Kamis, 20 Oktober 2022

Miris! Lansia dan Manusia Gerobak Mayoritas PMKS yang Terjaring Razia di Jakpus


Jum'at, 21 Oktober 2022 - 07:16 WIB
Miris! Lansia dan Manusia Gerobak Mayoritas PMKS yang Terjaring Razia di Jakpus
Satpol PP Jakarta Pusat menggelar razia PMKS di sejumlah kawasan. Mirisnya, lansia dan manusia gerobak menjadi PMKS yang banyak terjaring razia. Foto: Ilustrasi/SINDOnews/Adam Erlangga
A A A
JAKARTA - Satpol PP Jakarta Pusat menggelar razia Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di sejumlah kawasan. Mirisnya, lansia dan manusia gerobak menjadi PMKS yang banyak terjaring razia. 

Kasatpol PP Kecamatan Cempaka Putih Ewo Sunaryo mengatakan, terdapat beberapa PMKS yang terjaring di Jalan Percetakan Negara, Jalan Pramuka Raya, dan Jalan Ahmad Yani (kolong flyover Pramuka Ujung). 

Baca juga: Terjaring Razia Satpol PP, Nenek dan Cucu Pengemis Menangis Histeris di Koja 



Beberapa dari mereka, lanjut Ewo, diketahui memiliki tempat tinggal di kampung halamannya masing-masing, sehingga pihak Satpol PP meminta PMKS tersebut tidak kembali berkeliaran di jalanan. 

"Karena punya rumah dan ada identitas, PMKS yang terjangkau di Jalan Ahmad Yani, kemudian membuat surat pernyataan untuk tidak mengamen kembali," ujar Ewo dikutip MNC Portal dari laman Pemkot Jakpus, Jumat (21/10/2022). 

Baca juga: Kocar-kacir Disatroni Satpol PP, Pak Ogah Terjun ke Kali Mookervart 

Petugas gabungan juga menghalau PMKS, yaitu manusia gerobak di Jalan Cempaka Putih Tengah Raya dan satu warga orang lanjut usia (lansia) yang sedang duduk di trotoar Jalan Pramuka Raya. 

"Kebanyakan PMKS yang ditemukan manusia gerobak dan lansia yang sedang tidur," pungkasnya.
(thm)

Masih Adakah Umat Islam Tidak Mengenal Abu Hurairah? Begini Sosoknya


Masih Adakah Umat Islam Tidak Mengenal Abu Hurairah? Begini Sosoknya
Abu Hurairah adalah sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang paling banyak meriwayatkan hadis, beliau dikenal juga sebagai penyayang kucing. Foto ilustrasi/istimewa

Di zaman Jahiliah (sebelum datangnya Islam) orang memanggil namanya Abdu Syam. Setelah Allah Subhanahu wa Ta'ala memuliakannya dengan Islam dan mempertemukannya dengan Nabi Shallalahu 'Alaihi wa Sallam, kemudian namanya telah diubah oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini, dikarenakan tidak boleh memberi nama seseorang dengan nama “hamba fulan” (Abdul Fulan) atau hamba sesuatu.

Baca juga: Sayyidah Aisyah Meralat Pendapat Abu Hurairah dan Ibnu Abas dalam Kasus Ini 

Pemberian yang boleh jika menggunakan kata Abdu (hamba), harus bermakna hanya hamba Allah (Abdullah) semata, sehingga beliau diberi nama Abdullah atau Abdurrahman, namun Abdurrahman-lah yang lebih rajih.

Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Salam bertanya : "Siapa namamu?" Abu Hurairahmenjawab singkat : "Abdu Syams". "Bukannya Abdurrahman?" Tanya Rasulullah. "Benar. Benar Abdurrahman, ya Rasulullah !", Jawab Abu Hurairah menyetujui. Hal ini sebagaimana dibukukan oleh Imam Bukhari, AtTirmidzi dan Al Hakim.


Diceritakan dalam kisah yang lain, kucing itulah yang kerap menemani. Misalkan ketika beliau sedang kesepian di kala mengggembala atau dalam hari-hari. Saat beliau pulang dari gembalaannya, kucing kesayangannya diletakkan di atas sebatang pohon. Esoknya kucing itu diambil lagi sebagai teman, dan kebiasaannya itu terus dilakukannya.

Kondisi persahabatannya dengan seekor kucing pun kemudian diketahui oleh masyarakat sekitar sehingga akhirnya orang-orang memanggilnya Abu Hurairah yang artinya “Bapak Kucing”.

Namun ada cerita lain lagi tentang Abu Hurairah, yaitu ketika ia sedang berbincang dengan Rasul kemduia tiba-tiba kucingnya meloncat. Lalu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya dengan “Abu Hirr”. Itu sebagai panggilan halus Rasul kepada beliau setelah Rasul mengetahui asal usul julukan Abu Hurairah.

