Rabu, 25 Mei 2022

Al-Baqarah, ayat 19-20

Al-Baqarah, ayat 19-20
{ุฃَูˆْ ูƒَุตَูŠِّุจٍ ู…ِู†َ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ูِูŠู‡ِ ุธُู„ُู…َุงุชٌ ูˆَุฑَุนْุฏٌ ูˆَุจَุฑْู‚ٌ ูŠَุฌْุนَู„ُูˆู†َ ุฃَุตَุงุจِุนَู‡ُู…ْ ูِูŠ ุขุฐَุงู†ِู‡ِู…ْ ู…ِู†َ ุงู„ุตَّูˆَุงุนِู‚ِ ุญَุฐَุฑَ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ู…ُุญِูŠุทٌ ุจِุงู„ْูƒَุงูِุฑِูŠู†َ (19) ูŠَูƒَุงุฏُ ุงู„ْุจَุฑْู‚ُ ูŠَุฎْุทَูُ ุฃَุจْุตَุงุฑَู‡ُู…ْ ูƒُู„َّู…َุง ุฃَุถَุงุกَ ู„َู‡ُู…ْ ู…َุดَูˆْุง ูِูŠู‡ِ ูˆَุฅِุฐَุง ุฃَุธْู„َู…َ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ ู‚َุงู…ُูˆุง ูˆَู„َูˆْ ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„َุฐَู‡َุจَ ุจِุณَู…ْุนِู‡ِู…ْ ูˆَุฃَุจْุตَุงุฑِู‡ِู…ْ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู‚َุฏِูŠุฑٌ (20) }

Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh, dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu; dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.


Ayat ini merupakan perumpamaan lain yang dibuat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menggambarkan keadaan orang-orang munafik. Mereka adalah kaum yang lahiriahnya kadangkala menampakkan Islam, dan kadangkala di lain waktu mereka ragu terhadapnya. Hati mereka yang berada dalam keraguan, kekufuran, dan kebimbangan itu diserupakan dengan sayyib; makna sayyib ialah hujan. Demikianlah menurut Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, dan sejumlah sahabat; juga menurut Abu Aliyah, Mu-jahid, Sa'id ibnu Jubair, Ata, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Atiyyah, Al-Aufi, Ata Al-Khurrasani, As-Saddi, dan Ar-Rabi' ibnu Anas.

Menurut Ad-Dahhak, makna sayyibun adalah awan.

Tetapi menurut pendapat yang terkenal, artinya hujan yang turun dari langit. Dalam keadaan gelap gulita maksudnya keraguan, kekufuran, dan kemunafikan; sedangkan maksud dari suara guruh ialah rasa takut yang mencekam hati, mengingat orang munafik itu selalu berada dalam ketakutan yang sangat dan rasa ngeri, sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman Lainnya, yaitu:

ูŠَุญْุณَุจُูˆู†َ ูƒُู„َّ ุตَูŠْุญَุฉٍ ุนَู„َูŠْู‡ِู…ْ

Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. (Al-Munafiqun: 4)

{ูˆَูŠَุญْู„ِูُูˆู†َ ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ุฅِู†َّู‡ُู…ْ ู„َู…ِู†ْูƒُู…ْ ูˆَู…َุง ู‡ُู…ْ ู…ِู†ْูƒُู…ْ ูˆَู„َูƒِู†َّู‡ُู…ْ ู‚َูˆْู…ٌ ูŠَูْุฑَู‚ُูˆู†َ * ู„َูˆْ ูŠَุฌِุฏُูˆู†َ ู…َู„ْุฌَุฃً ุฃَูˆْ ู…َุบَุงุฑَุงุชٍ ุฃَูˆْ ู…ُุฏَّุฎَู„ุง ู„َูˆَู„َّูˆْุง ุฅِู„َูŠْู‡ِ ูˆَู‡ُู…ْ ูŠَุฌْู…َุญُูˆู†َ}

Dan mereka (orang-orang munafik) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golongan kalian; padahal mereka bukanlah dari golongan kalian, tetapi mereka adalah orang-orang yang sangat takut (kepada kalian). Jikalau mereka memperoleh tempat perlindungan atau gua-gua atau lubang-lubang (dalam tanah), niscaya mereka pergi kepadanya dengan secepat-cepatnya. (At-Taubah: 56-57)

Al-barqu artinya kilat, sedangkan yang dimaksud ialah suatu hal yang berkilat di dalam hati golongan orang-orang munafik sebagai pertanda cahaya iman, hanya dalam waktu sebentar dan sekali-kali. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam ayat selanjutnya:

{ูŠَุฌْุนَู„ُูˆู†َ ุฃَุตَุงุจِุนَู‡ُู…ْ ูِูŠ ุขุฐَุงู†ِู‡ِู…ْ ู…ِู†َ ุงู„ุตَّูˆَุงุนِู‚ِ ุญَุฐَุฑَ ุงู„ْู…َูˆْุชِ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ู…ُุญِูŠุทٌ ุจِุงู„ْูƒَุงูِุฑِูŠู†َ}

mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. (Al-Baqarah: 19)

Dengan kata lain, tiada gunanya sama sekali sikap waspada mereka, karena Allah dengan kekuasaan-Nya Maha Meliputi; mereka berada di bawah kehendak dan kekuasaan-Nya, sebagaimana yang dikatakan di dalam firman-Nya:

{ู‡َู„ْ ุฃَุชَุงูƒَ ุญَุฏِูŠุซُ ุงู„ْุฌُู†ُูˆุฏِ * ูِุฑْุนَูˆْู†َ ูˆَุซَู…ُูˆุฏَ * ุจَู„ِ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุง ูِูŠ ุชَูƒْุฐِูŠุจٍ * ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ู…ِู†ْ ูˆَุฑَุงุฆِู‡ِู…ْ ู…ُุญِูŠุทٌ}

Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang, (yakni kaum) Fir'aun dan (kaum) Sarnud? Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. (Al-Buruj: 17-20)

Kemudian dalam firman selanjutnya disebutkan, "Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka." Dikatakan demikian karena sifat cahaya kilat tersebut kuat dan keras, sedangkan pandangan mata mereka (orang-orang munafik) lemah, dan hati mereka tidak mantap keimanannya.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya, "Yakadul barqu yakhtafu absarahum" artinya "hampir-hampir ayat-ayat muhkam Al-Qur'an membuka kedok orang-orang munafik".

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya, "Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka." Dikatakan demikian karena kuatnya cahaya kebenaran.รฏ¿½Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu; bila gelap gulita menimpa mereka, mereka berhenti." Manakala muncul seberkas cahaya iman di dalam diri mereka, lalu mereka merasa kangen dan mengikutinya, tetapi di lain waktu muncul keraguan yang membuat hati mereka gelap dan berhenti dalam keadaan kebingungan.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, "Kullama ada-a lahum masyau fihi," artinya "manakala orang-orang munafik itu beroleh manfaat dari kejayaan Islam, mereka merasa tenang; tetapi bila Islam tertimpa cobaan, mereka bangkit kembali kepada kekufuran", sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman Allah Swt.:

{ูˆَู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ู…َู†ْ ูŠَุนْุจُุฏُ ุงู„ู„َّู‡َ ุนَู„َู‰ ุญَุฑْูٍ ูَุฅِู†ْ ุฃَุตَุงุจَู‡ُ ุฎَูŠْุฑٌ ุงุทْู…َุฃَู†َّ ุจِู‡ِ [ูˆَุฅِู†ْ ุฃَุตَุงุจَุชْู‡ُ ูِุชْู†َุฉٌ] }

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu; dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana berbaliklah ia ke belakang. (Al-Hajj: 11)

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya, "Kullama ada-a lahum masyau fihi, wa iza azla-ma 'alaihim qamu" artinya "manakala mereka mengetahui perkara yang hak dan membicarakannya, hal ini dimengerti melalui percakapan mereka berada dalam jalan yang lurus. Tetapi manakala mereka berbalik dari iman menjadi kafir, mereka berhenti, maksudnya kebingungan. Demikianlah takwil Abul Aliyah, Al-Hasan Al-Basri, Qatadah, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan As-Saddu berikut sanadnya, dari sejumlah sahabat. Pendapat inilah yang paling sahih dan paling kuat.

Demikianlah keadaan orang-orang munafik kelak di hari kiamat, yaitu di saat manusia diberi nur sesuai dengan kadar keimanan masing-masing. Di antara mereka ada orang yang diberi nur yang dapat menerangi perjalanan yang jaraknya berpos-pos buatnya, bahkan lebih dari itu atau kurang dari itu. Di antara mereka ada yang nur-nya kadangkala padam dan kadangkala bercahaya. Di antara mereka ada yang dapat berjalan di atas sirat di suatu waktu, sedangkan di waktu lainnya dia berhenti. Di antara mereka ada yang nur-nya padam (tidak menyala) sama sekali, mereka adalah orang-orang munafik militan yang digambarkan oleh firman-Nya:

{ูŠَูˆْู…َ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ุงู„ْู…ُู†َุงูِู‚ُูˆู†َ ูˆَุงู„ْู…ُู†َุงูِู‚َุงุชُ ู„ِู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงู†ْุธُุฑُูˆู†َุง ู†َู‚ْุชَุจِุณْ ู…ِู†ْ ู†ُูˆุฑِูƒُู…ْ ู‚ِูŠู„َ ุงุฑْุฌِุนُูˆุง ูˆَุฑَุงุกَูƒُู…ْ ูَุงู„ْุชَู…ِุณُูˆุง ู†ُูˆุฑًุง}

Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian cahaya kalian." Dikatakan (kepada mereka), "Kembalilah kalian ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untuk kalian)." (Al-Hadid: 13)

Sehubungan dengan orang-orang mukmin di hari kiamat nanti, Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan perihal mereka melalui firman-Nya:

