Senin, 19 Desember 2022

Rusaknya Hati Bermula dari 6 Perkara Ini, Nomor 5 Sering Tak Disadari


Rusaknya Hati Bermula dari 6 Perkara Ini, Nomor 5 Sering Tak Disadari
Orang yang menaruh perhatian terhadap hati (qalbu) niscaya akan melahirkan akhlak yang baik. Foto/ilustrasi
Dalam Islam, hati adalah sesuatu yang sangat berharga. Apabila ia rusak, maka dapat menyebabkan musibah dan rusaknya amal perbuatan. Ada enam perkara yang menyebabkan rusaknya hati.

Dalam satu Hadis shahih, Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda yang artinya: "Di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati." (HR Al-Bukhari, Muslim)

Dalam Kitab An-Nashaihul 'Ibad karya Imam an-Nawawi Al-Bantani disebutkan enam (6) perkara penyebab rusaknya hatiyang diriwayatkan oleh ulama Tabi'in Imam Hasan Al-Bashri. 

إِنَّ فَسَادَ اْلقُلُوْبِ عَنْ سِتَّةِ أَشْيَاءَ : أَوَّلُهَا يُذْنِبُوْنَ بِرَجَاءِ التَّوْبَتِ، وَيَتَعَلَّمُوْنَ اْلعِلْمَ وَلَا يَعْمَلُوْنَ، وَإِذَا عَمِلُوْا لَا يُخْلِصُوْنَ، وَيَأْكُلُوْنَ رِزْقَ اللهِ وَلَا يَشْكُرُوْنَ، وَمَا يَرْضَوْنَ بِقِسْمَةِ اللهِ، وَيَدْفَنُوْنَ مَوْتَاهُمْ وَلَا يَعْتَبِرُوْنَ

Artinya: "Rusaknya hati bermula dari enam perkara, yaitu [1] Melakukan dosa dengan harapan diampuni, [2] Menimba ilmu namun tak mengamalkannya, [3] Jika beramal tak diiringi dengan keikhlasan [4] Memakan rezeki dari Allah namun tak mensyukurinya [5] Tidak ridho dengan ketentuan Allah [6] Engkau menguburkan jenazah tapi tidak mengambil pelajaran darinya." (Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah)



1. Melakukan Dosa dengan Harapan Diampuni
Bertaubat ketika tergelincir dalam dosa tentu hal yang dianjurkan. Namun, apabila berbuat dosa berharap bisa bertobat dan diampuni maka dapat menyebabkan rusaknya hati. Ia sadar melakukan maksiat, tapi berangan-angan dosanya akan diampuni kelak di kemudian hari. Ia menganggap remeh dosanya dan akhirnya menutupi hatinya. 

2. Menimba Ilmu Namun Tak Mengamalkannya
Penyebab rusaknya hati berikutnya yaitu menimba ilmu tetapi tidak mengamalkannya. Ilmu yang dipelajarinya hanya sebagai hiasan, tidak bermanfaat sama sekali untuk kebaikannya atau untuk orang lain. Seperti kata pepatah Arab, ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. 

3. Beramal Tak Diiringi dengan Keikhlasan
Perusak hati berikutnya adalah beramal namun tidak diiringi hati yang ikhlas. Sering berbuat baik tapi tujuannya agar dipuji orang lain. Misalnya, suka bersedekah agar disebut seorang dermawan. Amalan yang ikhlas adalah meniadakan tujuan-tujuan lain selain mengharapa ridha Allah semata.

