Sabtu, 12 November 2022

Kisah Inspiratif Ular vs Manusia: Kebaikan Takkan Pernah Sia-sia.


Kisah Inspiratif Ular vs Manusia: Kebaikan Takkan Pernah Sia-sia

Kadang kita telah ikhlas mengorbankan waktu, pikiran bahkan harta benda, untuk menolong orang lain, tapi orang yang kita bantu justru memandang sebelah mata, bahkan berbuat jahat kepada kita. Lalu bagaimana kita menyikapinya? Berikut ini kisah ular versus manusia, tentang kebaikan yang tak akan pernah sia-sia.
 

***


Alkisah, ada laki-laki bernama Muhammad Ibnu Hamir yang siang rajin berpuasa dan malam beribadah qiyamul lail. Suatu saat ia pergi berburu hewan. Di tengah perjalanan ada ular yang menghadangnya. Lalu terjadilah dialog di antara keduanya.
            

Si Ular: “Hai Muhammad, tolong selamatkan diriku.”


Ibnu Hamir: “Dari siapa?”


Si Ular: “Dari musuhku. Dia berbuat jahat kepadaku.”


Ibnu Hamir: “Musuhmu siapa?”


Si Ular: “Musuhku ada di belakangku.”


Ibnu Hamir: “Kamu dari golongan umat siapa?”


Ular: “Dari umat Muhammad saw.”

 

***


Seketika itu Ibnu Hamir membuka selendangnya dan berkata: 


“Masuk selendang sini aja.”


Si Ular: “Kalau aku di dalam selendang, musuhku akan tahu.”


Ibnu Hamir: “Lalu apa yang harus aku lakukan?”


Si Ular: “Jika kamu sudi berbuat baik kepadaku, bukalah mulutmu hingga aku masuk ke sana.”


Ibnu Hamir: “Aku khawatir kamu akan membunuhku.”


Si Ular: “Tidak, demi Allah. Tak mungkin aku tega membunuhmu.”


Kemudian Ibnu Hamir perlahan membuka mulutnya, dan Si Ular pun segera masuk ke dalam tubuhnya.


***


Setelah Ibnu Hamir meneruskan perjalanan, ia berpapasan dengan orang yang membawa parang yang ternyata adalah musuh di ular. 


Si Musuh: “Hai Muhammad!”


Ibnu Hamir: “Ada yang bisa ku bantu?”


Si Musuh: “Apakah kau bertemu dengan musuhku?”


Ibnu Hamir: “Musuhmu siapa?”


Si Musuh: “Musuhku seekor ular.”


Ibnu Hamir: “Maaf aku tidak tahu.” 


Demikian ucap Ibnu Hamir menutup-nutupi sembari mengucapkan istighfar 100 kali, karena sebenarnya ia mengetahui di mana Si Ular bersembunyi. 


***


Perlahan Ibnu Hamir melangkahkan kaki meneruskan perjalanan. Setelah cukup jauh Si Ular pun mengeluarkan kepalanya.


Si Ular: “Sudahkah musuhku pergi dari sini?”


Ibnu Hamir: “Ku lihat kiri kanan, tiada siapapun. Jika ingin keluar silahkan.”


Si Ular: “Hai Muhammad, ada dua opsi untukmu. (1) Kau pilih aku hancurkan limpamu dari dalam; atau (2) aku lubangi hatimu ini dan ku biarkan dirimu tanpa ruh!”


Ibnu Hamir: “Subhanallah … Lho di mana janji yang telah kau ucapkan?” Apakah kau lupa dengan sumpahmu? Kok cepat banget kamu melupakannya?”


Si Ular: “Mengapa kamu lupa permusuhanku dengan moyangmu, Nabi Adam, dimana aku membuatnya keluar dari surga. Salahmu sendiri, atas dasar apa kau lakukan kebaikan kepada makhluk yang tak sepantasnya diperlakukan secara baik?”


Ibnu Hamir tak menyangka jawaban keji dari ular yang telah ditolongnya sampai-sampai terpaksa berbohong pula. 


Ibnu Hamir: “Kau yakin akan membunuhku?”


Si Ular: “Iya, pasti.”


Ibnu Hamir: “Kalau gitu, tunggu sebentar hingga aku naik ke gunung untuk menyiapkan diri.”


Si Ular: “Silahkan berbuat semaumu.”


Lalu Muhammad bin Hamir pun naik ke atas gunung di tengah keputusasaan, tak ada harapan lagi untuk hidup di dunia. 
 

***


Sesampai di puncak, Ibnu Hamir menatap arah langit sembari berdoa:


يَا لَطِيفُ، يَا لَطِيفُ، اُلْطُفْ بِي بِلُطْفِكَ الْخَفِيِّ. يَا لَطِيفُ، بِالْقُدْرَةِ الَّتِي اسْتَوَيْتَ بِهَا عَلَى الْعَرْشِ، فَلَمْ يَعْلَم الْعَرْشُ أَيْنَ مُسْتَقِرُّكَ إِلَّا مَا كَفَيْتَنِيْ هَذِهِ الْحَيَّةَ


Artinya, “Wahai Allah Dzat Yang Mahalembut, wahai Allah Dzat Yang Mahalembut, berlaku lembutlah kepadaku dengan kelembutan-Mu yang samar. Wahai Allah Dzat Yang Mahalembut, dengan kekuasan-Mu yang denganya Engkau menguasai Arsy’, lalu Arsy pun tidak mengetahui di mana kekuasan-Mu, kecuali tidak Engkau lindungi diriku dari kejahatan ular ini.” 
 