Abu Hurairah masuk Islam dengan perantaraan Thufail bin Amr Ad-Dausy. Islam masuk ke negeri suku Daus (qabilah Yamaniah Qathaniyah) kira-kira awal abad ketujuh Hijriyah. Di kalangan suku beliau, Abu Hurairah cukup terkenal. Karena Abu Hurairah Ad Dausi Al Yamani merupakan sekutu Abu Bakar Ash Shiddiq. Jadi, Abu Hurairah adalah seorang mulia. Berkedudukan tinggi dan dipercaya di kalangan Bani Daus.

Setelah bertemu Nabi Shallalahu ‘alaihi wa sallam, Abu Hurairah memutuskan untuk berkhidmat (melayani) kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menemani beliau. Karena itulah Abu Hurairah dalam kesehariannya memilih tinggal di masjid. Yakni tempat di mana Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam selalu mengajar dan menjadi imam.

Abu Hurairah merupakan salah satu golongan shuffah. Tempat ini adalah serambi (emperan atau pelataran) di Masjid Nabawi. Yakni untuk mereka yang belum atau tidak memiliki tempat tinggal yang permanen, fakir dan tidak memiliki keluarga. Para ahlu shuffah tidak memiliki keluarga, harta, dan hidup sebatang kara.

Sehari-harinya, makan dan minum ahlu shuffah ditanggung oleh para sahabat yang kaya dan terkadang diambilkan dari baitul mal. Bahkan Rasulullah sendiri biasa membawakan makanan untuk mereka dan sesekali makan bersama mereka.
Abu Hurairah hidup di Shuffah dalam keadaan faqir, tidak memiliki harta, rumah dan mata pencaharian. Tapi sia merasa cukup dengan kemudahan yang diberikan Allah kepadanya dan kepada para ahlus shuffah, yaitu berupa hadiah untuk mereka dan makanan yang dinikmati bersama dengan Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Hurairah pernah bercerita bahwa dia melihat 70 orang dari ahlu shuffah, tidak seorang pun di antara mereka yang memakai rida‘ (Sejenis kain penutup bagian atas tubuh). Mereka hanya mengenakan sarung atau kisa’ (potongan kain). Mereka mengikatkan potongan kain tersebut pada leher mereka. Ada yang menjulur sampai separuh betis dan ada yang sampai kedua mata kaki. Kemudian dia mengumpulkannya dengan tangan karena khawatir terlihat auratnya.”

Ahlus shuffah tinggal di emperan masjid Nabawi cukup lama. Selama Rasulullah masih hidup, Abu Hurairah tidak menikah dan belum punya anak. Ketika Rasulullah wafat, Abu Hurairah menikah dan pernah menjadi walikota di Madinah lebih dari satu kali. Dalam riwayat disebutkan bahwa beliau menjadi walikota di maka Khalifah Mu'awiyah bin Abu Sufan. Kelembutan dan keluwesannya saat menjabat tidak pernah ada yang menandingi.

Dalam pribadi Abu Hurairah terkumpul kekayaan akan ilmu, ketakwaan, dan wara' (hidup berhati-hati karena takut menyelisihi Allah dan Rasul-Nya). Siang hari berpuasa, malam dia ibadah. Anak dan istrinya kerap dibangunkan malam untuk beribadah atau sholat malam. Karena itulah keluarga Abu Hurairah tidak putus-putus ibadah siang malam.

Dalam sebuah riwayat, sahabat penghafal hadis yang mulia ini diberikan umur yang panjang oleh Allah Ta’ala. Di riwayatkan bahwa beliau wafat di umur 78 tahun, maka jarak dari wafatnya Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam dengan wafatnya Abu Hurairah sekitar 47 tahun. Itulah sebabnya beliau sangat sering mengajarkan ummat dan banyak meriwayatkan hadis.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melimpahkan rahmatNya kepada Abu Hurairah seluas-luasnya. Semoga Allah memberikan pahala berlimpah dan Allah membalas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin dengan balasan yang sebaik-baiknya.

Perkataan beliau yang dikenal adalah, beliau berkata : “Aku membagi malamku tiga bagian. Pertama untuk membaca Al Quran, sebagian lain untuk tidur, sebagian lagi untuk mengulang hafalan hadisku.

Baca juga: Inilah Alasan Mengapa Abu Hurairah Lebih Banyak Meriwayatkan Hadis
(Ustadz Yachya Yusliha)

Selasa, 18 Oktober 2022

keutamaan suami mencari nafkah

Ceramah Gus Baha tentang Keutamaan Suami Mencari Nafkah : Dimuliakan Allah Taala

Gus Baha mengatakan suami yang bekerja membuat suami mulia dan diangkat derajatnya oleh Taala dalamkeluarga, karena dirinya memenuhi tanggung jawab untuk bekerja mencarinafkah. Foto Istimewa
Dalam sebuah ceramahnya, Gus Bahamenjelaskan tentang keutamaan suami mencari nafkah . Gus Baha mengatakan suami yang bekerja membuat suami mulia dan diangkat derajatnya oleh Ta'ala dalamkeluarga, karena dirinya memenuhi tanggung jawab untuk bekerja mencarinafkah. 