4. Memakan Rezeki dari Allah Namun Tak Mensyukurinya
Penyebab hati rusak berikutnya adalah enggan bersyukur atas karunia rezeki dari Allah. Salah satu tanda orang yang tidak bersyukur adalah sulit berterima kasih. Apa yang dimakan atau diperolehnya dianggap sebagai hasil usahanya sendiri. Ia tidak mau memuji kebaikan karunia Allah. Padahal Nabi bersabda: "Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah." (HR at-Tirmidzi) 

5. Tidak Ridho dengan Ketentuan Allah
Penyebab rusaknya hati berikutnya adalah tidak ridho dengan ketentuan dan takdir Allah. Ini sering tidak disadari banyak orang. Apabila rezekinya sedikit ia bekeluh kesah, bahkan menaruh prasangka buruk kepada Allah. Jika ia ditimpa musibah atau ujian berat, ia merasa dihinakan Allah. Apabila hidupnya susah, ia protes kepada Allah seakan-akan mengatakan Tuhan itu tidak adil. Na'udzubillah! Orang yang tidak ridho kepada Allah biasanya sering mengeluh, merasa kurang, hatinya gelisah, dan enggan bersyukur. Padahal nikmat dan musibah adalah ujian yang di dalamnya ada pahala besar bagi orang yang ridho. Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang ridho (kepada ketentuan Allah) maka Allah akan ridho kepadanya." (HR Tirmidzi)

6. Menguburkan Jenazah Tapi Tidak Mengambil Pelajaran Darinya
Poin keenam ini juga termasuk penyebab rusaknya hati. Sering menguburkan jenazah namun tidak mengambil pelajaran darinya. Selesai menguburkan jenazah, tidak ada sesuatu yang membekas padanya. Urusan menguburkan jenazah lewat begitu saja. Padahal, kematian adalah nasihat terbaik. Seperti disabdakan Nabi, liang kubur merupakan awal perjalanan akhirat. Jika seseorang selamat dari (azab)nya maka perjalanan selanjutnya akan lebih mudah. Namun jika ia tidak selamat dari nya maka selanjutnya akan lebih berat.

Demikian enam perkara yang menyebabkan rusaknya hati. Lalu, bagaimana cara kita menjaga hati agar tidak terkotori. Berikut pesan Rasulullah SAW :

عَنِ ابن عُمَرَ رَضَيِ اللٌهُ عَنهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلَيِ عَلَيهِ وَسَلٌمَ اِنٌ هذِهِ القُلُوبَ تَصدَأ الحَدِيدُ اِذَا أصَابَهُ المَاءُ، قِيلَ يَارَسُولَ اللٌهِ وَمَا جِلآوُهَا ؟ قَالَ كَثُرَةُ ذِكرِ الَموتِ وَتلآوَةُ القُرانِ. (رواه البيهقي في شعب الإيمان) 

"Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma berkata bahwa Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air." Beliau ditanya "Wahai Rasulullah, bagaimana cara membersihkannya? Rasulullah bersabda: "Memperbanyak mengingat maut dan membaca Al-Qur'an." (HR Al-Baihaqi)

Minggu, 18 Desember 2022

Mengungkap Rahasia Rezeki, Ada 2 Kategori Menurut Ali bin Abi Thalib


Mengungkap Rahasia Rezeki, Ada 2 Kategori Menurut Ali bin Abi Thalib
Kebanyakan manusia menganggap rezeki itu selalu uang dan materi, padahal karunia Allah sangat luas. Foto/dok Darunnajah
Kata rezeki merupakan serapan dari Al-Qur'an yang berasal dari kata razaqa yarzuqu rizqan. Maknanya adalah anugerah, kekayaan, harta, pemberian, upah atau hadiah. Ada 2 (dua) kategori rezeki menurut sahabat Ali bin Abi Thalibkaramallahu wajhah.

Kata "rezeki" sendiri disebut 123 kali dalam Al-Qur'an dengan bentuk fi'il, isim dan makna yang berbeda-beda. Salah satu ayat rezeki yang populer dalam Al-Qur'an, Allah berfirman: 

وَمَا مِنۡ دَآ بَّةٍ فِى الۡاَرۡضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزۡقُهَا وَ يَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَا‌ؕ كُلٌّ فِىۡ كِتٰبٍ مُّبِيۡنٍ

Artinya: "Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS Hud ayat 6)

Perhatikan makna jaminan rezeki yang dimaksud ayat di atas. Kebanyakan manusia menganggap rezeki itu selalu uang dan materi, padahal karunia Allah sangat luas.



