Senin, 21 November 2022

Bupati Cianjur Sebut Korban Gempa Mayoritas Anak-anak


Bupati Cianjur Sebut Korban Gempa Mayoritas Anak-anak
Bupati Cianjur, Herman Suherman. Foto: Dok/
A A A
CIANJUR - Bupati Cianjur, Herman Suhermanmengantongi data bahwa mayoritas korban gempa yang terjadi pada Senin siang (21/11/2022) adalah anak-anak. Dia menyebutkan, mayoritasnya mengalami luka patah tulang akibat tertimpa reruntuhan.

“Korban anak-anak, rata-rata patah tulang. Ada yang lagi sekolah, ada yang di rumah, rata-rata sedang ada di dalam rumah," kata Herman saat dikonfirmasi, Senin (21/11/2022).

Baca juga: Ngeri! Kesaksian Korban Gempa Cianjur, Banyak Siswa Tertindih Bangunan 



Sejauh ini kata Herman, tercatat sudah ada 56 korban meninggal dunia akibat gempa dahsyat yang mengguncang Cianjur dan sekitarnya pada siang tadi. Sementara, korban luka tercatat lebih dari 700 orang.



Herman menambahkan, Pemkab Cianjur dibantu sejumlah pihak sudah mendirikan posko pengungsian sementara bagi para korban yang rumahnya ambruk akibat diguncang gempa. Posko darurat dipusatkan di depan Kantor Bupati Cianjur.

"Sudah bangun posko di Pemkab Cianjur di depan Kantor Bupati Cianjur kita dibuka di sana rumah sakit darurat," bebernya.

Baca juga: Ratusan Korban Gempa Terus Berdatangan ke RSUD Sayang Cianjur 

Sekadar informasi, gempa bumi dengan magnitudo (M)5,6 dirasakan warga Jakarta dan sekitarnya. Tak hanya Jakarta, guncangan gempa juga dirasakan di Bandung, Bogor, Sukabumi, Depok, hingga Tangerang.

Berdasarkan laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa tersebut ternyata berpusat di darat 10 km barat daya Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada pukul 13.21 WIB, siang tadi.

Sabtu, 19 November 2022

DO'A ISTIGOSAH

Berikut ini adalah doa-doa yang dibaca dalam istighotsah, sebagaimana dalam buku “Panduan Praktis Istighotsah” oleh Pengurus Sahabat kultum 166
 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم


Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

 

الفَاتِحَة x1


(Surat Al-Fatihah)

 

 

 

أسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ x3


Saya mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung

 

 

 

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ x3


Tiada daya untuk menjauhi maksiat kecuali dengan pemeliharaan Allah dan tiada kekuatan untuk melakukan ketaatan kecuali dengan pertolongan Allah

 

 

 

أللَّهُمَّ صَلِّي عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ x3


Ya Allah. Limpahkanlah rahmat dan kemuliaan kepada junjungan kami Nabi Muhammad berserta keluarganya

 

 

 

لَا إلهَ إلَّا أنْتَ سُبْحَانَكَ إنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ x40


Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau, Maha Suci Engkau, Sungguh aku termasuk orang-orang yang telah berbuat dzalim

 

 

 

يَا اَللهُ يَا قَدِيْمُ x33


Wahai Allah, wahai Dzat yang ada tanpa permualaan

 

 

 

يَا سَمِيْعُ يَا بَصِيْرُ x33


Wahai Allah, wahai Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat

 

 

 

يَا مُبْدِعُ يَا خَالِقُ x33


Wahai Dzat yang mewujudkan sesuatu dari tidak ada, wahai Dzat Yang Maha Pencipta

 

 

 

يَا حَفِيْظُ يَا نَصِيْرُ يَا وَكِيْلُ ياَ اللهُ x33


Wahai Dzat yang memelihara dari keburukan dan kebinasaan, wahai Dzat Yang Maha Menolong, wahai Dzat yang menjamin rizki para hamba dan mengetahui kesulitan-kesulitan hamba, ya Allah

 

 

 