Orang yangbekerjadengan cara baik untuk memperoleh rezeki halal, juga sudah mengaplikasikan sunahRasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam. Suami yang tidak maubekerjauntuk memberi nafkah keluarga dianggap sebagai orang yang menyalahi aturanagama dan sunnatullah.

Baca juga: Hukum Suami Tidak Menafkahi Istri Beserta Dalilnya 

Dalam sebuah kanal YouTube tentang keutamaan bekerja untuk mencari nafkah, ulama bernama lengkap KH. Ahmad Bahauddin Nursalim ini menceritakan bahwa ketika Rasulullah dan para sahabat sedang bermajelis ilmu (sahabat mengaji mendengarkan ilmu yang disampaikan Rasulullah) di teras masjid, ada pemuda melewati majelis itu dan cuek tidak ikut duduk berkumpul mendengarkan Rasulullah yang sedang bermajelis. 

Melihat hal itu, sahabat lain mengatakan bahwa pemuda tersebut sungguh sial, karena tidak ikut duduk di majelis dan mendengarkan ilmu yang disampaikan Rasulullah. Mendengar sahabat mengomentari si pemuda, Rasulullah mengatakan : "Janganlah begitu. Dia itu bisa saja bekerja untuk tidak meminta-minta kepada orang. Dan itu sunnah ku. 
Atau dia bekerja untuk keluarganya untuk ibunya dan itu juga sunnah ku. Dan Allah mencintai orang yang bekerja.
Jadi Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam membiarkan orang yang tidak duduk dalam majelis beliau karena bekerja. Dan sejak saat itu para sahabat tidak saling memberi komentar tentang orang yang enggan duduk dalam majelisnya Rasulullah karena ada sunnah bekerja.

Dalil-dalil Al-Qur'an tentang Mencari Nafkah

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan tanggung jawab ini, di antaranya adalah firman Allah Ta'ala dalam Surah An-Nisa ayat 34 dan Surah Al-Baqarah ayat 233.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman : 

اَلرِّجَا لُ قَوَّا مُوْنَ عَلَى النِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَاۤ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَا لِهِمْ ۗ فَا لصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗ وَا لّٰتِيْ تَخَا فُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَا جِعِ وَا ضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِ نْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلِيًّا كَبِيْرًا


"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar."
(QS. An-Nisa' : 34)

Allah Ta'ala juga berfirman : 

وَا لْوَا لِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَا دَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَا مِلَيْنِ لِمَنْ اَرَا دَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَا عَةَ ۗ وَعَلَى الْمَوْلُوْدِ لَهٗ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِا لْمَعْرُوْفِ ۗ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ اِلَّا وُسْعَهَا ۚ


"Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya...." (QS. Al-Baqarah ; 233)

Agama Islam tidak membenarkan perbuatan seseorang yang hanya fokus terhadap amalakhirat. sementara untuk kehidupannya di dunia dia bermalas-malasan dan melupakan kewajiban mencari nafkah.

Namun demikian, Islam juga tidak membenarkan seseorang yang gila terhadap dunia hingga akhiratnya terbengkalai. Seseorang memang wajib beramal untuk amal akhirat tapi jangan menyepelekan dan menghindari amal dunia. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :

وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ


"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan."(QS. Al-Qasas : 77)
(Ustadz Yachya Yusliha)

Penjelasan Ulama tentang Keutamaan Sedekah di Saat Takut Miskin

Penjelasan Ulama tentang Keutamaan Sedekah di Saat Takut Miskin

Sejatinya, semua harta adalah milik Allah Subhanahu wa Taala. Dan ketika Allah Taala menganjurkan sedekah, maka umat Islam tidak boleh lagi menunda-nunda, harus segera dilaksanakan. Foto istimewa 
Islam mengajarkan agar jangan menunda-nunda sedekah . Karena sejatinya, semua harta adalah milik Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan ketika Allah Ta'ala menganjurkan sedekah, maka umat Islam tidak boleh lagi menunda-nunda, harus segera dilaksanakan. 

Betapa pentingnya sedekah karena sifat harta adalah bisa meringkan beban orang yang kesulitan dan mengangkat derajat orang yang bersedekah. Jadi, sedekah itu memiliki dua keutamaan. Yakni membantu kekurangan dan kebutuhan umat Islam dan menegakkan syariat Islam.

Baca juga: Keutamaan Sedekah dalam Penjelasan Al-Qur'an dan Hadis 

Nabi Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda dari Ibnu Umar : "Amal yang paling dicintai Allah Subhanahu wa Ta:ala adalah pekerjaan yang membuat orang mukmin bahagia, dapat mengatasi kesulitan, membayar utang, atau menghilangkan rasa lapar (shahihul jami').