Ustaz Abu Hurairah Abd Salam Lc MA dalam satu khutbah Jumat di Masjid Istiqlal Jakarta menegaskan bahwa rezeki tidak semata-mata hanya materi. Kesehatan, karier, jabatan, kesempatan untuk ibadah hingga memiliki keluarga yang sakinah, istri dan anak-anak yang saleh, semua itu adalah rezeki.

"Sayangnya banyak orang merasa galau, gelisah, dan khawatir akan rezekinya. Sehingga tidak sedikit di antara mereka yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan rezeki. Para ulama mengatakan, rezeki itu adalah karunia dari Allah," kata Ustaz Abu Hurairah dalam khutbah Jumatnya beberapa waktu lalu.

Sejatinya, hakikat rezeki ada dua kategori sebagaimana dikatakan sahabat Nabi, Sayyidina Ali bin Thalib radhiyallahu 'anhu. 

أبي طالب: الرزق نوعان: رزق يطلبك، ورزق تطلبه. فأما الذي يطلبك فسوف يأتيك ولو على ضعفك. وأما الذي تطلبه فلن يأتيك إلا بسعيك. وهو أيضا من رزقك. فالأول فضل الله. والثاني عدل من الله.

Artinya: "Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata: Ada dua jenis rezeki: (1) Rezeki yang mencarimu dan (2) Rezeki yang kamu cari. Rezeki yang mencarimu akan datang padamu sekalipun kamu dalam keadaan tidak berdaya. Adapun rezeki yang kamu cari, maka tidak akan datang padamu kecuali dengan usahamu. Yang pertama anugerah dari Allah, sedang yang kedua adalah keadilan dari Allah."⠀⠀

1. Rezeki yang Mencarimu
Artinya, pemberian dari Allah kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Rezeki yang pertama ini merupakan anugerah dari Allah. Biasanya rezeki ini datang tak diduga-duga kepada mereka yang bertakwa dan beramal saleh. Ini merupakan jaminan Allah dalam Al-Qur'an: "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya." (At-Thalaq ayat 2-3). Tidak peduli orang yang mendapatkanya orang yang lemah atau tidak mampu dalam mencari rezeki. Allah juga memberi rezeki bagi orang yang bersyukur dan ridha atas pemberian-Nya.

2. Rezeki yang Dicari
Ini merupakan jenis rezeki yang diperoleh berkat usaha dan ikhtiar. Jenis rezeki membutuhkan usaha dan kerja keras untuk mendapatkannya. Seperti orang yang bekerja di kebun, berdagang, atau bekerja kantoran, mereka mendapatkan uang dari hasil usahanya. Kategori rezeki ini tidak akan datang kecuali dengan berusaha. Tidak perduli muslim, non muslim, bagi yang bekerja maka ia akan mendapatkan rezeki atas usahanya. Ini merupakan keadilan Allah bagi manusia yang mau berusaha.

Sabtu, 17 Desember 2022

Patut Ditiru, Begini Cara Rasulullah SAW Menjaga Kesehatan Jantung


Patut Ditiru, Begini Cara Rasulullah SAW Menjaga Kesehatan Jantung
Cara Rasulullah SAW menjaga kesehatan jantung perlu ditiru. Salah satunya dengan tidur berkualitas dan mendirikan sholat malam. Foto/Ist
Tips sehat ala Rasulullah SAW patut diteladani semua orang termasuk cara beliau menjaga kesehatan jantung. Dalam riwayat disebutkan, Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam semasa hidupnya hanya mengalami sakit dua kali. 

Pertama, beliau sakit karena diracun oleh wanita Yahudi. Kedua, beliau mengalami demam ketika menjelang wafat beliau di Madinah.

