Kamis, 15 Desember 2022

Mengucapkan Selamat Natal, Begini Rincian Hukumnya..


Hukum mengucapkan selamat Natal disampaikan di artikel ini. (Foto:

- menjelaskan hukum mengucapkan selamat Natal.


Karena menjelang perayaan Natal seperti saat ini, biasanya muncul perdebatan di tengah masyarakat tentang hukum seorang muslim mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani atau siapa saja yang memperingatinya.


Tidak jarang, perdebatan itu menimbulkan percekcokan, bahkan vonis kafir (takfîr).   
 

Penjelasan atau rincian dari hukum tersebut adalah sebagai berikut.
 

1. Tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan tegas menerangkan keharaman atau kebolehan mengucapkan selamat Natal. Padahal, kondisi sosial saat Nabi Muhammad hidup mengharuskannya mengeluarkan fatwa tentang hukum ucapan tersebut, mengingat Nabi dan para sahabat hidup berdampingan dengan orang Yahudi dan Nasrani (Kristiani).  
 

2. Karena tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan tegas menerangkan hukumnya, maka masalah ini masuk dalam kategori permasalahan ijtihadi yang berlaku kaidah:   
 

لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيْهِ وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ   
 

Artinya: 


Permasalahan yang masih diperdebatkan tidak boleh diingkari (ditolak), sedangkan permasalahan yang sudah disepakati boleh diingkari.   
 

 

3. Dengan demikian, baik ulama yang mengharamkannya maupun membolehkannya, sama-sama hanya berpegangan pada generalitas (keumuman) ayat atau hadits yang mereka sinyalir terkait dengan hukum permasalahan ini.


 Karenanya, mereka berbeda pendapat.
 

- Sebagian ulama, meliputi Syekh bin Baz, Syekh Ibnu Utsaimin, Syekh Ibrahim bin Ja’far, Syekh Ja’far at-Thalhawi dan sebagainya, mengharamkan seorang muslim mengucapkan selamat Natal kepada orang yang memperingatinya.    

Mereka berpedoman pada beberapa dalil, di antaranya: Firman Allah dalam surat Al-Furqan ayat 72:   
 

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا   
 

Artinya: 


Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.   

 
Pada ayat tersebut, Allah menyebutkan ciri orang yang akan mendapat martabat yang tinggi di surga, yaitu yang tidak memberikan kesaksian palsu. Sedangkan, seorang muslim yang mengucapkan selamat Natal berarti dia telah memberikan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan umat Kristiani tentang hari Natal. Akibatnya, dia tidak akan mendapat martabat yang tinggi di surga. Dengan demikian, mengucapkan selamat Natal hukumnya haram.   

 

Di samping itu, mereka juga berpedoman pada hadits riwayat Ibnu Umar, bahwa Nabi bersabda:   

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
 

Artinya: 


Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian kaum tersebut

(HR Abu Daud, nomor 4031).
 

Orang Islam yang mengucapkan selamat Natal berarti menyerupai tradisi kaum Kristiani, maka ia dianggap bagian dari mereka.


Dengan demikian, hukum ucapan dimaksud adalah haram.
 

- Sebagian ulama, meliputi Syekh Yusuf Qaradhawi, Syekh Ali Jum’ah, Syekh Musthafa Zarqa, Syekh Nasr Farid Washil, Syekh Abdullah bin Bayyah, Syekh Ishom Talimah, Majelis Fatwa Eropa, Majelis Fatwa Mesir, dan sebagainya membolehkan ucapan selamat Natal kepada orang yang memperingatinya. 
 

Mereka berlandaskan pada firman Allah dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8:
 


  لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ      


 

Artinya: 


Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
 

Pada ayat di atas, Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik kepada siapa saja yang tidak memeranginya dan tidak mengusirnya dari negerinya.


Sedangkan, mengucapkan selamat Natal merupakan salah satu bentuk berbuat baik kepada orang non Muslim yang tidak memerangi dan mengusir, sehingga diperbolehkan.
 

