti yang menunjukkan adanya Tuhan Yang Maha Tinggi?" Maka dia menjawab, "Subhanallah (Mahasuci Allah), sesungguhnya kotoran unta menunjukkan adanya unta, jejak kaki menunjukkan adanya orang yang lewat. Langit yang memiliki bintang-bintang, bumi yang memiliki gunung-gunung serta lautan yang memiliki ombak-ombak, bukankah semua itu menunjukkan adanya Tuhan Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui?"

Ar-Razi meriwayatkan dari Imam Malik, bahwa Ar-Rasyid pernah bertanya kepadanya mengenai masalah ini, lalu Imam Malik membuktikan dengan adanya berbagai macam bahasa, suara, dan irama.

Disebutkan oleh Abu Hanifah bahwa ada sebagian orang Zindiq bertanya kepadanya mengenai keberadaan Tuhan Yang Maha Pencipta. Maka Abu Hanifah berkata kepada mereka, "Biarkanlah aku berpikir sejenak untuk mengingat suatu hal yang pernah diceritakan kepadaku. Mereka menceritakan kepadaku bahwa ada sebuah perahu di tengah laut yang berombak besar, di dalamnya terdapat berbagai macam barang dagangan, sedangkan di dalam perahu itu tidak terdapat seorang pun yang menjaganya dan tiada seorang pun yang mengendalikannya. Tetapi sekalipun demikian perahu tersebut berangkat dan tiba berlayar dengan sendirinya, dapat membelah ombak yang besar hingga selamat dari bahaya. Perahu itu dapat berlayar dengan sendirinya tanpa ada seorang pun yang mengendalikannya." Mereka berkata, "Ini adalah suatu hal yang tidak akan dikatakan oleh orang yang berakal." Maka Abu Hanifah berkata, "Celakalah kamu, semua alam wujud berikut apa yang ada padanya mulai dari alam bagian bawah dan bagian atas, semua yang terkandung di dalamnya berupa berbagai macam benda yang teratur ini, apakah tidak ada penciptanya?" Akhirnya kaum Zindiq itu terdiam dan mereka sadar, lalu kembali kepada perkara yang hak dan semuanya masuk Islam di tengah Abu Hanifah.

Diriwayatkan dari Imam Syafii bahwa ia pernah ditanya mengenai keberadaan Tuhan Yang Maha Pencipta, maka ia menjawab bahwa ini adalah daun at-tut yang rasanya sama. Daun ini bila dimakan ulat sutera dapat menghasilkan benang sutera; bila dimakan lebah, keluar darinya madu; bila dimakan kambing dan sapi atau unta, menjadi kotoran yang tercampakkan (menjadi pupuk); dan bila dimakan oleh kijang, maka keluar dari tubuh kijang itu bibit minyak kesturi, padahal daunnya berasal dari satu jenis.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwa ia pernah ditanya mengenai masalah ini, ia menjawab bahwa ada sebuah benteng yang kuat lagi licin, tidak mempunyai pintu dan tidak mempunyai lubang. Bagian luarnya putih seperti perak, sedangkan bagian dalamnya kuning mirip emas. Ketika benteng tersebut dalam keadaan demikian, tiba-tiba temboknya terbelah dan keluarlah darinya seekor hewan yang dapat mendengar dan melihat, bentuk dan suaranya lucu. Dia bermaksud menggambarkan telur bila menetas.

Abu Nuwas pernah ditanya mengenai masalah ini. Ia berkata melalui syair-syairnya, yaitu:

ุชَุฃَู…َّู„ْ ูِูŠ ู†َุจَุงุชِ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูˆَุงู†ْุธُุฑْ ... ุฅِู„َู‰ ุขุซَุงุฑِ ู…َุง ุตَู†َุนَ ุงู„ْู…َู„ِูŠูƒُ ...

ุนُูŠُูˆู†ٌ ู…ِู†ْ ู„ُุฌَูŠْู†ٍ ุดَุงุฎِุตَุงุชٌ ... ุจِุฃَุญْุฏَุงู‚ٍ ู‡ِูŠَ ุงู„ุฐَّู‡َุจُ ุงู„ุณَّุจِูŠูƒُ ...

ุนَู„َู‰ ู‚ُุถُุจِ ุงู„ุฒَّุจَุฑْุฌَุฏِ ุดَุงู‡ِุฏَุงุชٌ ... ุจِุฃَู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู„َูŠْุณَ ู„َู‡ُ ุดَุฑِูŠูƒُ ...

Renungkanlah kejadian tumbuh-tumbuhan di bumi ini dan perhatikanlah hasil-hasil dari apa yang telah dibuat oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Air yang jernih bak perak memenuhi parit-parit yang bagaikan emas cetakan mengairi lahan-lahan yang indah bagaikan batu permata zabarjad, semuanya itu merupakan saksi yang membuktikan bahwa Allah tiada sekutu bagi-Nya.