Berikut ini kita tips atau cara Rasulullah SAW menjaga kesehatan jantung. Seperti diketahui, jantung merupakan hal penting bagi kelangsungan hidup manusia karena fungsinya memompa darah ke seluruh tubuh. 

Karena itu banyak orang mencoba melakukan berbagai cara demi menyehatkan jantungnya mulai dari rajin berolahraga hingga memakan makanan tertentu.

Dalam Islam sendiri terdapat cara untuk menjaga kesehatan jantung sebagaimana diterapkan Rasulullah SAW. Secara medis, kebiasaan harian Nabi Muhammad SAW terbukti dapat menyehatkan organ vital tersebut.



Salah satu cara Rasulullah SAW menjaga kesehatan jantung adalah dengan tidur. Namun bukan tidur yang tidak berkualitas.

Diriwayatkan dari Al-barra ibn Azib bahwa Rasulullah SAW berkata kepadanya: "Jika kau hendak tidur, berwudhulah seperti wudhu untuk shalat, kemudian berbaringlah diatas sisi kanan tubuhmu, lalu ucapkan: "Ya Allah, kuhadapkan wajahku sepenuhnya kepada-Mu dan kuserahkan urusanku kepada-Mu dengan rasa harap dan rasa takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berpaling dan tempat berlari dari-Mu, kecuali kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada nabi-Mu yang engkau utus (dengan begitu) jika kamu meninggal dalam tidurmu, sungguh kamu meninggal dalam keadaan fitrah (suci). Jadikan doa itu sebagai ucapan terakhir yang kamu ucapkan sebelum tidur."

Ketika tidur, posisi tubuh dimiringkan ke sisi kanan. Hal tersebut merupakan posisi yang paling nyaman dan menenangkan bagi semua organ tubuh, termasuk jantung.

Pada posisi tersebut, semua anggota tubuh (kecuali tangan kiri) berada lebih rendah dari jantung. Oleh karena itu, aliran darah dari bilik kiri mengalir lebih lancar ke seluruh bagian tubuh.

Pada posisi ini, semua anggota tubuh (kecuali tangan kiri) berada lebih rendah dari jantung. Oleh karena itu, aliran darah dari bilik kiri mengalir lebih lancar ke seluruh bagian tubuh.

Tidak dianjurkan menggunakan bantal yang terlalu tinggi untuk tidur. Hal ini akan menyulitkan aliran darah ke bagian kepala.Sebagaimana dengan tidur yang dicontohkan Nabi dimana beliau tidur dengan kepala disangga dengan bantal tipis atau dengan tangannya dengan posisi miring ke kanan.

Setelah tidur yang cukup lama, kita dianjurkan untuk mendirikan sholat Tahajud. Sholat tahajud di tengah malam menjaga kita dari sakit hipertensi maupun sakit jantung.

Pada tengah malam, secara fisiologis terjadi tidur pada fase yang tidak lelap (non-rapid eye movement/NREM) yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi detak jantung dan iregularitas irama jantung.Oleh karena itu, terjaganya seseorang dari tidur dan menegakkan sholat di malam hari akan menjaganya dari peningkatan tekanan darah dan denyut jantung.

Selain itu, pada fase tidur yang tidak lelap, kemampuan pergerakan fimbria (permukaan menonjol) sel berkurang. Hal ini akan memudahkan pathogen (virus, bakteri dll) untuk masuk ke dalam tubuh.

Dengan menegakkan sholat malam, fungsi fimbria tersebut dapat kembali ke kondisi awal dan melindungi seseorang dari masuknya zat asing seperti pathogen ke dalam tubuh sehingga mencegah terjadinya penyakit.

Kemudian gerakan Sujud dalam sholat juga akan membantu aliran darah ke bagian otak dengan relatif mudah. Jantung tidak perlu bekerja keras untuk mengalirkan darah oleh karena posisinya otak yang lebih rendah dibandingkan jantung.