Selain itu, mereka juga berpegangan kepada hadits Nabi riwayat Anas bin Malik:
 

 

   كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ: أَسْلِمْ. فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ، فَقَالَ لَهُ: أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَسْلَمَ. فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: (الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ) ـ   

 

Artinya: 


Dahulu ada seorang anak Yahudi yang senantiasa melayani (membantu) Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian ia sakit. Maka, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatanginya untuk menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya, kemudian berkata: Masuk Islam-lah! Maka anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang ada di dekatnya, maka ayahnya berkata:Taatilah Abul Qasim (Nabi SAW). Maka anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi SAW keluar seraya bersabda: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka. (HR Bukhari, No. 1356, 5657)   
 

Menanggapi hadits tersebut, Ibnu Hajar berkata: 


Hadits ini menjelaskan bolehnya menjadikan non-muslim sebagai pembantu, dan menjenguknya jika ia sakit. (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, juz 3, halaman: 586).   
 

Pada hadits di atas, Nabi mencontohkan kepada umatnya untuk berbuat baik kepada non-muslim yang tidak menyakiti mereka.


Mengucapkan selamat Natal merupakan salah satu bentuk berbuat baik kepada mereka, sehingga diperbolehkan.
 

Dari pemaparan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang ucapan selamat Natal. 


Ada yang mengharamkan, dan ada yang membolehkan.


Umat Islam diberi keleluasaan untuk memilih pendapat yang benar menurut keyakinannya.


Maka, perbedaan semacam ini tidak boleh menjadi konflik dan menimbulkan perpecahan.
 

Jika mengucapkan selamat Natal diperbolehkan, maka menjaga keberlangsungan hari raya Natal, sebagaimana sering dilakukan Banser, juga diperbolehkan.


Dalilnya, sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu menjamin keberlangsungan ibadah dan perayaan kaum Nasrani Iliya’ (Quds/Palestina): 
 


   هَذَا مَا أَعْطَى عَبْدُ اللهِ عُمَرُ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ أَهْلَ إِيْلِيَاءَ مِنَ الْأَمَانِ: أَعْطَاهُمْ أَمَانًا لِأَنْفُسِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ وَكَنَائِسِهِمْ وَصَلْبَانِهِمْ وَسَائِرِ مِلَّتِهَا، لَا تُسْكَنُ كَنَائِسُهُمْ، وَلَا تُهْدَمُ.   


 

Artinya: 


Ini merupakan pemberian hamba Allah, Umar, pemimpin kaum Mukminin kepada penduduk Iliya’ berupa jaminan keamanan: Beliau memberikan jaminan keamanan kepada mereka atas jiwa, harta, gereja, salib, dan juga agama-agama lain di sana. Gereja mereka tidak boleh diduduki dan tidak boleh dihancurkan. (Lihat: Tarikh At-Thabary, Juz 3, halaman: 609).      

Senin, 12 Desember 2022

Acara tour...