Ibnul Mu'taz mengatakan:

ูَูŠَุง ุนَุฌَุจًุง ูƒَูŠْูَ ูŠُุนْุตَู‰ ุงู„ْุฅِู„َู‡ُ ... ุฃَู…ْ ูƒَูŠْูَ ูŠَุฌْุญَุฏُู‡ُ ุงู„ْุฌَุงุญِุฏُ ...

ูˆَูِูŠ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู„َู‡ُ ุขูŠَุฉً ... ุชَุฏُู„ُّ ุนَู„َู‰ ุฃَู†َّู‡ُ ูˆَุงุญِุฏُ ...

Alangkah anehnya, bagaimanakah seseorang berbuat durhaka kepada Tuhan, dan bagaimanakah seseorang mengingkari-Nya, padahal segala sesuatu merupakan pertanda baginya yang menunjukkan bahwa Tuhan adalah Esa.

Ulama lainnya mengatakan, "Barang siapa yang merenungkan ketinggian langit ini, keluasannya, dan semua yang ada padanya berupa bintang yang bercahaya รฏ¿½baik yang kecil maupun yang besarรฏ¿½ dan bintang-bintang yang beredar pada garis edarnya serta yang tetap, niscaya semua itu memberikan kesimpulan kepadanya akan adanya Tuhan Yang Maha Pencipta. Barang siapa yang menyaksikan bagaimana bintang-bintang tersebut berputar pada dirinya sendiri setiap sehari semalam sekali putaran dalam tata surya yang maha luas itu, sedangkan masing-masing mempunyai garis edarnya sendiri; dan barang siapa yang memperhatikan lautan yang meliputi daratan dari berbagai arah, gunung-gunung yang dipancangkan di bumi agar stabil dan para penghuninya yang terdiri atas berbagai macam jenis dan bentuk serta warnanya, niscaya menyimpulkan adanya Tuhan Yang Maha Pencipta, sebagaimana yang dijelaskan di dalam firman-Nya:

{ูˆَู…ِู†َ ุงู„ْุฌِุจَุงู„ِ ุฌُุฏَุฏٌ ุจِูŠุถٌ ูˆَุญُู…ْุฑٌ ู…ُุฎْุชَู„ِูٌ ุฃَู„ْูˆَุงู†ُู‡َุง ูˆَุบَุฑَุงุจِูŠุจُ ุณُูˆุฏٌ * ูˆَู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ูˆَุงู„ุฏَّูˆَุงุจِّ ูˆَุงู„ุฃู†ْุนَุงู…ِ ู…ُุฎْุชَู„ِูٌ ุฃَู„ْูˆَุงู†ُู‡ُ ูƒَุฐَู„ِูƒَ ุฅِู†َّู…َุง ูŠَุฎْุดَู‰ ุงู„ู„َّู‡َ ู…ِู†ْ ุนِุจَุงุฏِู‡ِ ุงู„ْุนُู„َู…َุงุกُ}

Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka ragam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-bina-tang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. (Fathir. 27-28)

Demikian pula sungai-sungai yang membelah dari suatu negeri ke negeri yang lain, membawa banyak manfaat. Semua yang diciptakan di muka bumi berupa bermacam-macam makhluk hidup, tumbuh-tumbuhan yang berbeda-beda rasanya, dan berbagai macam bunga yang beraneka ragam warnanya, padahal tanah dan airnya sama; semua itu menunjukkan adanya Tuhan Yang Maha Pencipta dan kekuasaan serta kebijaksanaan-Nya Yang Mahabesar. Juga menunjukkan rahmat-Nya kepada semua makhluk-Nya, lemah lembut, kebajikan dan kebaikan-Nya kepada mereka; tiada Tuhan selain Allah dan Tiada Rabb selain Dia, hanya kepada-Nyalah aku bertawakal dan kembali. Ayat-ayat Al-Qur'an yang menunjukkan pengertian ini sangat banyak.

Al-Baqarah, ayat 19-20

Al-Baqarah, ayat 19-20
{ุฃَูˆْ ูƒَุตَูŠِّุจٍ ู…ِู†َ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ูِูŠู‡ِ ุธُู„ُู…َุงุชٌ ูˆَุฑَุนْุฏٌ ูˆَุจَุฑْู‚ٌ ูŠَุฌْุนَู„ُูˆู†َ ุฃَุตَุงุจِุนَู‡ُู…ْ ูِูŠ ุขุฐَุงู†ِู‡ِู…ْ ู…ِู†َ ุงู„ุตَّูˆَุงุนِู‚ِ ุญَุฐَุฑَ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ู…ُุญِูŠุทٌ ุจِุงู„ْูƒَุงูِุฑِูŠู†َ (19) ูŠَูƒَุงุฏُ ุงู„ْุจَุฑْู‚ُ ูŠَุฎْุทَูُ ุฃَุจْุตَุงุฑَู‡ُู…ْ ูƒُู„َّู…َุง ุฃَุถَุงุกَ ู„َู‡ُู…ْ ู…َุดَูˆْุง ูِูŠู‡ِ ูˆَุฅِุฐَุง ุฃَุธْู„َู…َ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ู‚َุงู…ُูˆุง ูˆَู„َูˆْ ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„َุฐَู‡َุจَ ุจِุณَู…ْุนِู‡ِู…ْ ูˆَุฃَุจْุตَุงุฑِู‡ِู…ْ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู‚َุฏِูŠุฑٌ (20) }

Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu; dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.