Dalam buku 'Kaifa Tunmi Amwalak' karya Syaikh Faishal Ali al-Bu'dani, beliau menjelaskan, harta adalah titipan Allah Ta'ala kepada hambaNya untuk dilihat bagaimana cara hamba mengolah dan mengelola hartanya. Apakah dia pelit ataukah menjalankan perintah untuk bersedih, berinfaq, atau berzakat.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ada seseorang yang menemui Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata : 

“Wahai Rasulullah, sedekah yang mana yang lebih besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah pada saat kamu masih sehat, saat kamu takut menjadi fakir, dan saat kamu berangan-angan menjadi kaya. 
Dan janganlah engkau menunda-nunda sedekah itu, hingga apabila nyawamu telah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Untuk si fulan sekian dan untuk fulan sekian, dan harta itu sudah menjadi hak si fulan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas menunjukkan bahwa dilarang menunda sedekah . Dan bersedekah yang baik adalah ketika pelit dan sehat. Dengan kata lain, sebaik-baiknya sedekah dan berpahala lebih besar.

Yang dimaksud keadaan sehat di sini adalah dalam keadaan tidak tertimpa sakit. Adapun pelit atausyahihyang dimaksud adalah pelit ditambah punya rasa tamak.

Imam Nawawirahimahullahmengatakan bahwa orang pelit itu ketika dalam keadaan sehat. 
Jika ia berbaik hati bersedekah dalam keadaan sehat seperti itu, maka terbuktilah akan benarnya niatnya dan besarnya pahala yang diperoleh. Hal ini berbeda dengan orang yang bersedekah saat menjelang akhir hayat atau sudah tidak ada harapan lagi untuk hidup, maka sedekah ketika itu masih terasa kurang berbeda halnya ketika sehat. (Syarh Shahih Muslim)

Jadi, ada larangan agar jangan menunda-nunda untuk bersedah dan berinfak serta diharuskan bersegera. 

Ayat yang dibawakan adalah firman Allah : 

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ


“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian.” (QS. Al Munafiqun: 10).

Dan firman Allah : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ


“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli” (QS. Al Baqarah: 254).

Ibnu Hajarrahimahullahberkata : “Hadits di atas mendorong supaya setiang orang berjuang melawan hawa nafsunya untuk mengeluarkan harta padahal ada sifat pelit dan tamak yang menghalangi. Ini yang menunjukkan bahwa sedekahnya benar-benar jujur dan kuatnya semangat orang yang melakukannya.” (Kitab Fathul Bari).

Baca juga: Sedekah Apakah Paling Afdhol? Berikut Jawaban Nabi
(Ustadz Yachya Yusliha)

Senin, 17 Oktober 2022

Bacaan dan Arti dalam Rangkaian Gerakan Sholat

Bacaan dan Arti dalam Rangkaian Gerakan Sholat
Sholat merupakan ibadah utama yang akan dihisab pertama pada hari kiamat, jika sholatnya baik, ia akan beruntung dan berbahagia, selain itu bacaan sholat yang benar merupakan bagian dari baiknya sholat. Foto istimewa

Sholat adalah ibadah yang paling pokok dan utama. Sholat menunjukkan kehambaan seorang muslim kepada Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sejatinya, Allah tidak butuh sholat dari hamba-Nya. Tapi hamba lah yang membutuh sholat untuk kebaikan dirinya sendiri di dunia dan kelak di akhirat di hadapan Allah Ta'ala.

Sholat juga merupakan tiang agama. Yakni ibadah utama yang akan dihisab pertama pada hari kiamat. Jika sholatnya baik, ia akan beruntung dan berbahagia. Jika sholatnya tidak baik, ia akan celaka. Bacaan sholat yang benar merupakan bagian dari baiknya sholat.

Baca juga: Rukun Sholat yang Perlu Diketahui dan Tidak Boleh Terlewatkan

Berikut ini arti dari bacaan-bacaan setiap gerakan sholat , yang antara lain merujuk dari beberapa sumber, Antara lain dari Kitab Zad Al-Ma'ad dalam bab Hadyu An-Nabi fi Ash-Sholah (Petunjuk Nabi Shallalahu 'Alaihi wa Sallam tentang sholat) karya Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah :

1. Niat

أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى




“Usholli fardha shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa`an lillaahi ta’aala”.

Artinya: Aku niat salat fardu subuh, dua rakaat, menghadap kiblat, tepat waktu, karena Allahta’ala.

Diatas adalah contoh niat sholat subuh yang dilakukan sendirian. Sedang niat sholat yang lainnya di lafalkan sesuai sholat dan jumlah rakkat yang akan dilakukan. Ulama berpendapat perlu juga diniatkan untuk posisi imam atau makmum ketika sholat berjama'ah. 

Namun, ada beberapa ulama lainnya yang berpendapat tidak perlu melafalkan niat apapun sebelum membaca takbiratul ihram atau sebelum membaca Allahu Akbar. Karena niat tersebut sudah mengikuti waktu sholat wajib yang akan dilakukan sehingga tidak perlu lagi penegasan khusus (melafalkan) terhadap sholat yang akan dilakukan. 

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى


“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Dan sesungguh-nya setiap orang hanya mendapat (balasan) berdasarkan niatnya.”

2. Takbir

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai shalat dengan ucapan:

اَللهُ أَكْبَرُ


Allahu Akbar

“Allah Mahabesar.”