***


Ibnu Hamir kemudian melanjutkan jalannya. Tak disangka, seketika itu ada sosok lelaki rupawan, berbau harum wangi, dan sangat bersih, yang menghampirinya. 


Si Rupawan: “Salamun 'alaika, hai Muhammad. Kenapa kau kelihatan sedih? Ada apa gerangan?”


Ibnu Hamir: “Wa’alaikassalam, hai sudaraku. Musuhku telah berbuat jahat kepadaku.”


Si Rupawan: “Musuhmu di mana?”


Ibnu Hamir: “Di dalam perutku.”


Sejurus kemudian Si Rupawan itu memberikan suatu daun hijau seperti daun Zaitun kepada Ibnu Hamir, sambil berkata:


“Hai Muhammad, kunyahlah daun ini. Setelah itu kau telan.”


Tak terduga, seketika Ibnu Hamir mengunyah dan menelannya, Si Ular berputar-putar di dalam perutnya dan keluar berkeping-keping dari arah bawah atau duburnya. 


Menyaksikan keajaiban itu, Ibnu Hamir memegang baju Si Rupawan dan bertanya:


“Siapa sebenarnya dirimu, dimana Allah telah menyelamatkanku dengan perantara dirimu?"

 

"Apakah kamu belum kenal diriku, hai Muhammad?”, kata Si Rupawan setelah sebelumnya tertawa karena ketidaktahuan Ibnu Hamir.


Ibnu Hamir: “Belum.”


Si Rupawan: “Mengertilah wahai Muhammad bin Hamir! Saat kau dianiaya oleh Si Ular dan kau berdoa dengan doa tadi, para malaikat di langit mengadu kepada Allah swt dan Allah pun segera mengutus diriku datang menolongmu. Aku adalah malaikat Ma’ruf yang tinggal di langit keempat. Dikatakan kepadaku: 


'Pergilah ke Surga, ambil daun berwarna hijau, dan segera berikan kepada hamba-Ku, Muhammad bin Hamir.'


Karena itu, wahai Muhammad, tetaplah berbuat baik kepada orang lain. Karena perbuatan baik itu akan menjaga pelakunya dari keburukan. Meskipun orang yang dibaiki—atau diperlakukan secara baik—tidak memedulikannya, namun di sisi Allah kebaikan tidak akan pernah akan tersia-sia."


***


Demikian kisah ini disampaikan oleh Syekh Ahmad bin Hijazi al-Fasyani. Kisah ini secara persis dapat disimak dalam kitabnya al-Majalisus Saniyyah. (Ahmad bin Hijazi al-Fasyani, al-Majalisus Saniyah fil Kalam 'alal Arba'in An-Nawawiyah, [Semarang, Maktabah al-‘Alawiyah], halaman 40).


Kisah tersebut mengilhami kepada kita, kebaikan kita kepada orang lain tidak akan pernah sia-sia. Walaupun orang yang diberi kebaikan tidak membalas, atau bahkan ia tidak mengakuinya, namun sudah menjadi sunnatullah, kebaikan pasti akan dibalas oleh Allah swt. Kebaikan tidak akan pernah sia-sia. Bahkan kebaikan akan menyelamatkan kita dari arah yang tidak terduga. 


Berbuat baiklah kepada semua orang



Wallahua’lam


Jumat, 11 November 2022

Jadilah 1 di Antara 7 Golongan yang Dinaungi Allah pada Hari Kiamat


Jadilah 1 di Antara 7 Golongan yang Dinaungi Allah pada Hari Kiamat
Bagi umat muslim yang mengisi hidupnya dengan ketaatan maka kelak di Hari Kiamat akan mendapat naungan Allah Taala. Foto/Ist
Bagi umat muslim yang mengisi hidupnya dengan ketaatan, maka hisabnya akan dipermudah. Sebaliknya, orang yang mengisi hidupnya dengan catatan buruk maka ia akan menghadapi hisab yang berat. 