*YANG MAU TAORING SAMBIL SILATURAHMI BARAYA KULTUM SAHABAT KULTUM TGL 25 DESEMBER 2022*

*MASUK KARCIS 15.000*

*Tikum depan warung cina depan Abah giok jam 7:00 Sudah kumpul Semua*

*Jam 9:00 sudah sampai di TKP*

*CIPANAS TOUR PUL MUSIK*

001. Yachya Yusliha
002. Robi ketu
003. Bah Giok Rancaekek
004. Dede Bbk Ciparay
005. Azis Rancaekek
006. Bah Bangkong
007. Teh Dea. Sulaeman
008. Umi Rini
009. Daeng
010. Bah lentud
011. Sheni leles
012. Robin Buah batu
013. Endang Budiarti
014. Uze Zaenal
015. Yudi. Rancamanyar
016. Mamih Cimanggung
017. Apih. Cimanggung
018. Dedem Rohendi
019. Mang Koko
020. Pa Atang Imanuel
021. Yudi Cicahem
022. Ocha kadungora
023. Icha batununggal
024. H Tomi Cibereum
025. Ayah sepat uber
026. Kang Andri. Majalaya
027. Nandung Kircon
028. Pa Wawan
029. Bah Galon
030. Rosyati
031. Oma Azam
032. Opa kinan
033. Iwan bedug
034. Icang
035. Ismi
036. Kabrig
037. Deden Doni
038. Teh Intan Cibolerang
039. Asep Abeng Uber
040. Haji Deden 
041. Haji Deex Cigadung
042. Opay Rancaekek
043. Pa Ikin
045. Hanifah Ikin 
046. Feri Majalaya
047. Adi Margahayu
048. Melodi Majalaya
049. Wa Zurel.
050. Bu Kasih. Banjaran
051. Bu Neng Mega Ciparay
052. Iwan Hartiwan
053. Atep Tanjung Sari
054. Teh nita
055. Pak Agus
056. Mamah eput
057. Dada FOD
058. Muhtar
059. ABS Solokan
060


https://foursquare.com/v/5030a66ae4b0a20c89803460



Minggu, 11 Desember 2022

4 Bagian Tubuh Manusia yang Tidak Hancur Dimakan Tanah.


4 Bagian Tubuh Manusia yang Tidak Hancur Dimakan Tanah
Ada 4 bagian tubuh yang masih utuh kendati sudah dikubur lama. Foto/Ilustrasi: Ist

Pertama, jasad (tubuh) para nabi, seperti dijelaskan Rasulullah SAW dalam sabdanya:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mengharamkan tanah memakan jasad para nabi. (HR Abu Dawud no. 1047 dan Ibnu Majah, dan ini lafazh Ibnu Majah no. 1075, dan dishahihkan al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Baca jugaKimia Kebahagiaan Al-Ghazali: Jasad Diciptakan untuk Jiwa dan Jiwa untuk Jasad 


عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا حَضَرَ أُحُدٌ دَعَانِي أَبِي مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ مَا أُرَانِي إِلَّا مَقْتُولًا فِي أَوَّلِ مَنْ يُقْتَلُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنِّي لَا أَتْرُكُ بَعْدِي أَعَزَّ عَلَيَّ مِنْكَ غَيْرَ نَفْسِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّ عَلَيَّ دَيْنًا فَاقْضِ وَاسْتَوْصِ بِأَخَوَاتِكَ خَيْرًا فَأَصْبَحْنَا فَكَانَ أَوَّلَ قَتِيلٍ وَدُفِنَ مَعَهُ آخَرُ فِي قَبْرٍ ثُمَّ لَمْ تَطِبْ نَفْسِي أَنْ أَتْرُكَهُ مَعَ الْآخَرِ فَاسْتَخْرَجْتُهُ َعْدَ سِتَّةِ أَشْهُرٍ فَإِذَا هُوَ كَيَوْمِ وَضَعْتُهُ هُنَيَّةً غَيْرَ أُذُنِهِ

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu , ia berkata: Ketika terjadi perang Uhud, bapakku memanggilku pada malam hari dan (dia) berkata: “Aku merasa akan terbunuh sebagai orang pertama yang terbunuh dari para sahabat Nabi SAW. Dan sungguh, aku tidak meninggalkan setelahku yang aku cintai lebih darimu, kecuali diri Rasulullah SAW. Sungguh aku masih memiliki utang, maka tunaikanlah dan jagalah baik-baik saudari-saudarimu,” 

Lalu pada pagi harinya beliau menjadi orang pertama yang terbunuh. Dan bersamanya dimakamkan seseorang dalam satu kuburan. Kemudian diriku (merasa) kurang senang membiarkan beliau bersama yang lain dalam satu kuburan, maka aku gali ulang (kuburannya) setelah enam bulan. Ternyata, keadaan beliau masih seperti saat aku kuburkan, kecuali telinganya. (HR al Bukhari)

Baca jugaAzab Kubur itu Menimpa Jasad ataukah Roh? 