{ูŠَูˆْู…َ ุชَุฑَู‰ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َุงุชِ ูŠَุณْุนَู‰ ู†ُูˆุฑُู‡ُู…ْ ุจَูŠْู†َ ุฃَูŠْุฏِูŠู‡ِู…ْ ูˆَุจِุฃَูŠْู…َุงู†ِู‡ِู…ْ ุจُุดْุฑَุงูƒُู…ُ ุงู„ْูŠَูˆْู…َ ุฌَู†َّุงุชٌ}

Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), "Pada hari ini ada berita gembira untuk kalian, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai." (Al-Hadid: 12)

Dalam firman lainnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mengatakan:

{ูŠَูˆْู…َ ู„َุง ูŠُุฎْุฒِูŠ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ู…َุนَู‡ُ ู†ُูˆุฑُู‡ُู…ْ ูŠَุณْุนَู‰ ุจَูŠْู†َ ุฃَูŠْุฏِูŠู‡ِู…ْ ูˆَุจِุฃَูŠْู…َุงู†ِู‡ِู…ْ ูŠَู‚ُูˆู„ُูˆู†َ ุฑَุจَّู†َุง ุฃَุชْู…ِู…ْ ู„َู†َุง ู†ُูˆุฑَู†َุง ูˆَุงุบْูِุฑْ ู„َู†َุง ุฅِู†َّูƒَ ุนَู„َู‰ ูƒُู„ِّ ุดَูŠْุกٍ ู‚َุฏِูŠุฑٌ}

Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dia; sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu. (At-Tahrim: 8)

Sa'id ibnu Abu Arubah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan firman-Nya:

{ูŠَูˆْู…َ ุชَุฑَู‰ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ูˆَุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َุงุชِ}

Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, hingga akhir ayat. (Al-Hadid: 12)

Disebutkan bahwa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

"ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ู…َู†ْ ูŠُุถِูŠุกُ ู†ُูˆุฑُู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ْู…َุฏِูŠู†َุฉِ ุฅِู„َู‰ ุนَุฏَู†َ، ุฃَูˆْ ุจَูŠْู†َ ุตَู†ْุนَุงุกَ ูˆَุฏُูˆู†َ ุฐَู„ِูƒَ، ุญَุชَّู‰ ุฅِู†َّ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ ู…َู†ْ ู„َุง ูŠُุถِูŠุกُ ู†ُูˆุฑُู‡ُ ุฅِู„َّุง ู…َูˆْุถِุนَ ู‚َุฏَู…َูŠْู‡ِ"

Di antara orang-orang mukmin ada yang cahayanya dapat menyinari sejauh antara Madinah sampai 'Adn yang lebih jauh dari San'a, dan ada pula yang kurang dari itu, hingga sesungguhnya di antara orang-orang mukmin ada yang cahayanya hanya dapat menyinari tempat kedua telapak kakinya saja.

Hadis riwayat Ibnu Jarir, diriwayatkan pula oleh Ibnu Abu Hatim melalui hadis Imran ibnu Daud Al-Qattan, dari Qatadah hadis yang semisal.

Hadis ini sama dengan apa yang dikatakan oleh Al-Minhal ibnu Amr, dari Qais ibnus Sakan, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang me-ngatakan bahwa kepada mereka diberikan cahaya yang sesuai dengan amal perbuatan masing-masing; di antara mereka ada yang diberi cahaya seperti pohon kurma, ada yang seperti seorang lelaki berdiri, se-dangkan yang paling kecil cahayanya di antara mereka ialah sebesar ibu jari, terkadang padam dan terkadang menyala. Begitu pula menurut riwayat Ibnu Jarir, dari Ibnu Musanna, dari Ibnu Idris, dari ayahnya, dari Al-Minhal.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Idris yang pernah mendengar dari ayahnya yang menceritakan dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Qais ibnus Sakan, dari Abdullah ibnu Mas'ud sehubungan dengan makna firmannya: sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka. (At-Tahrim: 8) รฏ¿½Yakni sesuai dengan kadar amal perbuatan masing-masing. Mereka melewati sirat, di antara mereka ada yang cahayanya semisal gunung, ada pula yang seperti pohon kurma, dan orang yang paling kecil cahayanya di antara mereka ialah yang sebesar ibu jarinya, adakalanya bercahaya dan adakalanya padam.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Al-Ahmasi, telah menceritakan kepada kami Abu Yahya Al-Hammani, telah menceritakan kepada kami Uqbah ib-nul Yaqzan, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa tiada seorang pun dari kalangan ahli tauhid melainkan diberi cahaya di hari kiamat kelak. Orang munafik cahayanya padam, orang muk-min merasa kasihan melihat orang-orang munafik padam cahayanya, lalu orang-orang mukmin berkata, "Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami."

Ad-Dahhak ibnu Muzahim mengatakan, setiap orang yang menampakkan keimanan di dunia kelak di hari kiamat akan diberi cahaya. Tetapi bila sampai di sirat, maka padamlah cahaya orang-orang munafik. Ketika orang-orang mukmin melihat hal itu, mereka merasa kasihan, lalu berkata, "Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami."

Berdasarkan pengertian ini, maka manusia itu terbagi menjadi beberapa macam: Pertama, yang mukmin secara murni, yaitu mereka yang sifat-sifatnya disebut pada keempat ayat dari permulaan surat Al-Baqarah. Kedua, orang-orang kafir murni, yaitu mereka yang sifat-sifatnya disebut dalam dua ayat berikutnya. Ketika orang-orang munafik terbagi menjadi dua golongan, yaitu munafik militan รฏ¿½yang dibuat perumpamaan api bagi merekaรฏ¿½ dan orang-orang munafik yang masih terombang-ambing dalam kemunafikannya. Adakalanya tampak bagi mereka berkas sinar iman, dan terkadang sinar iman padam dalam diri mereka; mereka adalah orang-orang yang diumpamakan dengan air hujan. Golongan yang terakhir ini lebih ringan daripada golongan sebelumnya.

Perumpamaan mengenai diri seorang mukmin ini ditinjau dari berbagai segi, mirip dengan apa yang disebut di dalam surat An-Nur, yaitu tentang apa yang dijadikan oleh Allah di dalam kalbunya berupa hidayah dan cahaya. Hal ini diserupakan dengan pelita yang berada di dalam kaca, sedangkan kaca tersebut seakan-akan bintang mutiara yang bercahaya dengan sendirinya. Demikianlah keadaan kalbu orang mukmin yang dijadikan secara fitrah beriman dan mendapat siraman dari syariah yang jernih secara langsung menyentuhnya tanpa kekeruhan dan tanpa ada campuran, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti pada tempatnya, insya Allah.

Kemudian Allah membuat perumpamaan buat hamba-hamba yang kafir, yaitu mereka yang menduga bahwa diri mereka beroleh suatu manfaat, padahal tiada suatu manfaat pun yang mereka peroleh. Mereka adalah orang-orang yang jahil murakkab, sebagaimana yang disebut di dalam firman-Nya:

{ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุง ุฃَุนْู…َุงู„ُู‡ُู…ْ ูƒَุณَุฑَุงุจٍ ุจِู‚ِูŠุนَุฉٍ ูŠَุญْุณَุจُู‡ُ ุงู„ุธَّู…ْุขู†ُ ู…َุงุกً ุญَุชَّู‰ ุฅِุฐَุง ุฌَุงุกَู‡ُ ู„َู…ْ ูŠَุฌِุฏْู‡ُ ุดَูŠْุฆًุง}

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. (An-Nur. 39)

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir yang kebodohannya tidak terlalu parah. Mereka adalah orang-orang yang disebut di dalam firman-Nya:

{ุฃَูˆْ ูƒَุธُู„ُู…َุงุชٍ ูِูŠ ุจَุญْุฑٍ ู„ُุฌِّูŠٍّ ูŠَุบْุดَุงู‡ُ ู…َูˆْุฌٌ ู…ِู†ْ ูَูˆْู‚ِู‡ِ ู…َูˆْุฌٌ ู…ِู†ْ ูَูˆْู‚ِู‡ِ ุณَุญَุงุจٌ ุธُู„ُู…َุงุชٌ ุจَุนْุถُู‡َุง ูَูˆْู‚َ ุจَุนْุถٍ ุฅِุฐَุง ุฃَุฎْุฑَุฌَ ูŠَุฏَู‡ُ ู„َู…ْ ูŠَูƒَุฏْ ูŠَุฑَุงู‡َุง ูˆَู…َู†ْ ู„َู…ْ ูŠَุฌْุนَู„ِ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„َู‡ُ ู†ُูˆุฑًุง ูَู…َุง ู„َู‡ُ ู…ِู†ْ ู†ُูˆุฑٍ}

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya; (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun. (An-Nur: 40)

Berdasarkan hal ini orang-orang kafir pun terbagi menjadi dua bagian, yaitu orang kafir militan dan orang kafir ikut-ikutan, sebagaimana keduanya disebut di dalam permulaan surat Al-Hajj melalui firman-Nya:

{ูˆَู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ู…َู†ْ ูŠُุฌَุงุฏِู„ُ ูِูŠ ุงู„ู„َّู‡ِ ุจِุบَูŠْุฑِ ุนِู„ْู…ٍ ูˆَูŠَุชَّุจِุนُ ูƒُู„َّ ุดَูŠْุทَุงู†ٍ ู…َุฑِูŠุฏٍ}

Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat. (Al-Hajj: 3)

{ูˆَู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ู…َู†ْ ูŠُุฌَุงุฏِู„ُ ูِูŠ ุงู„ู„َّู‡ِ ุจِุบَูŠْุฑِ ุนِู„ْู…ٍ ูˆَู„ุง ู‡ُุฏًู‰ ูˆَู„ุง ูƒِุชَุงุจٍ ู…ُู†ِูŠุฑٍ}

Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk, dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya. (Al-Hajj: 8)

Allah telah mengklasifikasikan orang-orang mukmin pada permulaan surat Al-Waqi'ah dan bagian akhirnya, sedangkan di dalam surat Al-Insan mereka terbagi menjadi dua bagian, yaitu orang-orang yang terdahulu mereka adalah golongan orang-orang muqarrabin (dekat dengan Allah); dan golongan as-habul yamin, yaitu orang-orang yang bertakwa.