Ayat ini merupakan perumpamaan lain yang dibuat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menggambarkan keadaan orang-orang munafik. Mereka adalah kaum yang lahiriahnya kadangkala menampakkan Islam, dan kadangkala di lain waktu mereka ragu terhadapnya. Hati mereka yang berada dalam keraguan, kekufuran, dan kebimbangan itu diserupakan dengan sayyib; makna sayyib ialah hujan. Demikianlah menurut Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan sejumlah sahabat; juga menurut Abu Aliyah, Mu-jahid, Sa'id ibnu Jubair, Ata, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Atiyyah, Al-Aufi, Ata Al-Khurrasani, As-Saddi, dan Ar-Rabi' ibnu Anas.

Menurut Ad-Dahhak, makna sayyibun adalah awan.

Tetapi menurut pendapat yang terkenal, artinya hujan yang turun dari langit. Dalam keadaan gelap gulita maksudnya keraguan, kekufuran, dan kemunafikan; sedangkan maksud dari suara guruh ialah rasa takut yang mencekam hati, mengingat orang munafik itu selalu berada dalam ketakutan yang sangat dan rasa ngeri, sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman Lainnya, yaitu:

ูŠَุญْุณَุจُูˆู†َ ูƒُู„َّ ุตَูŠْุญَุฉٍ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ

Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. (Al-Munafiqun: 4)

{ูˆَูŠَุญْู„ِูُูˆู†َ ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู†َّู‡ُู…ْ ู„َู…ِู†ْูƒُู…ْ ูˆَู…َุง ู‡ُู…ْ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ูˆَู„َูƒِู†َّู‡ُู…ْ ู‚َูˆْู…ٌ ูŠَูْุฑَู‚ُูˆู†َ * ู„َูˆْ ูŠَุฌِุฏُูˆู†َ ู…َู„ْุฌَุฃً ุฃَูˆْ ู…َุบَุงุฑَุงุชٍ ุฃَูˆْ ู…ُุฏَّุฎَู„ุง ู„َูˆَู„َّูˆْุง ุฅِู„َูŠْู‡ِ ูˆَู‡ُู…ْ ูŠَุฌْู…َุญُูˆู†َ}

Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golongan kalian; padahal mereka bukanlah dari golongan kalian, tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepada kalian). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan atau gua-gua atau lubang-lubang (dalam tanah), niscaya mereka pergi kepadanya dengan secepat-cepatnya. (At-Taubah: 56-57)

Al-barqu artinya kilat, sedangkan yang dimaksud ialah suatu hal yang berkilat di dalam hati golongan orang-orang munafik sebagai pertanda cahaya iman, hanya dalam waktu sebentar dan sekali-kali. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam ayat selanjutnya:

{ูŠَุฌْุนَู„ُูˆู†َ ุฃَุตَุงุจِุนَู‡ُู…ْ ูِูŠ ุขุฐَุงู†ِู‡ِู…ْ ู…ِู†َ ุงู„ุตَّูˆَุงุนِู‚ِ ุญَุฐَุฑَ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ู…ُุญِูŠุทٌ ุจِุงู„ْูƒَุงูِุฑِูŠู†َ}

mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah: 19)

Dengan kata lain, tiada gunanya sama sekali sikap waspada mereka, karena Allah dengan kekuasaan-Nya Maha Meliputi; mereka berada di bawah kehendak dan kekuasaan-Nya, sebagaimana yang dikatakan di dalam firman-Nya:

{ู‡َู„ْ ุฃَุชَุงูƒَ ุญَุฏِูŠุซُ ุงู„ْุฌُู†ُูˆุฏِ * ูِุฑْุนَูˆْู†َ ูˆَุซَู…ُูˆุฏَ * ุจَู„ِ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุง ูِูŠ ุชَูƒْุฐِูŠุจٍ * ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ู…ِู†ْ ูˆَุฑَุงุฆِู‡ِู…ْ ู…ُุญِูŠุทٌ}

Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yakni kaum) Fir'aun dan (kaum) Sarnud? Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. (Al-Buruj: 17-20)

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan, "Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka." Dikatakan demikian karena sifat cahaya kilat tersebut kuat dan keras, sedangkan pandangan mata mereka (orang-orang munafik) lemah, dan hati mereka tidak mantap keimanannya.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya, "Yakadul barqu yakhtafu absarahum" artinya "hampir-hampir ayat-ayat muhkam Al-Qur'an membuka kedok orang-orang munafik".