يا حي يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أسْتَغِيْثُ x33


Wahai Dzat Yang Hidup, yang terus menerus mengurus makhluknya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan-MU

 

 

 

يَا لَطِيْفُ x41


Wahai Dzat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

 

 

 

أسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ إنَّهُ كَانَ غَفَّارًا x33


Aku mohon ampung kepada Allah Yang Maha Agung, sunggu Allah Dzat Yang Maha Pengampun

 

 

 

أللَّهُمَّ صَلِّي عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيْلَتِي أدْرِكْنِي

يَا اَللهُ 
x3


Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kemuliaan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, sungguh telah habis daya dan upayaku maka tolonglah kami, Ya Allah Ya Allah Ya Allah

 

 

 

 

أللّهُمَّ صَلِّي صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ x1


Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau

 

 

 

يَا بَدِيْعُ x41


Wahai Dzat yang menciptakan makhluk tanpa ada contoh sebelumnya

 

 

 

 

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ x33


Cukup bagi kami Allah, dan Dia sebaik-baik penolong

 

 

 

 

يس x1


(Surat Yasiin)

 

 

 

 

اللهُ أكْبَرُ يَا رَبَّنَا وَإلَهَنَا وَسَيِّدَنَا أنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ x3


Allah maha besar maha mulia, Wahai Tuhan kami, sesembahan kami, tuan kami, Engkau-lah penolong kami, menangkan kami atas orang­orang kafir

 

 

 

حَصَّنْتُكُمْ بِالْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَا يَمُوْتُ أبَدًا وَدَفَعْتُ عَنْكُمُ السُّوْءَ بِألْفِ ألْفِ ألْفِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ x3


Aku mohonkan pemeliharaan untuk kalian kepada Dzat yang maha hidup dan terus menerus mengatur hamba-Nya yang tidak pernah mati selamanya, dan aku tolak dan hindarkan dari kalian segala keburukan dengan sejuta bacaan “La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adzim

 

 

 

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أنْعَمَ عَلَيْنَا وَهَدَانَا عَلَى دِيْنِ الإسْلَامِ x3


Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita nikmat dan petunjuk kepada agama Islam

 

 

 

بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَسُوْقُ الْخَيْرَ إلَّا اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا يَصْرِفُ السُّوْءَ إلَّا اللهُ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ مَا كَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ بِسْمِ اللهِ مَاشَاءَ اللهُ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِا للهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ x1


Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada yang mendatangkan kebaikan kecuali la. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada yang menyingkirkan keburukan kecuali la. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tidak ada kenikmatan melainkan dari Allah. Dengan nama Allah yang segala sesuatu terjadi dengan kehendak-Nya, tiada daya untuk berbuat kebaikan kecuali dengan pertolongan Allah dan tiada kekuatan untuk menghindar dari perbuatan maksiat kecuali dengan perlindungan Allah yang maha Mulia dan maha agung

 

 

 

سَألْتُكَ يَا غَفَّارُ عَفْوًا وَتَوْبَةً وَبِالْقَهْرِ يَا قَهَّارُ خُذْ مَنْ تَحَيَّلَا x3


Ya Allah, aku memohon ampunan dan taubat yang diterima kepada-Mu Ya Allah yang maha pengampun, dan dengan kekuatan dan kekuasaan-Mu Wahai Dzat yang maha mengalahkan, tundukkan dan hukumlah orang yang melakukan tipu muslihat dan ingin mencelakai kami

 

 

 

يَا جَبَّارُ يَا قَهَّارُ يَا ذَا الْبَطْشِ الشَّدِيْدِ خُذْ حَقَّنَا وَحَقَّ الْمُسْلِمِيْنَ مِمَّنْ ظَلَمَنَا وَالْمُسْلِمِيْنَ وَتَعَدَّى عَلَيْنَا وَعَلَى الْمُسْلِمِيْنَx3