Karena itu jadilah satu di antara 7 golongan yang mendapat naungan Allah pada Hari Kiamat. Rasulullah صلى الله عليه وسلم (SAW) mengabarkan ada 7 golongan manusia yang akan dinaungi Allah pada Hari Kiamat. 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi shollallohu 'alaihi wasallam bersabda: "Tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam/pemimpin yang adil, (2) Seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, (3) Seorang yang hatinya terpaut/bergantung ke masjid, (4) Dua orang yang saling mencintai di jalan Allah, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) Seorang laki-laki yang diajak berzina oleh wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, 'Sesungguhnya aku takut kepada Allah.' (6) Seseorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, dan (7) Seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sepi lalu ia menangis meneteskan air matanya." (HR Al-Bukhari, Muslim)

Inilah golongan pertama yang mendapat naungan Allah di Hari Kiamat. Bersikap adil ketika memimpin tidaklah mudah. Dalam satu hadis riwayat Imam Muslim, Nabi berpesan: "Sesungguhnya orang-orang yang adil kelak di sisi Allah berada di tempat-tempat yang tinggi (mimbar) yang terbuat dari cahaya, di sebelah kanan Zat Yang Maha Pengasih. Kedua tangannya merupakan tangan kanan orang-orang yang adil dalam keputusan mereka, keluarga mereka dan apa-apa yang dikuasakan kepada mereka."

2. Pemuda yang Tumbuh Dewasa Beribadah kepada Allah
Golongan kedua adalah pemuda yang tumbuh dewasa dan mengisi hidupnya beribadah kepada Allah. Allah benar-benar mengagumi seorang pemuda yang tidak memliki shabwah. Maksudnya adalah pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya. Dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan. 

3. Laki-laki yang Hatinya Terpaut dengan Masjid
Golongan berikutnya yaitu laki-laki yang hatinya selalu bergantung dengan Masjid. Inilah salah satu ciri mukmin sejati yang senantiasa menjaga sholat 5 waktu di masjid. Ia menjadikan masjid sebagai tempat yang sangat penting sebagaimana Allah menyukainya. 

4. Dua Orang yang Saling Mencintai karena Allah 
Seorang hamba yang mencintai saudaranya karena Allah maka ia akan meraih kemuliaan dari Allah. Rasulullah SAW pernah bersabda: "Tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah kecuali yang paling dicintai Allah adalah yang paling besar kecintaan pada saudaranya." (HR Ibnu Hibban) 

5. Laki-laki yang Menolak Ajakan Zina Wanita Cantik yang Mempunyai Kedudukan 
Dalam Islam, perbuatan zina adalah dosa besar. Apalagi dilakukan dengan wanita yang tidak halal baginya. Nabi bersabda, "Tidak ada dosa yang lebih berat setelah syirik di sisi Allah dari seorang laki-laki yang menaruh spermanya di dalam rahim wanita yang tidak halal baginya." Laki-laki yang berzina termasuk di antara golongan yang tidak diajak bicara oleh Allah pada Hari Kiamat. Maka betapa besarnya pahala laki-laki yang menolak ajakan zina dari seorang wanita cantik yang punya kekuasaan.

6. Orang yang Bersedekah dan Merahasiakannya 
Pada hari Kiamat, Allah akan memberi naungan bagi orang-orang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi. Sedekah yang paling baik adalah kesungguhan dari orang yang sedikit hartanya, lalu ia menyerahkan sebagian hartanya kepada fakir miskin dengan cara dirahasiakan. 

7. Orang yang Berdzikir Sendiri Hingga Meneteskan Air Mata
Golongan terakhir yang mendapat naungan Allah di Hari Kiamat adalah orang yang meneteskan air matanya ketika berdzikir dalam keadaan sepi. Dalam satu riwayat disebutkan, ''Siapa saja yang berdzikir kepada Allah kemudian mengalir air matanya hingga menetes ke tanah disebabkan rasa takutnya kepada Allah, niscaya Allah tidak akan menyiksanya pada hari kiamat.'' (HR Al-Hakim).

Demikian tujuh golongan manusia yang selamat dan mendapat naungan Allah pada Hari Kiamat. Semoga kita termasuk salah satu di antaranya. Aamiin!

Baca Juga: Sedihnya Amalan Segunung Tapi Bangkrut di Hari Kiamat, Ini Sebabnya
(Ustadz Yachya Yusliha)

Rabu, 09 November 2022

Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 5: Tiga Tujuan Diciptakannya Bintang di Langit


Tafsir Surat Al-Mulk Ayat 5: Tiga Tujuan Diciptakannya Bintang di Langit
Gemerlap bintang di langit seakan-akan rumah yang berhiaskan lampu-lampu. Setiap orang yang memandangnya akan merasakan hati yang tenang. Foto ilustrasi/dok peakpx
Bukti kekuasaan Allah tidak hanya menciptakan langit dan bumi. Lebih dari itu, Allah menciptakan bintang yang indah untuk menghias langit terdekat dari bumi. Demikian firman-Nya dalam Al-Qur'an Surat Al-Mulk ayat 5.

Para Ulama menerangkan setidaknya ada tiga tujuan Allah menciptakan bintang di langit. Berikut ini kami uraikan tafsir Surat Al-Mulk ayat 5. 

وَلَـقَدۡ زَيَّـنَّا السَّمَآءَ الدُّنۡيَا بِمَصَابِيۡحَ وَجَعَلۡنٰهَا رُجُوۡمًا لِّلشَّيٰطِيۡنِ‌ وَاَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ عَذَابَ السَّعِيۡرِ

Wa laqad zayyannas samaaa -ad dunyaa bimasaa biiha wa ja'alnaahaa rujuumal lisy syayaatiini wa a'tadnaa lahum 'adzaabas sa'iir.