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa orang-orang mukmin itu terdiri atas dua golongan, yaitu orang-orang yang dekat dengan Allah dan orang-orang yang bertakwa. Orang-orang kafir pun terbagi menjadi dua golongan, yaitu orang-orang kafir militan dan orang-orang kafir muqallid (ikut-ikutan). Orang-orang munafik pun terbagi menjadi dua golongan, yaitu munafik militan dan munafik dari salah satu seginya saja, sebagaimana yang disebut di dalam kitab Sahihain melalui Abdullah ibnu Amr, bahwa Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

"ุซَู„َุงุซٌ ู…َู†ْ ูƒُู†َّ ูِูŠู‡ِ ูƒَุงู†َ ู…ُู†َุงูِู‚ًุง ุฎَุงู„ِุตًุง، ูˆَู…َู†ْ ูƒَุงู†َุชْ ูِูŠู‡ِ ูˆَุงุญِุฏَุฉٌ ู…ِู†ْู‡ُู†َّ ูƒَุงู†َุชْ ูِูŠู‡ِ ุฎَุตْู„َุฉٌ ู…ِู†َ ุงู„ู†ِّูَุงู‚ِ ุญَุชَّู‰ ูŠَุฏَุนู‡ุง: ู…َู†ْ ุฅِุฐَุง ุญَุฏّุซ ูƒَุฐَุจَ، ูˆَุฅِุฐَุง ูˆَุนَุฏَ ุฃَุฎْู„َูَ، ูˆَุฅِุฐَุง ุงุคْุชُู…ِู†َ ุฎَุงู†َ"

Ada tiga perkara, barang siapa menyandang ketiganya, maka dia adalah orang munafik militan; dan barang siapa yang menyandang salah satunya, maka di dalam dirinya terdapat suatu pekerti munafik hingga ia meninggalkannya. Yaitu orang yang apabila berbicara berdusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya khianat.

Berdasarkan hadis ini para ulama menyimpulkan bahwa di dalam diri seseorang itu adakalanya terdapat suatu cabang dari iman dan suatu cabang dari sifat munafik, yang dalam realisasinya adakalanya berupa amali (perbuatan) berdasarkan hadis ini, atau berupa i'tiqadi (keyakinan) berdasarkan apa yang telah ditunjukkan oleh ayat tadi. Demikian pendapat segolongan ulama Salaf dan sejumlah ulama yang telah disebut di atas.

ู‚َุงู„َ ุงู„ْุฅِู…َุงู…ُ ุฃَุญْู…َุฏُ: ุญَุฏَّุซَู†َุง ุฃَุจُูˆ ุงู„ู†َّุถْุฑِ، ุญَุฏَّุซَู†َุง ุฃَุจُูˆ ู…ُุนَุงูˆِูŠَุฉَ ูŠَุนْู†ِูŠ ุดَูŠْุจَุงู†َ، ุนَู†ْ ู„َูŠْุซٍ، ุนَู†ْ ุนَู…ْุฑِูˆ ุจْู†ِ ู…ُุฑَّุฉَ، ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ุงู„ْุจَุฎْุชَุฑِูŠِّ، ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ุณَุนِูŠุฏٍ، ู‚َุงู„َ: ู‚َุงู„َ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ: "ุงู„ْู‚ُู„ُูˆุจُ ุฃَุฑْุจَุนَุฉٌ: ู‚َู„ْุจٌ ุฃَุฌْุฑَุฏُ، ูِูŠู‡ِ ู…ِุซْู„ُ ุงู„ุณِّุฑَุงุฌِ ูŠُุฒْู‡ุฑ، ูˆَู‚َู„ْุจٌ ุฃَุบْู„َูُ ู…َุฑْุจُูˆุทٌ ุนَู„َู‰ ุบِู„َุงูِู‡ِ، ูˆَู‚َู„ْุจٌ ู…َู†ْูƒُูˆุณٌ، ูˆَู‚َู„ْุจٌ ู…ُุตَูَّุญ، ูَุฃَู…َّุง ุงู„ْู‚َู„ْุจُ ุงู„ْุฃَุฌْุฑَุฏُ ูَู‚َู„ْุจُ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†ِ، ุณِุฑَุงุฌُู‡ُ ูِูŠู‡ِ ู†ُูˆุฑُู‡ُ، ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„ْู‚َู„ْุจُ ุงู„ْุฃَุบْู„َูُ ูَู‚َู„ْุจُ ุงู„ْูƒَุงูِุฑِ، ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„ْู‚َู„ْุจُ ุงู„ْู…َู†ْูƒُูˆุณُ ูَู‚َู„ْุจُ ุงู„ْู…ُู†َุงูِู‚ِ ุงู„ْุฎَุงู„ِุตِ، ุนَุฑَูَ ุซُู…َّ ุฃَู†ْูƒَุฑَ، ูˆَุฃَู…َّุง ุงู„ْู‚َู„ْุจُ ุงู„ْู…ُุตَูَّุญُ ูَู‚َู„ْุจٌ ูِูŠู‡ِ ุฅِูŠู…َุงู†ٌ ูˆَู†ِูَุงู‚ٌ، ูˆู…َุซَู„ ุงู„ْุฅِูŠู…َุงู†ِ ูِูŠู‡ِ ูƒَู…َุซَู„ِ ุงู„ْุจَู‚ْู„َุฉِ، ูŠَู…ُุฏُّู‡َุง ุงู„ْู…َุงุกُ ุงู„ุทَّูŠِّุจُ، ูˆَู…َุซَู„ُ ุงู„ู†ِّูَุงู‚ِ ูِูŠู‡ِ ูƒَู…َุซَู„ِ ุงู„ْู‚ُุฑْุญَุฉِ ูŠَู…ُุฏّู‡ุง ุงู„ْู‚َูŠْุญُ ูˆَุงู„ุฏَّู…ُ، ูَุฃَูŠُّ ุงู„ْู…َุฏَّุชَูŠْู†ِ ุบَู„َุจَุชْ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุฃُุฎْุฑَู‰ ุบَู„َุจَุชْ ุนَู„َูŠْู‡ِ"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah (yakni Syaiban), dari Lais, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Bukhturi, dari Abu Sa'id yang menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

Kalbu (manusia) itu ada empat macam, yaitu kalbu yang jernih, bagian dalamnya seperti pelita yang bercahaya, kalbu yang terbungkus dalam keadaan terikat oleh pembungkusnya, kalbu yang layu, dan kalbu yang terlapisi. Adapun kalbu yang jernih ialah kalbu orang mukmin, sedangkan pelita yang di dalam adalah cahayanya. Adapun kalbu yang terbungkus ialah (perumpamaan) kalbu orang kafir, sedangkan kalbu yang layu ialah kalbu orang munafik murni (militan); pada mulanya mengetahui (perkara yang hak), kemudian mengingkarinya. Kalbu yang terlapisi ialah kalbu yang di dalamnya terdapat iman dan kemunafikan. Perumpamaan iman di dalam kalbu adalah seperti sayuran yang selalu diberi air yang baik, sedangkan perumpamaan nifaq adalah seperti luka yang selalu mengeluarkan nanah dan darah. Maka yang mana pun di antara kedua benda yang diperumpamakan itu lebih kuat daripada yang lainnya, berarti ia dapat mengalahkannya.

Hadis ini berpredikat jayyid lagi hasan. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

{ูˆَู„َูˆْ ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู„َุฐَู‡َุจَ ุจِุณَู…ْุนِู‡ِู…ْ ูˆَุฃَุจْุตَุงุฑِู‡ِู…ْ}

Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah: 20)

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa demikian itu terjadi setelah mereka mengetahui perkara hak, lalu mereka meninggalkannya.

Innallaha 'ala kulli syaiin qadir, menurut Ibnu Abbas artinya 'bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa terhadap semua hal yang di-kehendaki-Nya atas hamba-hamba-Nya berupa pembalasan atau ampunan'.

Ibnu Jarir mengatakan, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala menyifati diri-Nya dengan sifat Kuasa terhadap segala sesuatu dalam hal ini, karena Dia bertindak memperingatkan terhadap orang-orang munafik akan azab dan siksanya. Allah memberitakan kepada mereka bahwa Dia Maha Meliputi mereka dan Mahakuasa untuk menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Makna lafaz qadir adalah qadir, sama halnya dengan lafaz 'alim bermakna 'alim.

Ibnu Jarir dan orang-orang yang mengikutinya dari kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa kedua perumpamaan yang dibuat oleh Allah ini menggambarkan keadaan suatu golongan dari orang-orang munafik. Dengan demikian, berarti huruf au yang terdapat di dalam firman-Nya, "Au kasayyibim minas sama," bermakna wawu. Perihalnya sama dengan yang terdapat di dalam firman lainnya, yaitu:

{ูˆَู„ุง ุชُุทِุนْ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ุขุซِู…ًุง ุฃَูˆْ ูƒَูُูˆุฑًุง}

Dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. (Al-Insan: 24)

Atau huruf au ini bermakna takhyir (pilihan), dengan kata lain 'aku buatkan perumpamaan ini bagi mereka atau jika kamu suka perumpamaan lainnya'.

Imam Qurtubi mengatakan bahwa huruf au di sini menunjukkan makna tasawi (persamaan atau pembanding), misalnya dikatakan: "Bergaullah kamu dengan Al-Hasan atau Ibnu Sirin." Demikian yang dikemukakan oleh Az-Zamakhsyari, yaitu masing-masing dari keduanya memiliki persamaan dengan yang lain dalam hal boleh bergaul. Dengan demikian, berarti makna ayat menunjukkan mana saja di antara perumpamaan ini atau yang lainnya untuk menggambarkan mereka dinilai sesuai dengan keadaan mereka.