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya, "Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka." Dikatakan demikian karena kuatnya cahaya kebenaran.รฏ¿½Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu; bila gelap gulita menimpa mereka, mereka berhenti." Manakala muncul seberkas cahaya iman di dalam diri mereka, lalu mereka merasa kangen dan mengikutinya, tetapi di lain waktu muncul keraguan yang membuat hati mereka gelap dan berhenti dalam keadaan kebingungan.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, "Kullama ada-a lahum masyau fihi," artinya "manakala orang-orang munafik itu beroleh manfaat dari kejayaan Islam, mereka merasa tenang; tetapi bila Islam tertimpa cobaan, mereka bangkit kembali kepada kekufuran", sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman Allah Swt.:

{ูˆَู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ู…َู†ْ ูŠَุนْุจُุฏُ ุงู„ู„َّู‡َ ุนَู„َู‰ ุญَุฑْูٍ ูَุฅِู†ْ ุฃَุตَุงุจَู‡ُ ุฎَูŠْุฑٌ ุงุทْู…َุฃَู†َّ ุจِู‡ِ [ูˆَุฅِู†ْ ุฃَุตَุงุจَุชْู‡ُ ูِุชْู†َุฉٌ] }

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu; dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana berbaliklah ia ke belakang. (Al-Hajj: 11)

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya, "Kullama ada-a lahum masyau fihi, wa iza azla-ma 'alaihim qamu" artinya "manakala mereka mengetahui perkara yang hak dan membicarakannya, hal ini dimengerti melalui percakapan mereka berada dalam jalan yang lurus. Tetapi manakala mereka berbalik dari iman menjadi kafir, mereka berhenti, maksudnya kebingungan. Demikianlah takwil Abul Aliyah, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan As-Saddu berikut sanadnya, dari sejumlah sahabat. Pendapat inilah yang paling sahih dan paling kuat.

Demikianlah keadaan orang-orang munafik kelak di hari kiamat, yaitu di saat manusia diberi nur sesuai dengan kadar keimanan masing-masing. Di antara mereka ada orang yang diberi nur yang dapat menerangi perjalanan yang jaraknya berpos-pos buatnya, bahkan lebih dari itu atau kurang dari itu. Di antara mereka ada yang nur-nya kadangkala padam dan kadangkala bercahaya. Di antara mereka ada yang dapat berjalan di atas sirat di suatu waktu, sedangkan di waktu lainnya dia berhenti. Di antara mereka ada yang nur-nya padam (tidak menyala) sama sekali, mereka adalah orang-orang munafik militan yang digambarkan oleh firman-Nya:

{ูŠَูˆْู…َ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ุงู„ْู…ُู†َุงูِู‚ُูˆู†َ ูˆَุงู„ْู…ُู†َุงูِู‚َุงุชُ ู„ِู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงู†ْุธُุฑُูˆู†َุง ู†َู‚ْุชَุจِุณْ ู…ِู†ْ ู†ُูˆุฑِูƒُู…ْ ู‚ِูŠู„َ ุงุฑْุฌِุนُูˆุง ูˆَุฑَุงุกَูƒُู…ْ ูَุงู„ْุชَู…ِุณُูˆุง ู†ُูˆุฑًุง}

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian cahaya kalian." Dikatakan (kepada mereka), "Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untuk kalian)." (Al-Hadid: 13)

Sehubungan dengan orang-orang mukmin di hari kiamat nanti, Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan perihal mereka melalui firman-Nya:

{ูŠَูˆْู…َ ุชَุฑَู‰ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َุงุชِ ูŠَุณْุนَู‰ ู†ُูˆุฑُู‡ُู…ْ ุจَูŠْู†َ ุฃَูŠْุฏِูŠู‡ِู…ْ ูˆَุจِุฃَูŠْู…َุงู†ِู‡ِู…ْ ุจُุดْุฑَุงูƒُู…ُ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ุฌَู†َّุงุชٌ}

Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), "Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (Al-Hadid: 12)

Dalam firman lainnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan:

{ูŠَูˆْู…َ ู„َุง ูŠُุฎْุฒِูŠ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ู…َุนَู‡ُ ู†ُูˆุฑُู‡ُู…ْ ูŠَุณْุนَู‰ ุจَูŠْู†َ ุฃَูŠْุฏِูŠู‡ِู…ْ ูˆَุจِุฃَูŠْู…َุงู†ِู‡ِู…ْ ูŠَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ ุฑَุจَّู†َุง ุฃَุชْู…ِู…ْ ู„َู†َุง ู†ُูˆุฑَู†َุง ูˆَุงุบْูِุฑْ ู„َู†َุง ุฅِู†َّูƒَ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู‚َุฏِูŠุฑٌ}

Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dia; sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (At-Tahrim: 8)

Sa'id ibnu Abu Arubah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan firman-Nya:

{ูŠَูˆْู…َ ุชَุฑَู‰ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َุงุชِ}

Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, hingga akhir ayat. (Al-Hadid: 12)