Wahai Dzat yang maha mengalahkan, maha menundukkan, Dzat yang keras azab-Nya, ambilkan hak-hak kami dan hak-hak umat Islam dari orang-orang yang menzhalimi kami dan menzhalimi umat Islam, yang telah menganiaya kami dan menganiaya umat Islam

 

 

 

الفَاتِحَة x1


(Surat Al-Fatihah)

 

 

 

 

التَّهْلِيْل



 

 

Jumat, 18 November 2022

MAKNA DAN TRADISI PROSESI KHATAM AL-QURAN

Penelitian ini berusaha mengungkapkan  tradisi dan makna pada prosesi khatam Al-Qur’an, dalam penyebaran agama Islam tidak lepas dari akulturasi budaya seperti halnya prosesi khatam Al-Qur'an yang pada prosesnya berbeda di setiap daerahnya, penelitian ini telah dilakukan oleh para Ilmuwan.


merupakan tataran sunda tepatnya di sahabat kultum dan Baraya kultum  MARI BERIMAN dalam pelaksanaan prosesi (upacara) khatam Al-Qur’an baik tahpidz maupun tahsin memiliki tradisi. 


Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomologis.


Dalam penggalian data yaitu dengan observasi, wawancara mendalam (indepth nterview), dan metode focus group sahabat kultum dan Baraya Kultum


Jenis data dikumpulkan dalam penelitian ini adalah perkataan dan tindakan baik para pembaca Al-qur'an, Ustadz dan pencinta Kultum. 


Rangkain prosesi khatam Al-Qur’an di mulai dengan mengumpulkan nasi tumpeng, dan berkumpul untuk menyaksikan  para anggota baik itu berupa tahpidz maupun tahsin, kemudian setelah Anggo maupun undangan, memberi selamat berupa salaman pelukan maupun saweran setelah itu prosesi dan dilanjutkan dengan makan bersama dengan memotong tumpeng bagian atas yang di berikan kepada yang di hormati para pembaca Al-qur'an maupun ustadz.


Prosesi khatam Al-Qur’an merupakan tradisi yang merupakan upacara pengukuhan pada sahabat kultum dan Baraya kultum, sebagai legalitas atas prestasi dalam mempelajari Al-Qur’an baik tahpidz maupun tahsin. 


Prosesi khatam Al-Qur’an memiliki makna dan nilai sosial budaya, religus, pendidikan.

Kamis, 17 November 2022

Hindari 3 Perkara Ini Insya Allah Mulia di Dunia dan Akhirat


Hindari 3 Perkara Ini Insya Allah Mulia di Dunia dan Akhirat
Ada tiga perkara yang apabila dijauhi seorang muslim maka ia akan mendapatkan kemuliaan di dunia dan Akhirat. Foto/Ist
Bagi kaum muslimin yang ingin meraih kemuliaan di sisi Allah hendaknya menjauhi tiga perkara ini. Sahabat Nabi, Ja'far bin Abi Thalib diberi kemuliaan karena memberi perhatian kepada tiga perkara ini.

Dalam Kitab Al-Mawa'izh Al-'Usfuriyahkarya Syaikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury diceritakan kisah Ja'far mendapatkan kemuliaan dari Allah. Ja'far At-Thayyar radhiyallahu 'anhu dengan berkat kejujuran dan tidak berbohong selama hidupnya, ketika ia meninggal dunia, Allah memberinya dua sayap hijau yang dipenuhi dengan intan dan mutiara yang dapat ia gunakan terbang bersama para Malaikat. 

Baca Juga: Kisah Heroik Ja'far bin Abi Thalib, Pemilik 2 Sayap di Surga 

Suatu hari, Rasulullah shollallahu 'alaihi wasallam bertanya kepadanya: "Wahai Ja'far, wahai putra Abu Thalib, dengan amal apakah kamu bisa mencapai kemuliaanini?"

Ja'far menjawab: "Aku tidak tahu. Hanya saja aku menghindari 3 (tiga) perkara, baik dalam keadaan kafir (dulu) maupun dalam keadaan Islam".



Rasulullah SAW bertanya: "Apakah 3 perkara itu ?"