Artinya: "Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami jadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala." (Surat Al-Mulk ayat 5)

Betapa agungnya ciptaan Allah. Dia menghias langit terdekat ke bumi dengan matahari yang bercahaya terang pada siang hari. Bulan dan bintang-bintang bersinar pada malam hari yang dapat disaksikan langsung oleh manusia. 



Bintang-bintang bersinar itu terlihat oleh manusia seakan-akan rumah yang berhiaskan lampu-lampu yang gemerlapan pada malam hari. Setiap orang yang memandangnya akan merasakan hati yang tenang.

3 Tujuan Penciptaan Bintang
Dalam Tafsir ringkas Kemenag disebutkan ada tiga tujuan penciptaan bintang di langit sebagaimana disebutkan oleh Qatadah. Sesungguhnya Allah menciptakan bintang-bintang ini untuk tiga hal: (1) Hiasan bagi Langit, (2) Untuk melempar setan, (3) Sebagai petunjuk arah dan alamat bagi para musafir yang sedang dalam perjalanan, baik di darat, laut, maupun di ruang angkasa yang sangat luas ini. 

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan makna bintang sebagai alat pelempar setan. 

{وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ}

"Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan." 

Damir yang terdapat di dalam lafaz waja'alnaha kembali kepada jenis dari al-Masabih, bukan kepada bentuknya. Karena sesungguhnya bintang-bintang yang ada di langit tidaklah digunakan untuk melempari setan-setan. 

Akan tetapi yang dipakai ialah nyala api yang lebih kecil daripada bintang-bintang itu sendiri. Atau barangkali nyala api itu bersumber darinya. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. 

Demikian tafsir Surat Al-Mulk ayat 5. Allah menciptakan bintang-bintang menghiasi alam raya yang tidak terhitung banyaknya. Semua itu dapat dimanfaatkan manusia sesuai dengan keinginan yang hendak dicapainya.

Wallahu A'lam

Pesan Ketua Umum H. Riza Fachrial, SE di Hari Ulang Tahun RAPI ke-42 dan Hari Pahlawan


Tanggal 10 November setiap tahunnya adalah hari yang sangat istimewa bagi seluruh keluarga besar  RAPI (Radio Antar Penduduk Indonesia), selain memperingati Hari Pahlawan, seluruh anggota juga memperingati ulang tahun RAPI. 10 November 2022 ini adalah ulang tahun RAPI tepat yang ke-42 tahun.

Eksistensi organisasi RAPI yang tersebar di seluruh Indonesia dengan anggota yang sangat besar tidak lepas dari soliditas yang dibangun antara pengurus dan anggota.


Ketua Umum RAPI Nasional H. Riza Fachrial, SE sebagai pemimpin organisasi menyampaikan pesan singkat, “Pada hari Ulang Tahun RAPI ke-42 dan Hari Pahlawan ini, dengan kerendahan hati saya menyampaikan rasa bangga saya kepada seluruh keluarga besar RAPI dari tingkat pusat hingga seluruh daerah, untuk terus menjaga dan meningkatkan soliditas, serta terus memberikan kontribusi positif pada masyarakat luas.”

Sebagai informasi, berikut sejarah singkat RAPI

Komunikasi Radio Antar Penduduk ( KRAP ) adalah komunikasi radio yang pada awalnya mengugunakan band frekwensi 26.965.0 – 27.405  Mhz yang di negara asalnya Amerika Serikat terkenal dengan nama Citizen Band Radio ( CB ) . Sejak tahun 1958 di AS secara resmi radio CB telah dilegalisir penggunaannya sebagai alat kominikasi radio antar penduduk  dan sebagai organisasi dengan dikelola oleh Federal Communication Commision ( FCC ) yang bertugas mengendalikan dan membina para penggemarnya yang semakin banyak .

Mulai era 70 -an penggunaan CB merambah di Bumi Nusantara Indonesia dan terus berkembang walaupun penggunaannya masih belum terkendali karena belum ada ketentuan yang mengaturnya .

Kebijakan pemerintah melalui Menteri Perhubungan telah menetapkan SK MENHUB RI No.S1.11 / Hkn 501 / Phb-80 tanggal 6 oktober 1980 tentang perijinan penggunaan radio antar penduduk yang pelaksanaannya diatur melalui SK Dirjen Postel No.125 / Dirjen / 1980 yang menetapkan keputusan tentang  pendirian dan pengangkatan pengurus Pusat Organisasi Radio Antar Penduduk tertanggal 10 November 1980 . Untuk pelaksanaan keputusan diperlukan suatu organisasi yang bertugas membantu pemerintah dalam pengawasan dan pembinaan terhadap penyelenggaraan Komunikasi Radio Antar Penduduk ( KRAP ) .

Pada tanggal 31 Oktober 1980Dirjen Postel menunjuk Tim Formatur dengan surat No.6356 / OT.002 / Disfrek / 80 dengan tugas untuk membentuk organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia yang mempunyai kepentingan pengelolaan , pembinaan dan pengendalian komunikasi radio antar penduduk.