Menurut kami, perumpamaan ini dikemukakan berdasarkan jenis orang-orang munafik, karena sesungguhnya mereka terdiri atas berbagai macam tingkatan dan memiliki keadaan serta sifat masing-masing, sebagaimana yang disebut di dalam surat Bara-ah (At-Taubah) dengan memakai ungkapan waminhum (dan di antara mereka) secara berulang-ulang. Setiap kali disebut lafaz waminhum, dijelaskan keadaan dan sifat-sifat mereka, ciri khas perbuatan serta ucapan mereka. Maka menginterpretasikan kedua perumpamaan ini buat dua golongan di antara mereka (orang-orang munaflk) lebih tepat dan lebih sesuai dengan keadaan dan sifat-sifat mereka.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membuat dua perumpamaan bagi dua jenis orang-orang kafir รฏ¿½yaitu orang kafir militan dan orang kafir ikut-ikutanรฏ¿½ melalui firman-Nya di dalam surat An-Nur, yaitu:

{ูˆَุงู„َّุฐِูŠู†َ ูƒَูَุฑُูˆุง ุฃَุนْู…َุงู„ُู‡ُู…ْ ูƒَุณَุฑَุงุจٍ ุจِู‚ِูŠุนَุฉٍ}

Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar. (An-Nur: 39)

{ุฃَูˆْ ูƒَุธُู„ُู…َุงุชٍ ูِูŠ ุจَุญْุฑٍ ู„ُุฌِّูŠٍّ ูŠَุบْุดَุงู‡ُ ู…َูˆْุฌٌ}

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam. (An-Nur: 40)

Perumpamaan yang pertama ditujukan untuk orang kafir militan, yaitu mereka yang jahil murakkab (mereka tidak mengetahui bahwa dirinya tidak tahu); sedangkan yang kedua ditujukan untuk orang kafir yang kebodohannya tidak terlalu parah, yaitu mereka dari kalangan para pengikut dan yang membebek kepada para pemimpinnya.

Yang mau halalbihalal

*Assalamualaikum keluarga besar Paguyuban kultum 141.200 mhz*
Beserta BARAYA KULTUM 141.380 MHZ dan beserta pengguna Radio hobi

*ACARA HALAL BIHALAL*
*YANG AKAN DI LAKSANAKAN DI*

Jl Cilengkrang 1, Kampung Cigupakan, Kel Cisurupan, kec Cibiru, RT 05, RW 09, Tajimalela..
Ujungberung, untuk pelaksanaan acara tersebut :

Hari : Minggu
Tgl   : 29 Mei 2022 
Jam : 09 sampai jam 16.00

Bagi yang mau ikut hadir acara tersebut Silahkan daftar / isi list

01. Haji Deex 
02. Wa Zurel
03. Neng Cinangka
04. Om Boyo
05. H Deden
06. H Jidu
07. Pak Doddi


Selanjutnya ....

Langsung japri saya
Ketua.      : Dewan Syuro
Sekretaris : Ustadz Yachya Yusliha.
Bendahara : Oma Azam

Selasa, 24 Mei 2022

Begini Jawaban Rasulullah SAW ketika Sayyidah Aisyah Bilang Membenci Kematian


Rabu, 25 Mei 2022 - 05:15 WIB
Begini Jawaban Rasulullah SAW ketika Sayyidah Aisyah Bilang Membenci Kematian
Pada saat sekarat si mukmin rindu bertemu Allah. Sedangkan si kafir benci bertemu Allah. Foto/Ilustrasi: Ist
Jika malaikat maut mendatangi seorang mukmin sambil membawa berita gembira dari Allah Taala, maka mukmin itu akan tampak senang dan gembira, sedangkan orang kafir dan orang jahat akan tampak sedih dan berduka cita. "Oleh karena itu, pada saat sekarat si mukmin rindu bertemu Allah. Sedangkan si kafir benci bertemu Allah," ujar Syaikh Umar Sulaiman al Asygar dalam bukunya berjudul Ensiklopedia Kiamat .

Baca jugaInilah Tanda-tanda Kiamat Besar dan Kiamat Kecil 

Anas ibn Malik meriwayatkan dari Ubadah ibn Shamit bahwa Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa merasa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah juga senang berjumpa dengannya. Barangsiapa benci berjumpa dengan Allah, maka Allah benci berjumpa dengannya.”

Aisyah atau sebagian istri Rasul berujar, “Sungguh kami membenci maut.”

Beliau lalu menjawab, “Jangan bersikap seperti itu. Sebenarnya jika maut mendatangi seorang mukmin, ia mendapat berita gembira berupa ridha dan kemuliaan dari Allah, dan tidak ada sesuatu yang lebih ia cintai ketimbang yang ada di hadapannya. Maka ia senang berjumpa Allah dan Allah senang berjumpa dengannya."

"Jika orang kafir sekarat, maka ia mendapat berita gembira berupa azab dan hukuman Allah, dan tidak ada sesuatu yang lebih ia benci selain yang ada di hadapannya. Maka ia benci berjumpa Allah, dan Allah benci berjumpa dengannya.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam bab "Riqaq”, subbab "Orang yang Senang Berjumpa Allah dan Allah Senang Berjumpa Dengannya”. (Lihat Fath alBari, XL, h. 357)

Baca jugaBegini Gambaran Dekatnya Hari Kiamat 

Syaikh Umar Sulaiman al Asygar mengatakan oleh karena itu, seorang hamba yang saleh mengharap orang-orang yang mengusung jenazahnya agar cepat-cepat menguburkannya karena rindu akan kenikmatan surga.

Sedangkan hamba yang jahat menyumpahi neraka wail yang menjadi tempat peristirahatannya.

Dalam Shahih al Bukhari dan Sunan an-Nasa' diriwayatkan dari Abu Sa'id a-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika jenazah telah diletakkan dan siap diusung oleh para lelaki, maka bila jenazah itu orang baik, ia berkata, 'Cepatkan aku'. 

Sedangkan bila ia orang jahat, ia berkata kepada keluarganya, 'Aduh celaka! Ke mana mereka akan membawaku!? 

Suara jenazah didengar oleh segala sesuatu kecuali manusia, sebab jika manusia dapat mendengar (suara jenazah), pasti ia akan pingsan.”

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam bab "Jenazah". Lihat Fah Al-Bari, III, h 184. Juga diriwayatkan oleh an-Nasa'i dalam bab "Jenazah" subbab "Menyegerakan Jenazah" IV, h. 41

Baca jugaInilah Rentetan Peristiwa Menjelang Hari Kiamat Besar 

Menyegerakan
Hadis tersebut memberi tahu kepada kita apabila seorang Muslim sudah dipastikan meninggal, maka salah satu hal yang perlu dilakukan yakni menyegerakan penyelenggaraan jenazah.

Sementara menunda pengurusan jenazah, merupakan perbuatan yang bertentangan dengan perintah Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Abu Hurairah RA:

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ุนَู†ْ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚َุงู„َ: ุฃَุณْุฑِุนُูˆุง ุจِุงู„ْุฌِู†َุงุฒَุฉِ ูَุฅِู†ْ ุชَูƒُ ุตَุงู„ِุญَุฉً ูَุฎَูŠْุฑٌ ุชُู‚َุฏِّู…ُูˆู†َู‡َุง ูˆَุฅِู†ْ ูŠَูƒُ ุณِูˆَู‰ ุฐَู„ِูƒَ ูَุดَุฑٌّ ุชَุถَุนُูˆู†َู‡ُ ุนَู†ْ ุฑِู‚َุงุจِูƒُู…ْ

"Segeralah mengurus jenazah. Karena jika jenazah itu adalah orang shalih, berarti kalian telah mempercepat kebaikan untuknya. Dan jika jenazah tersebut selain orang shalih, berarti kalian telah meletakkan kejelekan di pundak kalian." (HR Bukhari no 1315 dan Muslim no 944).

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al Jibrin dalam buku 'Shalatul Jinazah', menjelaskan ada beberapa hal yang perlu dilakukan terhadap jenazah seorang Muslim.
halaman ke-1

Al-Baqarah, ayat 17-18.

Al-Baqarah, ayat 17-18
{ู…َุซَู„ُู‡ُู…ْ ูƒَู…َุซَู„ِ ุงู„َّุฐِูŠ ุงุณْุชَูˆْู‚َุฏَ ู†َุงุฑًุง ูَู„َู…َّุง ุฃَุถَุงุกَุชْ ู…َุง ุญَูˆْู„َู‡ُ ุฐَู‡َุจَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู†ُูˆุฑِู‡ِู…ْ ูˆَุชَุฑَูƒَู‡ُู…ْ ูِูŠ ุธُู„ُู…َุงุชٍ ู„َุง ูŠُุจْุตِุฑُูˆู†َ (17) ุตُู…ٌّ ุจُูƒْู…ٌ ุนُู…ْูŠٌ ูَู‡ُู…ْ ู„َุง ูŠَุฑْุฌِุนُูˆู†َ (18) }

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu, dan buta; maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).