3. Doa Iftitah 

Kemudian membuka bacaan dengan berbagai macam do’a (do’a istiftah), beliau memuji, menyanjung dan memuliakan Allah. Kemudian sebelum membaca Al Fatihah beliau memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk (ta’awwudz).

Doa Iftitah 1 : 

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ


Allahumma ba'id bainiy wa baina khotoyaaya kamaa baa'idta bainalmasyriqi walmaghribi. Allahumma naqqiiniy min khotoyaaya kamaa yunaqqii tsaubul abyadu minnad danasi. Allahummaghsilniyy min khotoyaaya bistalji wal maai wal barodi.

Artinya: "Ya Allah, jauhkan antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah bersihkan (sucikan) dariku kesalahanku sebagaimana Engkau bersihkan (sucikan) baju yang putih dari kotoran. Ya Allah cucilah (bersihkanlah) aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air, dan embun."

Doa Iftitah 2 : 

اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا. اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ


Allaahu akbar kabiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa'ashiilaa. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha haniifan musliman wa maa anaa minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

Artinya: "Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang. Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan atau dalam keadaan tunduk, dan aku bukanlah dari golongan orang-orang yang menyekutukan-Nya.

"Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan yang demikian itulah aku diperintahkan. Dan aku adalah termasuk orang-orang muslim."

Doa iftitah dibaca dengan tidak nyaring.

4. Baca Al-Fatihah dan Surat dalam Al-Qur'an

Kemudian membaca al-Faatihah dengan berhenti pada tiap-tiap ayat (tartil).

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ . الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ . الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيم . مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ . إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ . اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ


Bismillahir rahmaa nirrahiim. Alhamdu lilla hi rabbil 'alamin. Ar rahmaanirrahiim. Maaliki yaumiddiin. Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin. Ihdinash shirraatal musthaqiim. Shiraathal ladziina an'amta 'alaihim ghairil maghduubi 'alaihim waladh-dhaalliin.

Artinya : "Dengan nama Allah yang maha pengasih, maha penyayang. Segala puji bagi Allah, tuhan seluruh alam, yang maha pengasih, maha penyayang, pemilik hari pembalasan. Hanya kepada engkaulah kami menyembah dan hanya kepada engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus (yaitu) jalan orang-orang yang telah engkau beri nikmat kepadanya, bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Seusai membaca al-Faatihah, beliau mengucapkan: “Aamiin,” dengan menjaharkan (mengeraskan) dan memanjang-kan suaranya. 
Setelah membaca al-Faatihah, beliau membaca surat lainnya. Terkadang memanjangkannya, dan terkadang memendekkannya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaan pada shalat Shubuh dan dua raka’at pertama dari shalat Maghrib dan ‘Isya’. Serta memelankan bacaan pada shalat Zhuhur, ‘Ashar, raka’at ketiga dari shalat Maghrib serta dua raka’at terakhir dari shalat ‘Isya’. Beliau juga mengeraskannya pada shalat Jum’at, dua Hari Raya, Istisqa’, dan Gerhana.

Diriwayatkan Oleh Imam Bukhari dari ‘Ubadah bin Ash Shamit, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada shalat bagi yang tidak membaca Faatihatul Kitab (Al Fatihah).”

Disunnahkan setelah itu membaca surat dalam Al Qur'an sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah dari Rasululah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,” Jika kalian tidak tambah selain Al Fatihah, maka itu sudah cukup. Namun bila kalian tambah setelahnya itu lebih baik.”

5. Ruku

Yaitu mengangkat kedua tangan dan membaca "allahu akbar". Kemudian badan dibungkukkan dan kedua tangan memegang lutut. Usahakan antara punggung dan kepala sama rata.

Setelah itu membaca : 

"سبحان ربي العظيم وبحمده"


"Subhaana robbiyal 'adziimi wabihamdih" sebanyak 3 kali.

Artinya: "Maha suci tuhan yang maha agung serta memujilah aku kepadanya."

6. Iktidal 

Setelah rukuk, Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam mengangkat kepala tegak lurus sambil mengkat kedua tangan, sambil membaca : 

سمع الله لمن حمده


Sami'allaahu liman hamidah

Artinya: "Allah maha mendengar terhadap orang yang memujinya."

Setelah berdiri tegak, lalu membaca :

ربنا لك اللحمد ملء السموات وملء الأرض وملء ما شئت من شيء بعد


Robbanaa lakal hamdu mil us samawaati wamil ul ardhi wamil u maa syi'ta min syain ba'du.

Artinya: "Ya Allah tuhan kami, bagimu segala puji sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh sesuatu yang engkau kehendaki sesudah itu."

7. Sujud

Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam Zad 'al Ma'ad yang sudah di syarah dan di tahqiq (diberi penjelasan) oleh Syaikh Ali Ahmad Ath-Thahthawi menjelaskan bahwa Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam saat hendak sujud, meletakkan kedua lututnya terlebih dahulu sebelum kedua tangannya. 