Ketiga, tulang ekor manusia juga tidak dimakan tanah, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Abu Hurairah di atas, dan riwayat lain dalam Shahih Muslim disebutkan:

إِنَّ فِي الإِنْسَانِ عَظْمًا لاَ تَأْكُلُهُ الأَرْضُ أَبَدًا فِيْهِِ يُرَكَّبُ الْخَلْقُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالُوْا أَيُّ عَظْمٍ هُوَ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ عَجْبُ الذَّنَبِ

“Sesungguhnya pada diri manusia ada satu tulang yang tidak dimakan tanah selamanya. Padanya manusia disusun (kembali) pada hari Kiamat”. Mereka bertanya,”Tulang apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Tulang ekor“

Keempat, roh. Imam As-Safarini mengatakan sungguh roh-roh manusia tidak punah, walaupun ia makhluk Allah, maka pahamilah.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Imranayat 169 berbunyi:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ Wa lā 

“Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki.”
(Ustadz Yachya Yusliha)

Selasa, 06 Desember 2022

11 Keutamaan Ali bin Abi Thalib, Sepupu yang Juga Menantu Rasulullah SAW

Ilustrasi Sayyidina Ali bin Abi Thalib (kedua dari kiri) dalam Film serial Umar. Beliau sahabat Nabi yang memiliki banyak keutamaan dan termasuk satu di antara 10 sahabat yang dijamin Surga. Foto/tangkapan layar film Umar
Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu (599-661) adalah khalifah keempat dari Khulafa' Ar-Rasyidin. Ali merupakan sepupu Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wa sallam yang juga menantu beliau karena menikahi Fathimah Az-Zahra.

Pengasuh Ma'had Subuluna Bontang Kalimantan Timur, Ustaz Ahmad Syahrin Thoriq dalam satu kajiannya menceritakan, Sayyidina Ali merupakan sahabat Nabi paling banyak diriwayatkan tentang kedudukan dan keutamaannya. Saking banyaknya, sebagian pihak mengira kebanyakan riwayat palsu, padahal riwayatnya sangat banyak dengan sanad yang baik.

Bahkan dari sisi banyaknya riwayat tentang keutamaannya, Sayyidina Ali mengungguli sahabat lainnya seperti Sayyidina Abu Bakar dan Umar.

Mengapa bisa demikian? Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan: "Faktornya adalah karena beliau sebagai khalifah yang terakhir. Ditambah lagi dengan banyaknya perselisihan yang terjadi di zaman pemerintahannya hingga ada beberapa orang yang melepaskan diri darinya."

"Ini yang membuat ahlussunnah berupaya mengangkat dan menyebarkan keutamaannya," kata Ustaz Ahmad Syahrin Thoriq dalam satu kajiannya.



Berikut 11 keutamaan Ali bin Abi Thalib yang perlu diketahui umat muslim:

1. Orang Kedua yang Masuk Islam Setelah Khadijah
Ibnu Ishaq meriwayatkan, "Setelah Khadijah masuk Islam, Ali bin Abu Thalib berkunjung ke rumah Nabi Muhammad ﷺ. Ketika itu ia mendapati Nabi dan Khadijah sedang mengerjakan sholat. Ali bertanya, "Apa ini wahai Muhammad?" Rasulullah SAW lalu menjelaskan kepadanya tentang Islam, lalu Ali pun menyatakan keislamannya meskipun dengan cara menyembunyikannya karena takut kepada ayahnya, Abu Thalib. 

2. Pernah Menjadi Tebusan Bagi Nabi Muhammad SAW
Ketika malam Rasulullah ﷺ akan hijrah ke Madinah beliau dikepung oleh kafir Quraisy, Nabi memerintahkan Ali agar tidur di tempat tidur beliau pada malam itu.Lihatlah, siapakah yang berani menempati tempat tidur beliau sementara musuh telah mengepung, dan mengintai dengan tujuan untuk membunuh Rasulullah? 