Tim formatur terdiri dari Purn.Brigjen TNI Soedarto, Eddie Marzuki Nalapraya ( Kasgar Ibukota ), Sutikno Buchari ( Pengguna KRAP ), A.Pratomo ,Bc.T.T ( PT Inti ), Lukman Arifin , S.H ( Pengguna KRAP

Tim Formatur diberi tugas menyusun AD / ART organisasi KRAP tingkat Pusat dan menyusun Pengurus Pusat Organisasi KRAP

Sesuai dengan SK Dirjen Postel No.125/Dirjen/1980 yang menetapkan keputusan tentang pendirian dan pengangkatan pengurus Pusat Organisasi Radio Antar Penduduk pada tanggal 10 November 1980 , maka Tim Formatur menetapkan nama organisasi Komunikasi Radio Antar Penduduk adalan RAPI ( Radio Antar Penduduk Indonsia serta nmemilih Bapak Eddie Marzuki Nalapraya sebagai Bapak RAPI dengan Call Sign JZ09AAA sekaligus menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Ulang Tahun RAPI .

(MK/Nasional)

Selasa, 08 November 2022

Amalan dan Doa Gerhana Bulan Lengkap Arab, Latin dan Artinya


Amalan dan Doa Gerhana Bulan Lengkap Arab, Latin dan Artinya
Saat terjadi gerhana bulan, umat Islam dianjurkan melaksanakan sholat gerhana atau sholat khusuuf dan beberapa amalan lainnya. Foto/Ist
Gerhana bulan (khusuful qamar) diprediksi terjadi pada Selasa (8/11/2022) malam, merupakan momen gerhana bulan total terakhir pada Tahun 2022. Gerhana bulan merupakan satu fenomena di mana cahaya matahari yang melewati permukaan bulan terhalang oleh bumi, sehinga posisi bumi berada pada satu garis lurus dengan matahari dan bulan.

Saat terjadi gerhana bulan, umat Islam dianjurkan melaksanakan sholat gerhana atau sholat khusuuf dan beberapa amalan lainnya. Berikut amalan dan doa gerhana bulan. 

1. Sholat Gerhana Bulan (Sholat Khusuf)
Sholat gerhana bulan disebut juga sholat Khusuf. Hukum salat ini adalah sunnah muakkad, yaitu sunnah yang dianjurkan untuk menyempurnakan sholat wajib. Sholat Khusuf ini bertujuan untuk mengagumi kebesaran Allah, karena terjadinya gerhana bulan merupakan salah satu tanda kebesaran Allah.

Pelaksanaan sholat gerhana bulan biasanya dilakukan ketika mulai terlihatnya gerhana bulan, hingga bulan menjadi normal kembali. Sholat ini dilakukan sebanyak dua rakaat, yang mana setiap rakaat terdiri dari dua kali rukuk dan dua kali berdiri, dua bacaan surat Al-Fatihah dan dua bacaan surat pilihan.

Berikut Niat Sholat Khusuf:



أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامً/مَأمُومًا لله تَعَالَى

Ushollii sunnatal Khusuufi rak'ataini Imaaman/Makmuuman Lillaahi Ta'ala. 

Artinya: "Aku sholat sunnah Khusuuf dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah Ta'ala."

2. Memperbanyak Zikir
Zikir merupakan puji-pujian yang ditujukan oleh Allah yang diucapkan secara berulang-ulang. Ketika terjadi gerhana bulan kita dianjurkan memperbanyak zikir. Salah satu amalan zikir yang bisa dilakukan adalah istighfar.

3. Membaca Sholawat
Saat terjadi gerhana bulan, umat Islam tak hanya dianjurkan untuk berzikir, namun juga membaca sholawat. Sholawat merupakan pujian dan penghormatan atas baginda Rasulullah SAW yang di dalamnya ada doa dan permohonan keberkahan. 

4. Bersedekah
Sedekah merupakan salah satu amalan yang juga sangat dianjurkan ketika terjadi gerhana bulan, agar amalan-amalan yang telah dikerjakan menjadi lebih sempurna. Adapun anjuran untuk melakukan amalan-amalan di atas dijelaskan dalam hadis berikut: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah, dan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena mati atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka banyaklah berdoa kepada Allah, bertakbirlah, dirikan shalat dan bersedekahlah." (HR Al-Bukhari)

5. Berdoa
Saat terjadi gerhana bulan, umat Islam juga dianjurkan memanjatkan doa. Anjuran untuk membaca doa ketika gerhana bulan ialah pada hadis berikut: "Pernah terjadi gerhana matahari dan bulan, maka bangkitlah Rasulullah SAW sholat dan bersabda: "Apabila kamu saksikan hal yang serupa itu, maka segeralah kamu kerjakan sholat dan panjatkan doa dan mohon pengampunan-Nya." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Doa-doa Ketika Gerhana Bulan

1. Doa Melihat Gerhana

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbana maa khalaqta haadza baathila subhaanaka faqinaa 'adzaabannaar.