Dikatakan matsalun, mistlun, dan matsilun artinya perumpamaan bentuk jamaknya adalah amsal, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman lainnya:

ูˆَุชِู„ْูƒَ ุงู„ْุฃَู…ْุซุงู„ُ ู†َุถْุฑِุจُู‡ุง ู„ِู„ู†َّุงุณِ ูˆَู…ุง ูŠَุนْู‚ِู„ُู‡ุง ุฅِู„َّุง ุงู„ْุนุงู„ِู…ُูˆู†َ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (Al-Ankabut: 43)

Sebagai penjelasannya dapat dikatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menyerupakan perbuatan mereka yang membeli kesesatan dengan keimanan รฏ¿½dan nasib mereka menjadi buta setelah melihatรฏ¿½ dengan keadaan orang yang menyalakan api. Akan tetapi, setelah suasana di sekitarnya terang dan beroleh manfaat dari sinarnya, yaitu dapat melihat semua yang ada di kanan dan kirinya, telah menyesuaikan diri dengannya; di saat dalam keadaan demikian, tiba-tiba api tersebut padam. Maka ia berada dalam kegelapan yang pekat, tidak dapat melihat, dan tidak beroleh petunjuk. Selain itu keadaannya kini menjadi tuli tidak dapat mendengar, bisu tidak dapat berbicara lagi, buta seandainya keadaannya terang karena tidak dapat melihat. Karena itu, dia tidak dapat kembali kepada keadaan sebelumnya. Demikian pula keadaan orang-orang munafik itu yang mengganti jalan petunjuk dengan kesesatan dan lebih memilih kesesatan daripada hidayah.

Di dalam masal atau perumpamaan ini terkandung pengertian yang menunjukkan bahwa pada awalnya mereka beriman, kemudian kafir, sebagaimana yang diceritakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam ayat lainnya.

Pendapat yang telah kami kemukakan ini diriwayatkan oleh Ar-Razi di dalam kitab tafsirnya, dari As-Saddi. Selanjutnya Ar-Razi mengatakan, tasybih atau perumpamaan dalam ayat ini sangat benar, karena mereka pada mulanya memperoleh nur berkat keimanan mereka; kemudian pada akhirnya karena kemunafikan mereka, maka batallah hal tersebut dan terjerumuslah mereka ke dalam kebimbangan yang besar, mengingat tiada kebimbangan yang lebih besar daripada kebimbangan dalam agama.

Ibnu Jarir menduga bahwa orang-orang yang disebut dalam perumpamaan ini adalah mereka yang pernah tidak beriman di suatu waktu. Dia mengatakan demikian dengan berdalilkan firman-Nya:

{ูˆَู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ู…َู†ْ ูŠَู‚ُูˆู„ُ ุขู…َู†َّุง ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَุจِุงู„ْูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุขุฎِุฑِ ูˆَู…َุง ู‡ُู…ْ ุจِู…ُุคْู…ِู†ِูŠู†َ}

Di antara manusia ada yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (Al-Baqarah: 8)

Akan tetapi, yang benar hal ini merupakan berita mengenai keadaan mereka di saat munafik dan kafir. Pengertian ini tidak bertentangan dengan suatu kenyataan bila mereka pernah beriman sebelum itu, tetapi iman dicabut dari mereka, dan hati mereka dikunci mati. Barangkali Ibnu Jarir tidak menyadari ayat lainnya yang membahas topik yang sama, yaitu firman-Nya:

{ุฐَู„ِูƒَ ุจِุฃَู†َّู‡ُู…ْ ุขู…َู†ُูˆุง ุซُู…َّ ูƒَูَุฑُูˆุง ูَุทُุจِุนَ ุนَู„َู‰ ู‚ُู„ُูˆุจِู‡ِู…ْ ูَู‡ُู…ْ ู„َุง ูŠَูْู‚َู‡ُูˆู†َ}

Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi), lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (Al-Munafiqun: 3)

Karena itulah maka Ibnu Jarir menganalisis perumpamaan ini, bahwa mereka beroleh penerangan dari kalimat iman yang mereka tampakkan (yakni di dunia), kemudian hal selanjutnya yang menimpa mereka adalah kegelapan-kegelapan (yakni kelak di hari kiamat). Ibnu Jarir mengatakan bahwa dalam perumpamaan dianggap sah menggambarkan suatu jamaah seperti satu orang, sebagaimana pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

{ุฑَุฃَูŠْุชَู‡ُู…ْ ูŠَู†ْุธُุฑُูˆู†َ ุฅِู„َูŠْูƒَ ุชَุฏُูˆุฑُ ุฃَุนْูŠُู†ُู‡ُู…ْ ูƒَุงู„َّุฐِูŠ ูŠُุบْุดَู‰ ุนَู„َูŠْู‡ِ ู…ِู†َ ุงู„ْู…َูˆْุชِ}

Kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati. (Al-Ahzab: 19)

Yakni seperti orang yang sedang dalam keadaan sekarat menghadapi kematiannya. Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

{ู…َุง ุฎَู„ْู‚ُูƒُู…ْ ูˆَู„ุง ุจَุนْุซُูƒُู…ْ ุฅِู„ุง ูƒَู†َูْุณٍ ูˆَุงุญِุฏَุฉٍ}

Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kalian (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. (Luqman: 28)

{ู…َุซَู„ُ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุญُู…ِّู„ُูˆุง ุงู„ุชَّูˆْุฑَุงุฉَ ุซُู…َّ ู„َู…ْ ูŠَุญْู…ِู„ُูˆู‡َุง ูƒَู…َุซَู„ِ ุงู„ْุญِู…َุงุฑِ ูŠَุญْู…ِู„ُ ุฃَุณْูَุงุฑًุง}

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. (Al-Jumu'ah: 5)

Sebagian ulama menakwilkannya, bahwa makna yang dimaksud ialah kisah mereka sama dengan kisah orang-orang yang menyalakan api. Sedangkan menurut ulama lainnya, orang yang menyalakan api itu adalah salah seorang dari mereka. Menurut yang lainnya lagi, lafaz al-lazi dalam ayat ini mengandung makna al-lazina (orang banyak), sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam perkataan seorang penyair berikut:

ูˆَุฅِู†َّ ุงู„َّุฐِูŠ ุญَุงู†َุชْ ุจِูَู„ْุฌٍ ุฏِู…َุงุคُู‡ُู…ْ ... ู‡ُู…ُ ุงู„ْู‚َูˆْู…ُ ูƒُู„ُّ ุงู„ْู‚َูˆْู…ِ ูŠَุง ุฃُู…َّ ุฎَุงู„ِุฏِ

Sesungguhnya orang-orang yang telah tiba masanya bagi mereka mengalirkan darahnya (berkurban) di Falaj adalah kaum itu seluruhnya, hai Ummu Khalid!

Menurut kami, dalam ungkapan ini terjadi iltifat (pengalihan pembicaraan), yaitu di tengah-tengah perumpamaan dari bentuk tunggal kepada bentuk jamak. Sebagaimana yang terdapat di dalam firman-Nya:

{ูَู„َู…َّุง ุฃَุถَุงุกَุชْ ู…َุง ุญَูˆْู„َู‡ُ ุฐَู‡َุจَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุจِู†ُูˆุฑِู‡ِู…ْ ูˆَุชَุฑَูƒَู‡ُู…ْ ูِูŠ ุธُู„ُู…َุงุชٍ ู„َุง ูŠُุจْุตِุฑُูˆู†َ * ุตُู…ٌّ ุจُูƒْู…ٌ ุนُู…ْูŠٌ ูَู‡ُู…ْ ู„َุง ูŠَุฑْุฌِุนُูˆู†َ}

Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu, dan buta; maka tidaklah mereka akan kembali ke (jalan yang benar). (Al-Baqarah: 17-18)

Ungkapan seperti ini lebih fasih dan lebih mengena susunannya.

Zahaballahu binurihim, Allah hilangkan dari mereka manfaat api yang sedang mereka perlukan untuk penerangan; dan membiarkan hal yang membahayakan diri mereka, yaitu bara dan asapnya.

Watarakahum fi zulumatin, dan Allah membiarkan mereka berada dalam kegelapan (yakni keraguan, kekufuran, dan kemunafikan mereka).

La yubsirun, mereka tidak dapat melihat, yakni tidak mendapat petunjuk untuk menempuh jalan kebaikan dan tidak pula mengetahuinya.

Selain itu mereka summun, yakni tuli tidak dapat mendengar kebaikan; bukmun, bisu tidak dapat mengucapkan hal-hal yang bermanfaat bagi diri mereka; 'umyun, buta dalam kesesatan dan buta mata hatinya, sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman lainnya:

{ูَุฅِู†َّู‡َุง ู„َุง ุชَุนْู…َู‰ ุงู„ุฃุจْุตَุงุฑُ ูˆَู„َูƒِู†ْ ุชَุนْู…َู‰ ุงู„ْู‚ُู„ُูˆุจُ ุงู„َّุชِูŠ ูِูŠ ุงู„ุตُّุฏُูˆุฑِ}

Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (Al-Hajj: 46)

Karena itu, mereka tidak dapat kembali ke jalan hidayah yang telah mereka tukar dengan kesesatan.

Komentar para ahli tafsir ulama salaf

As-Saddi di dalam kitab tafsirnya mengatakan dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas'ud serta dari sejumlah sahabat sehubungan dengan firman-Nya:

{ูَู„َู…َّุง ุฃَุถَุงุกَุชْ ู…َุง ุญَูˆْู„َู‡ُ}

Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya. (Al-Baqarah: 17)

As-Saddi menduga ada sejumlah orang yang telah masuk Islam di saat Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam tiba di Madinah, kemudian mereka munafik. Perumpamaan mengenai diri mereka sama dengan seorang lelaki yang pada mulanya berada dalam kegelapan, lalu dia menyalakan api. Ketika api menerangi sekelilingnya yang dipenuhi kotoran dan onak duri, maka dia dapat melihat hingga dapat menghindar. Akan tetapi, ketika ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba apinya padam, hingga dia menghadapi situasi yang tidak ia ketahui mana yang harus dia hindarkan dari bahaya yang ada di depannya.