Ja'far menjawab: "Aku tidak berdusta, aku tidak berzina, dan aku tidak mabuk, baik dalam keadaan kafir (dulu) maupun dalam keadaan Islam."

Nabi bertanya: "Itu semua adalah perkara haram di dalam Islam. Dengan alasan apakah kamu mencegah ketiga perkara itu dalam keadaan kafir?".

Ja'far pun menjawab: "Aku berpikir di dalam perkataan, sesungguhnya orang yang berdusta dalam perkataannya, maka ia dicela (dianggap buruk) di antara para makhluk dan ia pun menjadi malu (terhina). Aku berpikir soal perkara zina, sesungguhnya orang yang berzina dengan istriku, anak perempuanku, atau saudara perempuanku, maka itu akan menjadi sebuah aib (kehinaan) bagiku, aku pun tidak mau menanggungnya. Demikian pula orang lain pun tidak akan mau menanggungnya, karena itulah aku mencegah zina. Adapun mencegah mabuk, aku melihat setiap makhluk menghendaki jika akal mereka bertambah melebihi orang-orang yang berakal, barang siapa yang meminum dan mabuk maka hilanglah akalnya dan tersibukkan oleh bicara ngelantur dan orang-orang menertawakannya, karena itulah aku mencegah minum (khamr)".

Kemudian datanglah Malaikat Jibril sembari berkata kepada Rasululah SAW: "Benar yang dikatakan Ja'far, Allah membernya dua sayap karena ia menghindari 3 perkara ini". 

Dari Ali bin Husain, dari kakeknya, dari Rasulullah SAW bersabda:

أَرْبَعُ خِصَالٍ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَمُلَ إِسْلَامُهُ وَلَوْ كَانَ مِنْ قَرْنِهِ إِلَى قَدَمِهِ خَطَايَا : اَلصِّدْقُ وَالشُّكْرُ وَالْحَيَاءُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Artinya: "Ada 4 hal yang apabila ada pada diri seseorang, maka sempurnalah Islam-nya meskipun dari ujung kepala hingga telapak kakinya terdapat kesalahan dosa. Empat hal tersebut adalah jujur, syukur, malu, dan akhlak yang baik".

Semoga kita mampu meneladani Ja'far At-Thayyar agar mendapatkan kemuliaan di dunia dan Akhirat.
(Ustadz Yachya Yusliha)

Minggu, 13 November 2022


Kisah Ulama Menggali Kuburnya Sendiri dan Khatamkan Al-Quran 8.000 Kali
Salah satu keistimewaan Habib Ahmad Al-Muhdhar semasa hidupnya menggali kuburannya sendiri sebelum beliau wafat dan mengkhatamkan Al-Quran hingga 8.000 kali. Foto/Ist
Kisah ini cukup populer di kalangan pecinta Habaib (Dzurriyah Nabi). Seorang ulama yang dikenal sebagai waliyullah, Habib Ahmad Al-Muhdhar (wafat 1304 H) menggali kuburannya sendiri dan mengkhatamkan Al-Qur'an hingga 8.000 kali. 

Ulama keturunan Nabi Muhammad SAW ini bernama lengkap Al-Imam Habib Ahmad bin Muhammad bin Alwi Al-Muhdhor. Lahir di Ar-Rasyid Ad-Du'aniyah Yaman pada Tahun 1217 H dan wafat 1304 H (Tahun 1886 M). Anak keturunan beliau tersebar di Malaysia dan Indonesia.

Baca Juga: Kisah Penggali Kubur Jadi Ulama, Awalnya Diperlihatkan Taman Surga yang Indah 

Salah satu keistimewaan Habib Ahmad Al-Muhdhar semasa hidupnya menggali kuburannya sendiri sebelum beliau wafat, terletak di depan masjid yang dibinanya. Pada saat itu keadaan beliau masih sehat. 

Setiap hari beliau masuk ke dalam kuburan yang digalinya itu dan mengkhatamkan Al-Qur'an di dalamnya berkali-kali. Jika dihitung, beliau mengkhatamkan Al-Qur'andi dalam lubang makamnya hingga 8.000 kali. 