Sungguh tidak akan berani melakukannya kecuali pemberani yang telah dikaruniai keikhlasan yang luar biasa. Ibnu Abbas ketika menyebutkan firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ

Artinya: "Dan di antara manusia ada orang yang menjual dirinya karena mencari keridhaan Allah, Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba- hambaNya." (QS Al Baqarah: 207)

Ia berkata: "Pada malam itu, Ali telah menjual dirinya, tepatnya saat ia mengenakkan selimut Nabi dan berbaring di tempat tidurnya." 

3. Banyak Ayat yang Turun Berkaitan dengan Beliau 
Al-Qur'an memang bukan diturunkan untuk suatu masyarakat tertentu apalagi orang tertentu, namun kita ketahui ia memiliki Asbabun Nuzul yang menjadi latar peristiwa sebuah ayat atau surah diturunkan oleh Allah. Banyak sekali ayat Qur'an yang diturunkan berkaitan dengan sahabat Ali bin Abi Thalib. Di antaranya: Surat Al Hajj ayat 19-23; Surat Ali Imran 61; Surat At-Taubah 19- 22; Surat Al-Mujadilah ayat 12-13 dan lainnya.

4. Disanjung Nabi Muhammad SAW 
Rasulullah SAW pernah bersabda:

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّى بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى غَيْرَ أَنَّهُ لاَ نَبِىَّ بَعْدِى

Artinya: "Tidakkah engkau rela mendapatkan kedudukan di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada Nabi setelahku?" (HR Al-Bukhari)

Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan:

وَالَّذِى فَلَقَ الْحَبَّةَ وَبَرَأَ النَّسَمَةَ إِنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِىِّ الأُمِّىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِلَىَّ أَنْ لاَ يُحِبَّنِى إِلاَّ مُؤْمِنٌ وَلاَ يُبْغِضَنِى إِلاَّ مُنَافِقٌ

"Demi Dzat yang membelah biji-bijian dan melepaskan angin. Sesungguhnya Nabi ﷺ telah berjanji kepadaku bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali ia seorang mukmin, dan tidak ada yang membenciku kecuali ia seorang munafik." (HR Muslim)

Rasulullah ﷺ bersabda tentangnya saat perang Khaibar: "Sungguh aku akan memberikan bendera ini besok pada orang yang akan didatangkan kemenangan melalui tangannya di mana ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, lalu Allah dan Rasul-Nya pun mencintai dirinya." (HR Al-Bukhari). Dan bendera itu kemudian diserahkan oleh beliau ﷺ kepada Ali.

5. Keilmuannya Sangat Luas dan Faqih dalam Agama
Di antara hal yang paling menonjol dari Ali bin Abi Thalib adalah kuatnya pemahaman dan luasnya hikmah yang dimilikinya. Dan itu menjadi lebih istimewa saat beliau memiliki kemampuan menjawab persoalan dan mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, ia berkata: "Ada seorang Khawarij memanggil-manggil Ali padahal ia tengah mengerjakan shalat fajar. Laki-laki itu lantas membacakan ayat:

وَلَقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَۚ لَىِٕنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu,' jika kamu mempersekutukan Tuhan, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS Az-Zumar: 65)

Secara spontan Sayyidina Ali menjawab dengan ayat sembari tetap mengerjakan sholat:

فَاصْبِرْ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ وَّلَا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِيْنَ لَا يُوْقِنُوْنَ

"Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu." (QS Ar Rum: 60) 

6. Sahabat Paling Dekat dengan Nabi Secara Nasab 
Sayyidina Ali adalah sepupu Rasulullah ﷺ sekaligus anak mantu beliau karena menikahi putri bungsu Rasulullah, Sayidatuna Fathimah. Darinya lahir dua pemuda penghulu ahli surga, yakni Hasan dan Husain radhiyallahu 'anhuma yang kemudian melahirkan Dzuriyah Nabi (keturunan Nabi Muhammad SAW).