Pada malam hari kadar kortisol akan menurun. Kortisol merupakan hormon tubuh yang berperan penting dalam respon stres tubuh. Tidur dengan keadaan yang suci akan memberikan ketenangan jiwa dan kenyamanan bagi seluruh anggota tubuh disaat kadar kortisol menurun di malam hari.

Dalam keadaan tenang dan nyaman, sistem parasimpatik akan bekerja sehingga melindungi dari efek penambahan kortisol dan katekolamin seperti darah tinggi.

Wudhu juga dapat melindungi dari gangguan setan di saat seseorang tertidur (salah satunya dalam bentuk mimpi buruk). Begitulah Islam mengatur semua aktivitas muslim dalam kesehariannya, tidak terkecuali pada aktivitas tidur. Semoga bermanfaat.


Jumat, 16 Desember 2022

Hikmah Berbaring Sejenak ke Kanan Sebelum Sholat Subuh Berjamaah.


Hikmah Berbaring Sejenak ke Kanan Sebelum Sholat Subuh Berjamaah
Ada beberapa hikmah berbaring sejenak (tiduran) ke sisi kanan sebelum mengerjakan sholat subuh berjamaah. Foto/Ist
Berbaring sejenak (tiduran) ke sisi kanan sebelum sholat berjamaah merupakan Sunnah Nabi yang jarang diketahui umat muslim. Terdapat beberapa hikmah di dalam sunnah yang satu ini.

Dalam satu Hadis sahih, Rasulullah SAWmenganjurkan umatnya tiduran miring ke kanan sejenak usai sholat sunnah qabliyah Subuh. 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا صَلَّى رَكْعَتَي الفَجْرِ ، اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الأَيْمَن . رَوَاهُ البُخَارِي 

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Apabila Nabi shollallohu 'alaihi wasallam setelah sholat dua rakaat (sebelum) Shubuh, beliau berbaring di atas sisi tubuhnya yang kanan." (HR Al-Bukhari 1160)

Dalam Kitab Hasiyah Al-Bujairomi ala' Khotib dijelaskan beberapa hikmahnya. 



الإضطجاع قبل صلاة الصبح
(بِاضْطِجَاعٍ عَلَى يَمِينِهِ) أَيْ أَوْ يَسَارِهِ وَالْيَمِينُ أَفْضَلُ، وَحِكْمَةُ ذَلِكَ تَذَكُّرِ ضَجْعَةِ الْقَبْرِ أَوَّلَ النَّهَارِ لِيَكُونَ بَاعِثًا لَهُ عَلَى أَعْمَالِ الْآخِرَةِ أَوْ لِإِظْهَارِ الْعَجْزِ فِي أَوَّلِ النَّهَارِ ق ل. وَيَقُولُ فِي حَالِ اضْطِجَاعِهِ: اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ وَعِزْرَائِيلَ وَرَبَّ مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَجَرَنِي مِنْ النَّارِ ثَلَاثًا.

"‌Disunnahkan (setelah sholat sunnah) sebelum sholat Subuh untuk tiduran miring ke kanan. Atau (tetap mendapatkan kesunnahan dengan) miring ke kiri, tetapi miring ke kanan lebih utama."

Hikmahnya:
1. Agar pada permulaan hari (pagi hari) bisa mengingat bahwa kelak ketika mati akan ditidurkan miring di kuburan. Sehingga hal itu bisa menggugah dirinya untuk beramal untuk akhiratnya.
2. Untuk menunjukkan bahwa diri ini adalah hamba yang lemah.