Dalam Manaqib beliau diceritakan, saat usia 7 tahun sudah menghafal 30 Juz Al-Qur'an. Habib Ahmad Al-Muhdhar dikenal memiliki kecintaan luar biasa kepada Sayyidatuna Khadijah Al-Kubro. Banyak qasidah dan syair beliau karang memuji istri Baginda Rasulullah SAW yang mulia itu.

Salah satu amalan dan mujahadah beliau disebutkan, kehidupan hariannya selalu membaca Al-Qur'an lebih 50 tahun sebelum kewafatannya. Beliau menggali liang lahadnya sendiri dan mengkhatamkan Al-Qur'an di dalam kuburan itu sebanyak 8.000 kali atau sekitar 30 tahun sebelum kewafatannya.

Tatkala anaknya bernama Hamid melihat ayahnya membaca Al-Qur'an di dalam kuburan yang digalinya, bertanya: "Kenapa bersusah payah wahai ayah sehingga sanggup membaca Al-Qur'an di dalam liang lahad ini?" Maka dijawab sang ayah: "Tidaklah menjadi bebanan buat aku andai sekiranya Rabiatul Adawiyah membaca Al-Qur;an di liang lahadnya sendiri dan mengkhatamkan 7.000 kali Al-Qur'an sebelum wafat."
Kisah Ulama Menggali Kuburnya Sendiri dan Khatamkan Al-Qur'an 8.000 Kali

Bahkan, Habib Ahmad Al-Muhdhor sering menziarah makam Syaikh Said bin Isa Al-Amudi di perkampungan Qaidun. Di dalam perjalanan itu, beliau membaca Al-Qur'an di awal perjalanannya di Quwaireh dan mengkhatamkanya setibanya di Qaidun. Jarak antara Quwaireh dan Qaidun pada zaman itu kurang lebih 4 jam dengan berjalan kaki. 

Beliau menziarahi Makam Syaikh Said bin Isa pada waktu pagi atau petang dan pulang sebelum fajar untuk Sholat Subuh di Quwaireh. Beliau juga membaca seperempat dari Al-Quran setiap kali menunaikan Sholat Sunnah Dhuha.

Habib Ahmad Al-Muhdhar membina masjid berdekatan rumahnya dan menamakannya dengan Masjid an-Nabiyyil Mukhtar. Kajian ilmu dan rauhah mendidik masyarakat dan murid-muridnya dilakukan di masjid yang bersebelahan dengan kuburan yang digalinya. 

Habib Ahmad bin Muhammad Al-Muhdhor menghadap sang Khaliq pada 7 Shafar Tahun 1304 Hijriyah (Tahun 1886 M) dan dimakamkan di kuburan yang digalinya sendiri. Masya Allah benar-benar wafat yang indah. 

Begitulah para ulama menyiapkan bekalnya sebelum datangnya kematian. Bahkan orang-orang saleh terdahulu menggali kuburan sendiri dan menyiapkan kain kafan sebelum wafat. Semoga kisah ini menjadi ibrah bagi kita.
(Ustadz Yachya Yusliha)

Sabtu, 12 November 2022

Kisah Inspiratif Ular vs Manusia: Kebaikan Takkan Pernah Sia-sia.


Kisah Inspiratif Ular vs Manusia: Kebaikan Takkan Pernah Sia-sia

Kadang kita telah ikhlas mengorbankan waktu, pikiran bahkan harta benda, untuk menolong orang lain, tapi orang yang kita bantu justru memandang sebelah mata, bahkan berbuat jahat kepada kita. Lalu bagaimana kita menyikapinya? Berikut ini kisah ular versus manusia, tentang kebaikan yang tak akan pernah sia-sia.
 

***


Alkisah, ada laki-laki bernama Muhammad Ibnu Hamir yang siang rajin berpuasa dan malam beribadah qiyamul lail. Suatu saat ia pergi berburu hewan. Di tengah perjalanan ada ular yang menghadangnya. Lalu terjadilah dialog di antara keduanya.
            