Disebutkan bahwa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

"ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ู…َู†ْ ูŠُุถِูŠุกُ ู†ُูˆุฑُู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ْู…َุฏِูŠู†َุฉِ ุฅِู„َู‰ ุนَุฏَู†َ، ุฃَูˆْ ุจَูŠْู†َ ุตَู†ْุนَุงุกَ ูˆَุฏُูˆู†َ ุฐَู„ِูƒَ، ุญَุชَّู‰ ุฅِู†َّ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ู…َู†ْ ู„َุง ูŠُุถِูŠุกُ ู†ُูˆุฑُู‡ُ ุฅِู„َّุง ู…َูˆْุถِุนَ ู‚َุฏَู…َูŠْู‡ِ"

Di antara orang-orang mukmin ada yang cahayanya dapat menyinari sejauh antara Madinah sampai 'Adn yang lebih jauh dari San'a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga sesungguhnya di antara orang-orang mukmin ada yang cahayanya hanya dapat menyinari tempat kedua telapak kakinya saja.

Hadis riwayat Ibnu Jarir, diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim melalui hadis Imran ibnu Daud Al-Qattan, dari Qatadah hadis yang semisal.

Hadis ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Al-Minhal ibnu Amr, dari Qais ibnus Sakan, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang me-ngatakan bahwa kepada mereka diberikan cahaya yang sesuai dengan amal perbuatan masing-masing; di antara mereka ada yang diberi cahaya seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang lelaki berdiri, se-dangkan yang paling kecil cahayanya di antara mereka ialah sebesar ibu jari, terkadang padam dan terkadang menyala. Begitu pula menurut riwayat Ibnu Jarir, dari Ibnu Musanna, dari Ibnu Idris, dari ayahnya, dari Al-Minhal.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris yang pernah mendengar dari ayahnya yang menceritakan dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Qais ibnus Sakan, dari Abdullah ibnu Mas'ud sehubungan dengan makna firmannya: sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. (At-Tahrim: 8) รฏ¿½Yakni sesuai dengan kadar amal perbuatan masing-masing. Mereka melewati sirat, di antara mereka ada yang cahayanya semisal gunung, ada pula yang seperti pohon kurma, dan orang yang paling kecil cahayanya di antara mereka ialah yang sebesar ibu jarinya, adakalanya bercahaya dan adakalanya padam.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Al-Ahmasi, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya Al-Hammani, telah menceritakan kepada kami Uqbah ib-nul Yaqzan, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa tiada seorang pun dari kalangan ahli tauhid melainkan diberi cahaya di hari kiamat kelak. Orang munafik cahayanya padam, orang muk-min merasa kasihan melihat orang-orang munafik padam cahayanya, lalu orang-orang mukmin berkata, "Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami."

Ad-Dahhak ibnu Muzahim mengatakan, setiap orang yang menampakkan keimanan di dunia kelak di hari kiamat akan diberi cahaya. Tetapi bila sampai di sirat, maka padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang mukmin melihat hal itu, mereka merasa kasihan, lalu berkata, "Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami."

Berdasarkan pengertian ini, maka manusia itu terbagi menjadi beberapa macam: Pertama, yang mukmin secara murni, yaitu mereka yang sifat-sifatnya disebut pada keempat ayat dari permulaan surat Al-Baqarah. Kedua, orang-orang kafir murni, yaitu mereka yang sifat-sifatnya disebut dalam dua ayat berikutnya. Ketika orang-orang munafik terbagi menjadi dua golongan, yaitu munafik militan รฏ¿½yang dibuat perumpamaan api bagi merekaรฏ¿½ dan orang-orang munafik yang masih terombang-ambing dalam kemunafikannya. Adakalanya tampak bagi mereka berkas sinar iman, dan terkadang sinar iman padam dalam diri mereka; mereka adalah orang-orang yang diumpamakan dengan air hujan. Golongan yang terakhir ini lebih ringan daripada golongan sebelumnya.

Perumpamaan mengenai diri seorang mukmin ini ditinjau dari berbagai segi, mirip dengan apa yang disebut di dalam surat An-Nur, yaitu tentang apa yang dijadikan oleh Allah di dalam kalbunya berupa hidayah dan cahaya. Hal ini diserupakan dengan pelita yang berada di dalam kaca, sedangkan kaca tersebut seakan-akan bintang mutiara yang bercahaya dengan sendirinya. Demikianlah keadaan kalbu orang mukmin yang dijadikan secara fitrah beriman dan mendapat siraman dari syariah yang jernih secara langsung menyentuhnya tanpa kekeruhan dan tanpa ada campuran, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti pada tempatnya, insya Allah.