Doa yang Dianjurkan
Ketika tiduran sejenak sebelum sholat Subuh dianjurkan membaca doa berikut sebanyak 3 kali:

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ , وَمِيكَائِيلَ , وَإِسْرَافِيلَ , وَعزْرَاعِيلَ ورَبَّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجِرْنِي مِنَ النَّارِ

Allohumma Robba Jibriila, wa Mikaila, wa Isrofila, wa 'Ijro'ila wa Robba Sayyidina Muhammadin shollallohu 'alaihi wasallama, ajirnii minnannar. 

Artinya: "Ya Allah Tuhannya Jibril, Mikail, Isrofil, Izroil dan Tuhannya Sayyidina Muhammad SAW, lindungilah aku dari neraka."

Atau dapat membaca doa ini:

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ وَعِزْرَائِيلَ وَرَبَّ مُحَمَّدٍ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أعوذ بك من النار


Wallahu A'lam

Kamis, 15 Desember 2022

Mengucapkan Selamat Natal, Begini Rincian Hukumnya..


Hukum mengucapkan selamat Natal disampaikan di artikel ini. (Foto:

- menjelaskan hukum mengucapkan selamat Natal.


Karena menjelang perayaan Natal seperti saat ini, biasanya muncul perdebatan di tengah masyarakat tentang hukum seorang muslim mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani atau siapa saja yang memperingatinya.


Tidak jarang, perdebatan itu menimbulkan percekcokan, bahkan vonis kafir (takfîr).   
 

Penjelasan atau rincian dari hukum tersebut adalah sebagai berikut.
 

1. Tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan tegas menerangkan keharaman atau kebolehan mengucapkan selamat Natal. Padahal, kondisi sosial saat Nabi Muhammad hidup mengharuskannya mengeluarkan fatwa tentang hukum ucapan tersebut, mengingat Nabi dan para sahabat hidup berdampingan dengan orang Yahudi dan Nasrani (Kristiani).  
 

2. Karena tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan tegas menerangkan hukumnya, maka masalah ini masuk dalam kategori permasalahan ijtihadi yang berlaku kaidah:   
 

لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيْهِ وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ   
 

Artinya: 


Permasalahan yang masih diperdebatkan tidak boleh diingkari (ditolak), sedangkan permasalahan yang sudah disepakati boleh diingkari.   
 

 

3. Dengan demikian, baik ulama yang mengharamkannya maupun membolehkannya, sama-sama hanya berpegangan pada generalitas (keumuman) ayat atau hadits yang mereka sinyalir terkait dengan hukum permasalahan ini.


 Karenanya, mereka berbeda pendapat.
 

- Sebagian ulama, meliputi Syekh bin Baz, Syekh Ibnu Utsaimin, Syekh Ibrahim bin Ja’far, Syekh Ja’far at-Thalhawi dan sebagainya, mengharamkan seorang muslim mengucapkan selamat Natal kepada orang yang memperingatinya.    

Mereka berpedoman pada beberapa dalil, di antaranya: Firman Allah dalam surat Al-Furqan ayat 72:   
 

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا   
 

Artinya: 


Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.   

 
Pada ayat tersebut, Allah menyebutkan ciri orang yang akan mendapat martabat yang tinggi di surga, yaitu yang tidak memberikan kesaksian palsu. Sedangkan, seorang muslim yang mengucapkan selamat Natal berarti dia telah memberikan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan umat Kristiani tentang hari Natal. Akibatnya, dia tidak akan mendapat martabat yang tinggi di surga. Dengan demikian, mengucapkan selamat Natal hukumnya haram.   

 

Di samping itu, mereka juga berpedoman pada hadits riwayat Ibnu Umar, bahwa Nabi bersabda:   

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
 

Artinya: 


Barang siapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk bagian kaum tersebut

(HR Abu Daud, nomor 4031).
 

Orang Islam yang mengucapkan selamat Natal berarti menyerupai tradisi kaum Kristiani, maka ia dianggap bagian dari mereka.


Dengan demikian, hukum ucapan dimaksud adalah haram.
 