Yang demikian itulah perihal orang munafik, pada awalnya dia berada dalam kegelapan kemusyrikan, lalu masuk Islam hingga mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, juga mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Ketika ia berada dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia kafir, akhirnya dia tidak lagi mengetahui mana yang halal dan mana yang haram, tidak pula mana yang baik dan mana yang buruk'.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini. Cahaya merupakan perumpamaan bagi iman mereka yang dahulu sering mereka bicarakan, sedangkan kegelapan merupakan perumpamaan bagi kesesatan dan kekufuran mereka yang dahulu mereka perbincangkan. Mereka adalah suatu kaum yang pada mulanya berada dalam jalan petunjuk, kemudian hidayah dicabut dari mereka; sesudah itu akhirnya mereka membangkang, tidak mau beriman lagi.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan firman-Nya, "Falamma ada-at ma haulahu" bahwa sinar api menunjukkan makna keadaan mereka di saat menghadap kepada orang-orang mukmin dan jalan hidayah.

Ata Al-Khurrasani sehubungan dengan firman-Nya, "Masaluhum kamasalil lazis tauqada naran," mengatakan bahwa hal ini merupakan perumpamaan orang munafik yang kadangkala dia dapat melihat dan mengenai, tetapi setelah itu ia terkena buta hati.

Ibnu Abu Hatim mengatakan รฏ¿½dia telah meriwayatkan dari Ikri-mah, Al-Hasan, As-Saddi, dan Ar-Rabi' ibnu Anasรฏ¿½ hal yang semisal dengan apa yang dikatakan oleh Ata Al-Khurrasani.

Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam sehubungan dengan firman-Nya, "Masaluhum kamasalil lazis tauqada naran," mengatakan bahwa hal tersebut merupakan gambaran tentang sifat orang-orang munafik yang kadangkala dapat melihat dan mengenal, tetapi setelah itu ia terkena buta hati. Dia mengatakan pula sehubungan dengan firman-Nya, "Masaluhum kamasalil lazis tauqada naran," hingga akhir ayat, bahwa hal tersebut merupakan tentang sifat orang-orang munafik. Pada mulanya mereka beriman hingga iman menyinari kalbu mereka, sebagaimana api menyinari mereka yang menyalakannya. Kemudian mereka kafir, maka Allah menghilangkan cahaya apinya dan mencabut imannya sebagaimana Dia menghilangkan cahaya api tersebut, hingga mereka tertinggal dalam keadaan yang sangat gelap tanpa dapat melihat.

Pendapat Ibnu Jarir serupa dengan riwayat Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan firman-Nya: Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api. (Al-Baqarah: 17) Disebutkan bahwa hal ini merupakan suatu perumpamaan yang dibuat oleh Allah untuk menggambarkan orang-orang munafik. Yaitu pada mulanya mereka merasa bangga dengan Islam, maka kaum muslim mau mengadakan pernikahan dengan mereka, saling mewaris dan saling membagi harta fai. Tetapi di kala mereka mati, Allah mencabut kebanggaan itu dari mereka sebagaimana cayaha api yang dihilangkan dari orang yang memerlukannya.

Abu Ja'far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah sehubungan dengan firman-Nya, "Masaluhum kamasalil lazis tauqada naran" bahwa sesungguhnya cahaya api itu adalah cahaya api yang dinyalakannya. Tetapi bila api itu padam, maka lenyaplah cahayanya. Demikian pula keadaan orang munafik, manakala dia mengucapkan kalimat Ikhlas รฏ¿½yaitu la ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah)รฏ¿½ ia berada dalam cahaya yang terang; tetapi jika ia ragu, maka terjerumuslah ia ke dalam kegelapan.

Ad-Dahhak mengatakan sehubungan dengan firman-Nya, "Zaha-ballahu binurihim." Cahaya api mereka merupakan perumpamaan bagi iman mereka yang selalu mereka bicarakan.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah mengenai firman-Nya: รฏ¿½Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya. (Al-Baqarah: 17) Yang dimaksud dengan api ialah perumpamaan kalimah la ilaha illal-lah (tidak ada Tuhan selain Allah). Api itu menerangi mereka hingga mereka dapat makan dan minum, dianggap beriman di dunia, melakukan pernikahan, serta darah mereka terpelihara. Tetapi di kala mereka mati, Allah menghilangkan cahaya mereka dan membiarkan mereka berada dalam keadaan yang sangat gelap, tidak dapat melihat.

Sa'id meriyawatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa orang munafik yang mengucapkan kalimah la ilaha illallah (tidak ada Tuhan selain Allah) memperoleh cahaya dalam kehidupan di dunia. Untuk itu, mereka dapat menikah dengan kaum muslim melalui kalimah tersebut dan berperang bersama kaum muslim, dapat waris-mewaris dengan mereka, dan darah serta hartanya terlindungi. Tetapi di saat ia mati, kalimah tersebut ia cabut karena di dalam hatinya tidak ada pangkalnya; pada amal perbuatannya pun tidak ada hakikat kenyataan. Maka pada ayat selanjutnya disebutkan: dan Allah membiarkan mereka dalam kegelapan tidak dapat melihat. (Al-Baqarah: 17)

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya, "Watarakahum fi zulumatil la yubsirun" yakni Allah meninggalkan mereka dalam kegelapan (maksudnya dalam azab) bila mereka mati.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya, "Watarakahum fi zulumatin," yakni mereka dapat melihat perkara hak dengan mata hatinya, dan mengatakannya hingga mereka dapat keluar dari kegelapan kekufuran. Akan tetapi, sesudah itu mereka memadamkannya melalui kekufuran dan kemunafikan mereka, akhirnya Allah membiarkan mereka dalam kegelapan kekufuran, hingga tidak dapat melihat hidayah dan tidak dapat berjalan lurus dalam perkara yang hak.

As-Saddi di dalam kitab tafsirnya meriwayatkan berikut sanadnya mengenai firman-Nya, "Watarakahum fi zulumatin," bahwa kegelapan tersebut merupakan perumpamaan bagi kemunafikan mereka.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa watarakahum fi zulumatin la yubsirun artinya hal tersebut terjadi ketika orang munafik mati. Maka amal perbuatan jahatnya merupakan kegelapan baginya, hingga dia tidak dapat menemukan suatu amal baik pun yang sesuai dengan kalimah la ilaha illallah.

Summun bukmun 'umyun, As-Saddi meriwayatkan berikut sanadnya sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa mereka bisu, buta serta tuli.

Ali Ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna summun bukmun 'umyun, bahwa mereka tidak dapat mendengar petunjuk, tidak dapat melihatnya, dan tidak dapat mem-haminya. Hal yang sama dikatakan pula oleh Abul Aliyah dan Qatadah ibnu Di'amah.

Fahum la yarji'una, menurut Ibnu Abbas mereka tidak dapat kembali ke jalan hidayah. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi' ibnu Anas.

As-Saddi meriwayatkan berikut sanadnya sehubungan dengan makna firman-Nya, "Summun bukmun 'umyun fahum la yarji'una," yakni mereka tidak dapat kembali kepada Islam. Sedangkan menurut Qatadah, mereka tidak dapat kembali itu maksudnya tidak dapat bertobat dan tidak pula mereka ingat.

Jumat, 20 Mei 2022

Al-Baqarah, ayat 7

Al-Baqarah, ayat 7

{ุฎَุชَู…َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َู‰ ู‚ُู„ُูˆุจِู‡ِู…ْ ูˆَุนَู„َู‰ ุณَู…ْุนِู‡ِู…ْ ูˆَุนَู„َู‰ ุฃَุจْุตَุงุฑِู‡ِู…ْ ุบِุดَุงูˆَุฉٌ ูˆَู„َู‡ُู…ْ ุนَุฐَุงุจٌ ุนَุธِูŠู…ٌ (7) }

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

Khatamallahu, menurut As-Saddi maknanya ialah "Allah mengunci mati."

Menurut Qatadah, ayat ini bermakna "setan telah menguasai mereka, mengingat mereka taat kepada keinginan setan, maka Allah mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka terdapat penutup. Mereka tidak dapat melihat jalan hidayah, tidak dapat mendengarnya, tidak dapat memahaminya, dan tidak dapat memikirkannya".

Ibnu Juraij mengatakan bahwa Mujahid pernah mengatakan sehubungan dengan makna khatamallahu 'ala qulubihim, bahwa makna at-tab'u ialah dosa-dosa telah melekat di hati dan meliputinya dari semua sisinya hingga menutupinya dengan rapat. Istilah menutup inilah yang dinamakan, yakni dilak.

Menurut Ibnu Juraij sendiri, yang terkunci mati ialah kalbu dan pendengarannya. Selanjutnya Ibnu Juraij mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Kasir, bahwa ia pernah mendengar Mujahid berkata, "Istilah ar-ran (kotoran) lebih ringan daripada istilah at-tab'u (tertutup rapat), sedangkan at-tab'u lebih ringan daripada al-iqfal (terkunci), dan al-iqfal lebih berat daripada kesemuanya."

Al-A'masy mengatakan bahwa Mujahid pernah berisyarat memperagakan kepadaku dengan tangannya tentang pengertian ini. Dia mengatakan, "Mereka berpendapat bahwa kalbu seseorang itu semisal dengan ini, yakni telapak tangannya. Apabila seseorang hamba melakukan suatu dosa, maka sebagian darinya tergenggam seraya menggenggamkan jari manisnya. Apabila dia berbuat dosa lagi, maka tergenggam pula yang lainnya seraya menggenggamkan jari yang lainnya, hingga semua jari jemari telapak tangannya tergenggam." Kemudian dia mengatakan, "Maka tertutup rapatlah kalbunya oleh dosa-dosa tersebut." Mujahid mengatakan pula, "Mereka memandang bahwa hal tersebutlah yang dinamakan kotoran dosa yang menutupi."