Artinya: "Ya Tuhan Kami, tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau (dari segala kekurangan), maka (ampunilah segala kesalahan penjelahan intelektual kami dan) peliharalah Kami dari siksa neraka."

2. Doa Melihat Bulan

اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ (وفي رواية بِاليُمْنِ) وَالإِيمَانِ، وَالسَّلامِ وَالإِسْلامِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ وَ تَرْضَى، رَبِّي (وفي رواية رَبُّنَا) وَرَبُّكَ اللَّ

Allaahu akbaru, allaahumma ahillahuu 'alainaa bil amni (lain riwayat bil yumni), wal iimaani, was salaami, wal islaami, wat taufiiqi li maa tuhibbu wa tardhaa. Rabbii (lain riwayat rabbanaa) wa rabbukallaahu.

Artinya: "Allah maha besar. Ya Allah, jadikanlah ini bulan membawa keamanan (lain riwayat keberuntungan), keimanan, keselamatan, keislaman, petunjuk bagi amal yang Kau suka dan restui. Tuhanku (Tuhan kami) dan Tuhanmu adalah Allah." (HR Ad-Darimi dan Ibnu Hibban)

3. Doa Memohon Ampunan

اللَّهُمَّ إِنَا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا

Allaahumma innaa nastaghfiruka, innaka kunta ghaffaaraa.

Artinya: "Ya Allah, sungguh kami memohon ampun kepada-Mu, karena Kau adalah maha pengampun."

4. Doa Ampunan Dosa

رَبَّنَااغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِمَشَايِخِنَا وَلِمُعَلِّمِيْنَا وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْنَا وَلِمَنْ اَحَبَّ وَاَحْسَنَ اِلَيْنَا وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ اَجْمَعِيْنَ

Rabbana ighfirlanaa dzunuubanaa wa liwaa lidiinaa wa limasyaa yikhinaa wa limu'allimiinaa waliman lahuu haqqun 'alainaa waliman ahabba wa ahsana ilainaa walikaaffatil musliminna ajma'iina

Artinya: "Wahai Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa kami, dosa-dosa orang tua kami, para sesepuh kami, para guru kami, orang-orang yang mempunyai hak atas kami, orang-orang yang cinta dan berbuat baik kepada kami, dan seluruh umat Islam."

5. Doa Taubat

لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ ، رَبِّ عَمِلْتُ سُوءًا وَظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي أَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ ، لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ رَبِّ عَمِلْتُ سُوءًا وَظَلَمْتُ نَفْسِي فَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ ، لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ ، رَبِّ عَمِلْتُ سُوءًا وَظَلَمْتُ نَفْسِي ، فَتُبْ عَلَيَّ ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيم

La ilaha illa anta subhanaka wa bihamdika rabbi ‘amiltu su-an wa dzalamtu nafsi faghfirli anta khoirul ghofirin la ilaha illa anta subhanaka wa bihamdika robbi ‘amiltu su-an wa dzolamtu nafsi farhamni innaka arhamur rohimin la ilaha illa anta subhanaka wa bihamdika robbi 'amiltu su-an wa dzolamtu nafsi fatub 'alayya innaka antat tawwabur rohim.

Artinya: "Tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau dan segala puji untuk-Mu. Tuhanku, aku telah melakukan dosa dan menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku karena Engkau sebaik-sebaik pemberi ampunan. Tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau dan segala puji untuk-Mu. Tuhanku, aku telah melakukan dosa dan menzalimi diriku sendiri, maka kasihanilah aku, sesungguhnya Engkau sebaik-baik pengasih. Tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau dan segala puji untuk-Mu. Tuhanku, aku telah melakukan dosa dan menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku, sesungguhnya Engkau sebaik-baik penerima taubat dan Maha Penyayang."

6. Doa Kebaikan Dunia Akhirat

رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار

Rabbanaa aatina fid dunyaa hasanatan wafil aakhiroti hasanah waqinaa 'adzaa bannaar.

Artinya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka."

Senin, 07 November 2022

Tentang Sholat Gerhana


Tentang Sholat Gerhana


HADITS KE-401

 

عَنِ اَلْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ رضي الله عنه قَالَ: ( اِنْكَسَفَتِ اَلشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَوْمَ مَاتَ إِبْرَاهِيمُ, فَقَالَ اَلنَّاسُ: اِنْكَسَفَتِ اَلشَّمْسُ لِمَوْتِ إِبْرَاهِيمَ, فَقَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم "إِنَّ اَلشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اَللَّهِ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ, فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا, فَادْعُوا اَللَّهَ وَصَلُّوا, حَتَّى تَنْكَشِفَ" )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. وَفِي رِوَايَةٍ لِلْبُخَارِيِّ: ( حَتَّى تَنْجَلِىَ )

وَلِلْبُخَارِيِّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه ( فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ )

Al-Mughirah Ibnu Syu'bah Radliyallaahu 'anhu berkata: Pada zaman Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah terjadi gerhana matahari yaitu pada hari wafatnya Ibrahim. Lalu orang-orang berseru: Terjadi gerhana matahari karena wafatnya Ibrahim. Maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian dan kehidupan seseorang. Jika kalian melihat keduanya berdo'alah kepada Allah dan sholatlah sampai kembali seperti semula." Muttafaq Alaihi. Menurut riwayat Bukhari disebutkan: "Sampai terang kembali."