Namun, ada yang berpendapat sebaliknya, yakni meletakkan kedua tangan terlebih dahulu sebelum meletakkan lutut. Pendapat ini didukung oleh Imam Malik. 

Kemudian beliau meletakkan kedua tangan, lalu kening lalu hidung.. Ketika turun ke bawah dari posisi iktidal, lakukan sambil membaca "Allahu akbar" dan sujud dengan membacanya 3 kali.

سبحان ربي الأعلى وبحمده
. Sebanyak 3 kali.

Subhaana robbiyal a'la wabihamdih.

Artinya: "Maha suci tuhan yang maha tinggi serta memujilah aku kepadanya."

8. Duduk Iftitasy (duduk di antara dua sujud)

Setelah sujud, Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bangkit mengangkat kepala seraya membaca takbir "Allahu Akbar" tanpa mengangkat tangan. Kemudian Rasulullah duduk ifirasy, yaitu dengan melipat kaki kiri ke belakang dan duduk di atas kaki kiri itu. Sedang talapak kaki kanan diluruskan dengan jari jemari kaki kanan menghadap kiblat. Dan membaca : 

رب اغفررلي وارحمني واجبرني وارفعني وارزقني واههدني وعافني واعف عني


Robbighfirlii warhamnii wajburnii warfa'nii warzuqnii wahdinii wa'aafinii wa'fu 'annii.

Artinya: "Ya Allah ampunilah dosaku, belas kasihanilah aku, cukupkanlah segala kekurangan dan angkatlah derajatku, berilah rizki kepadaku, berilah aku petunjuk, berilah kesehatan kepadaku dan berilah ampunan kepadaku."

Setelah selesai membaca lakukan gerakan sujud dengan bacaan yang sama sebelumnya. Selesai sujud, berdiri lagi dan melanjutkan rakaat selanjurnya. Jumlah rakaat tergantung dengan jenis sholat yang dilakukan.

9. Tasyahud Awal

Tasyahud awal dilakukan pada rakaat kedua. Setelah sujud yang kedua, posisi tasyahud awal yaitu dengan sikap kaki tegak dan kaki kiri diduduki (sama dengan duduk Iftitasy), sambil membaca:

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِاَ . للَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ


Attahiyyaatul mubaarokaatush sholawaatuth thoyyibaatu lillaah. Assalaamu 'alaika ayyuhan nabiyyu wa rohmatullahi wa barokaatuh. Assalaaamu'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahish shoolihiin. Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rosuulullah. Allahumma sholli 'alaa Muhammad.

Artinya: "Segala penghormatan, keberkahan, salawat dan kebaikan hanya bagi Allah. Semoga salam sejahtera selalu tercurahkan kepadamu wahai nabi, demikian pula rahmat Allah dan berkah-Nya dan semoga salam sejahtera selalu tercurah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad."

10. Tasyahud Akhir

Tasyahud akhir dilakukan pada rakaat terakhir. Cara duduk dalam tasyahud akhir ini ada beberapa pendapat. Antara lain dengan Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam melebarkan pangkal pahanya hingga menyentuh tanah dan mengeluarkan telapak kaki dari satu arah. 
Bacaan dan posisi gerakannya sama dengan tasyahud awal dengan ditambah dengan bacaan sholawat nabi yang lebih panjang 

تَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِاَ . للَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ


(Dari bacaan tasyahud awal) ditambah...

Allahumma sholli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad kamaa shollaita 'alaa Ibroohim wa 'alaa aali Ibroohimm innaka hamiidum majiid. Alloohumma baarik 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad kamaa baarokta 'alaa Ibroohim wa 'alaa aali Ibroohimm innaka hamiidum majiid.

Artinya: "Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji lagi maha mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya engkau maha terpuji lagi maha mulia."

11. Salam

Apabila Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam telah selesai dari sholatnya (selesai tasyahud akhir), maka beliau mengucapkan salam dan menghadapkan wajahnya (menoleh) ke kanan, seraya mengucapkan 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ


"Assalaamu alaikum wa rahmatullah"

Artinya: "Semoga keselamatan dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu."

Dan menoleh ke arah kiri juga mengucapkan kalimat yang sama.

Baca juga: DONASI 
(Ustadz Yachya Yusliha)

3 Sahabat Nabi Muhammad SAW Paling Cerdas


3 Sahabat Nabi Muhammad SAW Paling Cerdas
Sahabat Nabi Muhammad SAW adalah orang-orang cerdas dan memiliki kedudukan yang istimewa. Foto ilustrasi sahabat/Ist

Dalam hadis sahih, Nabi Muhammadshollallahu 'alaihi wasallam (SAW) pernah bersabbda: "Sebaik-baik manusia ialah pada generasiku, kemudian generasi berikutnya, kemudian generasi berikutnya." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Para sahabat Nabi adalah orang-orang hebat, orang yang paling mengerti Al-Qur'an dan Sunnah Nabi, serta paling sempurna keimanannya. Semua sahabat Nabi dikenal sebagai orang-orang cerdas dan punya keahlian bermacam-macam. 