Si Ular: “Hai Muhammad, tolong selamatkan diriku.”


Ibnu Hamir: “Dari siapa?”


Si Ular: “Dari musuhku. Dia berbuat jahat kepadaku.”


Ibnu Hamir: “Musuhmu siapa?”


Si Ular: “Musuhku ada di belakangku.”


Ibnu Hamir: “Kamu dari golongan umat siapa?”


Ular: “Dari umat Muhammad saw.”

 

***


Seketika itu Ibnu Hamir membuka selendangnya dan berkata: 


“Masuk selendang sini aja.”


Si Ular: “Kalau aku di dalam selendang, musuhku akan tahu.”


Ibnu Hamir: “Lalu apa yang harus aku lakukan?”


Si Ular: “Jika kamu sudi berbuat baik kepadaku, bukalah mulutmu hingga aku masuk ke sana.”


Ibnu Hamir: “Aku khawatir kamu akan membunuhku.”


Si Ular: “Tidak, demi Allah. Tak mungkin aku tega membunuhmu.”


Kemudian Ibnu Hamir perlahan membuka mulutnya, dan Si Ular pun segera masuk ke dalam tubuhnya.


***


Setelah Ibnu Hamir meneruskan perjalanan, ia berpapasan dengan orang yang membawa parang yang ternyata adalah musuh di ular. 


Si Musuh: “Hai Muhammad!”


Ibnu Hamir: “Ada yang bisa ku bantu?”


Si Musuh: “Apakah kau bertemu dengan musuhku?”


Ibnu Hamir: “Musuhmu siapa?”


Si Musuh: “Musuhku seekor ular.”


Ibnu Hamir: “Maaf aku tidak tahu.” 


Demikian ucap Ibnu Hamir menutup-nutupi sembari mengucapkan istighfar 100 kali, karena sebenarnya ia mengetahui di mana Si Ular bersembunyi. 


***


Perlahan Ibnu Hamir melangkahkan kaki meneruskan perjalanan. Setelah cukup jauh Si Ular pun mengeluarkan kepalanya.


Si Ular: “Sudahkah musuhku pergi dari sini?”


Ibnu Hamir: “Ku lihat kiri kanan, tiada siapapun. Jika ingin keluar silahkan.”


Si Ular: “Hai Muhammad, ada dua opsi untukmu. (1) Kau pilih aku hancurkan limpamu dari dalam; atau (2) aku lubangi hatimu ini dan ku biarkan dirimu tanpa ruh!”


Ibnu Hamir: “Subhanallah … Lho di mana janji yang telah kau ucapkan?” Apakah kau lupa dengan sumpahmu? Kok cepat banget kamu melupakannya?”


Si Ular: “Mengapa kamu lupa permusuhanku dengan moyangmu, Nabi Adam, dimana aku membuatnya keluar dari surga. Salahmu sendiri, atas dasar apa kau lakukan kebaikan kepada makhluk yang tak sepantasnya diperlakukan secara baik?”


Ibnu Hamir tak menyangka jawaban keji dari ular yang telah ditolongnya sampai-sampai terpaksa berbohong pula. 


Ibnu Hamir: “Kau yakin akan membunuhku?”


Si Ular: “Iya, pasti.”


Ibnu Hamir: “Kalau gitu, tunggu sebentar hingga aku naik ke gunung untuk menyiapkan diri.”


Si Ular: “Silahkan berbuat semaumu.”


Lalu Muhammad bin Hamir pun naik ke atas gunung di tengah keputusasaan, tak ada harapan lagi untuk hidup di dunia. 
 