Menurut riwayat Bukhari dari hadits Abu Bakrah Radliyallaahu 'anhu : "Maka sholatlah dan berdoalah sampai kejadian itu selesai atasmu."

 

HADITS KE-402

 

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا: ( أَنَّ اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم جَهَرَ فِي صَلَاةِ اَلْكُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ, فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِي رَكْعَتَيْنِ, وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ. وَفِي رِوَايَةٍ لَهُ: فَبَعَثَ مُنَادِيًا يُنَادِي: اَلصَّلَاةُ جَامِعَةٌ

Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengeraskan bacaannya dalam sholat gerhana, beliau sholat empat kali ruku' dalam dua rakaat dan empat kali sujud. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim. Dalam riwayat Muslim yang lain: Lalu beliau menyuruh seorang penyeru untuk menyerukan: Datanglah untuk sholat berjama'ah.

 

HADITS KE-403

 

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : ( اِنْخَسَفَتِ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَصَلَّى, فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا, نَحْوًا مِنْ قِرَاءَةِ سُورَةِ اَلْبَقَرَةِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا, ثُمَّ رَفَعَ فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا وَهُوَ دُونَ اَلْقِيَامِ اَلْأَوَّلِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا, وَهُوَ دُونَ اَلرُّكُوعِ اَلْأَوَّلِ, ثُمَّ سَجَدَ, ثُمَّ قَامَ قِيَامًا طَوِيلاً, وَهُوَ دُونَ اَلْقِيَامِ اَلْأَوَّلِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا, وَهُوَ دُونَ اَلرُّكُوعِ اَلْأَوَّلِ], ثُمَّ رَفَعَ, فَقَامَ قِيَامًا طَوِيلًا, وَهُوَ دُونَ اَلْقِيَامِ اَلْأَوَّلِ, ثُمَّ رَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً, وَهُوَ دُونَ اَلرُّكُوعِ اَلْأَوَّلِ, ثُمَّ سَجَدَ, ثُمَّ انْصَرَفَ وَقَدْ تَجَلَّتِ اَلشَّمْسُ. فَخَطَبَ اَلنَّاسَ)  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ, وَاللَّفْظُ لِلْبُخَارِيِّ. وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: ( صَلَّى حِينَ كَسَفَتِ اَلشَّمْسُ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ فِي أَرْبَعِ سَجَدَاتٍ )

وَعَنْ عَلِيٍّ مِثْلُ ذَلِكَ

وَلَهُ: عَنْ جَابِرٍ رضي الله عنه ( صَلَّى سِتَّ رَكَعَاتٍ بِأَرْبَعِ سَجَدَاتٍ )

وَلِأَبِي دَاوُدَ: عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ: ( صَلَّى, فَرَكَعَ خَمْسَ رَكَعَاتٍ وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ, وَفَعَلَ فِي اَلثَّانِيَةِ مِثْلَ ذَلِكَ )

Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, maka beliau sholat, beliau berdiri lama sekitar lamanya bacaan surat al-Baqarah, kemudian ruku' lama, lalu bangun dan berdiri lama namun lebih pendek dibandingkan berdiri yang pertama, kemudian ruku' lama namun lebih pendek dibanding ruku' yang pertama, lalu sujud, kemudian berdiri lama namun lebih pendek dibanding berdiri yang pertama, lalu ruku' lama namun lebih pendek dibandingkan ruku' yang pertama, kemudian bangun dan berdiri lama namun lebih pendek dibanding berdiri yang pertama, lalu ruku' lama namun lebih pendek dibanding ruku' yang pertama, kemudian beliau mengangkat kepala lalu sujud, kemudian selesailah dan matahari telah terang, lalu beliau berkhutbah di hadapan orang-orang. Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari. Dalam suatu riwayat Muslim: Beliau sholat ketika terjadi gerhana matahari delapan ruku' dalam empat sujud.

Dari Ali Radliyallaahu 'anhu juga ada hadits semisalnya.

Dalam riwayat Bukhari dari Jabir: Beliau sholat enam ruku' dengan empat sujud.

Menurut riwayat Abu Dawud dari Ubay Ibnu Ka'ab Radliyallaahu 'anhu : Beliau sholat lalu ruku' lima kali dan sujud dua kali, dan melakukan pada rakaat kedua seperti itu.