Berikut tiga sahabat Nabi Muhammadpaling cerdas yang dihimpun dari berbagai sumber: 

1. Abdullah bin Abbas
Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma (wafat 68 H/687 M) adalah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW sekaligus saudara sepupunya. Nama Ibnu Abbas dipakai untuk membedakannya dari Abdullah yang lain. Beliau dikenal sebagai sahabat yang sangat cerdas dan berpengetahuan luas.
Banyak hadis diriwayatkan melalui Ibnu Abbas. Ibnu Abbas serupa dengan Ibnu Zubair, orang yang bergaul dengan Rasulullah SAW selagi masih kecil. Rasulullah SAW wafat, usia Ibnu Abbas belum 13 tahun. Pada usai itu beliau telah mencapai kedudukan tinggi di lingkungan tokoh-tokoh sekeliling Rasulullah. 

Ibnu Abbad digelari "Kiyai Ummat" karena otaknya yang cerdas, hatinya yang mulia dan pengetahuannya yang luas. Dari kecil Ibnu Abbbas telah mengetahui jalan hidup yang akan ditempuhnya. Ketika masih kecil, Rasulullah SAW pernah menepuk-nepuk bahunya sembari mendoakannya: "Ya Allah, berilah ia ilmu Agama yang mendalam dan ajarkanlah kepadanya takwil."

Ketika masih kecil, Ibnu Abbas tak pernah absen dalam majelis Rasulullah dan menghafalkan apa yang diucapkannya. Setelah kepergian Rasulullah, Ibnu Abbas mendalami ilmu dari para sahabat Rasul yang pertama, apa-apa yang luput didengar dan dipelajarinya dari Rasulullah SAW sendiri. Ibnu Abbas tidak cuma memiliki kekayaan besar dalam ilmu pengetahuan, ia memiliki pula kekayaan yang lebih besar yakni etika ilmu dan akhlak. 

Ibnu Abbas mengambil 3 perkara dan meninggalkan 3 perkara, yaitu menarik hati pendengar apabila berbicara, memperhatikan setiap ucapan pembicara, memilih yang teringan apabila memutuskan perkara. Beliau menjauhi sifat mengambil muka, menjauhi orang-orang yang rendah budi dan menjauhi setiap perbuatan dosa. 

2. Mu'adz bin Jabal 
Ketika Rasulullah SAW mengambil baiat Aqabah kedua dari orang-orang Anshor, di antara 70 orang ada seorang anak muda dengan wajah berseri-seri. Beliau adalah Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu (wafat 18 Hijriyah) yang termasuk Assabiqunal Awwalun. 

Sahabat Nabi ini dijuluki cendekiawan muslim di masa Rasulullah SAW. Beliaulah orang yang paling mengetahui perkara halal dan haram. Nama julukannya adalah Abu Abdurahman. 

Beliau lahir di Madinah dan memeluk Islam pada usia 18 tahun. Kelebihan Mu'adz yang paling menonjol ialah mengerti masalah fiqih atau ahli dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mendapat pujian dari Rasulullah SAW: "Ummatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu'adz bin Jabal."

Dalam kecerdasan otak dan keberanian mengemukakan pendapat, Mu'adz hampir sama dengan Khalifah Umar bin Khatthab. Ketika Rasulullah hendak mengirimnya ke Yaman, lebih dulu ditanyainya: "Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Mu'adz? "Kitabullah," kata Mu'adz. Bagaimana jika kamu tidak jumpai dalam Kitabullah? tanya Rasulullah pula. 

"Saya putuskan dengan Sunnah Rasul," jawab Mu'adz. Jika tidak kamu temui dalam Sunnah Rasulullah? "Saya pergunakan fikiranku untuk berijtihad, dan saya takkan berlaku sia-sia". Maka berseri-serilah wajah Rasulullah sembari bersabda: "Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah."

Karena kecerdasannya, banyak sahabat yang meminta pendapat kepadanya termasuk Umar bin Khaththab. Mu'adz adalah orang yang murah tangan dan lapang hati. Saat Abu Ubaidah meninggal, Mu'adz diangkat oleh Umar sebagai Gubernur Suriah. Tapi hanya beberapa bulan, Mu'adz wafat Syahid pada usia sekitar 33 tahun. 

Mu'adz pernah bertutur: "Ilmu itu ialah mengenal dan beramal. Pelajarilah segala ilmu yang kalian sukai, tetapi Allah tidak akan memberi kalian manfaat dengan ilmu itu sebelum mengamalkannya terlebih dahulu." 

3. Zaid bin Tsabit
Zaid bin Tsabit an-Najjari al-Anshari (612- 637/15 Hijriyah) adalah sahabat Nabi Muhammad yang merupakan penulis wahyu dan surat-surat Nabi. Ketika berusia berusia 11 tahun, Zaid bin Tsabit dikabarkan telah menghafal 11 Surat Al-Qur'an.