***


Sesampai di puncak, Ibnu Hamir menatap arah langit sembari berdoa:


يَا لَطِيفُ، يَا لَطِيفُ، اُلْطُفْ بِي بِلُطْفِكَ الْخَفِيِّ. يَا لَطِيفُ، بِالْقُدْرَةِ الَّتِي اسْتَوَيْتَ بِهَا عَلَى الْعَرْشِ، فَلَمْ يَعْلَم الْعَرْشُ أَيْنَ مُسْتَقِرُّكَ إِلَّا مَا كَفَيْتَنِيْ هَذِهِ الْحَيَّةَ


Artinya, “Wahai Allah Dzat Yang Mahalembut, wahai Allah Dzat Yang Mahalembut, berlaku lembutlah kepadaku dengan kelembutan-Mu yang samar. Wahai Allah Dzat Yang Mahalembut, dengan kekuasan-Mu yang denganya Engkau menguasai Arsy’, lalu Arsy pun tidak mengetahui di mana kekuasan-Mu, kecuali tidak Engkau lindungi diriku dari kejahatan ular ini.” 
 

***


Ibnu Hamir kemudian melanjutkan jalannya. Tak disangka, seketika itu ada sosok lelaki rupawan, berbau harum wangi, dan sangat bersih, yang menghampirinya. 


Si Rupawan: “Salamun 'alaika, hai Muhammad. Kenapa kau kelihatan sedih? Ada apa gerangan?”


Ibnu Hamir: “Wa’alaikassalam, hai sudaraku. Musuhku telah berbuat jahat kepadaku.”


Si Rupawan: “Musuhmu di mana?”


Ibnu Hamir: “Di dalam perutku.”


Sejurus kemudian Si Rupawan itu memberikan suatu daun hijau seperti daun Zaitun kepada Ibnu Hamir, sambil berkata:


“Hai Muhammad, kunyahlah daun ini. Setelah itu kau telan.”


Tak terduga, seketika Ibnu Hamir mengunyah dan menelannya, Si Ular berputar-putar di dalam perutnya dan keluar berkeping-keping dari arah bawah atau duburnya. 


Menyaksikan keajaiban itu, Ibnu Hamir memegang baju Si Rupawan dan bertanya:


“Siapa sebenarnya dirimu, dimana Allah telah menyelamatkanku dengan perantara dirimu?"

 

"Apakah kamu belum kenal diriku, hai Muhammad?”, kata Si Rupawan setelah sebelumnya tertawa karena ketidaktahuan Ibnu Hamir.


Ibnu Hamir: “Belum.”


Si Rupawan: “Mengertilah wahai Muhammad bin Hamir! Saat kau dianiaya oleh Si Ular dan kau berdoa dengan doa tadi, para malaikat di langit mengadu kepada Allah swt dan Allah pun segera mengutus diriku datang menolongmu. Aku adalah malaikat Ma’ruf yang tinggal di langit keempat. Dikatakan kepadaku: 


'Pergilah ke Surga, ambil daun berwarna hijau, dan segera berikan kepada hamba-Ku, Muhammad bin Hamir.'


Karena itu, wahai Muhammad, tetaplah berbuat baik kepada orang lain. Karena perbuatan baik itu akan menjaga pelakunya dari keburukan. Meskipun orang yang dibaiki—atau diperlakukan secara baik—tidak memedulikannya, namun di sisi Allah kebaikan tidak akan pernah akan tersia-sia."


***


Demikian kisah ini disampaikan oleh Syekh Ahmad bin Hijazi al-Fasyani. Kisah ini secara persis dapat disimak dalam kitabnya al-Majalisus Saniyyah. (Ahmad bin Hijazi al-Fasyani, al-Majalisus Saniyah fil Kalam 'alal Arba'in An-Nawawiyah, [Semarang, Maktabah al-‘Alawiyah], halaman 40).


Kisah tersebut mengilhami kepada kita, kebaikan kita kepada orang lain tidak akan pernah sia-sia. Walaupun orang yang diberi kebaikan tidak membalas, atau bahkan ia tidak mengakuinya, namun sudah menjadi sunnatullah, kebaikan pasti akan dibalas oleh Allah swt. Kebaikan tidak akan pernah sia-sia. Bahkan kebaikan akan menyelamatkan kita dari arah yang tidak terduga. 


Berbuat baiklah kepada semua orang



Wallahua’lam