7. Sahabat yang Dijamin dengan Surga
Nabi shollallohu 'alaihi wasallam bersabda:

عَشَرَةٌ فِى الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِى الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِى الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِىٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ

Artinya: "Ada sepuluh orang yang dijamin masuk surga: Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Az-Zubair di surga, Thalhah di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Abu Ubaidah di surga, dan Sa’ad bin Abi Waqqash di surga." (HR at-Tirmidzi)

8. Orang Paling Zuhud Terhadap Dunia
Zuhud adalah sifat yang paling nampak pada kepribadian amirul mukmimin Ali bin Abi Thalib. Beliau tetap hidup sederhana meskipun faktor-faktor untuk hidup bergelimang harta terbuka untuk dirinya.

Kezuhudan beliau ini membekas kuat terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Sehingga jadilah semacam madrasah yang sangat berpengaruh dalam sejarah umat. Hasan bin Shalih bin Hayyi berkata:"Orang-orang menyebut-nyebut orang yang zuhud di sisi Umar bin Abdul Aziz. Lalu beliau berkata:

أزهد الناس في الدنيا علي بن أبي طالب

"Manusia yang paling zuhud terhadap dunia adalah Ali bin Abi Thalib." 

9. Sangat Pemurah dan Dermawan
Di antara kedermawanan beliau adalah pernah seorang laki-laki menemui Ali bin Thalib seraya berkata, "Wahai Amirul mukminin, saya memerlukan sesuatu darimu.Saya telah mengadukannya kepada Allah sebelum aku mengadukannya kepadamu. Jika Anda mau memenuhinya, saya akan memuji Allah dan sangat berterima kasih kepada-Nya. Tetapi, jika Anda tidak mampu memenuhinya, saya pun tetap memuji Allah dan tidak sekali pun menyalahkan anda."

Sayyidina Ali berkata kepada orang itu:

اكتب حاجتك على الأرض فإني اكره ان ارى ذل السؤال فى وجهك.

"Tulislah semua kebutuhanmu di atas tanah, karena aku tidak mau melihat kerendahan wajah peminta ada di wajahmu."

Laki-laki itu lalu menuliskan segala kebutuhannya. Setelahnya Ali membacanya, ia pun berkata: "Saya akan penuhi semua permintaanmu." 

10. Sangat Kuat Ibadahnya, Keikhlasan dan Kesabarannya
Al-Asytar An-Nakha'i pernah menemui Ali yang sedang mengerjakan sholat malam. Kemudian ia berbisik kepadanya: "Wahai Amirul mukminin engkau senantiasa puasa di siang hari, begadang untuk shalat di malam hari hingga engkau rasakan capek seperti ini."

Ketika Ali telah selesai sholat, ia berkata:

سفر الأخرة طويل فيحتاج الى قطعه بسير الليل

"Perjalanan menuju akhirat sangatlah panjang, karena itu kita perlu memotong jalan dengan perjalanan di malam hari." 

11. Adil dalam Memimpin
Syuraikh bercerita: "Ketika Ali hendak berangkat berperang menghadapi Mu'awiyah, beliau mencari-cari baju besinya. Baru ketika perang telah selesai dan beliau telah pulang ke Kufah, beliau menemukan baju besi tersebut ada di tangan seorang Yahudi yang hendak menjualnya ke pasar.

Kemudian beliau berkata kepadanya: "Wahai Yahudi, baju besi ini adalah milikku. Aku tidak pernah menjualnya dan tidak pula pernah pula memberikan kepada siapapun."

Namun si Yahudi menjawab, "Ini milikku."Ali berkata, "Kalau begitu mari kita laporkan kasus ini kepada qadhi."

Kemudian beliau berdua pergi menemui Syuraih sang qadhi. Syuraih berkata: "Katakan, wahai Amirul Mukminin! Beliau menjawab, "Baju besi yang ada di tangan si Yahudi ini adalah milikku. Saya tidak pernah menjualnya dan tidak pula pernah menghibahkannya."