Ibnu Jarir meriwayatkan hal yang sama dari Kuraib, dari Waki', dari Al-A'masy, dari Mujahid.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa sebagian ulama mengatakan bahwa sesungguhnya makna firman-Nya: Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka. (Al-Baqarah: 7) merupakan berita dari Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang sifat takabur orang-orang kafir dan berpalingnya mereka dari perkara hak yang disampaikan kepada mereka, yakni mereka tidak mau mendengarkannya. Perihalnya sama dengan perkataan seseorang, "Sesungguhnya si Fulan tuli, tidak mau mendengar perkataan ini," yakni bila dia tidak mau mendengarkannya dan merasa tinggi diri, tidak mau memahaminya karena takabur.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat ini tidak benar, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberitahukan bahwa Dialah yang mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka.

Az-Zamakhsyari mengulas dengan pembahasan panjang lebar dalam menyanggah apa yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir tadi, dan Az-Zamakhsyari menakwilkan makna ayat dari lima hipotesis, tetapi semuanya itu lemah sekali. Menurut kami, tiada yang mendorongnya berbuat demikian melainkan hanya aliran mu'tazilah yang dianutnya. Alasan yang dikemukakannya ialah bahwa makna "mengunci mati hati mereka dan membuatnya menolak untuk menerima perkara yang disampaikan kepadanya" merupakan suatu hal yang buruk (jahat) menurut Az-Zamakhsyari, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Tinggi dari perbuatan tersebut; demikianlah keyakinannya.

Akan tetapi, seandainya dia memahami firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mengatakan:

ูَู„َู…َّุง ุฒุงุบُูˆุง ุฃَุฒุงุบَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู‚ُู„ُูˆุจَู‡ُู…ْ

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. (Ash-Shaff: 5)

ูˆَู†ُู‚َู„ِّุจُ ุฃَูْุฆِุฏَุชَู‡ُู…ْ ูˆَุฃَุจْุตุงุฑَู‡ُู…ْ ูƒَู…ุง ู„َู…ْ ูŠُุคْู…ِู†ُูˆุง ุจِู‡ِ ุฃَูˆَّู„َ ู…َุฑَّุฉٍ ูˆَู†َุฐَุฑُู‡ُู…ْ ูِูŠ ุทُุบْูŠุงู†ِู‡ِู…ْ ูŠَุนْู…َู‡ُูˆู†َ

Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur'an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (Al-An'am: 110)

Masih banyak ayat serupa lainnya yang menunjukkan bahwa sesungguhnya Allah Swt. mengunci mati kalbu orang-orang kafir dan menghalang-halangi antara mereka dan hidayah, hanyalah sebagai balasan yang setimpal atas perbuatan mereka yang terus-menerus tenggelam di dalam kebatilan dan mereka tidak mau mengikuti perkara yang hak. Hal ini merupakan keadilan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala sebagai sikap yang baik, bukan yang buruk. Seandainya Az-Zamakhsyari menyadari hal ini, niscaya dia tidak akan mengeluarkan pendapatnya itu.

Al-Qurtubi mengatakan, para ulama sepakat bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menyifati diri-Nya berlaku mengunci mati dan mengelak kalbu orang-orang kafir sebagai balasan yang setimpal atas kekufuran mereka, sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

ุจَู„ْ ุทَุจَุนَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ุง ุจِูƒُูْุฑِู‡ِู…ْ

Sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya. (An-Nisa: 155)

Selanjutnya Al-Qurtubi menyebutkan hadis yang menceritakan tentang berbolak-baliknya hati, yaitu:

"ูˆَูŠَุง ู…ُู‚َู„ِّุจَ ุงู„ْู‚ُู„ُูˆุจِ ุซَุจِّุชْ ู‚ُู„ُูˆุจَู†َุง ุนَู„َู‰ ุฏِูŠู†ِูƒَ"

Wahai Tuhan yang membolak-balikkan kalbu, tetapkanlah kalbu kami dalam agama-Mu.

Ia mengetengahkan hadis Huzaifah yang terdapat di dalam kitab Sahih, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

"ุชُุนْุฑَุถُ ุงู„ْูِุชَู†ُ ุนَู„َู‰ ุงู„ْู‚ُู„ُูˆุจِ ูƒَุงู„ْุญَุตِูŠุฑِ ุนُูˆุฏًุง ุนُูˆุฏًุง ูَุฃَูŠُّ ู‚َู„ْุจٍ ุฃُุดْุฑِุจَู‡َุง ู†ُูƒِุชَ ูِูŠู‡ِ ู†ُูƒْุชَุฉٌ ุณَูˆْุฏَุงุกُ ูˆَุฃَูŠُّ ู‚َู„ْุจٍ ุฃَู†ْูƒَุฑَู‡َุง ู†ُูƒِุชَ ูِูŠู‡ِ ู†ُูƒْุชَุฉٌ ุจَูŠْุถَุงุกُ، ุญَุชَّู‰ ุชَุตِูŠุฑَ ุนَู„َู‰ ู‚َู„ْุจَูŠْู†ِ: ุนَู„َู‰ ุฃَุจْูŠَุถَ ู…ِุซْู„ِ ุงู„ุตَّูَุงุกِ ูَู„َุง ุชَุถُุฑُّู‡ُ ูِุชْู†َุฉٌ ู…َุง ุฏَุงู…َุชِ ุงู„ุณَّู…َูˆَุงุชُ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถُ، ูˆَุงู„ْุขุฎَุฑُ ุฃَุณْูˆَุฏُ ู…ُุฑْุจَุงุฏٌّ ูƒَุงู„ْูƒُูˆุฒِ ู…ُุฌَุฎِّูŠًุง ู„َุง ูŠَุนْุฑِูُ ู…َุนْุฑُูˆูًุง ูˆَู„َุง ูŠُู†ْูƒِุฑُ ู…ُู†ْูƒَุฑًุง"

Berbagai macam fitnah (dosa) ditampilkan pada kalbu bagaikan tikar yang dianyam sehelai demi sehelai. Hati siapa yang melakukannya, maka dosa itu membuat suatu noktah hitam padanya; dan hati siapa yang mengingkarinya, maka terukirlah padanya suatu sepuhan yang putih. Hingga hati manusia itu ada dua macam, yaitu ada yang putih semisal warna yang jernih; hati yang ini tidak akan tertimpa bahaya oleh suatu dosa pun selagi masih ada langit dan bumi. Sedangkan hati yang lainnya tampak hitam kelam seperti tembikar yang hangus terbakar, ia tidak mengenal perkara yang makruf dan tidak ingkar terhadap perkara yang mungkar... hingga akhir hadis.

Ibnu Jarir mengatakan, "Menurut kami, yang benar sehubungan dengan masalah ini adalah sebuah hadis sahih yang bermakna semisal dari Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam, yaitu sebuah hadis yang diceritakan kepada kami oleh Muhammad ibnu Basysyar; dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ajlan, dari Al-Qa'qa', dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam pernah bersabda:

ุฅِู†َّ ุงู„ْู…ُุคْู…ِู†َ ุฅِุฐَุง ุฃَุฐْู†َุจَ ุฐَู†ْุจًุง ูƒَุงู†َุชْ ู†ُูƒْุชุฉ ุณَูˆْุฏَุงุกُ ูِูŠ ู‚َู„ْุจِู‡ِ ูَุฅِู†ْ ุชَุงุจَ ูˆู†ุฒุนَ ูˆَุงุณْุชَุนْุชَุจَ ุตُู‚ِู„َ ู‚َู„ْุจُู‡ُ، ูˆَุฅِู†ْ ุฒَุงุฏَ ุฒَุงุฏَุชْ ุญَุชَّู‰ ุชَุนْู„ُูˆَ ู‚َู„ْุจَู‡ُ، ูَุฐَู„ِูƒَ ุงู„ุฑَّุงู†ُ ุงู„َّุฐِูŠ ู‚َุงู„َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰: {ูƒَู„ุง ุจَู„ْ ุฑَุงู†َ ุนَู„َู‰ ู‚ُู„ُูˆุจِู‡ِู…ْ ู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَูƒْุณِุจُูˆู†َ}

Sesungguhnya orang mukmin itu apabila berbuat suatu dosa, maka hal itu merupakan noktah hitam pada hatinya. Tetapi jika dia bertobat dan kapok serta menyesali, maka tersepuhlah hatinya (menjadi bersih kembali). Tetapi apabila dosanya bertambah, maka bertambah pulalah noktah hitam itu hingga (lama-kelamaan) menutupi hatinya, yang demikian itulah yang dimaksudkan dengan istilah ar-ran di dalam firman-Nya, "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi mereka." (Al-Muthaffifin: 14)

Hadis ini dari segi yang sama diriwayatkan pula oleh Imam Turmuzi dan Imam Nasai, dari Qutaibah, Lais ibnu Sa'd dan Ibnu Majah, dari Hisyam ibnu Ammar, dari Hatim ibnu Ismail dan Al-Walid ibnu Muslim, semuanya berasal dari Muhammad ibnu Ajlan dengan lafaz yang sama. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan sahih.

Kemudian Ibnu Jarir mengatakan, "Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam telah memberitakan bahwa dosa-dosa itu apabila berturut-turut membuat noktah hitam pada hati maka ia akan menutup hati. Apabila telah tertutup, maka saat itulah dilakukan penguncian oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dan dilak. Setelah itu tiada jalan bagi iman untuk menembusnya dan tiada jalan keluar bagi kekufuran untuk meninggalkannya."

Pengertian inilah yang dimaksud oleh istilah penguncian dan pengelakan yang dinyatakan di dalam firman-Nya: Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka. (Al-Baqarah: 7)

Pengertian ini diserupakan dengan penguncian dan pengelakan hal yang dapat diinderawi dengan mata, yakni diserupakan dengan wadah dan botol yang tidak dapat diambil isinya kecuali dengan membuka dan memutar tutupnya. Dengan kata lain, demikian pula iman; tidak dapat sampai ke dalam kalbu orang-orang yang disifati oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala hati dan pendengaran mereka telah dikunci mati, kecuali setelah membuka dan melepaskan penutup yang menguncinya.