 

HADITS KE-404

 

وَعَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: ( مَا هَبَّتْ رِيحٌ قَطُّ إِلَّا جَثَا اَلنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى رُكْبَتَيْهِ, وَقَالَ: "اَللَّهُمَّ اجْعَلْهَا رَحْمَةً, وَلَا تَجْعَلَهَا عَذَابًا" )  رَوَاهُ اَلشَّافِعِيُّ وَالطَّبَرَانِيُّ وَعَنْهُ: ( أَنَّهُ صَلَّى فِي زَلْزَلَةٍ سِتَّ رَكَعَاتٍ, وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ, وَقَالَ: هَكَذَا صَلَاةُ اَلْآيَاتِ )  رَوَاهُ اَلْبَيْهَقِيُّ. وَذَكَرَ اَلشَّافِعِيُّ عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه مِثْلَهُ دُونَ آخِرِهِ

Ibnu Abbas Radliyallaahu 'anhu berkata: Tidak berhembus angin sedikitpun kecuali Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam berlutut di atas kedua lututnya, seraya berdoa: "Ya Allah jadikan ia rahmat dan jangan jadikan ia siksa." Riwayat Syafi'i dan Thabrani. Dari dia Radliyallaahu 'anhu : Bahwa beliau sholat dengan enam ruku' dan empat sujud ketika terjadi gempa bumi, dan beliau bersabda: "Beginilah cara sholat (jika terlihat) tanda kekuasaan Allah." Diriwayatkan oleh Baihaqi. Syafi'i juga menyebut hadits seperti itu dari Ali Ibnu Abu Thalib namun tanpa kalimat akhirnya.


 TENTANG GERHANA BULAN 

Besok Gerhana Bulan Total, Berikut Tata Cara Sholat Khusuf dan Niatnya


Senin, 07 November 2022 - 17:32 WIB
Besok Gerhana Bulan Total, Berikut Tata Cara Sholat Khusuf dan Niatnya
Umat muslim diimbau melaksanakan sholat Khusuf saat gerhana bulan terjadi besok 8 November 2022. Selain sholat, dianjurkan memperbanyak dzikir, berdoa dan sedekah. Foto/dok ennahar tv
Gerhana bulan atau khusuful qamardiprediksi terjadi besok Selasa, 8 November 2022. Umat muslim diperintahkan mengerjakan sholat gerhanaini secara berjamaah.

Informasi dari KemenagGerhana Bulan Total (GBT) akan terjadi di seluruh wilayah Indonesia. "Insya Allah, pada 8 November 2022, akan terjadi gerhana bulan total di seluruh wilayah Indonesia," kata Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin Kamaruddin Amin di Jakarta. 

Imam ar-Rafi'i menerangkan sabda Nabi, apabila kamu melihat gerhana, maka sholatlah sampai selesai gerhana menunjukkan arti bahwa sholat tidak dilakukan sesudah selesainya gerhana. Sholat yang dilakukan saat gerhana bulan disebut sholat Khusuuf (الخُسُوفِ). Sedangkan saat gerhana matahari disebut dengan sholat Kusuf (الكُسُوْفِ). 

Adapun dalil untuk melaksanakan sholat gerhana bulan ini diterangkan dalam Hadis berikut. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi shollallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا 



Artinya: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah." (HR Al-Bukhari No 1044)

Tata Cara Sholat Gerhana Bulan:
1. Berniat dalam hati. 
Mazhab Syafii niatnya bersamaan dengan Takbiratul Ihram. "Aku sholat sunnah khusuuf (gerhana bulan) dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah Ta'ala."
2. Takbiratul ihram, yaitu bertakbir sebagaimana sholat biasa.
3. Membaca doa iftitah dan Taawudz. Kemudian membaca Surat Al-Fatihah dilanjutkan membaca surat panjang (seperti Surat Al-Baqarah) sambil dijaharkan (suara dikeraskan) sebagaimana dalam Hadis Aisyah RA: "Nabi Muhammad SAW menjaharkan (mengeraskan) bacaannya ketika shalat gerhana." (HR Al-Bukhari 1065 dan Muslim 901)
4. Ruku' sambil memanjangkannya.
5. Bangkit dari Ruku' (iktidal) sambil mengucapkan "Sami'allahu Liman Hamidah, Rabbana wa Lakal Hamd".
6. Setelah Iktidal tidak langsung sujud, namun dilanjutkan membaca Surat Al-Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.
7. Kemudian Ruku' kembali (rukuk kedua) yang panjangnya lebih pendek dari rukuk sebelumnya.
8. Kemudian bangkit dari Ruku' (iktidal).
9. Kemudian Sujud yang panjangnya sebagaimana rukuk, lalu duduk di antara dua sujud kemudian sujud kembali.
10. Bangkit dari sujud lalu mengerjakan rakaat kedua sebagaimana rakaat pertama. Hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.
11. Salam.

Setelah itu imam menyampaikan khutbah gerhana kepada para jamaah yang berisi anjuran untuk berdzikir, berdoa, beristighfar, dan memperbanyak sedekah.

Niat Sholat Gerhana Bulan

أُصَلِّي سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامً/مَأمُومًا لله تَعَالَى

Ushollii sunnatal Khusuufi rak'ataini Imaaman/Makmuuman Lillaahi Ta'ala. 

Artinya: "Aku sholat sunnah Khusuuf dua rakaat sebagai imam/makmum karena Allah Ta'ala."
(Ustadz Yachya Yusliha)