Syuraih berkata: "Wahai Amirul Mukminin, buktinya apa?"Ali menjawab: "Qunbur, Hasan dan Husain. Mereka memberikan kesaksian bahwa baju besi itu adalah milikku."

Syuraih menimpali: "Kesaksian seorang anak tidak boleh diberikan untuk ayahnya." Lalu beliau menyela, "Seorang yang direkomendasikan masuk surga tidak diterima kesaksiannya?"

Sesungguhnya saya pernah mendengar Rasulullah bersabda: "Hasan dan Husain adalah penghulu pemuda surga." Namun Qadhi tetap dengan keputusannya. 

Kemudian si Yahudi berkata: "Amirul Mukminin menyeretku ke hadapan qadhinya, sedangkan qadhinya memenangkanku atasnya? Sungguh, saya bersaksi bahwasanya ini adalah kebenaran, saya bersaksi bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Ketahuilah bahwa baju besi ini adalah benar-benar milik anda.

Ketika itu aku turut mengendarai unta saat anda berangkat ke medan Shifin. Lalu di tengah malam baju besi ini jatuh tanpa anda sadari, lantas aku mengambilnya." 

Wallahu A'lam

Senin, 05 Desember 2022

Surat Al-Mulk Ayat 18: Azab yang Dialami Umat Terdahulu Cukuplah Jadi Pelajaran..

Surat Al-Mulk Ayat 18: Azab yang Dialami Umat Terdahulu Cukuplah Jadi Pelajaran

Surat Al-Mulk Ayat 18 ini menjadi peringatan bagi orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya. 
Surat Al-Mulk Ayat 18 ini menjadi peringatan bagi orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Ancaman yang dikemukakan pada ayat-ayat sebelumnya bukanlah gertak sambal tanpa bukti. 

Allah menegaskan ancamannya kepada kaum kafir Mekkah yang mendustakan Rasul-Nya. Azab yang dialami umat terdahulu cukuplah jadi pelajaran. Berikut firman-Nya dalam Surat Al-Mulk ayat 18:

وَلَـقَدۡ كَذَّبَ الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِهِمۡ فَكَيۡفَ كَانَ نَكِيۡرِ

Wa laqad kadz-dzabal ladziina min qablihim fakaifa kaana nakiir.

Artinya: "Dan sungguh, orang-orang yang sebelum mereka pun telah mendustakan (Rasul-rasul-Nya). Maka betapa hebatnya kemurkaan-Ku!" (QS. Al-Mulk ayat 18)

Dalam tafsir Kemenag, ayat ini menegaskan bahwa orang-orang kafir hendaknya memperhatikan penderitaan yang dialami umat-umat terdahulu. Mereka diazab karena telah mendustakan para Rasul yang telah diutus kepada mereka. 
Seperti kaum Nabi Nuh 'alahissalam yang ditenggelamkan banjir yang mahadahsyat. Kaum Nabi Syu'aib yang dibinasakan dengan petir. Fir'aun dan kaumnya yang ditenggelamkan di Laut Merah. Begitu juga kaum Nabi Luth yang dihujani badai berbatu.

Mereka semua baru menyesali perbuatan yang mereka lakukan pada saat azab itu datang menimpa. Semuanya ini hendaknya menjadi pelajaran untuk direnungkan betapa hebatnya murka Allah kepada orang-orang yang durhaka kepada-Nya.

Sabtu, 03 Desember 2022

Tugas Utama Suami Menjaga Keluarganya dari Siksa Api Neraka

Tugas Utama Suami Menjaga Keluarganya dari Siksa Api Neraka

Seorang kepala rumah tangga yang beriman harus mampu mendidik keluarganya (anak istrinya) pada ketaatan kepada Allah, sehingga menjauhkan keluarganya dari siksa api neraka. Foto : Ilustrasi/ist
Dalam Islam, tugas utama seorang suami atau kepala keluarga adalah harus bertakwa sehingga dia bisa menjaga keluarganya dari seluruh perkara yang bisa menghantarkan menuju neraka. Dalam Al-Qur'an Allah Subhanahu wa ta'ala telah mengingatkan hal tersebut.