Beliau dikenal sebagai penghimpun kitab suci Al-Qur'an. Kelebihan Zaid radhiyallahu 'anhu adalah memiliki kekuatan daya ingat sehingga diangkat sebagai penulis wahyu dan surat-surat Rasulullah SAW.Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bahwa Rasulullah berkata kepadanya: "Aku berkirim surat kepada orang, dan aku khawatir, mereka akan menambah atau mengurangi surat-suratku itu, maka pelajarilah bahasa Suryani", kemudian aku mempelajarinya selama 17 hari, dan bahasa Ibrani selama 15 hari.

Pada zaman kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, Zaid bin Tsabit diamanahkan mengumpulkan dan menuliskan kembali Al-Qur'an dalam satu mushaf. Dalam perang Al-Yamamah banyak penghafal Al-Quran yang gugur, sehingga membuat Umar bin Khattab cemas dan mengusulkan kepada Abu Bakar untuk menghimpun Al-Qur'an sebelum para penghafal lainnya gugur.

Mereka kemudian memanggil Zaid bin Tsabit dan Abu Bakar berkata kepadanya: "Anda adalah seorang pemuda yang cerdas dan kami tidak meragukanmu". Setelah itu Abu Bakar menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menghimpun Al-Qur'an.

Meskipun awalnya menolak, namun setelah diyakinkan akhirnya Zaid bin Tsabit dengan bantuan beberapa sahabat lainnya menjalankan tugas mulia itu. Zaid bin Tsabit telah meriwayatkan 92 Hadis, lima disepakati bersama oleh Iman Bukhari dan Imam Muslim. 

Zaid diakui sebagai ulama di Madinah yang keahliannya meliputi bidang fiqih, fatwa dan faraidh (waris). Zaid bin Tsabit wafat pada Tahun 45 Hijriyah. Putranya, Kharijah bin Zaid menjadi seorang tabi'in besar dan satu di antara tujuh ulama fiqih Madinah pada masanya. 

Itulah tiga sahabat Nabi Muhammad SAWpaling cerdas. Sebenarnya banyak sahabat Nabi yang dikenal memiliki kecerdasan seperti Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, sahabat yang mempunyai bakat menghafal dan menyimpan. Beliau tidak pernah lupa satu ayat pun bahkan satu huruf pun. Abu Hurairah adalah seorang paling banyak hafal di antara seluruh perawi Hadis. 

Selain Abu Hurairah, ada juga sosok sahabat yang memiliki kecerdasan luar biasa seperti Abdullah bin Mas'ud, Salim Maula Abu Hudzaifah, Ubai bin Ka'ab dan masih banyak lainnya. Bahkan empat sahabat terkemuka Nabi tidak diragukan lagi kecerdasannya. Mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Wallahu A'lam
(Ustadz Yachya Yusliha)

Minggu, 16 Oktober 2022

Ujian Buat Umar bin Khattab, Ali bin Abu Thalib yang Menjawab


Ujian Buat Umar bin Khattab, Ali bin Abu Thalib yang Menjawab
Ilustrasi/Ist
DI kala Umar bin Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi . "Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar ," ujar mereka kepada Khalifah.

"Ya. Apa tujuan kalian datang kepada kami?" tanya Umar.

"Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi." 

"Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan," sahut Khalifah Umar.

Baca jugaGara-gara Terlalu Ganteng, Lelaki Ini Digunduli Khalifah Umar bin Khattab 



Pendeta-pendeta itu pun, memulai pertanyaan-pertanyaannya: "Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?" 

"Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? 

Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! 

Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya! 

Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh di saat ia sedang berkicau! 

Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok! 

Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? 

Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? 

Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik? 

Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?" 

Baca jugaBidadari Hitam Manis untuk Umar Bin Khattab 

Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berpikir sejenak, kemudian berkata: "Bagi Umar, jika ia menjawab 'tidak tahu' atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!'' 

Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: "Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!" 

Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: "Kalian tunggu sebentar!" 

Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: "Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!"

Ali bin Abu Thalib bingung, lalu bertanya: "Mengapa?" 

Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar bin Khattab. 

Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasulullah SAW. 

Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: "Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!"

Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib berkata: "Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasulullah SAW sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!"

Baca jugaIni Pesan Khusus Ali bin Abu Thalib Kepada Petugas Pemungut Pajak dan Zakat 

Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: "Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!" 

"Ya baik!" jawab mereka. 

"Sekarang tanyakanlah satu demi satu," kata Ali bin Abi Thalib. 

Mereka mulai bertanya: "Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?" 

"Induk kunci itu," jawab Ali bin Abi Thalib, "ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah!"

Para pendeta Yahudi bertanya lagi: "Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!" 

Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata: "Orang itu benar juga!" 

Mereka bertanya lebih lanjut: "Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!" 

Baca jugaKisah Selimut Kumal dan Kesederhaaan Ali Bin Abu Thalib 

"Kuburan itu ialah ikan hiu yang menelan Nabi Yunus putera Matta," jawab Ali bin Abi Thalib. "Nabi Yunus AS dibawa keliling ketujuh samudera!"

Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: "Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud AS. Semut itu berkata kepada kaumnya: "Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!" 

Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: "Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhluk makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular)."

Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta 
penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali RA lalu mengatakan: "Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!" (Bersambung)