Kemudian Allah membuat perumpamaan buat hamba-hamba yang kafir, yaitu mereka yang menduga bahwa diri mereka beroleh suatu manfaat, padahal tiada suatu manfaat pun yang mereka peroleh. Mereka adalah orang-orang yang jahil murakkab, sebagaimana yang disebut di dalam firman-Nya:

{ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุง ุฃَุนْู…َุงู„ُู‡ُู…ْ ูƒَุณَุฑَุงุจٍ ุจِู‚ِูŠุนَุฉٍ ูŠَุญْุณَุจُู‡ُ ุงู„ุธَّู…ْุขู†ُ ู…َุงุกً ุญَุชَّู‰ ุฅِุฐَุง ุฌَุงุกَู‡ُ ู„َู…ْ ูŠَุฌِุฏْู‡ُ ุดَูŠْุฆًุง}

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. (An-Nur. 39)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir yang kebodohannya tidak terlalu parah. Mereka adalah orang-orang yang disebut di dalam firman-Nya:

{ุฃَูˆْ ูƒَุธُู„ُู…َุงุชٍ ูِูŠ ุจَุญْุฑٍ ู„ُุฌِّูŠٍّ ูŠَุบْุดَุงู‡ُ ู…َูˆْุฌٌ ู…ِู†ْ ูَูˆْู‚ِู‡ِ ู…َูˆْุฌٌ ู…ِู†ْ ูَูˆْู‚ِู‡ِ ุณَุญَุงุจٌ ุธُู„ُู…َุงุชٌ ุจَุนْุถُู‡َุง ูَูˆْู‚َ ุจَุนْุถٍ ุฅِุฐَุง ุฃَุฎْุฑَุฌَ ูŠَุฏَู‡ُ ู„َู…ْ ูŠَูƒَุฏْ ูŠَุฑَุงู‡َุง ูˆَู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุฌْุนَู„ِ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„َู‡ُ ู†ُูˆุฑًุง ูَู…َุง ู„َู‡ُ ู…ِู†ْ ู†ُูˆุฑٍ}

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya; (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun. (An-Nur: 40)

Berdasarkan hal ini orang-orang kafir pun terbagi menjadi dua bagian, yaitu orang kafir militan dan orang kafir ikut-ikutan, sebagaimana keduanya disebut di dalam permulaan surat Al-Hajj melalui firman-Nya:

{ูˆَู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ู…َู†ْ ูŠُุฌَุงุฏِู„ُ ูِูŠ ุงู„ู„َّู‡ِ ุจِุบَูŠْุฑِ ุนِู„ْู…ٍ ูˆَูŠَุชَّุจِุนُ ูƒُู„َّ ุดَูŠْุทَุงู†ٍ ู…َุฑِูŠุฏٍ}

Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat. (Al-Hajj: 3)

{ูˆَู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ู…َู†ْ ูŠُุฌَุงุฏِู„ُ ูِูŠ ุงู„ู„َّู‡ِ ุจِุบَูŠْุฑِ ุนِู„ْู…ٍ ูˆَู„ุง ู‡ُุฏًู‰ ูˆَู„ุง ูƒِุชَุงุจٍ ู…ُู†ِูŠุฑٍ}

Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya. (Al-Hajj: 8)

Allah telah mengklasifikasikan orang-orang mukmin pada permulaan surat Al-Waqi'ah dan bagian akhirnya, sedangkan di dalam surat Al-Insan mereka terbagi menjadi dua bagian, yaitu orang-orang yang terdahulu mereka adalah golongan orang-orang muqarrabin (dekat dengan Allah); dan golongan as-habul yamin, yaitu orang-orang yang bertakwa.

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang-orang mukmin itu terdiri atas dua golongan, yaitu orang-orang yang dekat dengan Allah dan orang-orang yang bertakwa. Orang-orang kafir pun terbagi menjadi dua golongan, yaitu orang-orang kafir militan dan orang-orang kafir muqallid (ikut-ikutan). Orang-orang munafik pun terbagi menjadi dua golongan, yaitu munafik militan dan munafik dari salah satu seginya saja, sebagaimana yang disebut di dalam kitab Sahihain melalui Abdullah ibnu Amr, bahwa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

"ุซَู„َุงุซٌ ู…َู†ْ ูƒُู†َّ ูِูŠู‡ِ ูƒَุงู†َ ู…ُู†َุงูِู‚ًุง ุฎَุงู„ِุตًุง، ูˆَู…َู†ْ ูƒَุงู†َุชْ ูِูŠู‡ِ ูˆَุงุญِุฏَุฉٌ ู…ِู†ْู‡ُู†َّ ูƒَุงู†َุชْ ูِูŠู‡ِ ุฎَุตْู„َุฉٌ ู…ِู†َ ุงู„ู†ِّูَุงู‚ِ ุญَุชَّู‰ ูŠَุฏَุนู‡ุง: ู…َู†ْ ุฅِุฐَุง ุญَุฏّุซ ูƒَุฐَุจَ، ูˆَุฅِุฐَุง ูˆَุนَุฏَ ุฃَุฎْู„َูَ، ูˆَุฅِุฐَุง ุงุคْุชُู…ِู†َ ุฎَุงู†َ"

Ada tiga perkara, barang siapa menyandang ketiganya, maka dia adalah orang munafik militan; dan barang siapa yang menyandang salah satunya, maka di dalam dirinya terdapat suatu pekerti munafik hingga ia meninggalkannya. Yaitu orang yang apabila berbicara berdusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya khianat.