Allah Ta'ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْۤا اَنْفُسَكُمْ وَاَ هْلِيْكُمْ نَا رًا وَّقُوْدُهَا النَّا سُ وَا لْحِجَا رَةُ عَلَيْهَا مَلٰٓئِكَةٌ غِلَا ظٌ شِدَا دٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ


"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim : 6)

Baca juga: 7 Tanda Rumah Tangga Islami, Nomor 3 Jadi Orang Tua Teladan

Merujuk kitab 'Tafsir Muyassar' karangan Syaikh 'Aidh al-Qorny, menjelaskan bahwa Surat At Tahrim ayat 6 adalah peringatan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap pentingnya kepala rumah tangga yang beriman yang mampu mendidik keluarganya (anak istrinya) pada ketaatan kepada Allah.



Seakan-akan Allah Ta'ala mengatakan, wahai orang beriman, adakanlah penghalang antara diri kalian dan azab Allah. Jagalah keluarga dari azab itu sebagaimana kalian takut dan membentengi diri dari murka-Nya. Yakni dengan cara memerintahkan anggota keluarga untuk menaati Allah dan meninggalkan maksiat terhadap-Nya.

Al-Munawi rahimahullah (seorang ahli ibadah, ahli ilmu, hidup pada tahun sekitar 900 Hijriyah), dalam Faidhul Qadiir, berkata :

"Maka penjagaan dirimu dan anakmu dari neraka adalah dengan cara engkau menasehati, mencegah jangan sampai masuk ke neraka, mengatur urusan mereka dengan berbagai macam aturan pendidikan. Maka termasuk aturan pendidikan adalah menasehatinya, menakut-nakutinya, mengancamnya, memukulnya, memenjaranya (tidak memberi kebebasan berbuat maksiat dan hal sia-asa), memberinya hadiah, pemberian dan berbuat baik. Maka inilah mendidik jiwa yang suci lagi mulia, bukan mendidik jiwa yang jelek lagi tercela."

Istri dan anak-anak harus diingat tentang murkanya Allah ketika berbuat maksiat. Kepala rumah tangga wajib menasehati agar berhati-hati terhadap api neraka, yang bahan bakarnya adalah orang-orang tidak beriman kepadaNya dan batu-batuan.

Dalam tafsir Ibnu Katsir diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhuma dan para ulama salaf rahimahumullâh berkata, “Jika engkau mendengar Allâh Azza wa Jalla berfirman dalam al-Qur’ân ‘Hai orang-orang yang beriman’, maka perhatikanlah ayat itu dengan telingamu, karena itu merupakan kebaikan yang Dia perintahkan kepadamu, atau keburukan yang Dia melarangmu darinya”.

Ketika Allâh Azza wa Jalla berfirman :

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا


"Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka"

Maka kebaikan yang Allâh perintahkan dalam ayat ini, adalah agar kaum Mukminin menjaga diri mereka dan keluarga mereka dari api neraka. Bagaimana caranya? Abdullah bin Abbâs Radhiyallahu anhu berkata, “Lakukanlah ketaatan kepada Allâh dan jagalah dirimu dari kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allâh, dan perintahkan keluargamu dengan dzikir, niscaya Allâh Azza wa Jalla akan menyelamatkanmu dari neraka”.

Syaikh 'Aidh al-Qorny di Tafsir Muyassar, mengatakan, hati-hatilah pada neraka yang penjaganya adalah para malaikat Allah yang sangat kuat, bengis, yang tidak pernah menentang perintah Allah dan tidak pernah melanggar laranganNya. Para malaikat penjaga neraka itu kuat dalam menyiksa dan senantiasa taat pada Allah.

Baca juga: Perintah Rasulullah SAW untuk Para Suami : Berakhlak Baik dan Berlemah Lembutlah kepada Istri