Perlu diketahui bahwa waqaf yang sempurna (menghentikan bacaan secara total) pada firman-Nya:

ุฎَุชَู…َ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู„ู‰ ู‚ُู„ُูˆุจِู‡ِู…ْ ูˆَุนَู„ู‰ ุณَู…ْุนِู‡ِู…ْ

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka. (Al-Baqarah: 7)

ูˆَุนَู„ู‰ ุฃَุจْุตุงุฑِู‡ِู…ْ ุบِุดุงูˆَุฉٌ

dan penglihatan mereka ditutup. (Al-Baqarah: 7)

Menandakan masing-masing sebagai jumlah yang sempurna. Dengan kata lain, penguncian dilakukan terhadap hati dan pendengaran, sedangkan penutupan terjadi pada penglihatan. Sebagaimana yang dikatakan As-Saddi di dalam kitab Tafsir-nya, dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah Al-Hamdani, dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu dan dari sejumlah sahabat Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam sehubungan dengan firman-Nya: Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka. (Al-Baqarah: 7)

As-Saddi mengatakan, "Karena itu, mereka (orang-orang kafir) tidak dapat berpikir dan tidak dapat pula mendengarnya." Disebutkan pula, "Dan penglihatan mereka ditutup," makna yang dimaksud ialah pada penglihatan mereka ada penutupnya hingga mereka tidak dapat melihat perkara yang hak.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Sa'd, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepadaku pamanku (Al-Husain ibnul Hasan), dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ibnu Abbas, bahwa Allah telah mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka, sedangkan penutup terdapat pada penglihatan mereka. Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain (yakni Abu Daud), telah menceritakan kepadaku Hajjaj (yakni Ibnu Muhammad Al-A'war), telah menceritakan kepadaku Ibnu Juraij yang pernah mengatakan bahwa penguncian terjadi pada hati dan penglihatan, sedangkan penutupan terjadi pada penglihatan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:

ูَุฅِู†ْ ูŠَุดَุฅِ ุงู„ู„َّู‡ُ ูŠَุฎْุชِู…ْ ุนَู„ู‰ ู‚َู„ْุจِูƒَ

Maka jika Allahรฏ¿½ menghendaki,รฏ¿½ niscaya Diaรฏ¿½ mengunci mati hatimu. (Asy-Syura: 24)

ูˆَุฎَุชَู…َ ุนَู„ู‰ ุณَู…ْุนِู‡ِ ูˆَู‚َู„ْุจِู‡ِ ูˆَุฌَุนَู„َ ุนَู„ู‰ ุจَุตَุฑِู‡ِ ุบِุดุงูˆَุฉً

Dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. (Al-Jatsiyah: 23)

Ibnu Jarir mengatakan lafaz gisyawah pada firman-Nya, "Wa'ala absarihim gisyawatan" (Al-Baqarah: 7), barangkali yang me-nasab-kannya adalah fi'il yang tidak disebutkan. Bentuk lengkapnya ialah wa-ja'ala 'ala absarihim gisyawatan (Dan Dia menjadikan pada penglihatan mereka penutup). Barangkali nasab-nya itu karena mengikut kepada mahall i'rab dari lafaz wa 'ala sam'ihim, sebagaimana i'rab ittiba' pada firman-Nya:

ูˆَุญُูˆุฑٌ ุนِูŠู†ٌ

Dan (mereka dikelilingi oleh) bidadari-bidadari yang bermata jeli. (Al-Waqi'ah: 22)

Demikian pula pada perkataan seorang penyair, yaitu:

ุนَู„َูْุชُู‡َุง ุชِุจْู†ًุง ูˆَู…َุงุกً ุจَุงุฑِุฏًุง ... ุญَุชَّู‰ ุดَุชَุชْ ู‡َู…َّุงู„َุฉً ุนูŠู†ุงู‡ุง

ูˆَุฑَุฃَูŠْุชُ ุฒَูˆْุฌَูƒِ ูِูŠ ุงู„ْูˆَุบَู‰ ... ู…ُุชَู‚َู„ِّุฏًุง ุณَูŠْูًุง ูˆَุฑُู…ْุญًุง

Aku beri dia makan makanan ternak dan kuberi dia minum air yang sejuk, hingga terhapuslah belek pada kedua matanya, dan aku lihat suamimu berada dalam pertempuran menyandang pedang dan memanggul tombak.

Bentuk lengkapnya ialah wasaqaituha ma-an baridan dan mu'taqilan bumhan.

Setelah disebutkan sifat orang-orang mukmin dalam permulaan surat melalui empat ayat yang mengawalinya, kemudian diperkenalkan pula keadaan orang-orang kafir melalui dua ayat berikutnya, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala mulai menjelaskan keadaan orang-orang munafik. Orang-orang munafik adalah mereka yang menampakkan lahiriahnya seakan-akan beriman, sedangkan di dalam batin mereka memendam kekufuran. Mengingat perkara mereka membingungkan kebanyakan orang, maka Allah Swt. mengetengahkan perihal mereka dalam pembahasan yang cukup panjang dengan menyebutkan sifat dan ciri khas yang beraneka ragam, tetapi masing-masing ragam dan bentuk tersebut merupakan ciri khas kemunafikan tersendiri. Sebagaimana Allah pun menyebutkan perihal mereka dalam surat Baraah (surat At-Taubah), surat Munafiqun, dan surat An-Nur serta surat-surat lainnya, untuk memperkenalkan keadaan dan sepak terjang mereka agar dihindari dan jangan sampai orang yang belum mengetahuinya terjerumus ke dalamnya.

Kamis, 19 Mei 2022

Al-Baqarah, ayat 16

Al-Baqarah, ayat 16
{ุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุงุดْุชَุฑَูˆُุง ุงู„ุถَّู„ุงู„َุฉَ ุจِุงู„ْู‡ُุฏَู‰ ูَู…َุง ุฑَุจِุญَุชْ ุชِุฌَุงุฑَุชُู‡ُู…ْ ูˆَู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ู…ُู‡ْุชَุฏِูŠู†َ (16) }

Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk


As-Saddi (As-Suda) di dalam kitab tafsirnya mengatakan dari Abu Malik, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas, juga dari Murrah, dari Ibnu Mas'ud, dari sejumlah sahabat sehubungan dengan makna firman-Nya, "Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk." Yang dimaksud ialah mereka mengambil kesesatan dan meninggalkan hidayah.

Ibnu Ishaq mengatakan dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya, "Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk," yakni membeli kekufuran dengan keimanan.

Menurut mujahid, makna yang dimaksud ialah pada mulanya mereka beriman, kemudian kafir.

Qatadah mengatakan, maksudnya ialah mereka lebih menyukai kesesatan daripada hidayah (petunjuk). Pendapat Qatadah ini mirip dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

ูˆَุฃَู…َّุง ุซَู…ُูˆุฏُ ูَู‡َุฏَูŠْู†ุงู‡ُู…ْ ูَุงุณْุชَุญَุจُّูˆุง ุงู„ْุนَู…ู‰ ุนَู„َู‰ ุงู„ْู‡ُุฏู‰

Dan adapun kaum Samud, maka mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu. (Fushshilat 17)

Kesimpulan dari pendapat semua ahli tafsir tentang hal-hal yang telah kami sebutkan ialah 'orang-orang munafik itu menyimpang dari jalan petunjuk dan menempuh jalan kesesatan, mereka menukar hidayah dengan kesesatan'. Pengertian inilah yang dimaksud oleh firman-Nya:

{ุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุงุดْุชَุฑَูˆُุง ุงู„ุถَّู„ุงู„َุฉَ ุจِุงู„ْู‡ُุฏَู‰}

Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk. (Al-Baqarah: 16)

Dengan kata lain, mereka melepaskan hidayah sebagai ganti kesesatan. Dalam hal ini sama saja apakah dia berasal dari orang yang tadinya beriman, kemudian kafir, sebagaimana yang dinyatakan di dalam firman-Nya:

ูِูŠู‡ِู…ْ ุฐู„ِูƒَ ุจِุฃَู†َّู‡ُู…ْ ุขู…َู†ُูˆุง ุซُู…َّ ูƒَูَุฑُูˆุง ูَุทُุจِุนَ ุนَู„ู‰ ู‚ُู„ُูˆุจِู‡ِู…ْ

Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi), lalu hati mereka dikunci mati. (Al-Munafiqun: 3).

Atau dari kalangan mereka lebih menyukai kesesatan daripada hidayah, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian dari kalangan mereka (orang-orang munafik), dan memang mereka itu terdiri atas berbagai macam golongan. Karena itu, pada ayat selanjutnya Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

{ูَู…َุง ุฑَุจِุญَุชْ ุชِุฌَุงุฑَุชُู‡ُู…ْ ูˆَู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ู…ُู‡ْุชَุฏِูŠู†َ}

Maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (Al-Baqarah: 16)

Perniagaan mereka yang demikian itu tidak membawa keuntungan, dan tidaklah mereka mendapat petunjuk, yakni tidak memperoleh bimbingan dalam perbuatannya itu.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Basyir, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Qatadah sehubungan dengan firman-Nya, "Maka tidaklah beruntung perniagaannya dan tidaklah mereka mendapat petunjuk" (Al-Baqarah: 16). Demi Allah, kalian telah melihat mereka keluar dari hidayah menuju jalan kesesatan, dari persatuan menjadi perpecahan, dari aman menjadi ketakutan, dan dari sunnah menjadi bid'ah. Demikian pula menurut riwayat Ibnu Abu Hatim melalui hadis Yazid ibnu Zurai', dari Sa'id, dari Qatadah dengan makna yang sama.