Berdasarkan hadis ini para ulama menyimpulkan bahwa di dalam diri seseorang itu adakalanya terdapat suatu cabang dari iman dan suatu cabang dari sifat munafik, yang dalam realisasinya adakalanya berupa amali (perbuatan) berdasarkan hadis ini, atau berupa i'tiqadi (keyakinan) berdasarkan apa yang telah ditunjukkan oleh ayat tadi. Demikian pendapat segolongan ulama Salaf dan sejumlah ulama yang telah disebut di atas.

ู‚َุงู„َ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ُ ุฃَุญْู…َุฏُ: ุญَุฏَّุซَู†َุง ุฃَุจُูˆ ุงู„ู†َّุถْุฑِ، ุญَุฏَّุซَู†َุง ุฃَุจُูˆ ู…ُุนَุงูˆِูŠَุฉَ ูŠَุนْู†ِูŠ ุดَูŠْุจَุงู†َ، ุนَู†ْ ู„َูŠْุซٍ، ุนَู†ْ ุนَู…ْุฑِูˆ ุจْู†ِ ู…ُุฑَّุฉَ، ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ุงู„ْุจَุฎْุชَุฑِูŠِّ، ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ุณَุนِูŠุฏٍ، ู‚َุงู„َ: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ: "ุงู„ْู‚ُู„ُูˆุจُ ุฃَุฑْุจَุนَุฉٌ: ู‚َู„ْุจٌ ุฃَุฌْุฑَุฏُ، ูِูŠู‡ِ ู…ِุซْู„ُ ุงู„ุณِّุฑَุงุฌِ ูŠُุฒْู‡ุฑ، ูˆَู‚َู„ْุจٌ ุฃَุบْู„َูُ ู…َุฑْุจُูˆุทٌ ุนَู„َู‰ ุบِู„َุงูِู‡ِ، ูˆَู‚َู„ْุจٌ ู…َู†ْูƒُูˆุณٌ، ูˆَู‚َู„ْุจٌ ู…ُุตَูَّุญ، ูَุฃَู…َّุง ุงู„ْู‚َู„ْุจُ ุงู„ْุฃَุฌْุฑَุฏُ ูَู‚َู„ْุจُ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِ، ุณِุฑَุงุฌُู‡ُ ูِูŠู‡ِ ู†ُูˆุฑُู‡ُ، ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„ْู‚َู„ْุจُ ุงู„ْุฃَุบْู„َูُ ูَู‚َู„ْุจُ ุงู„ْูƒَุงูِุฑِ، ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„ْู‚َู„ْุจُ ุงู„ْู…َู†ْูƒُูˆุณُ ูَู‚َู„ْุจُ ุงู„ْู…ُู†َุงูِู‚ِ ุงู„ْุฎَุงู„ِุตِ، ุนَุฑَูَ ุซُู…َّ ุฃَู†ْูƒَุฑَ، ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„ْู‚َู„ْุจُ ุงู„ْู…ُุตَูَّุญُ ูَู‚َู„ْุจٌ ูِูŠู‡ِ ุฅِูŠู…َุงู†ٌ ูˆَู†ِูَุงู‚ٌ، ูˆู…َุซَู„ ุงู„ْุฅِูŠู…َุงู†ِ ูِูŠู‡ِ ูƒَู…َุซَู„ِ ุงู„ْุจَู‚ْู„َุฉِ، ูŠَู…ُุฏُّู‡َุง ุงู„ْู…َุงุกُ ุงู„ุทَّูŠِّุจُ، ูˆَู…َุซَู„ُ ุงู„ู†ِّูَุงู‚ِ ูِูŠู‡ِ ูƒَู…َุซَู„ِ ุงู„ْู‚ُุฑْุญَุฉِ ูŠَู…ُุฏّู‡ุง ุงู„ْู‚َูŠْุญُ ูˆَุงู„ุฏَّู…ُ، ูَุฃَูŠُّ ุงู„ْู…َุฏَّุชَูŠْู†ِ ุบَู„َุจَุชْ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุฃُุฎْุฑَู‰ ุบَู„َุจَุชْ ุนَู„َูŠْู‡ِ"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah (yakni Syaiban), dari Lais, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi, dari Abu Sa'id yang menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

Kalbu (manusia) itu ada empat macam, yaitu kalbu yang jernih, bagian dalamnya seperti pelita yang bercahaya, kalbu yang terbungkus dalam keadaan terikat oleh pembungkusnya, kalbu yang layu, dan kalbu yang terlapisi. Adapun kalbu yang jernih ialah kalbu orang mukmin, sedangkan pelita yang di dalam adalah cahayanya. Adapun kalbu yang terbungkus ialah (perumpamaan) kalbu orang kafir, sedangkan kalbu yang layu ialah kalbu orang munafik murni (militan); pada mulanya mengetahui (perkara yang hak), kemudian mengingkarinya. Kalbu yang terlapisi ialah kalbu yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan. Perumpamaan iman di dalam kalbu adalah seperti sayuran yang selalu diberi air yang baik, sedangkan perumpamaan nifaq adalah seperti luka yang selalu mengeluarkan nanah dan darah. Maka yang mana pun di antara kedua benda yang diperumpamakan itu lebih kuat daripada yang lainnya, berarti ia dapat mengalahkannya.