- Sebagian ulama, meliputi Syekh Yusuf Qaradhawi, Syekh Ali Jum’ah, Syekh Musthafa Zarqa, Syekh Nasr Farid Washil, Syekh Abdullah bin Bayyah, Syekh Ishom Talimah, Majelis Fatwa Eropa, Majelis Fatwa Mesir, dan sebagainya membolehkan ucapan selamat Natal kepada orang yang memperingatinya. 
 

Mereka berlandaskan pada firman Allah dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8:
 


  لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ      


 

Artinya: 


Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
 

Pada ayat di atas, Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik kepada siapa saja yang tidak memeranginya dan tidak mengusirnya dari negerinya.


Sedangkan, mengucapkan selamat Natal merupakan salah satu bentuk berbuat baik kepada orang non Muslim yang tidak memerangi dan mengusir, sehingga diperbolehkan.
 

Selain itu, mereka juga berpegangan kepada hadits Nabi riwayat Anas bin Malik:
 

 

   كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَقَالَ لَهُ: أَسْلِمْ. فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهُوَ عِنْدَهُ، فَقَالَ لَهُ: أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَسْلَمَ. فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ: (الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ) ـ   

 

Artinya: 


Dahulu ada seorang anak Yahudi yang senantiasa melayani (membantu) Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian ia sakit. Maka, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mendatanginya untuk menjenguknya, lalu beliau duduk di dekat kepalanya, kemudian berkata: Masuk Islam-lah! Maka anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang ada di dekatnya, maka ayahnya berkata:Taatilah Abul Qasim (Nabi SAW). Maka anak itu pun masuk Islam. Lalu Nabi SAW keluar seraya bersabda: Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari neraka. (HR Bukhari, No. 1356, 5657)   
 

Menanggapi hadits tersebut, Ibnu Hajar berkata: 


Hadits ini menjelaskan bolehnya menjadikan non-muslim sebagai pembantu, dan menjenguknya jika ia sakit. (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari, juz 3, halaman: 586).   
 

Pada hadits di atas, Nabi mencontohkan kepada umatnya untuk berbuat baik kepada non-muslim yang tidak menyakiti mereka.


Mengucapkan selamat Natal merupakan salah satu bentuk berbuat baik kepada mereka, sehingga diperbolehkan.
 

Dari pemaparan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang ucapan selamat Natal. 


Ada yang mengharamkan, dan ada yang membolehkan.


Umat Islam diberi keleluasaan untuk memilih pendapat yang benar menurut keyakinannya.


Maka, perbedaan semacam ini tidak boleh menjadi konflik dan menimbulkan perpecahan.
 

Jika mengucapkan selamat Natal diperbolehkan, maka menjaga keberlangsungan hari raya Natal, sebagaimana sering dilakukan Banser, juga diperbolehkan.


Dalilnya, sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu anhu menjamin keberlangsungan ibadah dan perayaan kaum Nasrani Iliya’ (Quds/Palestina): 
 


   هَذَا مَا أَعْطَى عَبْدُ اللهِ عُمَرُ أَمِيْرُ الْمُؤْمِنِيْنَ أَهْلَ إِيْلِيَاءَ مِنَ الْأَمَانِ: أَعْطَاهُمْ أَمَانًا لِأَنْفُسِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ وَكَنَائِسِهِمْ وَصَلْبَانِهِمْ وَسَائِرِ مِلَّتِهَا، لَا تُسْكَنُ كَنَائِسُهُمْ، وَلَا تُهْدَمُ.   


 

Artinya: 


Ini merupakan pemberian hamba Allah, Umar, pemimpin kaum Mukminin kepada penduduk Iliya’ berupa jaminan keamanan: Beliau memberikan jaminan keamanan kepada mereka atas jiwa, harta, gereja, salib, dan juga agama-agama lain di sana. Gereja mereka tidak boleh diduduki dan tidak boleh dihancurkan. (Lihat: Tarikh At-Thabary, Juz 3, halaman: 609).