Hadis ini berpredikat jayyid lagi hasan. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

{ูˆَู„َูˆْ ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„َุฐَู‡َุจَ ุจِุณَู…ْุนِู‡ِู…ْ ูˆَุฃَุจْุตَุงุฑِู‡ِู…ْ}

Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah: 20)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa demikian itu terjadi setelah mereka mengetahui perkara hak, lalu mereka meninggalkannya.

Innallaha 'ala kulli syaiin qadir, menurut Ibnu Abbas artinya 'bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa terhadap semua hal yang di-kehendaki-Nya atas hamba-hamba-Nya berupa pembalasan atau ampunan'.

Ibnu Jarir mengatakan, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala menyifati diri-Nya dengan sifat Kuasa terhadap segala sesuatu dalam hal ini, karena Dia bertindak memperingatkan terhadap orang-orang munafik akan azab dan siksanya. Allah memberitakan kepada mereka bahwa Dia Maha Meliputi mereka dan Mahakuasa untuk menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Makna lafaz qadir adalah qadir, sama halnya dengan lafaz 'alim bermakna 'alim.

Ibnu Jarir dan orang-orang yang mengikutinya dari kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa kedua perumpamaan yang dibuat oleh Allah ini menggambarkan keadaan suatu golongan dari orang-orang munafik. Dengan demikian, berarti huruf au yang terdapat di dalam firman-Nya, "Au kasayyibim minas sama," bermakna wawu. Perihalnya sama dengan yang terdapat di dalam firman lainnya, yaitu:

{ูˆَู„ุง ุชُุทِุนْ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ุขุซِู…ًุง ุฃَูˆْ ูƒَูُูˆุฑًุง}

Dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. (Al-Insan: 24)

Atau huruf au ini bermakna takhyir (pilihan), dengan kata lain 'aku buatkan perumpamaan ini bagi mereka atau jika kamu suka perumpamaan lainnya'.

Imam Qurtubi mengatakan bahwa huruf au di sini menunjukkan makna tasawi (persamaan atau pembanding), misalnya dikatakan: "Bergaullah kamu dengan Al-Hasan atau Ibnu Sirin." Demikian yang dikemukakan oleh Az-Zamakhsyari, yaitu masing-masing dari keduanya memiliki persamaan dengan yang lain dalam hal boleh bergaul. Dengan demikian, berarti makna ayat menunjukkan mana saja di antara perumpamaan ini atau yang lainnya untuk menggambarkan mereka dinilai sesuai dengan keadaan mereka.

Menurut kami, perumpamaan ini dikemukakan berdasarkan jenis orang-orang munafik, karena sesungguhnya mereka terdiri atas berbagai macam tingkatan dan memiliki keadaan serta sifat masing-masing, sebagaimana yang disebut di dalam surat Bara-ah (At-Taubah) dengan memakai ungkapan waminhum (dan di antara mereka) secara berulang-ulang. Setiap kali disebut lafaz waminhum, dijelaskan keadaan dan sifat-sifat mereka, ciri khas perbuatan serta ucapan mereka. Maka menginterpretasikan kedua perumpamaan ini buat dua golongan di antara mereka (orang-orang munaflk) lebih tepat dan lebih sesuai dengan keadaan dan sifat-sifat mereka.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membuat dua perumpamaan bagi dua jenis orang-orang kafir รฏ¿½yaitu orang kafir militan dan orang kafir ikut-ikutanรฏ¿½ melalui firman-Nya di dalam surat An-Nur, yaitu:

{ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุง ุฃَุนْู…َุงู„ُู‡ُู…ْ ูƒَุณَุฑَุงุจٍ ุจِู‚ِูŠุนَุฉٍ}

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar. (An-Nur: 39)

{ุฃَูˆْ ูƒَุธُู„ُู…َุงุชٍ ูِูŠ ุจَุญْุฑٍ ู„ُุฌِّูŠٍّ ูŠَุบْุดَุงู‡ُ ู…َูˆْุฌٌ}

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam. (An-Nur: 40)

Perumpamaan yang pertama ditujukan untuk orang kafir militan, yaitu mereka yang jahil murakkab (mereka tidak mengetahui bahwa dirinya tidak tahu); sedangkan yang kedua ditujukan untuk orang kafir yang kebodohannya tidak terlalu parah, yaitu mereka dari kalangan para pengikut dan yang membebek kepada para pemimpinnya.